My Husband Boss Idol?

My Husband Boss Idol?
Menikahimu



Disisi lain, tidak jauh berbeda dengan Devian dan Kayla. Kini dua sepasang insan yang bedanya melewati malam begitu syahdu itu masih tengah terlelap, mungkin karena mereka sangat kelelahan sehingga matahari yang menyidari dari sela-sela jendela itu tak membuat mereka terusik sedikitpun.


Mia yang tiba-tiba merasakan haus itu, melenguh dan mengerjapkan matanya yang sulit sekali untuk dibuka itu. Mata Mia sedikik-sedikit terbuka dan hal yang ia lihat untuk pertama kali adalah sebuah dada bidang nan kotak-kotak yang sungguh memanjakan mata, bagi seseorang yang melihatnya itu.


"Hoh? Kok ada roti sobek disini? Kapan aku memangangnya?" ucap Mia ambigu, sepertinya kesadarannya belum sepenuhnya kembali.


Tiba-tiba tubuh bidang itu bergerak dan memeluk tubuh Mia dengan erat, "Apakah kamu sudah bangun?" tanya seseorang dengan suara beratnya khas orang bangun tidur.


Mia mengerjapkan mata dengan lucunya, "Kok rotinya bisa bicara?" gumam Mia merasa bingung.


"Ternyata masih setengah tidur ya..." ucap orang itu dan mengelus rambut Mia.


Mia yang merasa aneh dan penasaran itu, mendongakan kepalanya menghadap seseorang yang tengah memeluknya itu. Matanya langsung melotot kala melihat wajah pria tampan yang tak asing baginya itu, Mia pun refleks mendorong pria itu.


"Paman Trian! Ngapain disini?" teriak Mia terkejut, Ya! Seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah Trian yang saat ini tengah bertelanjang dada hanya menyisakan celana bokernya itu. Dan Mia? Tentu saja Mia tak memakai sehelai benangpun, dan hal itu membuat Mia sendiri tak sadar jika tubuh polosnya terekspos begitu saja saat ia menjauhkan diri dan membuat selimut yang ia pakai menyibak begitu saja.


Trian yang melihat tubuh polos Mia sedikit merasa malu, dan ia jadi mengingat malam panasnya bersama Mia yang padahal sudah ia anggap adik sendiri. Dan dia sendirilah yang begitu tega merawani Mia.


Trian mendekatkan diri pada Mia dan memberikan selimut itu dengan mengelungnya ditubuh Mia.


"Tutupi tubuhmu... Pagi-pagi malah teriak-teriak aja." ucap Trian santai.


Mia yang mendengar ucapan Trian itu mengerutkan alisnya bingung, ia pun menengok tubuhnya karena penasaran. Dan ya... Mia lagi-lagi memlototkan matanya dan untuk kedua kalinya ia merasa terkejut.


"Aaaaaaaaaa..... Kenapa aku gak pake bajuuuuuuh" teriak Mia historis.


Trian hampir saja terjungkal mendengar teriakan Mia secara tiba-tiba itu. Untung ia bisa mentralkan rasa terkejutnya itu.


Mia Menatap Trian dengan perasaan takut. "Paman... Ini gak mungkin kan?" tanya Mia memastikan.


Trian menghebuskan nafasnya, "Kamu benar-benar tak mengingat kejadian kemarin malam?" tanya Trian menatap manik Mia.


"Hah?" beo Mia, dan tiba-tiba saja sekelebat ingatan muncul begitu saja dipikiranya. Mulai dari ia mabuk dan diantar oleh Trian sampai kekamar, dan dirinya yang mengungkapkan perasaannya, mengeluarkan semua emosinya didepan Trian. Dan berakhirlah dengan dirinya menggoda Trian ketika ia tengah mabuk itu.


Mia tercengoh dan ambruk begitu saja dikasur, betapa malunya saat ini Mia sampai ia tak bisa mengeluarkan kata-kata satu pun.


"Ini tidak mungkin..." gumam Mia frustrasi.


"Apanya yang tidak mungkin? Kamu sudah mengingatnya?" tanya Trian menatap Mia yang ada disampingnya itu.


Mia terhenyak dan bangkit dari tidurnya itu, ia menundukkan kepalanya dan sedikit melirik kearah Trian. "Mia ingat semua... Maafin Mia ya paman, gara-gara kesalahan Mia paman jadi.."


"Tak papa... Tak usah dipikirkan." jawab Trian.


"Tapi kan paman... Emm, gini aja deh... Paman lupain aja semua kejadian itu, Mia gak mau paman merasa terbebani hanya karena ulah Mia." tutur Mia menunduk.


Trian tercengoh mendengar ucapan Mia itu. "Apa kamu bilang melupakan?"


Trian menepuk jidatnya dan mengusap rambutnya dengan kasar. "Kamu jangan terlalu bodoh Mia... Saya tak akan pernah melupakan kejadian itu seumur hidup saya, karena saya melewatkan malam itu untuk pertama kalinya. Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu?" tekan Trian, yang sudah tersulut emosinya.


"Trus... Mia harus bagaimana jika tak bilang seperti itu? Paman kan tidak mencintai Mia, tentu saja paman pasti tak akan mau menikahi Mia kan?" liri Mia semakin menundukkan kepalanya.


"Hahh... Mia.. Lihat mataku." ucap Trian, memegang kedua bahu Mia, sedangkan Mia mencoba memandang mata Trian.


"Saya memang belum mencintaimu... Tapi hal yang sudah terjadi tadi malam, saya tak akan pernah lari dan saya akan bertanggung jawab dengan cara menikahimu. Kita tidak tahu hubungan yang kita lakukan malam itu berbuah atau tidak, tapi saya tak peduli. Saya akan bertanggung jawab kepadamu Mia! " ucap Trian bersunguh-sunguh dan menekan suara diakhir kalimatnya.


Mia menatap mata Trian begitu dalam, ia mencari kebohongan dimata itu. Namun nihil, ia tak menemukannya yang ia temukan hanyalah kejujuran dan kebenarannya.


"Tapi paman... Paman tau sendiri kan, Mia sudah mencintai paman sedari dulu..."


"Saya tau itu Mia, kamu tak perlu khawatir tentang itu. Mulai dari sekarang saya akan belajar mencintaimu dan membahagiaknmu sampai kita tua kelak." ucap Trian dengan pasti. Dan hal itu membuat Mia terharu, Mia pun tanpa segan berhabur kepelukan Trian dan membenamkan kepalanya didadap bidang milik Trian.


"Janji ya paman..." lirih Mia.


Trian tersenyum. "Iya... Saya berjanji Mia."


Mia tersenyum didalam pelukan. "Terimakasih paman... Mia bersyukur paman bisa menerima Mia begitu saja, Mia sangat bahagia jika Mia bersama paman."


Trian mengangkat wajah Mia dan menatapnya. "Itu sudah kewajiban saya, satu hal lagi jangan panggil saya dengan sebutan paman.. Itu terkesan seperti saya sangat tua."


Mia terkekeh mendengarnya, "Terus apa dong, Mia harus panggil paman apa? Sayang gitu?" tanya Mia menggoda.


Tanpa sadar pipi Trian ngeblus, ia lalu mengalihkan pandangannya kearah lain. "Sepertinya itu lebih baik, dari pada panggil lan paman." jawab Trian sedikit gugup.


'Wanita ini benar-benar berbahaya, hanya menghabiskan satu malam dengannya entah kenapa jantungku terus bedegup kencang ketika melihat wajahnya yang sangat mengemaskan itu.' gumam Trian dalam hati.


Mia kembali tertawa karena melihat wajah malu-malu dari Trian itu. "Wahh... Paman malu ya?"


"Apa kamu bilang tadi? Paman?" tekan Trian menatap tajam Mia.


"Upss.. Sayang maksudnya" ucap Mia cengegsan.


Trian gemas sendiri, "Kamu ya... Kenapa mengemaskan sekali..." Trian pun mengelitik perut Mia sangking gemasnya.


"Aaaaa.... Berhenti... Ini geli paman.." teriak Mia.


"Ini untuk hukuman kamu yang membuat saya gemas sendiri."


Akhirnya mereka saling tertawa bersama, bisa dilihat, takdirlah membawa mereka terjebak disuatu masalah dan membuat mereka berdua berbahagia bersama.


Tbc.