
"Kamu kenal Mia, Lina?" tanya Trian.
Lina langsung menatap kearah Trian. "Itu loh tuan! Yang tempo lalu nabrak saya, sampai saya terkena kuah mie, apalagi kuahnya panas banget lagi" ucap Lina, padahal ia sendiri yang tak melihat jalan waktu berada dikantin itu, tapi ia sama sekali tak pernah merasa bersalah.
Trian menatap Mia yang masih menundukkan kepalanya. Ia ingat sekali jika tempo hari lalu Mia terlibat percekcokan antara karyawan kantor itu yang tak lain adalah Lina. Ia ingat betul jika tangan Mia terluka akibat kuah panas itu, ia tak tau siapa yang bersalah, karena waktu kejadian itu ia tak berada disisi Mia.
"Kok cewek itu ada diruangan tuan sih?" tanya Lina sewot.
Trian menghela nafas. "Namanya Mia... Lina, dia itu keponakan saya" ujar Trian.
Mia yang mendengar ucapan Trian itu, tiba-tiba tangannya bergetar. Ia tak menyangka, orang yang selama ini ia sukai malah menganggap Mia sebagai keponakan, sungguh! Hati siapa yang tak sakit, jika orang yang selama ini kita sukai tak menganggap ia spesial atau menyukai kita balik.
Mia memegangi bagian jantungnya yang terasa nyeri. 'Ternyata paman Trian hanya mengangapku sebagai ponakan, selama ini hanya akulah yang menyukai paman Trian" batin Mia dalam hati.
Lina yang mendengar pernyataan Trian itu langsung tersenyum manis.
"Oh... Ternyata ponakan ya? Aduh... Ternyata aku udah berbuat salah pada ponakan tuan Trian, maafkan aku ya tuan, saya waktu itu beneran tak sengaja" alibi Lina, ia membuat mimik wajahnya seakan ia merasa sangat bersalah. Memang Lina ini sangat jago memainkan peran, terbukti saat Trian mengucapkan jika Mia adalah ponakanya, ia pun langsung meminta maaf. Jika ia tak mendengar ucapan Trian itu, maka ia akan terus berbuat sinis pada Mia.
'Aduh.. Ternyata ponakannya to? Beruntung banget aku, mending aku deketin aja ponakanya itu, trus... Kalo udah deket, tinggal minta dipdkt in deh.. Sama si ponakannya" batin Lina sambil tersenyum senang.
"Jika kamu merasa bersalah, minta maaflah pada Mia, karena dialah yang terluka tempo hari lalu" jelas Trian.
"Oh! Iya... Tuan" ucap Lina, setelah itu ia berjalan mendekat kearah Mia.
Lina memegang tangan Mia. "Mia.. Maafin aku ya.. Kemarin aku bersalah" ujar Lina dengan tampang bersalah yang dibuat-buat.
Mia yang tak tau harus menjawab ucapan Lina itu hanya terdiam, gugup tak tau harus berbuat apa. Mia ini adalah tipe pemalu jika berhadapan dengan orang asing, namun ketika ia sudah merasa nyaman dengan orang yang menurutnya dekat, maka sifat bawelnya akan keluar. Seperti halnya ketika ia mengobrol dengan Kayla, terbukti, hanya beberapa hari kenal dengan Kayla ia sudah merasa nyaman dengannya.
Lina yang tak mendapatkan tanggapan itu mendengus dalam hati. 'Kalo bukan keponakannya Trian, gue gak bakalan ngomong manis-manis sama cewek satu ini, gedeg banget rasanya tinggal jawab apa susahnya sih! Apa jangan-jangan bisu ni cewe? Masa iya... Trian yang super keren itu punya keponakan yang kampungan Kayak begini?' batin Lina memutar matanya malas.
'Demi deket sama Trian, jangan pantang menyerah dulu Lina, walau lo harus deket sama cewek kampungan ini" batinnya lagi.
"Mia... Kamu gak mau maafin aku ya? Aku harus berbuat apa... Agar kamu mau maafin aku" kata Lina, sambil membuat mimik yang sangat sedih agar terlihat tulus dimata Mia dan Trian.
Mia masih gugup, ia memelintir jarinya dan melirik Trian yang juga tengah melihat kearahnya. Jika seperti itu, Mia pun akan bertambah gugup.
"Um.. Em... Iya... Mia maafin" ucap Mia, yang pada akhirnya memaafkan Lina, walau dihatinya belum merasa tenang.
Lina pun tersenyum senang. "Wah... Makasih ya Mia, kamu baik banget, kamu mau gak jadi teman aku, itung-itung nambah temen" alibi Luna.
Belum sempat Mia jawab, suara ketukan membuat mereka menghentikan pembicaraan. Mia pun bisa bernafas lega.
"Ya! Masuk" jawab Trian.
Pintu terbuka, dan memperlihatkan sosok Kayla yang berada dibalik pintu.
"Kenapa Kayla?" tanya Trian.
"Kayla kesini mau jemput Mia, kata pegawai didepan Mia ada disini" jawab Kayla.
"Aku disini Kayla..." ucap Mia sedikit keras.
"Kalau gitu Mia pamit dulu ya paman" pamit Mia pada Trian, belum sempat Trian menjawab ia langsung berlari dan menarik Kayla keluar dari ruangan itu.
💙💙
"Hahhh....." hela nafas dari Mia yang tengah menetralkan nafasnya.
"Mia, ada apa sih? Kok Mia main tarik-tarik aja sih" dumel Kayla.
"Sory Kayla, Mia gak betah soalnya didalam ruangan itu" ujar Mia.
"Emang kenapa diruangan sekretaris om? Ada masalah ya?" tanya Kayla.
"Kamu tau kan? Orang yang aku ceritain pas waktu dikatin tangan aku kena kuah panas, orangnya tuh ada disana" kata Mia.
"Hah? Serius Mia?"
"Iya, itu sebabnya Mia gak betah disana"
"Wah... Kalo Kayla tau, pasti udah Kayla tendang itu" sungut Kayla merasa kesal.
"Udah Kayla gak usah dibahas lagi, orangnya juga udah minta maaf kok"
"Alah... Pasti minta maafnya gak ikhlas, Kayla mah tau orang kayak gitu" ucap Kayla yang memang benar adanya.
Kayla melihat Mia yang terdiam sambil menundukkan kepala. Ia pun memegang pundak Mia.
"Mia... Kamu tuh jangan terlalu baik, nanti kalo kamu terlalu baik bisa-bisa kamu dimanfaatin sama orang"
Mia tersenyum. "Kayak ibu-ibu aja kamu Kayla"
"Loh, aku ini serius"
"Iya-iya aku percaya, aku tau kalo aku itu terlalu baik, buktinya Kayla sering manfaatin aku" seloroh Mia.
Kayla yang mendengar itu, langsung berkecak pinggang. "Eh... Kayla gak gitu ya"
Mia tak menjawab, Mia hanya mesem-mesem tak jelas.
"Mia.... Kayla serius..." rengek Kayla.
"Eh! Lagi ngobrolin apa nih? Kayaknya seru banget" celetuk Gilang yang membuat Kayla dan Mia menoleh berbarengan.
Gilang bersama dengan sahabat membernya itu berjalan kearah Kayla dan Mia berada, tentunya disana juga ada Soyun yang tengah menatap Kayla dengan isi kepalanya saat ini penuh dengan pertanyaan akan Kayla dan Devian.
Tbc.