
"Kalian beneran ingin menikah?" tanya Darius papa Devian, yang saat ini tengah duduk disofa keluarga bersama dengan istrinya Laras. Tak lupa disana juga ada kedua orangtua Kayla yang memang sengaja diundang dikediaman Angara untuk membahas tentang pernikahan Kayla dan Devian.
"Iya papa!" tekan Devian merasa kesal, pasalnya ia sudah menjelaskan dua kali. Namun papanya itu sepertinya belum sepenuhnya percaya.
"Kalian bener-bener gak bohongin kita kan?" bukan Darius yang bersuara melainkan Laras yang kali ini mengeluarkan suaranya.
Devian kembali mendengus, dirinya sungguh dibuat kesal oleh pertanyaan orangtuanya itu. Sedangkan Kayla yang melihat kekesalan Devian itu terus menahan tawanya, bagi Kayla wajah Devian yang tengah kesal itu sangat lucu dan mengemaskan. Ingin sekali Kayla mencubit ginjal, eh ralat, maksudnya pipi Devian jika tak ada para orangtua dihadapannya itu.
Kayla mulai membuka suara, "Mama Laras dan papa Darius, sekaligus mami dan papi Kayla... Izinkan Kayla ini yang menjelaskan. Yang dibilang oleh om, itu semua benar, kami berdua memutuskan untuk menikah." jelas Kayla.
Para orangtua yang mendengar itu saling berpandang-pandangan.
"Kamu serius Kayla? Mami bertanya seperti ini karena merasa heran. Kalian kok secepet ini berubahnya, kemarin-kemarin kayaknya masih pada musuhan deh, jangan bilang gara-gara kalian pergi bersama dibali ya?." ujar Eva dengan penuh selidik sekaligus sudah sangat penasaran.
Kayla menghebuskan nafasnya. "Seharusnya mami seneng dong... Kalo kita cepet berubahnya, berarti rencana mami buat Kayla deket sama om berhasil. Pie sih mami." gerutu Kayla kesal.
Eva tertawa kecil, "Hoho, benar juga sih... Kalo gitu mah, kita semua gak perlu nungguin kalian menikah sampe lumutan. Gak sampe satu tahun waktunya kalian udah duluan mutusinya, mami sangat bahagia." ujar Eva. Kayla yang mendengar kata lumutan itu memutar matanya jengah.
"Trus... Sekarang udah percaya kan? Kalo kita berdua mutusin untuk menikah." tanya Kayla.
Semua orangtua itu kembali saling bertatapan, seperdetik kemudian mereka melempar senyum. Entah senyum apa itu.
"Tentu saja kami senang donggg... Masa enggak..." jawab mereka serempak, membuat Kayla dan Devian melongo tak percaya.
"Ihhh.... Kok kompang banget sih...." celetuk Kayla.
"Ihhhh... Biarin dong..." jawab para orangtua bersamaan, membuat Kayla kembali membeo.
Sedetik kemudian mereka semua tertawa bersama, menertawai kekonyolan yang mereka buat itu.
💙💙
Hari ini, hari yang sudah ditunggu-ditunggu untuk pasangan yang sedang memadu kasih. Yaitu hari pernikahan atau repsesi pernikahan bagi pasangan Kayla dan Devian, bukan hanya Kayla dan Devian saja. Trian dan Mia juga merupakan pasangan pengantin direpsesi pernikahan itu. Ya! Sesuai rencana mereka, mereka berempat menikah bersama, dihari, tahun, bulan yang sama. Sangat unik bukan? Tentu saja unik.
"Gak nyangka orang yang dateng banyak banget... Kayla rasanya capek banget." tutur Kayla memanyunkan bibirnya.
"Bener Kayla... Rasanya aku pengen cepet-cepet rebahan dikasur." celetuk Mia menimpali.
Devian yang melihat Kayla cemberut itu, tersenyum gemas. "Capek ya?" tanya Devian. "Sabar dulu ya... Mungkin sejam lagi semuanya selesai, aku gak tau kalo orangtua kita ngundang tamu sebanyak ini, belum lagi kerabat Mia dan Trian itu." ujar Devian menenangkan Kayla dengan mengelus punggungnya.
Kayla mendongak menatap Devian yang ada disampingnya, hati Kayla mengangkat ketika Devian memperlihatkan senyum manisnya dihadapan Kayla.
Kayla lalu merangkul tangan Devian."Iya sayang... Kayla lelah, tapi juga seneng banget. Seneng karena om sekarang milik Kayla." ucap Kayla yang juga bergelayut manja, mengabaikan tatapan orang yang tengah menatapnya.
Devian yang mendengar ucapan Kayla itu langsung ngeblus, belum lagi mendengar kata sayang dibibir Kayla. Sungguh! Hal itu membuat jantungnya langsung berdisko.
Devian mengelus surai rambut Kayla. "Iya sayang... Sekarang aku milik kamu." ujar Devian.
"Ehemm, udah pake sayang-sayangan nihhh" celetuk Trian merasa kupingnya panas.
"Dasar sekretaris penganggu, iri bilang dong.." dengus Devian, mulai lagi membuat suasana menjadi menyebalkan.
"Dari pada situ.. Sibos tukang marah, nyebelin lagi." jawab Trian tak mau kalah.
Devian yang mendengar itu mendelik, dan menatap tajam Trian yang malah meremehkannya. "Apa kamu bilang?" tekan Devian.
"Udah... Jangan bikin rusuh disini, diliatin orang tuh... Gak malu apa?" ucap Kayla melerai.
Devian kembali mendengus, ia tak bisa melakukan apa-apa dikarenakan ia saat ini tengah menjadi sorot bagi semua orang yang hadir diacara itu.
Tiba-tiba saja suara seseorang membuyarkan kericuhan mereka.
"Eh.. Pengantin baru, mukanya kok pada kusut gitu sih?" celetuk seorang pria yang tak lain adalah Devon Anggara kakak kandung Devian, yang baru saja menampakkan batang hidungnya itu karena sudah lama tak pulang kerumah. Alasannya hanya karena masalah pekerjaannya sebagai dokter itu.
"Kakak?" panggil Devian tak percaya.
"Hey! Adikku! Kau tak merindukan kakakmu yang tampan ini hemm?" tanya Devon menggoda adiknya, dan merentangkan tangannya siap untuk dipeluk.
Namun bukan Devian namanya, jika ia menurut begitu saja. Ia dengan tega mengabaikan kakaknya itu. "Tumben kakak balik."
"Heh! Kakaknya balik kok malah diacuhin sih... Bener-bener adik laknat." ucap Devon langsung saja mengacak-acak rambut rapi milik adiknya itu.
Devian tentu saja memberontak, "Akkh lepaskan aku Devon!" ucap Devian sedikit berteriak.
"Apa kamu katamu? Wah... Manggil kakaknya sendiri kok gak pake embel-embel sih." kesal Devon kembali mengacak-acak rambut Devian itu.
"Hentikan itu Devon..." teriak Devian.
"Ck, ck, ck.. Kalian ini. Kayak anak kecil aja sih..." ucap seseorang yang langsung muncul dari belakang Devon.
Devian menghentikan diri, dan melihat kearah sumber suara. "Lina?" gumam Devian sedikit tersentak, kala melihat sosok perempuan yang sangat ia kenali.
Sedangkan Kayla mengerutkan keningnya bingung, saat melihat perubahan aneh dari wajah Devian.
"Hai! Selamat ya... Atas pernikahan kalian." ucap Lian, tak lupa merangkul lengan Devon.
Devian yang melihat kedekatan Devon dan Liana itu mengerutkan alisnya bingung. "Bagaimana bisa kau tau, jika saya menikah hari ini?" tanya Devian pada Liana.
Liana tersenyum, "Tentu saja kakak mu yang memberitahu."
Devian yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas. "Kakak" geram Devian kesal.
"Kenapa? Kau kesal Devian? Liana kan hanya masa lalu mu. Jadi tenang saja Devian... Liana tak akan mengganggumu, karena Liana sudah menjadi milikku." jelas Devon santai, sambil merangkul bahu Liana.
"Hahhh... Terserah kau saja, sekarang kau boleh pergi. Banyak tamu yang sedang mengantre dibelakang kalian." ujar Devian mengusir.
Devon mencebik, "Yeee... Gak usah sewot kali.." kesal Devon, lalu membawa Liana pergi dari sana.
Saat pasangan itu pergi, Kayla tiba-tiba saja mendekatkan diri pada Devian. "Om.." panggil Kayla.
"Jangan panggil saya om Kayla.. Saya sudah menjadi suami kamu." tegur Devian, Kayla cengegesan mendengar itu.
"Maksudnya sayang.. Kayla mau tanya nih... Tadi itu kakak kamu kok bilang, kalo wanita itu masalalu kamu?" tanya Kayla tode poin, karena sangking penasarannya.
Devian yang mendengar pertanyaan Kayla itu sedikit terhenyak. "Ehem... Dia mantanku dulu." jawab Devian dengan jujur.
"Hah? Mantan?" tanya Kayla melotot.
Devian dengan hati-hati merengkuh tubuh Kayla kedalam pelukkannya. "Iya... Jangan berpikiran aneh-aneh ya, kamu dengar sendiri kan? Kalo Devon kakakku sudah menjadi kekasihnya. Dan ya... Sesuai perkataan kakakku kalau dia hanya masa laluku, dan yang kini yang menjadi masa depanmu adalah kamu Kayla." jelas Devian dengan tenang, membuat Kayla yang mendengar itu langsung menghangat.
"Issh, apan sih... Kayla kan jadi malu." ucap Kayla yang bersemu karena malu. Devian yang gemas itu memeluk tubuh Kayla dengan sangat erat.
"Untuk para pengantin, mohon maaf saya akan memotret anda semua. Guna foto ini akan dijadikan kenang-kenangan nantinya." ucap seorang fotografer yang muncul entah dari mana itu.
Kayla yang mendengar itu, langsung antusias dan gembira. Kayla pun tak ambil lama-lama, ia dengan beraninya memeluk tubuh Devian, Devian yang melihat itu hanya bisa mengelengkan kepalanya.
"Siap semua? Oke, saya akan memotret! Dalam hitungan ketiga, anda semua harus bersiap. Satu! Dua! Tiga!"
Cekrekk...
Terpampang lah, sebuah lembaran berisikan momen bahagia dari keempat pengantin itu. Senyum terpancara begitu mendamaikan bagi orang yang melihatnya, perjalanan cerita mereka belum usai. Mereka akan memulai lembaran baru, bersama keluarga kecil yang bahagia dimasa depan.
...[End] ...
Satu episode spesial, untuk menutup akhir cerita....