Memory Of Love

Memory Of Love
Part 9



Lionel sepertinya menyadari, kalau Julie sengaja menyenggol makanan dan minuman di depan Casey. 


Sehingga ketika makanan dan minuman itu tumpah dan mengotori badan Casey, Lionel segera berdiri, dan sambil menatap Julie, Lionel kemudian berkata,


"Apa yang kamu lakukan? ... Casey! Kamu tidak apa-apa?"


"Maafkan aku ... Aku tidak sengaja," sahut Julie, yang pada saat itu juga, segera dibantu oleh Aaron, agar dia bisa berdiri dengan baik.


Melihat dari raut wajah Julie yang sempat tersenyum mengejek, Casey bisa menduga kalau Julie memang hanya berpura-pura jatuh, untuk mengacau Casey di situ.


Namun Casey masih berdiam diri, dan tidak mengatakan apa-apa, sambil memperhatikan gerak-gerik semua orang yang ada di situ. 


"Kamu sengaja melakukannya, bukan?" ujar Lionel, yang tampak sangat kesal dengan suaranya yang meninggi, sambil menatap Julie.


Sementara itu, walaupun menurut Casey, bahwa Julie tampaknya hanya bersandiwara, agar Aaron melindunginya, namun Julie seolah-olah akan menangis, karena Lionel yang membentaknya.


"Dia tidak sengaja! ... Dia juga sudah meminta maaf!" sahut Aaron, yang tampak tidak mau kalah, demi membela Julie.


"Apa kamu pikir aku buta? Aku bisa melihat kalau dia sengaja mengusik Casey!" ujar Lionel meradang.


Kelihatannya, Aaron akan memukul Lionel di situ, hingga Casey akhirnya mengeluarkan suaranya, dengan berseru,


"Aaron!"


Suara Casey yang tegas dan meninggi, menghentikan gerakan tangan Aaron, yang sudah terangkat dan hampir berayun.


Sambil menatap Aaron lekat-lekat, Casey lalu berdiri dari tempat duduknya, kemudian memandangi Julie dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, dan berkata,


"Kalau kamu tidak terbiasa memakai sepatu dengan tapak setinggi itu, sebaiknya jangan kamu pakai lagi, agar kamu tidak cedera karenanya....


... Dan kamu Aaron! Sebaiknya kamu jangan terlalu berani mengangkat tanganmu di depan umum, agar kamu tidak kehilangan wibawamu, hanya karena sepatu."


Ketika Casey mengatakan tentang sepatu, yang sebenarnya dia tidak bermaksud untuk bicara tentang sepatu secara harfiah. 


Dan Aaron kelihatannya mengerti, akan apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Casey.


Sehingga walaupun Julie terlihat gelisah, namun Aaron tidak membantah Casey, dan justru tampak menahan Julie agar tidak memperpanjang keributan, sampai Casey berjalan menjauh dari sana, sambil disusul oleh Lionel.


"Casey! ... Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Lionel. 


"Wanita itu benar-benar keterlaluan!" ujar Lionel, sambil berusaha untuk membersihkan pakaian Casey, ketika mereka sudah berada di depan kamar mandi umum.


"Tidak apa-apa," sahut Casey, sambil mengeluarkan ponsel dari saku blazernya, dan menyerahkannya kepada Lionel.


"Tolong beritahu supirku, agar mengambilkan pakaian ganti untukku. Aku akan menunggu di dalam Restroom," lanjut Casey, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi umum.


Sembari Casey membersihkan sisa makanan, yang menempel di pakaiannya dengan lembaran tissue, Casey memikirkan kejadian tadi.


Seandainya saja Casey kehilangan kendali karena kemarahannya, maka Casey tentu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri di situ.


Dan Casey tidak mau rencananya terganggu, hanya karena dia yang tidak mampu mengendalikan emosinya.


***


Kurang lebih hampir satu jam Casey menunggu di dalam kamar mandi umum, sebelum akhirnya Lionel mengetuk pintu, sambil memanggil-manggil nama Casey.


"Ini pakaianmu!" kata Lionel, sembari menyerahkan pakaian ganti, setelah Casey membuka pintu kamar mandi umum itu.


Setelah selesai mengganti pakaiannya, Casey kemudian beranjak keluar dari sana, lalu menyerahkan pakaian kotornya kepada supir pribadinya, yang ikut menunggu di luar kamar mandi umum bersama Lionel.


Casey kemudian berjalan dengan Lionel, dengan niat untuk berkeliling gedung kantor.


"Kamu jangan memberitahu kepada Grandpa tentang kejadian ini," kata Casey.


"Casey! ... Sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu membiarkan Aaron membela Julie di depanmu? Apa kamu tidak merasa marah kepada mereka berdua?"


Pertanyaan demi pertanyaan yang melontar keluar dari mulut Lionel, terdengar seolah-olah Lionel benar-benar kebingungan dengan reaksi Casey, yang mungkin dianggapnya terlalu tenang.


"Tidak ada apa-apa ... Percuma saja jika aku harus berdebat, sedangkan pakaianku sudah kotor," jawab Casey.


"Geez!" ujar Lionel, sambil menggaruk-garuk kepalanya sendiri.


Di setiap lantai gedung yang mereka singgahi, Lionel memberitahu kepada Casey, akan ruang kerja bagi divisi apa saja, yang mereka lewati di sana. 


Hingga ketika mereka melewati divisi penelitian dan pengembangan, dan tanpa sengaja bertemu dengan seseorang, yang baru saja berjalan keluar dari dalam ruangan itu. 


Seorang laki-laki yang hampir saja menabrak Casey dan Lionel, saat dia melewati pintu ruangan itu, tampak seperti orang terkejut, saat melihat Casey di situ. 


"Halo!" sapa orang itu kepada Casey dan Lionel, sambil menahan langkahnya, hingga berdiri berhadap-hadapan dengan Casey. 


"Halo!" Casey balas menyapa, lalu mencoba untuk menghindarinya.


Namun laki-laki bermata coklat, dan tampak mencolok dengan rambut hitamnya yang tebal itu, tiba-tiba berkata, 


"Iya," jawab Casey, singkat, kemudian lagi-lagi, mencoba untuk menghindari laki-laki itu.


"Tunggu sebentar!" Laki-laki itu tampak berusaha untuk menahan Casey di situ. "Apa aku bisa berkenalan denganmu?"


Casey kemudian menoleh ke arah Lionel, yang kemudian hanya mengangkat kedua bahunya, seolah-olah sedang berkata, terserah Casey saja.


Ketika Casey kembali melihat ke arah laki-laki itu, sebelah tangan dari laki-laki itu, sudah menjulur ke arah Casey.


"Namaku Oscar Dale," kata laki-laki yang mengajak Casey berkenalan itu.


"Namaku Casey," jawab Casey, sambil menyambut tangan Oscar, dan berjabat tangan dengannya.


"Lionel Walt." Lionel juga berkenalan dengan Oscar, sambil berjabat tangan, bergantian dengan Casey.


"Maafkan aku yang terlalu penasaran. Tapi aku tidak pernah melihatmu di kantor ini. Apa kamu pegawai baru?" ujar Oscar.


Casey belum sempat menanggapi perkataan dari Oscar itu, namun ada seseorang yang lebih dulu berbicara di sana.


"Dia bukan pegawai di sini!" 


Sontak, suara yang kedengarannya berasal dari bagian belakang Casey, membuat Casey berbalik, dan melihat siapa yang menjadi pemilik suara itu.


"Dia hanya wanita yang tidak tahu malu! ... Menjadikan kantor ini sebagai tempatnya berkencan, dengan seorang anggota komisaris," lanjut Julie, dengan angkuhnya.


"Mister Walt! ... Are you her pimp? Kenapa kamu membawanya berkeliaran ke sana kemari, di gedung kantor ini?" lanjut Julie, lagi, dan kali ini, Lionel juga tidak luput dari hinaan Julie.


Suara Julie yang melengking tinggi, menarik perhatian dari beberapa orang, hingga berdiri berdiam di dekat situ, sambil memandangi Julie dan Casey.


Bahkan, Casey sempat melihat beberapa orang yang keluar dari dalam ruang kerjanya masing-masing, dan ikut menonton keributan yang dipicu oleh Julie itu.


Lionel tampaknya ingin menyerang Julie di situ, namun Casey segera menahan Lionel, dengan memberikan tanda menggunakan gerakan kepalanya, yang menggeleng pelan.


"Biarkan aku saja yang menghadapinya!" kata Casey, pelan, kepada Lionel.


Kemudian, sambil tersenyum dan menatap Julie lekat-lekat, Casey lalu berkata,


"Apa kakimu baik-baik saja? ... Sebaiknya kamu lebih berhati-hati. Karena kalau kamu sampai terjatuh lagi di sini, maka tidak ada Aaron, yang bisa dengan cepat menolongmu untuk berdiri."


"Hey, wanita brengsek! ... Kamu pasti menggunakan tubuhmu, untuk menggoda anggota dewan komisaris—Lionel, bukan? Dan ternyata kamu masih tidak puas!


... Wanita rendahan sepertimu, berani-beraninya mencoba menggoda semua orang! CEO dan sekarang ini kamu menggoda manajer *R&D! Kamu benar-benar wanita yang tidak tahu malu!"


(*R&D : Research and Development : Penelitian dan pengembangan)


Sambil berbicara dengan Casey, dengan jari telunjuknya, Julie menusuk-nusuk salah satu sisi dada bagian atas dari Casey.


Namun Casey tidak menepis, ataupun memarahi Julie, dan hanya memandangi gerakan dari tangan Julie itu.


Sampai Julie berhenti bergerak, barulah Casey mengangkat pandangannya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dan melihat ke arah wajah Julie.


"Pffftt...! Hahaha!" Casey tertawa mengejek, sambil tetap melihat wajah Julie, yang kemudian tampak semakin kesal karena reaksi dari Casey itu.


"Hmm ... Ternyata bukan karena tapak sepatumu yang membuatmu terjatuh. Tapi itu karena otakmu, yang tidak berfungsi dengan baik!" ujar Casey, dengan nada suaranya yang datar.


"Kamu—" Dengan nada suaranya yang meninggi, Julie yang tampak geram, mengayunkan tangannya, terlihat seolah-olah hendak menampar Casey.


Namun Casey bisa menangkapnya, dan segera menghentikan gerakan dari Julie itu.


Casey kemudian melepaskan pegangannya dari tangan Julie, dengan menghentakkan tangan Julie ke arah samping.


"Sekali lagi kamu mencoba mengarahkan tanganmu kepadaku, maka aku akan membuatmu bersungguh-sungguh menyesalinya!" ujar Casey, datar namun tegas, sambil menatap Julie lekat-lekat.


Tanpa mau berlama-lama melihat wajah menjijikan dari Julie, Casey kemudian segera berbalik, dan menghadap ke arah Oscar.


Casey masih sempat melihat, kalau Lionel bergerak ke bagian belakangnya, seolah-olah Lionel mungkin sedang menghentikan Julie, yang tampaknya masih ingin melakukan sesuatu kepada Casey.


Casey bisa berpikiran demikian, karena suara Julie yang masih terdengar seperti orang sedang mengamuk, di belakang Casey.


Walaupun begitu keadaannya, Casey berpura-pura tidak tahu, dan sambil melihat ke arah Oscar yang tampak seperti orang yang kebingungan, Casey kemudian berkata,


"Jadi, kamu adalah manajer R&D?!" 


Dengan cepat, Oscar menganggukkan kepalanya.


Casey kemudian mengulurkan sebelah tangannya tangannya, dan segera disambut oleh Oscar, untuk berjabat tangan. 


"Senang bisa berkenalan denganmu! ... Mungkin di lain waktu, kita akan bertemu lagi," kata Casey.


Setelah melepaskan tangan Oscar, dengan berdiri menyamping, dan melihat ke arah Lionel yang tampak menghalang-halangi Julie, Casey kemudian memanggil Lionel, dengan berkata,


"Lionel! ... Ayo kita pergi!"