Memory Of Love

Memory Of Love
Part 41



Menurut Casey, permintaan dari Aaron itu, adalah permintaan yang paling tidak tahu malu, yang pernah Casey dengarkan dari seseorang.


"Aku tidak bisa menyetujui permintaanmu itu. Aku tidak akan menyakiti hati Steve. Apa kamu tidak memikirkan hal itu?


...Lalu, bagaimana nanti dengan Julie, jika dia melihat semua yang ingin kamu lakukan denganku? Julie pasti akan merasa sama sakitnya, seperti Steve....


... Dan kamu tentu tidak ingin menyakiti seseorang yang benar-benar kamu cintai, bukan?" ujar Casey, yang terpikir untuk menggunakan Julie sebagai alasan tambahan, agar Aaron mengubah pikirannya.


"Kamu adalah orang yang aku cintai. Sedangkan Julie ... Aku hanya kasihan dan merasa hutang budi kepadanya. Selama ini, aku tertipu dengan perasaan itu, dan mengira kalau aku mencintainya....


... Jadi, sebaiknya kamu tidak perlu memanfaatkan keberadaan Julie. Karena itu tidak akan berfungsi, untuk membuatku mundur darimu," sahut Aaron.


"Steve ... Kamu memikirkan perasaannya? Lalu bagaimana dengan perasaanku, saat melihatmu bersamanya?" lanjut Aaron.


"Kamu benar-benar lelaki b*rengsek...!" ujar Casey, datar dan sinis.


"Apa kamu sadar, dengan apa yang baru saja kamu katakan? Katamu, aku dulu mencintaimu? Lalu, apa menurutmu tidak akan menyakitkan bagiku, jika di saat itu aku melihatmu bermesraan dengan Julie?" lanjut Casey, pelan namun pasti.


Aaron terdiam.


Casey yang merasa kalau pelukan Aaron terasa sedikit melonggar, segera berdiri dari pangkuan Aaron.


Dan tanpa berkata apa-apa lagi, Casey kemudian berjalan menjauh, membuka pintu ruang kerjanya, dan berniat untuk mengusir Aaron dari situ.


"Keluar sekarang! ... Perbincangan kita sudah lebih dari cukup!" ujar Casey.


Aaron lalu berdiri dari tempat duduknya, dan menyusul Casey ke pintu.


"Kalau kamu terus menolakku, maka aku akan membuktikan ucapanku! Kita akan menikah secepatnya! Dan kamu bisa ucapkan selamat tinggal kepada Steve!" kata Aaron, tegas.


Casey benar-benar geram dibuat Aaron, hingga dia mengangkat tangannya hendak menampar wajah Aaron.


Namun, sebelum tangan Casey yang berayun, menyentuh wajah Aaron, laki-laki itu kemudian menangkap tangan Casey, dan justru menarik Casey, hingga mendekat padanya.


"Camkan baik-baik! Kalau kamu bersikap seperti ini terus-menerus, berarti kamu sedang menempatkan Steve dalam situasi yang sulit," ujar Aaron.


Dengan matanya yang tampak berkilat-kilat, Aaron seolah-olah sedang dirasuki oleh sesuatu yang buruk.


Lalu dengan beringas, Aaron kemudian memeluk Casey, dan memaksa untuk mencium bibir Casey.


Casey menggigit bibir Aaron sampai berdarah, tapi laki-laki itu seakan-akan tidak perduli, dan justru semakin gigih untuk menguasai Casey.


"Lepaskan aku!" ujar Casey, setengah berteriak.


Baik Casey maupun Aaron, tidak ada satupun yang memperlihatkan tanda-tanda untuk menyerah, dan Aaron bahkan menendang daun pintu, sampai pintu itu kembali tertutup.


"Apa kamu lebih suka kalau aku memaksamu? Atau kamu akan setuju dengan tawaranku tadi?" tanya Aaron, tampak masa bodoh.


Menurut Casey, tampaknya Aaron tidak bisa dilawan dengan beradu keras kepala.


Mau tidak mau, kelihatannya Casey harus menyetujui tawaran Aaron, sekadar memberi waktu, sampai Casey bisa meyakinkan Daniel, bahwa Casey tidak mau menikah dengan Aaron.


"Baik! ... Aku setuju! ... Tapi hentikan semua kegilaan ini! Dan jangan membawa-bawa Steve, dalam permasalahan kita berdua!" sahut Casey, geram.


"Lihat! ... Lebih mudah jika kamu menyerah, bukan?" ujar Aaron, lalu tersenyum lebar.


Seperti tidak mengenal rasa sakit, Aaron masih bisa terlihat santai, meskipun sedikit darah terlihat dari luka bekas gigitan Casey di bibirnya, dan mengalir sampai ke dagunya.


Bahkan seolah-olah tidak sempat terjadi apa-apa, Aaron kembali terlihat tenang, dan seakan-akan lebih terpusat perhatiannya, untuk mencurahkan kasih sayangnya kepada Casey.


"Aku mencintaimu, Casey!" kata Aaron, sambil mengusap-usap bagian belakang kepala Casey, dengan lembut dan perlahan.


"Mulutmu berdarah...." kata Casey, memilih untuk ikut dalam permainan Aaron, dan berpura-pura seolah-olah dia akan mencoba membuka hatinya untuk laki-laki itu.


"Lepaskan aku sebentar! ... Biarkan aku mengambilkan tissue, untuk membersihkan wajahmu," lanjut Casey.


Namun, darah di dagunya, disambar Aaron dengan punggung tangannya, lalu berkata,


"Nanti saja! ... Aku masih ingin memelukmu."


"Aku tidak mau merasakan darah di mulutku," ujar Casey, beralasan.


"Oh! ... Okay! Aku akan membersihkannya lebih dulu." Aaron lalu pergi mengambil beberapa lembar tissue yang di atas meja, tanpa melepaskan rangkulannya dari pinggang Casey.


"Apa kamu bisa membantuku?" tanya Aaron, meminta Casey untuk membersihkan wajahnya.


Casey lalu mengambil lembaran tissue dari tangan Aaron, dan mengelap semua bagian dari wajah Aaron, yang terlihat masih ada cairan darah yang menempel di sana.


"Auch!" Sambil tersentak, Aaron meringis kesakitan, ketika lembaran tissue yang dipegang Casey, menyentuh luka di bibirnya.


"Lukamu ini harus diobati," kata Casey, lanjut membersihkan luka, yang terlihat masih mengeluarkan darah.


"Ada kotak obat di rak buku. Biar aku mengambilkannya untukmu. Kamu duduk saja dulu!" lanjut Casey, menyuruh Aaron untuk duduk di sofa.


Ketika Aaron melepaskannya, Casey lalu pergi mengambil kotak obat yang ada di rak buku, dan membawanya ke sofa, di mana Aaron sudah terduduk di sana.


Luka robek yang terlihat cukup lebar terbuka dan memanjang di bibir Aaron, sanggup untuk membuat Casey merinding, karena dia sendiri tidak menyangka, kalau dia bisa melakukan kekerasan fisik seperti itu.


"Auch! ... That's really hurt!" Aaron tampak sangat kesakitan, ketika Casey selesai membersihkan, dan segera mengoleskan salep obat ke atas lukanya.


"Salahmu sendiri yang membuatku terpaksa menggigitmu!" ujar Casey, yang sedikit merasa bersalah, dan membela diri.


"Maafkan aku ... Aku pasti menakutimu," ujar Aaron, sambil menatap Casey dengan tatapan sayu, seolah-olah dia benar-benar menyesali tindakannya tadi.


"Casey! ... Aku berjanji padamu. Jika aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku lagi, maka aku akan membiarkanmu agar bisa bersama Steve," lanjut Aaron.


Lagi-lagi, Aaron mengulang perkataannya yang sebelumnya, tampak ingin memberikan Casey kepastian, bahwa dia memang hanya meminta kesempatan, dan dia pasti akan menyerah, jika dia memang tidak berhasil.


"Okay! Aku percaya padamu ... Sekarang tutup mulutmu, dan jangan menggerakkannya dulu, agar lukamu bisa berhenti berdarah!" sahut Casey.


Selain di bagian wajah Aaron, Casey juga membersihkan sisa-sisa cairan darah yang tampak mulai mengering, di tangan Aaron.


"Wanita ini sangat cantik!" celetuk Aaron.


Casey yang sedari tadi menundukkan pandangannya, karena sedang melihat ke tangan Aaron yang sedang dibersihkannya, lalu kembali mengangkat pandangannya dengan perlahan, dan melihat ke mata Aaron.


"Waktu pertama kali kita bertemu di rumahmu, 'Wanita ini sangat cantik', adalah kata-kata yang melintas di kepalaku," kata Aaron.


"Lalu aku terpikir, kenapa kamu belum memiliki kekasih? Apa yang kurang darimu, hingga tidak ada lelaki yang mau menjadi kekasihmu?


...Padahal, selain kecantikanmu yang telah aku lihat sendiri, aku juga mendengar kalau kamu adalah orang yang pintar....


... Karena itu aku jadi menduga-duga, bahwa kamu mungkin memiliki sifat yang buruk. Sehingga kamu kesulitan untuk mendapatkan kekasih," lanjut Aaron, menceritakan masa lalu.


Casey kembali menundukkan pandangannya, dan lanjut membersihkan tangan Aaron.


"Aku jatuh cinta kepada Steve, tidak berapa lama setelah kami saling mengenal di universitas. Tapi karena dia yang terlalu pemalu untuk mengakuinya, sehingga aku tidak tahu kalau dia juga ternyata mencintaiku....


... Karena rasa cintaku padanya, aku jadi tidak tertarik untuk melihat laki-laki lain. Aku lebih memilih untuk berkonsentrasi pada kuliahku saja, sampai aku menyelesaikan semua program studiku," kata Casey, datar.


"Apa kelebihannya? ... Maksudku, aku tahu dia tampan, dan kelihatannya juga pintar. Tapi apa yang membuatmu benar-benar tertarik padanya? Ketampanan dan kepintarannya itu?" tanya Aaron.


"Hmm ... Asal kamu tahu saja. Aku tertarik kepada Steve, bukan karena menilai dari tampilan luarnya yang berwajah tampan, dan memiliki bentuk tubuh yang bagus....


...Karena penampilan Steve sewaktu masih berkuliah, justru tidaklah semenarik seperti sekarang ini....


... Tapi aku bisa jatuh cinta padanya, karena selain pintar, dia juga orang yang baik. Dan itu sudah lebih dari cukup untukku," jawab Casey.


"Lalu bagaimana denganku? Kenapa kamu bisa jatuh cinta padaku?" tanya Aaron, lagi.


Casey melepaskan lembaran tissue kotor ke atas meja, lalu mengangkat pandangannya, bertatapan dengan Aaron.


"Aku rasa, mungkin pada saat itu aku hanya kesepian, karena terlalu lama tidak berkencan," jawab Casey, datar.


"Oh, geez! ... Apakah ini adalah tanda, bahwa kemungkinan aku akan gagal sebelum mencoba?!" ujar Aaron, sambil tersenyum.


"Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Kamu pernah mencintaiku, maka aku akan berusaha menjadi versi terbaikku, agar kamu bisa melihatku, dan jatuh cinta padaku lagi," lanjut Aaron.