My Husband Boss Idol?

My Husband Boss Idol?
Pesta Malam



Hari ini, Devian dengan sekretaris yang selalu menemaninya itu tengah berjalan menuju pesta yang diadakan didekat pantai itu. Semua karyawan tak ayal memberikan salam ketika Devian lewat, karena itu sudah biasa bagi mereka yang berprofesi atasan dan bawahan itu.


"Malam tuan" ucap salah satu karyawannya menghampiri Devian.


Devian hanya mengangukan kepala sebagai jawaban.


"Apa tuan menikmati pesta malam ini?" tanya karyawan pria itu.


Devian menyelipkan kedua tangannya disaku. "Ya.. Tentu saja" jawab Devian singkat.


"Syukur lah jika tuan Devian menikmatinya, apakah anda mau bergabung dengan kami tuan?" ajaknya.


"Nanti saja saya akan menyusul, ada sesuatu yang ingin saya urus dulu, jadi nikmatilah pesta ini lebih dulu" ujar Devian pada karyawannya itu.


"Oh! Yasudah kalau memang begitu, kalau begitu saya tinggal dulu tuan" ucapnya yang dianguki oleh Devian. Setelah itu karyawan pria itu pergi meninggalkan Devian dan Trian yang masih pada tempatnya.


Trian beralih menatap Devian. "Kenapa tak ikut saja bos? Kan jarang-jarang bos ngumpul sama karyawan" ujar Trian bertanya.


"Emang kamu pernah ngumpul sama mereka?" ucap Devian malah bertanya balik.


"Loh? Pernah dong, emang sibos?" jawab Trian sombong.


Devian beralih menatap Trian. "Emang kenapa dengan saya?"


"Kok pake nanya lagi, kan sibos jual mahal banget... Diajak sebentar buat ngumpul aja gak mau" ucap Trian santai yang tak menyadari jika perkataannya itu, mengundang tatapan tajam dari Devian.


Trian tersadar, ia lalu menatap kembali kearah Devian, seketika batinnya meringis. 'Mampus aku' batin Trian memejamkan matanya.


"Kamu tau sendiri, jika saya sangat sibuk? Emang kamu! Kerjaannya cuma nyantai-nyantai doang" ucap Devian tak kalah santai, membuat Trian melonggo mendengarnya.


"Sekarang ikut saya" ucap Devian langsung meninggalkan Trian yang masih membeo itu.


"Hah? Dia bilang aku ini tukang bersantai-santai? Dia gak inget apa, semua pekerjaannya hampir khselesaikan sendiri" Trian menepuk keningnya. "Susah emang punya bos kayak gitu, sabar Trian sabar...." ucap Trian yang menenangkan diri sendiri.


"Cepat Trian!" teriak Devian memanggil sekretarisnya itu.


"Hah... Gimana mau sabar? Kalo bosnya gak sabaran gitu" gerutu Trian, setelah itu berjalan lesu menyusul Devian berada.


💙💙


"Asikkk... Mia... Dapet ikan bakar" seru Kayla sambil menentang ikan bakar itu kedekat wajah Mia.


"Iya-iya, Kayla... Ya gak usah pake dihadepin didepan aku dong" ujar Mia mendorong tangan Kayla sedikit menjauhi wajahnya.


"Hehehe... Abisnya seru sih, ini tuh momen paling langka Mia, bisa ikut party sambil makan gratis, di Bali lagi" celetuk Kayla kegirangan.


Mia hanya bisa mengeleng, melihat tingkah konyol Kayla itu.


"Eh, tapi kamu udah bilang sama tuan Devian buat ikut acara ini Kayla?" tanya Mia.


Kayla mendengus mendengar nama Devian disebut itu. "Ngapain pula.. Pake ijin segala, kan seterah Kayla mau dateng kesini apa enggak" jawab Kayla santai.


"Tapi kan.. Kalo tuan Devian nyariin kamu gimana?"


"Biarin aja, udah ah! Gak usah bahas om-om peot itu, mending kita seneng-seneng bakar ikan, kita tuh harus nikmati jalan-jalan ini Mia, sebelum semua ini berakhir... Kan jarang kita menikmati suasana kayak gini" ucap Kayla mendumel.


"Iya deh iya... Terserah apa kata Kayla aja"


Setelah itu mereka kembali melanjutkan membakar ikan, sambil diselinggi celetukan tawa yang membuat suasana menjadi nyaman tanpa ada kesan cangungg sedikitpun.


Sedangkan Devian saat ini tengah berjalan tak tau arah, ia sedari tadi celingak celinguk seperti sedang mencari seseorang. Devian mengedarkan pandangannya dan ya! Tepat tatapannya menangkap seseorang itu, ia tak lagi mengalihkan pandangannya membuat sekretaris Trian mengerutkan alisnya.


"Kenapa bos? Kok berhenti?" tanya Trian yang belum ditanggapi oleh Devian, Trian yang penasaran itu melihat kemana arah mata Devian tertuju. Ketika Trian melihat objek itu, seketika ia langsung menghembuskan nasfasnya.


'Kirain apa, ternyata lagi ngeliatin pujaan hatinya toh' dengus Trian dalam hati.


Devian terus mengamati tingkah laku Kayla dari kejauhan, ia mengerutu kala melihat Kayla yang tengah tertawa ceria didepan pria asing itu. Padahal itu mah sebagian karyawannya, mungkin Devian lupa dengan wajah para pekerjanya itu.


"Bocah itu memang tak pernah mendengarkan kata-kata ku" gerutu Devian menghembuskan nasfasnya frustrasi.


Devian tak menjawab, ia lalu mengambil hanpone didalam saku celananya. Menekan salah satu nomor dan membawa hanpone itu didekat telinganya.


Dari kejauhan terdengar suara getar, suara itu berasal dari hanpone milik Kayla. Dari pandangan Devian Kayla mengambil hanponenya yang tengah berbunyi itu.


Disisi lain, Kayla mengerutkan alisnya kala melihat nomor tak dikenal yang tertera dihanpone nya itu.


"Siapa ya?" gumam Kayla bingung, ia pun menyediakan bahunya dan mematikan sambungan begitu saja tanpa mengangkat telfon itu.


Devian yang telfonnya yang ditolak secara sepihak itu mengeram seketika, ia tak menyerah begitu saja, ia lalu mengirim pesan pada sang empun yang tengah berasyik sendiri tanpa mengetahui jika ada seseorang yang terus mengamatinya.


Ting.. Muncul notiv dihanpone Kayla. Kayla pun membuka hpnya.


¦Kenapa kamu mematikan telfon saya?


Kayla semakin bingung, ia tak tahu harus menjawab apa. Tanpa pikir panjang ia pun menaruh kembali hpnya kedalam saku.


"Kenapa Kayla?" tanya Mia yang melihat gelagat Kayla itu.


"Engak kok, cuman telfon iseng" ujar Kayla yang dianguki oleh Mia.


Devian pun tambah kesal kala Kayla hanya membaca pesannya itu. Ia lalu mengirim pesan kembali kepada Kayla, kali ini pesan itu tak sedikit, ia mengirimnya dengan banyak pesan tujuannya agar Kayla terganggu.


Saku Kayla yang terus bergetar itu membuat Kayla risih dan kesal. "Siapa sih sebenarnya? Ganggu aja..." gerutu Kayla, lalu kembali melihat hpnya.


¦Jika kamu mengabaikan saya, maka kamu akan dapat akibatnya.


¦Dasar bocah merepotkan.


Kayla yang melihat pesan terakhir itu merasa familiar, ia teringat dengan sosok Devian yang biasanya memamgil dirinya dengan sebutan itu.


Kayla mengeleng. "Gak mungkin kan, kalo om-om peot itu?" gumam Kayla berbicara sendiri.


Hp Kayla kembali bergetar, satu pesan muncul kembali. Ia pun bergegas melihat pesan itu.


¦Lihat kedepan.


Kayla bingung, ia yang penasaran itu mengalihkan pandangannya kedepan. Matanya pun langsung membelalakan, kala melihat Devian yang menatap tajam dirinya itu.


"Mampus" gumam Kayla merinding.


Tringg...


¦Cepat kesini, atau mau saya seret?


Kayla meneguk ludahnya melihat pesannya itu, seketika wajahnya menjadi pias. Kayla pun refleks mengoyangkan lengan Mia.


"Mia.. Mia..."


"Apa sih Kayla? Kamu gak mau makan ikan bakar?" ucap Mia, malah ngawur.


"Bukan itu..." geleng Kayla.


"Lah trus apa? Mau pipis?"


"Ish Mia.... Coba liat kedepan deh" Mia yang bingung itu menuruti perkataan Kayla, ia pun melihat kedepan dan terlihatlah Devian yang tengah berdiri tak mengubah posisinya yang sedang menatap Kayla itu, Mia pun melihat kesamping Devian yang disana sudah ada Trian, tanpa sengaja mata mereka bertemu. Mia pun langsung menundukkan kepalanya, merasa malu kepergo tengah melihat kearah Trian.


"Gimana?" tanya Kayla yang melihat kearah Mia, takut melihat kearah depan.


"Ada tuan Devian, Kayla" jawab Mia yang membuat Kayla lemas.


"Mampus deh... Kena omelan lagi ini" dumel Kayla mendramatis.


Tbc.


Jangan Lupa Dukung Author Setelah Membaca Ya....