
🌺🌺🌺
Sejak tadi, dua insan yang ada diruangan itu hanya diam tak bersuara, padahal mereka sudah ada diruangan itu hampir setengah jam.
Kayla gugub, ia sudah tak tahan kala Devian hanya diam sambil menatap tajam kearahnya yang membuatnya mati kutu seketika.
Kayla mencoba memberanikan diri, ia yang sejak tadi menunduk itu langsung mengangkat kepalanya dan melihat kearah Devian.
"Om! Kenapa ngajak Kayla kesini?" tanya Kayla dengan suara pelan.
Devian melipat kedua tangannya dan menopang sebelah kakinya. "Apa kau tak menyadari, apa kesalahanmu itu?" ucap Devian yang malah bertanya balik. Ia melihat kedepan dengan ekspresi datarnya.
Kayla berdehem. "Emang apa... Kesalahan Kayla?" ucap Kayla beralasan.
Devian menghela, ia lalu menatap kembali kearah Kayla. "Sebenarnya kamu ini sudah dewasa apa masih anak-anak sih?"
Kayla merenggut. "Apa maksud om? Ya udah dewasa lah, orang umur Kayla aja udah sembilan belas tahun kok, pake nanya lagi!" ucap Kayla sambil melipat kedua tangannya.
"Kalau kamu sudah merasa jika kamu sudah dewasa, mengapa kamu malah bertingkah seperti anak kecil? Pergi liburan gak bilang-bilang!" ucap Devian dengan nada sinisnya.
Kayla mengangga. "Hah? Emang harus gitu, ijin dulu sama om? Emang kalo Kayla minta ijin ke om! Om bakalan ngijinin gitu?" tanya Kayla dengan nada tak kalah sinisnya.
Devian tak menjawab, memang benar apa yang dikatakan oleh Kayla, jika ia tak akan mengizinkan Kayla pergi berlibur dengan seorang pria yang bukan dirinya.
" Jawab dong om... Tadi aja ngomongnya lantang, sekarang kok diam membisu" ledek Kayla, sekarang keberanian Kayla mulai pulih, rasa gugupnya yang tadi memenuhinya hilang seketika.
"Jangan membantah kamu bocah! Saya begini juga demi kebaikan kamu" ucap Devian, sebenarnya Devian saat ini sedang beralasan, entah kenapa mendengar jika Kayla ingin pergi berlibur dengan pria lain, hati Devian merasa tak tenang, itu sebabnya ia uring-uringan ketika Kayla kabur saat ia tengah mengintro grasinya. Sehingga Trian yang tengah berleha-leha dihari libur itu jadi ikut imbasnya, alhasil Trian juga ikut bersama Devian ke bali atas perintah Devian, tentu saja dengan cara memaksa Trian agar bisa diperbudak alias jadi asisten pribadinya yang tadi berpropesi sekretaris dikantor kini pindah ke propesi jadi babu Devian, tentunya hal itu ada tipsnya jika tidak! Mana mau Trian pergi jauh-jauh hanya karena atasannya ingin menemui tunangannya itu.
"Ihhhh.... Om ini ngeselin banget deh! Kayla kan udah lama gak liburan, itu sebabnya Kayla gak mau nolak ajakan gratis ini, kapan coba Kayla bisa jalan-jalan ke bali, gratis pula" gerutu Kayla dengan mempoutkan bibir kecilnya itu.
Devian yang melihat kekolotan Kayla itu merasa gemas, ia menghela nafas pasrah tak tau lagi harus berucap apa pada bocah keras kepala yang ada dihadapannya itu.
"Terserah apa kata kamu bocah! Aku mengijinkanmu berlibur disini sampai tengah hari itu berakhir"
Ucapan Devian itu seketika membuat mata Kayla berbinar-binar merasa bahagia. "Beneran om?" tanya Kayla dengan senyum mengembangnya.
Devian menganguk, dan membuat Kayla berteriak bahagia.
"Waaa makasih omm"
"Syarat? Syarat apaan sih om? Baru aja kesenengen" gerutu Kayla sebal.
"Syaratnya kamu haru berada disisi saya selama ada disini, dan jangan coba-coba kamu berdekatan dengan namanya Kim Soyun itu!" ucap Devian membuka Kayla melototkan matanya.
"Hah? Syarat apaan itu? Om mau ngekang Kayla? Aduh om.... Sama aja Kayla gak pergi liburan dong, Kayla ini masih muda! Butuh yang namanya kebebasan, jadi gak usah ada syarat-syaratan deh om!" gerutu Kayla merasa kesal.
Devian kembali melipat tangannya. "Jika kamu tidak mau! Mau tak mau kamu harus ikut saya pulang ke jakarta" ucap Devian dengan nada santai.
Kayla membeo, benar-benar! Orang yang ada dihadapannya itu, membuat darah tingginya menjadi lebih tinggi.
"Kalau Kayla gak mau?" tantang Kayla.
"Terpaksa, saya harus menghubungi mama kamu, agar saya bisa mambawamu pulang bersama saya" ujar Devian masih dengan nada santainya.
"Om mau ngancem Kayla?"
Devian hanya menaikkan bahunya acuh.
Kayla semakin sebal, ia lalu melempar bantal yang ada disofa itu kearah Devian, dan ya! Devian terkena lemparan maut itu dari Kayla. Namun Devian tak marah, ia masih setia dengan wajah datarnya.
"Sebel! Sebel! Sebel sebel sebel....." teriak Kayla dengan nada manja.
"Kenapa kamu malah marah kepada saya?" ujar Devian mengangkat satu alisnya.
Kayla yang melihat wajah tak berdosa dari Devian itu, kembali mengambil satu bantal yang masih ada disofa itu.
Ia mengambil ancang-ancang dan melemparnya kearah Devian, namun kali ini tak mengenai sasaran karena Devian dengan mudahnya menangkap bantal itu.
"Kamu mau saya menelfon mama kamu sekarang?"
Kayla menghentak-hentakan kakinya. "Iya! Iya! Terserah apa kata om deh! Yang penting Kayla masih tetep mau liburan disini! Titik!" ucap Kayla, setelah itu ia berlalu pergi dan tak lupa membanting pintu kamar Devian membuat sang empun hanya bisa mengelengkan kepalanya.
Devian tertawa kecil. "Dasar bocah keras kepala" gumam Devian.
Tbc.