
°°°°°°°
Seseorang saat ini tengah berlari dikoridor rumah sakit, tak lupa dengan tangannya yang terus mendorong bangkar yang disana sudah ada seorang terkasihnya yang saat ini tengah menahan rasa sakit.
Keringat terus bercucuran disertai nafas yang terus memburu, dengan raut yang saat ini tengah begitu panik. "Sayang... Kamu tenang ya... Aku disini, aku tak akan meninggalkanmu sendiri."
"Suster! Cepatlah, istrinya saya tengah kesakitan ini!" ucapnya sedikit berteriak akibat rasa paniknya itu.
Sebuah tangan lembut menyentuh tangan pria itu, "Sudahlah... Jangan begitu panik.. Aku aja tak sepanik kamu loh, padahal aku yang mau lahiran. Tapi kok kayak kamu yang nahan sakitnya ya?" ucap wanita yang tengah berbaring dibangkar itu, dan malam meledek suaminya.
"Sayang... Tentu saja aku panik, kamu kesakitan. Aku benar-benar tak tega melihatmu seperti ini." ujarnya masih dengan wajah panik.
Wanita yang disebut istrinya itu terkekeh, lucu. "Kamu tuh yaahh... Gemes banget aku liatnya." ia lalu merentangkan tangannya dan mencubit pipi suaminya itu, dengan manjanya.
"Aww.. Jangan gitu sayang, kamu mau lahiran, kok malah nakanl sih..." gerutunya.
Suster dan perawat pria yang melihat tingkah mereka itu, hanya bisa mengelengkan kepalanya. Mereka berdua memang tak tahu tempat jika sedang bermesraan, tak pernah merasa bersalah jika ada salah satu orang yang iri melihat kemesraan mereka.
Sesampainya ditempat persalinan, dokter menyuruh pria itu untuk tetap diluar. Jika mereka membutuhkan, mereka akan memanggilnya.
"Devian!" teriak cempreng itu berasal dari suara Laras, mama Devian.
"Gimana keadaan Kayla sudah lahiran belum?" tanya Laras dengan suara memburu. Ya! Orang yang saat ini tengah lahiran itu adalah istri Devian, Kayla.
Tak ada bedanya dengan Eva, "Iya Devian... Gimana? Cucu kita cewek atau cowok" tanya Eva dengan wajah yang sudah antusias itu.
Devian yang mendengar pertanyaan-pertanyaan dari ibu-ibu itu, menghela nafas lelah.
"Mama, mami, Kaylanya belum lahiran... Baru juga masuk keruangan. Kalian malah bertanya yang aneh-aneh." gerutu Devian.
Darius dan Dion, saling mengelengkan kepala.
"Iya nih, ibu-ibu gak sabaran banget. Gak kasian apa sama Deviannya, mukanya udah kusut gitu." celetuk Darius. Sedangkan Devian yang mendengar perkataan Darius itu memasang wajahnya menjadi lebih masam.
Tiba-tiba datanglah, Mia dan Trian yang juga dengan raut kepanikannya. Tak lupa Trian merangkul istrinya yang sudah hamil tua itu dengan eratnya, takutnya jika istrinya terjadi apa-apa.
"Gimana kak Devian, Kaylanya gak kenapa-napa kan?" tanya Mia yang baru saja datang itu. Mia yang sebelumnya memanggil Devian dengan sebutan tuan, diganti dengan sebutan kakak. Alasannya hal itu tak terdengar bagus bagi Kayla dan Kayla lah yang menyuruhnya.
"Kayla masih tengah ditangani." jawab Devian.
Mia menghela nafas, merasa frustrasi. Trian yang melihat raut istrinya itu mencoba menenagkannya.
"Tenang sayang... Jangan terlalu khawatir, takutnya nanti bayinya kenapa-napa." ujar Trian.
Mia memeluk Trian, "Aku khawatir sama Kayla sayang.." rengeknya.
"Iya aku tau... Kamu tenang ya.."
Pintu yang sebelumnya tertutup itu, kini terbuka dan memperlihatkan perawat wanita dihadapan mereka.
"Dengan saudara Devian?" ucap perawat itu.
"Ya? Dengan saya sendiri, ada apa memanggil saya?" tanya Devian.
"Istri anda memanggil anda, untuk menemaninya kedalam." jawab perawat itu.
Devian tanpa menjawab, langsung menerobos pintu itu dan masuk begitu saja.
Darius lagi-lagi mengeleng, "Lihat Devian itu, kayak cacing kepanasan. Langsung terobos aja."
Laras yang mendengar itu, menyikut perut suaminya sedikit keras, membuat Darius mengadu kesakitan.
"Jangan bilang begitu kamu, putra kita seperti itu sangat khawatir dengan istrinya. Itu berarti Devian itu suami siaga, kok papa malah ngeledekin anaknya sih." kesal Laras.
Darius menghebuskan nafasnya, "Iya! Iya.. Sayang aku yang salah." ucap Darius mengalah.
💙💙
Detik ke menit, menit ke jam. Ruangan yang mereka tunggu itu sedari tadi begitu sunyi. Membuat mereka yang tengah menunggu itu menjadi tambah khawatir, takut terjadi apa-apa pada persalinannya.
Akkkkkkkkkh....
Tiba-tiba suara yang berasal dari ruangan itu, begitu mengelegar. Membuat para orangtua yang menunggu itu menjadi terkejut begitupun dengan Mia dan Trian.
"Itu suaranya Devian kan?" tanya Darius merasa khawatir.
"Iya sayang, itu Devian putra kita... Ada apa dengannya kenapa dia teriak gitu." panik Laras.
"Sayang... Gimana nih.. Kayla gak kenapa-napa kan?" tanya Mia masih memeluk erat tubuh suaminya.
Trian menepuk-nepuk punggung Mia. "Tenang ya sayang, tenang..."
Ceklek.... Pintu terbuka dan memperlihatkan Devian yang sudah acak-acakan itu.
"Mahh... Mah... Akhirnya anak Devian udah lahir mah... Bayinya laki-laki." ucap Devian berteriak, tak memperdulikan penampilannya yang sudah aut-autan itu.
Trian yang melihat itu melotot tak percaya. "Peefftt... Bos, penampilanmu kok kayak gembel gitu."
Devian memberikan pelototan pada Trian. "Kamu tak tau saja, disana aku menahan rasa sakit juga karena istriku menjambak rambutku ini." ucap Devian kesal.
Suara tawa terdengar dari mereka.
"Hahahah... Ternyata kamu toh yang tadi teriak Devian? Papa kira kamu juga ikut lahiran disana." ledek Darius, membuat wajah Devian kembali kusut.
"Sudah ah, pah.. Jangan diledekin terus Deviannya. Yang paling penting itu cucu kita udah lahir, kita itu harusnya ngucapin syukur dan seneng karena akhirnya kita bisa momong cucu juga." jelas Laras dengan bijaknya.
"Iya deh iya... Papa yang salah lagi." ucap Darius kembali membuat wajah cemberut.
Laras beralih pada Devian, "Selamat ya sayang... Akhirnya kamu jadi papa juga."
Dion dan Darius memeluk Devian sebagai ucapan selamat. Sedangkan Trian menepuk bahu temannya lamanya itu dengan kencang.
"Selamat ya broo, akhirnya dah jadi bapak-bapak juga." ledek Trian.
"Sialan kau Trian, sakit bahuku ini." gerutu Devian, yang membuat Trian tertawa lebar sampai tak sadar jika istrinya tengah meringis kesakitan.
"Aww... Sakit..." ringis Mia.
Trian yang mendengar suara istrinya itu menoleh kebelakang, ia pun berubah menjadi panik. "Sayang... Kenapa? Mana yang sakit?" panik Trian.
"Perutku sakit sayang... Sepertinya aku mau lahiran." jawab Mia, membuat Trian kembali syok.
"Apa? Lahiran? Bagaimana bisa? Secepat itu?" panik Trian kalang kabut.
"Trian... Cepat bawa istri kamu kerang persalinan, kok malah teriak-teriak gitu." kata Laras merasa jengkel dengan tingkah Trian itu.
"Ah! Iya aku sampai lupa, ayo sayang kita ke dokter sekarang." ujar Trian mengiringi istrinya dengan pelan-pelan.
Sekilas Devian membisikan sesuatu, "Selamat menahan rasa panas dikepalamu." seringai Devian, membuat Trian langsung ngeri.
Devian tertawa kesenangan melihat raut ketakutan Trian itu, akhirnya ia berhasil membalaskan dendamnya.
"Yaudah Devian... Kita keuangan istrimu ya, mama pengen liat cucu mama." ujar Laras.
"Iya mah.."
Setelah itu mereka berjalan bersama menuju keuangan tempat Kayla dirawat.
💙💙
"Wahh... Cucu nenek ganteng pisan ya..." celetuk Eva dengan mengendong baby Alvano Anggara, nama yang diberikan oleh Devian.
"Iya jeng... Baby Al, ganteng banget." ujar Laras.
"Siapa dulu papanya..." sombong Devian, membuat Kayla mengelengkan kepalanya.
Dion dan Darius sedari tadi memasamkan wajahnya, mereka berdua belum mendapat giliran mengendong cucu mereka. Akibat para ibu-ibu yang susah dimintai itu padahal sudah satu jam lamanya.
"Hei, ibu-ibu, gantian lah... Kita para kakek juga ingin mengendong cucu kita." ucap Darius pada akhirnya tak merasa sabaran.
"Betul itu." timpal Dion.
Laras dan Eva hanya acuh, mereka lebih memilih mengabaikan para lelakinya dan mementingkan baby Alvano.
"Devian... Lihatlah mama mu..." rengek Darius seperti anak kecil.
Devian mengedikan bahunya acuh. "Itu kan urusan papa, bukan urusan Devian." ucap Devian yang lalu beralih menatap Kayla dan mengelus surai rambut Kayla.
"Emm.. Sayang." panggil Kayla.
"Hemm?" dehem Devian.
"Mia sama kak Trian dimana ya? Kok gak kelihatan."
"Ohh... Sepertinya Mia juga lahiran sekarang.." jawab Devian, lalu kembali memeluk Kayla mengabaikan jika ada orangtua diruangan itu.
"Hah? Lahiran sekarang? Kok dadakan banget."
"Iya sayang.."
"Yaampun, gimana dong... Kayla pengen liat.." saat Kayla ingin bangkit dari tidurnya, Devian segera mencegahnya.
"Sudah sayang... Kamu istirahat saja, badan kamu masih belum sembuh total, kamu masih lemes sayang."
"Tapikan..."
"Suuutt.. Udah tidur aja." ujar Devian, yang akhirnya mau tak mau Kayla mengalah. Keadaan kembali hening hanya menyisakan para orangtua yang tengah berdebat.
"Sayang..." panggil Devian, namun tak ditanggapi oleh Kayla.
"Yang.." panggil Devian lagi.
"Hemm." dehem Kayla yang akhirnya menjawab.
"Kamu marah?" tanya Devian yang dijawab gelengan kepala oleh Kayla yang ada dipelukan Devian itu.
Devian mengeratkan pelukannya. "Terimakasih ya sayang.." ucap Devian tiba-tiba.
Kayla mengerutkan keningnya, "Makasih buat apa?" tanya Kayla bingung.
"Makasih buat semuanya.. Makasih telah hadir dihidup aku. Aku tak pernah menyesal memiliki mu Kayla." jelas Devian dengan suara lembutnya, yang terdengar sangat tulus ditelinga Kayla.
Kayla membalikkan tubuhnya menghadap kearah Devian. "Aku juga! Aku sangat bahagia memilikimu, kamu suamiku yang sangat aku cintai. Aku mencintaimu Devian." Kayla lalu mengecup bibir Devian singkat.
Devian tersenyum. "Aku juga mencintaimu, istriku."
Mereka kembali menautkan bibirnya, mengabaikan manusia-manusia yang ada diruangan itu. Dan menganggap dunia mereka seakan milik beruda.
...[SELESAI] ...
🦄🦄
Akhir kisah Devian dan Kayla sampai disini ya guys... Terimakasih untuk para pembaca yang sudah setia mendukung karya author ini💙 terimakasih sebanyak-banyaknya hanya itu yang bisa author sampaikan. Semoga terhibur dengan cerita yang kurang berkesan ini, karena cerita ini tak ada konflik berat. Hanya konflik ringan yang ada.
Terimakasih, dan jangan lupa mampir dikarya author🗿yang lainnya ya^o^ mungkin kalian akan menemukan karya menarik dari othorrr ini... Okey sampai disini saja, see you again👋 jangan lupa tetap jaga kesehatan.