My Husband Boss Idol?

My Husband Boss Idol?
Dilamar



Pagi hari, seorang pria tampan tengah mengerjakan matanya walau kepalanya terasa begitu berat. Keningnya berkerut kala seperti ada beban berat yang tengah menindihnya, ia pun mengalihkan pandangannya kearah samping. Dan betapa terkejutnya ia melihat sosok gadis mungil yang tengah memeluknya dengan erat.


Ya, siapa lagi kalau bukan Kayla. Seluas senyum terbit dibibir Devian, ia lalu mengelus rambut Kayla dengan lembut.


"Apakah aku sedang bermimpi." gumam Devian terus menatap Kayla.


"Ughh.." Kayla melenguh, merasa terganggu saat kepalanya terus dielus oleh Devian, Kayla pun mulai mengerjapkan matanya dan melihat siapa yang tengah mengganggu tidurnya itu.


Kayla membuka matanya dan melihat, bahwa Devian lah yang ada dihadapanya. "Ugh, om


.. Jangan ganguin tidur Kayla dong... Kayla masih ngantuk nih." ucap Kayla dengan mengerucutkan bibirnya.


"Ternyata ini bukanlah mimpi." gumam Devian yang dapat didengar oleh Kayla.


"Yaiyalah, kalo mimpi ngapain om terus ngelus rambut Kayla." kesal Kayla, lalu ia membalikkan tubuhnya menghadap kedepan.


Sedangkan Devian terkekeh melihat itu, ia lalu tanpa segan langsung merengkuh tubuh Kayla masuk kedalam dekapannya. "Lantas kenapa kamu tak berteriak saat saya tepat tidur disampingmu?" tanya Devian.


Kayla mendongak menatap mata Devian. "Ish, inikan semua salam om, main meluk-meluk Kayla tadi malem. Kan Kayla gak bisa kabur, om sih.. Pake mabuk segala." gerutu Kayla dengan raut kesalnya.


"Oh ya? Saya tak ingat pernah melakukan itu, lantas apa saja yang saya perbuat ketika saya tak sadar kemarin?" tanya Devian kepo, dan hal itu membuat Kayla tambah kesal.


"Masa om gak inget sih... Nyebelin deh." sungut Kayla.


Devian mengangkat wajahnya menghadap Kayla. "Jangan-jangan saya sudah boking kamu?" tanya Devian dengan wajah polosnya, namun dimata Kayla sangat menyebalkan.


Kayla memukul dada Devian, membuat Devian yang tengah lengah itu terjatuh disamping Kayla.


"Om bener-bener gak inget kejadian kemarin?" tanya Kayla lagi.


Devian mengeleng, dan hal itu membuat Kayla menghela nafasnya pusing. "Kemarin om mau adu jotos sama Soyun tau..."


"Oh ya? Trus siapa yang menang?" tanya Devian dengan wajah berbinarnya.


"Yaampun om... Sepertinya otak om udah gesrek deh, kok malah seneng kalo bahas tentang adu jotos."


"Ya seneng dong, kapan lagi saya adu jotos sama saingan sendiri." ucap Devian santai membalikkan tubuhnya menghadap kedepan, tak lupa ia menyilangkan kedua tangannya didada.


"Hah? Saingan? Maksud om si Soyun? Yaampun... Ternyata om cemburu sama Soyun hanya Kayla deket sama Soyun." ucap Kayla menepuk keningnya.


"Saya gak cemburu tuh." sangkal Devian.


"Gak usah alasan deh om... Kayla tau kalo om itu cemburu. Kayla juga tau perasaan om ke Kayla itu kayak apa, kemarin malam om ngomong sendiri loh. Bilangnya om sudah suka sama Kayla." ucap Kayla dengan nada sombongnya.


Devian kembali membalikkan tubuhnya menghadap Kayla."Jadi itu yang dari tadi kamu tanyain?"


"Jika saya memang pernah mengatakan jika saya mempunyai perasaan terhadap kamu, maka perkataan saya itu memang benar jika saya menyukaimu." ucap Devian kembali membuat Kayla membeku.


"Saya memang sudah lama menyukai kamu, namun saya sendiri yang tak menyadari apa perasaan saya yang sebenarnya ini. Sehingga saat saya melihat kamu bercanda dengan pria lain itu semua membuat saya benar-benar marah. Dan saat itulah saya baru menyadari perasaan saya ini. " jelas Devian.


Devian bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap kearah Kayla, ia lalu mengambil tangan Kayla untuk ia genggam."Kayla... Sepertinya saya sudah jatuh cinta padamu, izinkan aku untuk menikahi mu."


Kayla langsung bangkit dari tidurnya dan kini mereka saling berhadap-hadapan. "Om serius... Suka sama Kayla? Om gak bercanda kan?" tanya Kayla sedikit merasa ragu.


"Apakah wajah saya terlihat sedang bercanda?" tanya Devian.


Devian membawa tangan Kayla didadanya. "Apakah kamu merasakan detak jantung saya?" tanya Devian yang dianguki oleh Kayla. "Itu membuktikan, jika saat ini jantung saya tengah berdebar-debar saat bersamamu."


Saat ini juga Kayla rasanya ingin melayang mendengar ucapan Devian yang sangat manis itu. "Aaa.. Jangan buat Kayla meleyot dong om.." rengek Kayla.


Devian tersenyum, "Apakah kamu butuh bukti yang lain, agar kamu percaya tentang perasaan saya?" tanyanya lagi.


Kayla kali ini mengeleng. "Engak"


"Apa kamu sudah percaya?"


Kayla menganguk tersenyum. "Iya" jawab Kayla malu-malu.


"Jadi? Apa kamu menerima lamaran saya?"


Kayla seolah tengah berfikir. "Emm... Terima gak ya...." ucap Kayla dengan nada menggoda.


Devian mencebik. "Jika kamu tak menerima saya, saya pastikan kamu tak akan bisa keluar dari kamar kamu!" ancam Devian.


"Ihh... Om ngancem ya..."


"Biarin..." santai Devian, sedetik kemudian mereka saling tertawa.


"Yaudah Kayla mau..." ucap Kayla pada akhirnya.


"Mau apa?" goda Devian dengan mengangkat satu alisnya.


"Ihhh jangan godain Kayla terus dong, Kayla kan jadi malu..." gerutu Kayla dengan memanyunkan bibirnya.


Devian terkekeh, ia lalu membawa Kayla kedalam dekapannya. "Terimakasih ya... Kamu mau nerima lamaranku." ujar Devian, yang dianguki kepala oleh Kayla. Tanpa sadar Kayla tersenyum dipelukan Devian.


Tbc.