Memory Of Love

Memory Of Love
Part 36



Entah kebetulan seperti apa, yang bisa membuat Julie bisa menemukan mobil yang dipakai Steve bersama dengan Casey, di kawasan itu.


Terlebih lagi, Casey tidak bisa menduga-duga, apa yang menjadi keinginan dari Julie, hingga mengetuk jendela mobil Casey.


Steve kemudian menurunkan kaca jendela mobil, dan Julie segera berkata,


"Steve! ... Aku ingin bicara berdua saja dengan Casey!"


"Oh!" Steve kemudian bergerak, dan seolah-olah dia akan beranjak keluar dari mobil.


"Tidak perlu! ... Kamu tunggu saja di sini! Biar aku yang ke luar!" ujar Casey menahan Steve, dan segera membuka pintu mobil yang ada di sisinya.


Ketika Casey dan Julie sama-sama berjalan saling menghampiri, Casey memperhatikan kelopak mata Julie yang terlihat agak bengkak, seakan-akan wanita itu baru saja habis menangis.


"Ada apa?" tanya Casey.


"Menjauh dari Aaron!" kata Julie.


"Hmm ... Apa kamu buta? Atau hanya bodoh saja?" sahut Casey, sinis.


"Kamu jangan berpura-pura! ... Kamu bisa bekerja di Roberts grup, tapi kamu sengaja memilih untuk bekerja di R&H," ujar Julie, melontarkan tuduhannya, kepada Casey.


"R&H adalah bagian dari Roberts grup, lalu apa salahnya jika aku bekerja di sana? Itu tidak ada urusannya denganmu, bukan?" sahut Casey, tetap tidak mau mengalah.


Julie yang tampak geram, seolah-olah akan menerjang Casey di saat itu juga, sehingga tangan wanita itu yang terkepal, tampak gemetar hebat.


"Dasar wanita murahan!" Suara Julie terdengar bergetar, dan seolah-olah kehabisan kata-kata untuk menantang Casey.


Casey maju selangkah, mendekat ke arah Julie, lalu berkata,


"Kalau kamu tidak bisa membuat Aaron mempertahankan cintanya kepadamu, lalu kamu akan menyalahkannya kepada siapa?"


Casey yang tetap bersikap tidak peduli, tampaknya hanya memicu kekesalan Julie, hingga menjadi-jadi.


Bibir Julie yang terkunci rapat, terlihat bergerak ke sana kemari, dan begitu juga hidungnya yang tampak kembang kempis.


"Aku akan mengambil Steve darimu! Dan kita lihat, bagaimana kamu bisa mengatasinya nanti!" ujar Julie.


"Pffftt...! Hahaha!" Walaupun yang sebenarnya Casey merasa sangat sebal karena perkataan Julie itu, namun dia masih bisa tertawa terbahak-bahak, berniat untuk mengejek Julie.


Casey lalu melihat Julie dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya, kemudian menatap mata Julie, sambil berkata,


"Silahkan mencoba! Aku akan memberimu kesempatan!"


"Tapi kamu akan merayunya menggunakan apa? Tsk! Tsk! Tsk! ... Menyedihkan...." lanjut Casey, sambil berdecak, dan dengan nada suara sinis.


"Lihat saja, nanti!" ujar Julie, kemudian berbalik, dan berjalan menjauh dari situ.


Walaupun Julie sudah pergi sejak beberapa saat yang lalu, namun Casey masih berdiri terdiam di tempatnya, sambil memikirkan sikap dan perkataan Julie.


Menarik kesimpulan dari apa yang baru saja terjadi, kemungkinan besar pertengkaran Julie dan Aaron tadi, karena Julie yang cemburu akan kedekatan Aaron dengan Casey.


Tapi yang menurut Casey cukup aneh, apa mungkin, jika Aaron tidak memberitahu Julie, apa yang menjadi tujuannya, sehingga dia mencoba menarik perhatian dari Casey?


Aaron sengaja mendekati Casey, karena dia ingin mempertahankan jabatannya, agar dia juga bisa membuat jabatan Julie tetap bertahan.


Dengan demikian, tentu situasi itu akan menguntungkan bagi kedua orang itu, sehingga Aaron seharusnya tidak perlu menyembunyikan rencananya, dari Julie.


Apa Aaron memang benar-benar menyukai Casey?


Ah! Tidak! ... Rasanya itu tidak mungkin. Tidak ada perasaan seseorang yang bisa berubah secara tiba-tiba.


Steve terlihat sudah berjalan menghampiri Casey yang masih berdiri di situ, lalu memasangkan jaket panjangnya kepada Casey.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa kamu tidak kembali ke mobil? Di luar ini sudah sangat dingin," ujar Steve.


"Julie ingin merebutmu dariku," kata Casey.


"Ugh?" Steve tampak bingung.


"Apa patut bagiku untuk merasa khawatir?" tanya Casey.


Steve menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu bicara apa? Aku hanya mengharapkan cintamu, sampai bertahun-tahun lamanya. Lalu setelah aku mendapatkan cintamu, kamu pikir aku akan melepaskanmu begitu saja?


... Jika saja kamu belum bertunangan dengan Aaron, maka aku pasti akan melamarmu, agar menikah denganku saat ini juga," ujar Steve, lalu memeluk Casey dengan erat.


"Aku mencintaimu, Casey ... Hanya mencintaimu. Tidak ada satupun wanita, yang bisa menggantikanmu di hatiku," lanjut Steve.


"Hmm ... Okay, okay! ... Ayo kita kembali ke mobil! Kamu pasti kedinginan," kata Casey.


***


Setibanya di rumah, Daniel sudah berada di sana, dan mengajak Casey dan Steve untuk menikmati teh, di ruang keluarga.


Namun Casey yang merasa lelah, meminta izin untuk pergi beristirahat di kamarnya, dan hanya Steve yang tertinggal, lalu berbincang-bincang dengan Daniel.


Ketika Casey terbangun, membersihkan dirinya dan berganti pakaian, lalu segera turun ke lantai bawah, Steve sudah tidak berada di ruang keluarga, dan hanya ada Daniel yang sedang membaca koran.


"Grandpa!" Casey menyapa Daniel, lalu ikut duduk di situ, dan menyandarkan kepalanya di bahu Daniel.


"Bagaimana harimu?" tanya Daniel, sambil mengusap-usap kepala Casey, dengan sebelah tangannya.


"Seperti biasa ... Tidak ada yang istimewa," jawab Casey.


"Kata Steve, kamu mungkin kelelahan karena sempat ikut perlombaan di kantor," kata Daniel.


"Apa itu saja yang Grandpa bicarakan dengannya?" tanya Casey.


Daniel lalu melepaskan kacamata dari wajahnya dan meletakkannya di atas meja, bersama-sama dengan lembaran koran yang tadinya dipegang olehnya.


"Kelihatannya, dia sangat perhatian padamu. Jika Grandpa tidak bicara tentang bisnis, dia pasti akan membahas tentangmu," kata Daniel.


"Apa Grandpa telah salah menilai? Tapi menurut Grandpa, Steve menyukaimu. Dia terlihat sangat bersemangat, dan bahkan tampak hampir tidak bisa berhenti tersenyum, saat dia sedang membicarakanmu," lanjut Daniel, lagi.


Casey menyembunyikan senyumnya, saat mendengar perkataan Daniel itu.


"Casey! ... Bagaimana hubunganmu dengan Aaron?" tanya Daniel.


"Tidak ada perbedaan dari biasanya," jawab Casey, datar.


"Dia masih sibuk dengan kekasihnya. Tapi belakangan ini, dia jadi lebih sering menemuiku, hingga kekasihnya tadi mengancamku, agar aku menjauh dari Aaron," lanjut Casey.


"Apa katamu?" Daniel tampak bingung. "Lalu apa yang terjadi?"


"Aku tidak peduli. Aku masih terlalu sibuk dengan pekerjaanku, dan tidak akan sempat untuk memikirkan hal yang tidak penting seperti itu," jawab Casey.


Casey lalu bercerita kepada Daniel, tentang apa saja yang dia bicarakan dengan ketua komite audit, yang menemuinya tadi pagi.


Namun, Daniel tampaknya sering teralihkan perhatiannya, sehingga Casey menghentikan pembahasannya begitu saja.


"Apa yang sedang Grandpa pikirkan?" tanya Casey, penasaran.


"Ugh? ... Tidak ada," jawab Daniel.


"Aku—"


"Apa—"


Casey ingin memberitahu rencananya tentang perubahan manajemen, tapi karena di saat itu dia berbicara secara bersamaan dengan Daniel, sehingga akhirnya, casey hanya menghentikan kalimatnya.


Dan begitu juga Daniel yang tidak melanjutkan perkataannya, hingga beberapa waktu lamanya Casey menunggu.


"Apa yang ingin Grandpa katakan?" tanya Casey.


"Apa Aaron sudah tahu, kalau wanita yang mengaku sebagai kekasihnya, menemuimu dan mengancammu?" Daniel tampak geram, namun dia masih bisa bicara dengan tenang.


"Aku tidak tahu. Karena kekasih Aaron itu menemuiku, sesaat sebelum aku pulang ke rumah. Jadi, aku belum bertemu dengan Aaron," jawab Casey.


Daniel terdiam.


"Sebenarnya apa yang Grandpa sembunyikan dariku?" tanya Casey, mencoba mendesak Daniel.


"Kata Aaron, dia pergi mengunjungiku di rumah sakit. Tapi tiba-tiba saja, dia mendapatkan larangan untuk mengunjungiku lagi," lanjut Casey.


Daniel kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu berkata,


"Ada yang harus Grandpa lakukan. Nanti kita bicara lagi."


"Grandpa!" ujar Casey, hendak menahan Daniel.


Walaupun demikian, Daniel tetap berlalu pergi dan masuk ke dalam ruang kerjanya, sehingga Casey ikut menyusulnya.


"Kenapa Grandpa menghindar dariku?" tanya Casey, terus mencoba mendesak Daniel.


"Casey! ... Grandpa masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, agar Grandpa bisa ikut makan malam bersamamu dan Steve," kata Daniel.


Mau tidak mau, meskipun masih merasa mengganjal, Casey kemudian bersiap-siap untuk keluar dari ruang kerja Daniel, dan membiarkan Daniel yang sudah memegang lembaran berkas, agar bisa lanjut bekerja.


Namun, sebelum Casey melangkah ke luar ruang kerja itu, Daniel tiba-tiba saja menahannya, dengan berkata,


"Casey! ... Jangan marah, dan tolong bersabarlah...! Grandpa belum bisa memberitahumu semua yang mungkin Grandpa ketahui, karena Grandpa menyayangimu, dan mengkhawatirkan kondisimu....


...Grandpa takut jika mengatakan semuanya kepadamu secara langsung, dan hal itu justru hanya akan membuat kondisimu memburuk....


... Itu sebabnya Grandpa harus menunggu, sampai ingatanmu kembali dengan sendirinya, dan bukan karena stimulasi berlebihan yang dipaksakan."


Casey kemudian menghampiri Daniel, lalu memeluk Daniel dengan erat. "Aku tidak marah kepadamu, Grandpa!"


"My dear...! Maafkan Grandpa," kata Daniel, sambil membalas pelukan Casey.


"It's okay, Grandpa! ... Aku menyayangimu," sahut Casey.