
Gilang yang kebetulan lewat itu, melihat keberadaan Mia yang masih ada dimeja tempat mereka berkumpul sebelumnya.
"Loh? Mia masih ada disitu? Bukanya dia mabuk ya? Ah samperin aja deh." ucapnya lalu berjalan mendekat kearah Mia.
Sesampainya, ia lalu menepuk pelan bahu Mia. "Mia, kok masih ada disini? Gak balik kekamar?" tanya Gilang.
Mia yang mendengar suara itu, langsung mendongakan kepalanya. "Hemm, siapa kamu?" tanya Mia linglung karena sudah terlalu mabuk.
"Ini aku Gilang, kamu udah mabuk banget. Kenapa ngak balik sekarang." ucap Gilang.
"Hehe.. Soalnya Kayla gak ada, Mia gak tau mau jalan kearah mana. Sepertinya Mia lupa jalannya." ujar Mia sambil tersenyum aneh, wajahnya saat ini sudah sangat memerah akibat pengaruh alkohol.
"Yaampun Mia, yaudah sini aku bantu kamu sampai dikamar kamu." ujar Gilang mencoba mengangkat tubuh Mia, namun saat ia ingin memegang tangan Mia. Tiba-tiba saja bahunya disentuh seseorang.
Gilang menengok, "Mau ngapain kamu?" ujar seorang pria yang tak lain adalah Trian, yang memang sejak tadi berada disana. Namun sepertinya Gilang tak menyadari keberadaan Trian itu.
"Loh? Tuan Trian, ngapain disni?" tanya Gilang bingung.
"Seharusnya saya yang bertanya, ngapain kamu disini bukanya balik kekamar." ujar Trian datar.
"Saya kebetulan lewat, trus gak sengaja melihat Mia disini. Jadi saya samperin deh, kukira Mia udah balik ternyata belum, jadi saya berniat untuk antar Mia balik kekamarnya." jelas Gilang dengan panjang lebarnya.
"Tidak perlu kamu antar, biar saya saja. Saya sejak tadi disni karena mau mengantar Mia kekamarnya."
"Loh, biar saya saja tuan. Tuan mungkin udah kecapean jadi biar saya saja yang mengantar Mia." keukeh Gilang.
Trian mulai memijit pelipisnya. "Sudah saya bilang, biar saya saja yang antar Mia. Sekarang kamu balik kekamar kamu." suruh Trian tak mau kalah.
"Ngak tuan, biar saya saja." Gilang pun juga tak mau kalah.
Mereka mulai berdebat cuman hanya karena masalah sepele, Mia yang mendengar ocehan mereka itu mulai terusik.
"Jangan ribut-ribut! Mia ngantuk nih..." kesal Mia yang akhirnya berteriak, membuat dua lelaki itu terdiam dan menatap kearah Mia.
Trian menghela nafas, ia tak mau basa-basi lagi. Ia pun menuju kearah Mia dan memapahnya.
"Kamu pergi saja, biar saya yang urus Mia." kata Trian berlalu pergi tanpa mendengar jawaban dari Gilang.
"Lah?" beo Gilang merasa kebingungan.
💙💙
Trian dengan susah payahnya membawa Mia keapartemen, tentunya tempat dimana kamar Mia dan juga Kayla.
Mereka pun sudah sampai pada tujuan.
"Berikan kunci kamarmu biar saya yang membuka." ucap Trian. Namun Mia tak mendengar ucapan Trian, karena ia sudah memejamkan matanya lebih dulu.
"Akhirnya ketemu juga nih kunci." ucap Trian yang merasa lega, karena akhirnya menemukan kunci kecil itu.
Ceklek...
Pintu kamar itu terbuka, Trian pun segera membopong Mia menuju kasur. Ia lalu dengan telaten membaringkan Mia dan menutupi tubuh Mia dengan selimut tebal itu.
"Beres..." saat Trian ingin berlalu pergi, tiba-tiba saja tangannya dicekal oleh Mia. Mau tak mau Trian menengok kebelakang.
"Jangan pergi paman..." ucap Mia lirih.
"Saya harus pegi, kamu saat ini butuh istirahat. Jadi saya pergi dulu ya." kata Trian sambil mencoba melepas gengaman Mia.
"Mia ngak mau ditinggal...." rengek Mia namun masih memejamkan matanya.
"Tapi Mia..."
Mia tetap keras kepala, Mia pun tanpa aba-aba langsung menarik tangan Trian sehingga membuat Trian berbaring dikasur itu.
"Yaampun Mia.." teriak Trian merasa terkejut.
Mia tak memperdulikan teriakan itu, masih dalam keadaan tak sadar. Mia dengan beraninya memeluk Trian yang ada disampingnya itu, membuat Trian tambah terkejut.
"Paman... Asal paman tau, Mia sudah menyukai paman sejak kecil. Sampe sekarang pun Mia masih suka sama paman, Mia mencoba menghilangkan rasa ini. Tapi Mia gak bisa." gumam Mia yang berada tepat didada bidang milik Trian itu.
Trian yang mendengar ucapan Mia itu langsung tercekat."Apa yang kamu maksud Mia?"
"Mia suka sama paman, Mia cinta sama paman. Jadi jangan tinggalin Mia ya? Mia gak rela liat paman sama cewek lain." ucap Mia lirih.
"Ta-tap.."
Belum selesai Trian berbicara, Mia dengan tiba-tiba langsung mencium bibir Trian. Yang membuat sang empun langsung melotot.
"Mi-a.." Trian mencoba mendorong tubuh Mia, namun Mia malah memeluk erat tubuh Trian. Bahkan Trian dibuat terkejut lagi kala Mia ******* bibirnya dengan memasukkan lidahnya kedalam ronga mulut itu.
"Ah, Mia.." lagi-lagi Trian mencoba melepaskan dirinya dari Mia, namun tetap saja tak bisa. Sepertinya kesadaran Mia sudah benar-benar hilang.
Mia terus mencumbui bibir Trian dengan ganasnya, membuat Trian hanyut dalam cumbuan itu.
Mereka berdua sepertinya sudah terbakar oleh api gairah, terbukti mereka tanpa sadar saling melucuti pakaian mereka masing-masing.
Mia sudah berada diatas tubuh Trian, Mia pun tanpa segan mencucupi dada Trian yang sudah tak memakai pakaian itu.
Dan yah... Kalian pasti tau, setelah itu mereka akan berbuat apa.
Tbc.