Memory Of Love

Memory Of Love
Part 33



"Apa kalian belum ada yang ingin pergi makan siang?"


Di sela-sela pekerjaannya memeriksa data-data perusahaan, Casey mendengar perkataan Julie yang sampai berulang kali mengajak Aaron dan Steve, untuk pergi makan siang bersamanya.


Casey tidak tahu harus berkata apa, atas tingkah tidak tahu malu yang diperlihatkan Julie itu.


Julie yang notabene tidak memiliki hubungan baik dengan Casey, tapi masih percaya diri, untuk berada di dalam ruang kerja Casey.


Dan ditambah lagi, Julie tampaknya berusaha untuk mengakrabkan diri dengan Steve.


Walaupun Casey sudah merasa sangat sebal, namun Casey tidak mau terpengaruh dengan tingkah menjengkelkan dari Julie, maupun Aaron.


Karena pekerjaannya masih dianggap Casey lebih penting, daripada tingkah kedua orang yang aneh dan tidak jelas itu.


"Casey...! Apa kamu belum lelah?" tanya Steve, sambil berdiri agak jauh dari meja kerja Casey.


Casey belum sempat menanggapi pertanyaan Steve, namun tiba-tiba saja....


"Ca—" Suara Lionel yang setengah berteriak, tiba-tiba terhenti begitu saja, hingga Casey melihat ke arah pintu yang telah terbuka, dan Lionel tampak berjalan masuk.


Mungkin karena telah terbiasa, dengan keberadaan Lionel yang sering mendatangi Casey di ruang kerjanya, sehingga Morty tidak memberitahu Casey lagi, akan kedatangan Lionel di situ.


"Kelihatannya ruang kerjaku telah beralih fungsi menjadi taman bermain," celetuk Casey, sambil menutup lembaran berkas di atas meja.


"Ugh?" Dengan tatapan bingungnya, Lionel yang kelihatan sibuk memandangi Julie dan Aaron yang ada di situ, tampak semakin bingung karena perkataan Casey.


"Apa katamu?" tanya Lionel.


"Tempat ini sudah bukan lagi ruangan untuk bekerja," sahut Casey, datar.


"Kenapa mereka ada di sini?" tanya Lionel, dengan suaranya yang dipelankan.


"Jangan bertanya kepadaku...! Karena aku juga tidak tahu apa yang menjadi tujuan mereka," jawab Casey, kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Apa kamu lelah?" Lionel kemudian segera menghampiri Casey, lalu memijat-mijat pundak Casey.


Steve tampak tersenyum lebar, ketika melihat tingkah Lionel yang menurut Casey, memang tampak masa bodoh.


"Duduklah, Steve! ... Kamu tidak perlu berdiri di situ," kata Casey.


Steve kemudian mengambil tempat duduk, yang berhadapan dengan meja kerja Casey, lalu tampak senyum-senyum sendiri, saat mengangkat pandangannya.


Steve kelihatannya sedang memperhatikan Lionel, dan entah apa yang dibuat Lionel selain memijat-mijat pundak Casey, hingga bisa membuat Steve hampir tertawa.


"Apa ada yang lucu?" tanya Casey.


Steve tampak tersentak, dan segera menatap ke arah Casey, sambil tersenyum lebar, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada."


Casey segera mendongakkan kepalanya, dan melihat ke arah Lionel, yang ternyata sedang membuat raut wajah konyol.


"Apa kamu sedang mengejekku?" tanya Casey.


"Tentu saja tidak," sahut Lionel, yang terlihat panik, sambil tetap memijat pundak Casey.


"Sudah cukup, Lionel!" kata Casey, lalu menjauhkan tangan Lionel dari bahunya.


"Apa kamu marah kepadaku?" tanya Lionel, berpindah ke depan Casey, lalu berdiri bersandar di meja kerja Casey.


Casey memijat keningnya sendiri. "Maafkan aku, Lionel ... Aku hampir kehilangan kendali."


"Kenapa? ... Apa karena mereka?" Lionel membuat tanda dengan gerakan kepalanya, merujuk kepada Aaron dan Julie.


"Aku tidak berniat untuk masuk campur. Tapi kamu kelihatannya sudah lelah. Apa tidak sebaiknya kamu beristirahat saja dulu?" ujar Steve, terdengar berhati-hati.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kalian tidak sedang membicarakan hal buruk di belakangku, bukan?" ujar Aaron, tiba-tiba.


Casey menatap Aaron, yang juga ikut menghampiri meja kerja Casey, dan hanya membuat kepala Casey jadi semakin terasa penat.


"Huuufft...!" Casey mendengus kasar. "Aaron! ... Kamu dan Julie bisa pergi makan siang lebih dulu!" 


"Ugh? ... Kenapa kita tidak pergi bersama-sama saja? Apa kamu masih akan bekerja?" tanya Aaron.


"Oh, gosh!" ujar Casey, meluapkan kekesalannya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Walaupun demikian, Aaron tampak bergeming, dan bertahan di tempatnya berdiri, sambil tetap menatap Casey.


"Aaron! ... Tolong jangan membuatku semakin kesal, hingga aku tidak akan pernah memberikanmu izin, untuk mengunjungi ruang kerjaku lagi....


... Silahkan keluar dari ruanganku lebih dulu, dan jangan lupa untuk membawa Julie bersamamu!" ujar Casey, tegas.


Aaron lalu tampak memandangi Steve dan Lionel bergantian, lalu menghentikan pandangannya kepada Casey. "Okay...!"


"Apa aku tidak salah lihat?" ujar Lionel, setelah Aaron berlalu pergi dari situ, bersama dengan Julie.


"Belakangan ini, Aaron tampaknya sengaja mencari perhatianmu. Dan aku rasa itu sangat aneh. Lalu, Julie ... Apa yang dia pikirkan?" lanjut Lionel, yang tampak menautkan kedua alisnya.


"Aku tidak peduli!" sahut Casey, kemudian berdiri dari tempat duduknya, setelah menyimpan berkas laporan, ke dalam laci meja kerjanya.


"Kamu pasti sudah lelah menungguku ... Ayo kita pergi makan siang!" ajak Casey, sambil melihat ke arah Steve.


"Tidak jadi masalah," sahut Steve.


Steve lalu ikut berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan bersama-sama dengan Lionel dan Casey, keluar dari ruang kerja Casey itu.


***


Di dalam kafetaria, di meja yang terpisah dari Aaron dan Julie, tempat duduk yang bersebelahan dengan Lionel, menjadi pilihan Casey.


Sementara Steve duduk di depan Casey, dan bersebelahan dengan Oscar.


"Satu-satunya jalan, kelihatannya memang harus ada perombakan total, dari manajemen perusahaan ini," lanjut Casey, masih dengan suaranya yang berbisik-bisik.


Steve tampaknya mengerti, kalau Casey dan Lionel, sedang membicarakan sesuatu yang krusial bagi perusahaan.


Sehingga Steve, tidak mengomentari perkataan Casey dan Lionel, dan justru tampak mengajak Oscar untuk berbincang-bincang dengannya.


"Apa kamu tidak mau mencoba untuk menggelar rapat dewan komisaris?" tanya Lionel. "Kamu mungkin bisa mendapatkan saran yang bisa membantumu."


"Mungkin memang sebaiknya begitu, dan aku akan mengajak Grandpa, untuk ikut dalam pertemuan itu nanti," sahut Casey.


"Tapi bagaimana menurutmu? Sebelum-sebelumnya, apa ada anggota dewan komisaris yang pernah mengungkit masalah manajemen di perusahaan ini?" tanya Casey.


"Ada ... Itu sudah pernah dibahas beberapa tahun yang lalu. Tapi Grandpa-mu, tidak terlalu menanggapinya.... 


... Karena untuk keseluruhan, grafik perkembangan perusahaan masih cukup baik," jawab Lionel.


Setelah Lionel menjawab pertanyaannya, barulah Casey teringat, kalau Daniel memang pernah berkata, bahwa Mister Loft pernah menyarankan untuk perubahan manajemen.


Kalau begitu keadaannya, maka Casey tampaknya tidak akan mengalami kesulitan, jika dia bisa meyakinkan Daniel, bahwa perubahan manajemen itu memang diperlukan.


Dan Casey hanya perlu berusaha, agar dia bisa mendapatkan dukungan penuh dari dewan komisaris, dan terlebih lagi dari dewan direksi, yang mungkin akan menentang rencananya.


Casey menatap Steve lekat-lekat.


Jika Steve setuju untuk bekerja di perusahaan itu, maka Casey memang akan melanjutkan tujuannya, untuk mengajukan Steve, agar bisa menjabat sebagai presiden direktur.


"Ada apa?" tanya Steve, tampak mengangkat kedua alisnya, dan tersenyum lebar.


Casey tidak menjawab pertanyaannya, dan hanya mengusik Steve, dengan menggigit bibirnya sendiri.


Steve tertawa kecil, lalu menggerakkan mulutnya, hingga terlihat seperti sedang berkata 'Don't tease me', tanpa mengeluarkan suaranya.


Kelihatannya, Lionel memperhatikan gerak-gerik Casey dan Steve di situ, karena dia kemudian tiba-tiba berkata,


"Kalian berdua berkencan. Benar begitu, bukan?" 


Baru saja Lionel selesai bicara, mendadak Aaron telah berada di dekat mereka, lalu berkata,


"Karena kalian tidak mau duduk di meja yang aku pilih, maka aku akan duduk di sini."


Aaron tampak memaksa, agar Lionel bergeser sedikit, dan Aaron bisa duduk di samping Casey.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Casey.


"Tempat ini lebih ramai dari biasanya," sahut Aaron, sambil mengatur peralatan makan yang dibawanya, ke atas meja.


Casey sama sekali tidak mengerti, apa maksud dari perkataan Aaron itu, yang tidak sesuai dengan pertanyaan yang Casey ajukan.


Belum selesai kebingungan Casey, mendadak saja, Julie terlihat ikut duduk di situ, dengan menyuruh Oscar untuk bergeser, agar Julie bisa duduk di samping Steve.


"Apa yang merasuki kalian berdua? Apa kalian berdua sudah gila?" tanya Casey, yang tidak bisa menahan dirinya lagi, sambil menatap Julie dan Aaron bergantian.


Walaupun Casey telah berkata kasar, namun Julie hanya tersenyum sinis, Aaron tampak memasang raut wajah masa bodoh, sementara sisanya yang lain, terlihat seperti orang kebingungan.


"Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" tanya Lionel.


Oscar pun, tampak setuju dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Lionel itu, hingga Oscar terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Jangan marah...! Aku hanya ingin lebih dekat denganmu," kata Aaron, berbisik-bisik kepada Casey.


Casey yang merasa kalau dia telah kehilangan selera makannya, kemudian berdiri, dan berkata,


"Steve! Apa kamu mau makan siang di luar?" 


"Ugh?" Steve sempat terlihat bingung. "Terserah kamu saja."


"Jangan ke mana-mana!" ujar Aaron, sambil menarik tangan Casey, hingga Casey kembali terduduk di situ.


"Julie! ... Ambil dan kendalikan kekasihmu ini! Aku tidak tertarik dengan mainan rusak," ujar Casey.


"Kamu yang seharusnya menghindar darinya, bukannya terus-menerus menggodanya," sahut Julie.


"Apa katamu? ... Mainan rusak?" tanya Aaron, yang berbicara hampir bersamaan dengan Julie.


"Apa matamu buta?" tanya Casey, sambil menatap Julie.


"Casey! ... Apa aku memang terlihat seburuk itu?" tanya Aaron, yang tampak berusaha mencari sela, agar suaranya bisa didengarkan.


"Aaron! ... Stop it!" ujar Casey, tegas.


"Jika kamu bukan—" Julie tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena Lionel segera menyela, dengan berkata,


"Kalian semua bertingkah seperti anak kecil."


Perkataan Lionel itu, akhirnya bisa membuat semua dari mereka hanya terdiam.


"Apa kalian tidak ada yang sadar, kalau bukan hanya kalian yang ada di sini?" lanjut Lionel, lalu menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.