Memory Of Love

Memory Of Love
Part 23



Setelah mendengar perkataan dari Steve, Casey hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menahan senyum.


"Apa kamu menganggap bahwa aku hanya bercanda?" tanya Steve, sambil tersenyum lebar.


"Iya." Casey akhirnya tertawa kecil.


"Casey...! Apa kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Steve. 


"Belum," jawab Casey , sambil menggelengkan kepalanya. 


"Aku baru beberapa minggu saja, bisa kembali ke kehidupan nyata. Dan belum sempat memikirkan tentang kekasih," lanjut Casey.


"Apa maksudmu? Apa ada sesuatu yang buruk terjadi padamu?" tanya Steve, tampak penasaran.


"Hmm ... Bisa dikatakan seperti itu. Ada sesuatu yang terjadi padaku, hingga hanya membuang-buang waktuku, kurang lebih dua tahun," jawab Casey, sambil memaksakan diri untuk tersenyum.


"Apa seburuk itu?" Steve tampak menautkan kedua alisnya, sambil menatap Casey lekat-lekat. "Apa kamu mau menceritakannya?"


"Itu bukanlah hal yang menarik. Apa kamu tetap mau mendengarkannya?" ujar Casey.


"Coba saja!" sahut Steve, yang tampak menunggu agar Casey mau bercerita kepadanya.


Casey kemudian menceritakan tentang kejadian yang dialaminya, hingga membuatnya harus dirawat di rumah sakit, kepada Steve.


Steve tampak mendengarkan semua perkataan dari Casey, dengan saksama dan tanpa sedikitpun menyela.


Hingga Casey selesai berbicara, barulah Steve kemudian berkata,


"Aku tidak tahu, kalau kamu baru saja melalui kejadian seburuk itu. Maafkan aku...."


"Itu bukanlah kesalahanmu, kamu tidak perlu meminta maaf," ujar Casey.


Steve kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya, lalu tampak memperhatikan tampilan di layar ponselnya itu, untuk beberapa saat.


"Casey...! Coba kamu lihat ini!" Steve memperlihatkan tampilan layar ponselnya, kepada Casey.


Di sana, terlihat sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh Steve, ke nomor kontak Casey yang lama, bertanda waktu yang hampir bertepatan, dengan kecelakaan yang dialami oleh Casey.


"Kamu mengirimkanku pesan?" tanya Casey.


Casey cukup merasa heran, melihat Steve bisa mencoba menghubunginya lebih dulu. 


Karena biasanya, Casey lah yang akan menghubungi Steve lebih dulu, barulah mereka melanjutkan komunikasinya.


"Waktu itu, aku tiba-tiba saja bermimpi tentangmu. Tapi aku khawatir dengan kemungkinan, bahwa aku hanya mengganggumu, jika aku sampai menghubungimu lebih dulu....


...Aku menunggu sampai seharian, di keesokan harinya. Namun karena kamu tetap tidak menghubungiku, sehingga aku memberanikan diri, untuk mengirimkan pesan kepadamu....


... Tapi saat melihat kalau pesanku tidak terkirim, aku mengira kalau kamu memang tidak mau berhubungan denganku lagi, sampai-sampai kamu mengganti nomor kontakmu," jawab Steve.


"Saat ini, setelah aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padamu, aku benar-benar menyesal. Karena seharusnya, aku tidak berpikiran buruk tentangmu. Maafkan aku," lanjut Steve.


"Hmm ... Aku tidak tahu harus berkata apa," ujar Casey, sambil tersenyum lebar, dan hampir tertawa.


"Tapi aku jadi penasaran. Kenapa kamu bisa terpikir, bahwa aku tidak mau berhubungan denganmu lagi?" lanjut Casey.


"Casey...! Jujur saja, aku masih tidak percaya diri, bahwa aku bisa tetap berhubungan baik denganmu. Mengingat bagaimana saat kita masih berkuliah dulu," kata Steve.


"Ugh? ... Apa maksudmu? Bukankah hubungan pertemanan kita baik-baik saja?" tanya Casey.


"Hmm ... Aku merasa kalau kamu hanya kasihan padaku, sehingga kamu mau berteman denganku. Bahkan sampai saat ini pun, aku masih mengkhawatirkan hal itu," jawab Steve.


"Oh, gosh! ... Steve! ... Aku memang senang bisa berteman denganmu, dan bukan berdasarkan atas rasa kasihan....


... Aku bahkan mengagumi kemampuan dan kepintaranmu. Jadi, jangan pernah lagi kamu berpikir seperti itu," sahut Casey.


Steve terdiam untuk beberapa waktu lamanya, sambil menatap Casey lekat-lekat.


"Please! ... Apa kamu masih tidak percaya? Aku bahkan mengajakmu untuk mengunjungiku....


... Sementara teman-temanku yang lain, justru belum pernah mendapat ajakan dariku," kata Casey, menekankan pernyataannya.


"Terima kasih ... Perkataanmu itu cukup menghibur," sahut Steve.


"Geez! ... Jadi, kamu pikir aku hanya sekadar menghiburmu? ... Hmph! ... Kamu nanti coba tanyakan saja kepada Grandpa-ku, atau kepada Lionel...,


... apakah ada dari teman-temanku yang lain dari universitas, yang pernah aku ajak untuk berkunjung. Kamu adalah yang pertama, dan satu-satunya," ujar Casey.


Steve kemudian tersenyum lebar, lalu berkata,


"Okay! ... Aku percaya padamu!" 


"Seharusnya memang begitu. Karena kamu justru hanya akan menyinggung perasaanku, kalau kamu masih berpikir yang tidak-tidak tentangku," sahut Casey, sambil ikut tersenyum. 


***


Sekembalinya Casey dan Steve ke ruang kerja Casey, tanpa berlama-lama lagi, Casey kemudian lanjut mengerjakan tugasnya.


Sementara Steve, tampak asyik membaca buku yang ada di dalam ruang kerja Casey itu, sampai akhirnya dia tertidur di sofa.


Walaupun casey sudah selesai dengan pekerjaannya, namun Casey tidak tega untuk membangunkan Steve, yang tampak tertidur cukup pulas.


Sehingga Casey tetap bertahan di ruang kerjanya, dengan membaca berbagai data di komputernya.


Melintas di pikiran Casey, tentang perbincangannya dengan Steve, di rooftop tadi.


Cukup mengherankan bagi Casey, karena Steve bisa bermimpi tentangnya, ketika Casey sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Dan ditambah lagi, Casey rasanya tidak bisa membayangkan, bagaimana orang seperti Steve, yang selama beberapa tahun berada dalam lingkungan sosial yang tidak sehat, sampai bisa memiliki kepercayaan diri yang rendah.


Tapi untung saja, Steve bisa bertahan, dan bahkan bisa menjadi seseorang yang berhasil, dengan kemampuan intelektualnya.


Pintu ruang kerja Casey yang diketuk, kemudian terbuka, membuyarkan lamunan Casey, dan membuat Casey segera memberi tanda kepada Lionel yang terlihat di sana, agar tidak membuat keributan.


Dengan berjalan pelan, Lionel menghampiri meja kerja Casey, lalu berkata,


"Apa pekerjaanmu belum selesai? Sebentar lagi, jam istirahat makan siang."


Sambil berbicara, Lionel tampak menoleh ke arah sofa, di mana Steve masih tertidur di sana. 


"Pekerjaanku sudah selesai," jawab Casey, kemudian mematikan komputernya. "Aku hanya melihat-lihat berkas lama."


"Dia membuatku merasa iri," celetuk Lionel.


"Ugh?" Casey tidak mengerti akan maksud dari perkataan Lionel. 


Lionel menunjuk dengan gerakan matanya ke arah Steve. 


"Wajahnya tampan, bentuk badannya bagus, masih ditambah lagi dengan otak yang pintar," ujar Lionel, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. 


"Dia yang di-bully karena dekat denganmu? Atau sebaliknya? Kamu justru yang di-bully," lanjut Lionel, lalu memasang senyuman mengejek.


Casey membesarkan matanya ke arah Lionel. "Kamu pikir aku adalah pembohong?" 


"Pffftt...!" Lionel tertawa tertahan, lalu menghampiri Casey di kursi kerjanya. "Jawab dengan jujur! ... Dia laki-laki yang menarik, bukan?" 


"Hey! ... Apa kamu yakin kalau kamu bukan penyuka sesama jenis?" ujar Casey, berniat membalas ejekan Lionel.


Dengan cepat, Lionel yang terlihat gemas, kemudian mencubit pipi Casey, tanpa sempat Casey menghindarinya lagi.


"Auch!" Casey merintih kesakitan, sambil menepis tangan Lionel dari wajahnya. 


"Dia telah banyak berubah. Aku bahkan tidak mengenalinya, waktu aku menjemputnya di bandara," kata Casey. 


Tepat setelah Casey selesai berbicara, Steve tampak bergerak, kemudian terduduk lurus, lalu melihat ke arah Casey.


Dengan matanya yang masih sayu, Steve yang tampak salah tingkah, kemudian berkata,


"Maafkan aku ... Kelihatannya aku ketiduran."


"Tidak apa-apa," sahut Casey, kemudian berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan menghampiri Steve.


"Kalau kamu masih mengantuk, tidur saja dulu! ... Tapi mungkin akan lebih baik, kalau kita pergi makan siang terlebih dahulu," kata Casey.


"Okay!" sahut Steve kemudian berdiri dari sofa, lalu mengembalikan buku yang sempat di bacanya tadi, ke tempatnya semula.


"Kami biasanya makan siang hanya di kafetaria kantor saja. Apa kamu mau kita makan di luar?" ujar Casey kepada Steve.


"Tidak perlu ke luar," sahut Steve. "Aku justru bisa bertemu Oscar, bukan?"


"Okay!" ujar Casey, kemudian segera berjalan keluar dari ruang kerjanya, bersama-sama dengan Lionel dan Steve.


***


Di dalam kafetaria, Casey, Lionel, Steve dan Oscar duduk di satu meja yang sama.


Sembari menikmati makan siangnya, mereka yang berbincang-bincang, sesekali tertawa bersama, saat ada cerita konyol di masa lalu, yang terangkat menjadi pembahasan oleh mereka di situ.


Namun di saat itu, Casey merasa kalau seolah-olah ada yang menatapnya, hingga Casey kemudian melayangkan pandangannya, berkeliling di setiap penjuru di dalam kafetaria, dan akhirnya menemukan Aaron.


Aaron yang ternyata hanya duduk sendirian di satu meja terpisah, tampak sedang menatap Casey.


Dan begitu juga Julie yang melakukan hal yang sama, meskipun dia duduk di salah satu meja, yang letaknya tidak jauh dari Aaron.


Kalau begitu, menurut Casey, Aaron dan Julie berarti masih belum berbaikan.


"Ada apa?" tanya Steve, yang duduk tepat di sebelah Casey.


"Tidak ada apa-apa ... Aku hanya melihat-lihat pegawai yang lain," sahut Casey, sambil tersenyum.


"Hmm ... Casey! Apa aku boleh bertanya tentang sesuatu yang pribadi?" tanya Steve, terdengar berhati-hati.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Casey balik bertanya.


"Hubunganmu dengan CEO, apa memang hanya sebatas hubungan kerja?" tanya Steve.


"Iya," jawab Casey. "Kenapa?" 


"Hmm ... Sedari tadi dia menatap ke arah kita, dan kelihatannya dia tidak senang," jawab Steve, sambil menunjuk Aaron dengan gerakan matanya.


"Tidak apa-apa ... Tidak perlu dipikirkan. Dia memang tidak menyukaiku," sahut Casey.