
"Om? Om ngapain disini?" tanya Kayla bingung sekaligus gugup, karena Kayla melihat ada guratan kesal diwajah Devian.
"Saya mencari kamu, ternyata kamu disini ya?" ucap Devian sambil memperlihatkan senyumnya namun itu adalah senyum paksa.
"Eh? Iy-iya" gugup Kayla.
Soyun yang melihat Devian memberikan salam. "Halo tuan Devian" ucap Soyun membungkukan badannya.
Devian hanya menganguk, ia lalu memegang pergelangan tangan Kayla. "Ayo ikut saya!" ajak Devian, namun saat ia ingin menarik Kayla tiba-tiba suara Soyun menghentikannya.
"Sebentar tuan!" cegas Soyun yang juga memegang tangan Kayla sebelah kiri.
Devian mrngerutkan alisnya. "Ada apa?"
"Sebenarnya saya masi ingin berbicara dengan Kayla, apakah anda bisa pergi terlebih dahulu? Nanti saya dan Kayla akan menyusul anda kesana" ujar Soyun.
"Kamu ingin berbicara apa? Bukankah sedari tadi kamu sudah berbicara dengannya?" ucap Devian bertanya.
"Iya! Tapi kami belum menyelesaikan pembicaraanya" jelas Soyun.
"Emang pembicaraan itu sangat penting?" kini Devian seperti dektetif yang terus bertanya dengan pertanyaan yang menohok, ia menyilangkan tangannya dan menatap tajam kearah Soyun.
"Maaf tuan, saya tidak bisa memberi tahu pembicaraan ini, karena pasti Kayla akan merasa tak nyaman jika saya membahasnya"
Devian mengalihkan tatapannya kearah Kayla. "Apakah memang begitu Kayla?" tanya Devian dengan wajah datarnya.
Kayla merasa kikuk. "Eh.. Emm, ya begitulah" jawab Kayla ambigu.
"Apanya yang begitu?" tanya Devian dengan mengangkat satu alisnya.
Kayla tak tau harus berkata apa lagi. "Ya begitu deh... Om kesini jemput Kayla kan? Yaudah yuk kita keresto sekarang temen-temen mungkin lagi nungguin disana" ujar Kayla sambil mendorong tubuh Devian untuk mengalihkan pembicaraan.
"Yuk Coyun, temen-temen mungkin udah nungguin disana" ajak Kayla pada Soyun yang masih terdiam itu.
"Iya, duluan aja" jawab Soyun.
"Oke, nanti nyusul ya!" teriak Kayla yang sudah menjauh bersama Devian.
Soyun mendesah. "Hahh... Jantungku aman kan?" ucap Soyun yang ternyata malah mengkhawatirkan jantungnya.
"Akhirnya aku ungkapin juga, tinggal nunggu jawaban dari Kayla aja, ternyata nunggu jawaban itu malah bikin tertekan ya? Lebih susah dari pada ngungkapin perasaan" gumam Soyun yang tengah memikirkan apakah Kayla menerima pernyataannya atau tidak.
💙💙
Disinilah Kayla yang tengah berjalan berdampingan bersama Devian, Devian yang sedari tadi diam itu tambah membuat Kayla merinding ketakutan.
Kayla melirik Devian. 'Uhh... Serem banget...' gumam Kayla bergidik ngeri.
Tiba-tiba suara hanpone memecahkan keheningan. Ternyata suara itu berasal dari saku celana Kayla.
"Mami?" gumam Kayla saat melihat hanponenya.
"Halo mi.."
Kayla tiba-tiba langsung menjauhkan hpnya dari jaungkauannya itu, Kayla mengelus telinganya.
"Uh.. Mulai lagi" gumam Kayla.
"Apa sih mi..."
"Kamu ini ya? Pake nanya lagi, kamu itu kalo mau pergi liburan bilang mami dong" kesal Eva.
Kayla menepuk jidatnya. "Oh iya... Kayla lupa mi" ucap Kayla cengegesan.
Sedangkan Devian yang melihat itu hanya mengelengkan kepala, kini mereka berhenti berjalan tepat didepan restoran pinggir pantai itu karena Kayla tengah menelfon, mau tak mau Kayla menghentikan jalannya, sedangkan Devian? Tentu saja ia harus berada disisi Kayla. Karena kalau tidak! Maka Kayla akan menghilang dari jaungkauannya dan hal itu pasti akan membuat Devian uring-uringan.
"Kebiasaan ya kamu! Dasar! Anaknya siapa sih..." gerutu Eva kesal dari seberang telfon.
"Ya anak kita lah mih.." bukan Kayla yang menjawab, melainkan Dion suami Eva yang memang tengah duduk bersantai bersama istrinya itu.
"Nah bener tuh papi..."
"Gak usah ngalihin pembicaraan kamu!" sentak Eva yang membuat Kayla merinding.
"Mih... Kalau ngomong jangan kenceng-kenceng dong mih... Kuping Kayla pengang nih... Bisa-bisa telinga Kayla jadi budeg nanti" gerutu Kayla.
"Diomongin kok malah ngehina mami"
"Ya abisnya... Suara mami sih, bikin kesel" jawab Kayla gamblang.
"Sudah! Jangan bahas itu, sekarang jawab mami, kenapa kamu jalan-jalan gak bilang-bilang sama mami? Dan sama siapa kamu disana? Kamu punya uang buat pergi liburan"
Pertanyaan Eva itu membuat Kayla menganga. "Yaampun mih.. Satu-satu dong, kan Kayla tadi udah bilang, Kayla lupa bilang, trus Kayla datang kesini gak sendiri kok! Kayla kesini sama Mia selain itu disini juga ada om loh... Jadi mami gak perlu khawatir"
"Hah? Om? Maksud kamu Devian? Mantu mamai?" ucap Eva berteriak.
"Ish... Kebiasaan deh teriak-teriak mulu"
"Beneran kamu sayang? Gak lagi bohong kan?" ucap Eva mengabaikan ucapan putrinya.
"Iya mami ku sayang... Kalo gak percaya nih... Orangnya ada disebelah aku" ucap Kayla langsung memberikan hpnya pada Devian.
Devian yang tiba-tiba diberikan hp oleh Kayla itu memlototkan matanya.
"Bocah!"geram Devian, namun Kayla hanya tersenyum meledek kearah Devian.
Devian menghela, ia lalu mengangkat telfon itu kearah telinganya.
"Ya tante!"
Kayla yang ada disamping Devian itu tersenyum kesenangan. 'Fufufu... Rasain kau om' batin Kayla tertawa bahagia. Padahal hanya sebuah telfon tapi entah mengapa ia malah sebahagia itu, mungkin karena melihat wajah kekesalan Devian dan itu membuatnya tertawa kegirangan.
Tbc.
Jangan lupa vomen(^_-)