
"Hey! ... Apa yang kamu lakukan?" tanya Casey, penasaran.
"Casey...! Coba kamu lihat di sebelah sana!" ujar Lionel.
Casey yang akhirnya terduduk, dan berbalik melihat ke arah mana Lionel menunjuk, kemudian melihat Aaron serta Steve, yang tampak berjalan bersama-sama mendekat ke arah Casey.
Bukan hanya dua laki-laki itu saja.
Oscar serta Julie, juga terlihat sedang mengikuti langkah Aaron dan Steve.
Casey menarik naik kain tipis, yang dipakai sebagai pelapis luar dari bikini, yang tadi sempat dilepasnya.
"Apa kamu sudah selesai mengoleskan sunblock, di punggungku?" tanya Casey.
"Ugh? ... Sedikit lagi!" sahut Lionel, kemudian lanjut menggosok-gosok bagian punggung Casey, dengan sedikit calir tabir surya.
"Hai!" Suara menyapa dari Aaron, Steve dan Oscar, terdengar hampir bersamaan.
"Kalian mau ikut bermain lempar tangkap?" tanya Aaron, yang memegang sebuah bola voli, sambil menatap Casey.
"Iya," sahut Lionel.
Sementara Casey, hanya mengangguk setuju, lalu berdiri dari atas tikar, dan mengikat kain pelapis di bagian perutnya, hingga menutup sampai ke lututnya.
Setelah beberapa saat mereka bermain, satu persatu dari laki-laki di situ, terlihat melepaskan kaos oblong yang mereka kenakan, memamerkan bentuk tubuh masing-masing yang tampak bugar.
Casey yang merasa bosan, kemudian memilih untuk berhenti bermain lebih dulu.
Oscar yang ikut melakukan hal yang sama, kemudian ikut duduk di atas pasir di samping Casey, menonton permainan mereka yang lain di sana.
"Steve," celetuk Oscar.
"Ugh?" Casey tidak mengerti akan apa yang dibicarakan oleh Oscar.
"Steve akan jadi pemenangnya, jika mereka mengikuti kontes," kata Oscar, sambil menoleh ke arah Casey untuk sesaat, lalu kembali melihat permainan di depannya.
"Dia yang paling tampan. Badannya juga yang paling tinggi, dan bentuk badannya yang paling bagus. Aku tidak menyangka, kalau penampilanku akan dikalahkan oleh sepupuku sendiri," lanjut Oscar.
Perkataan Oscar yang terdengar seperti sedang menggerutu, justru hanya membuat Casey ingin menertawakannya. "Pffftt...!"
"Apa aku boleh tahu, kenapa kamu harus memakai itu?" tanya Oscar, merujuk pada kain pelapis yang dipakai oleh Casey.
Pada awalnya, Casey merasa ragu untuk memberitahu Oscar, alasannya menutupi bagian perut bawah sampai ke lututnya.
Namun pada akhirnya, Casey kemudian menggeser kain tipis itu, dan memperlihatkan pahanya, yang terdapat bekas luka yang cukup besar.
"Tulang pahaku patah, ketika aku kecelakaan dengan mobilku. Jadi ini, adalah bekas luka operasi," ujar Casey.
Oscar terbelalak, dan tampak memperhatikan baik-baik, bekas luka memanjang yang lebih dari sejengkal orang dewasa, di salah satu paha Casey.
"Kakimu bagus, kamu tidak perlu menutup-nutupinya," ujar Oscar, sambil memasang raut wajah serius.
"Tapi kalau memang tidak percaya diri dengan bekas luka itu, kamu bisa membuat tato di situ," lanjut Oscar.
"Yeah, right!" sahut Casey, asal-asalan, sambil tersenyum lebar, dan hampir tertawa, lalu kembali menarik kain, agar bisa menutupi kakinya lagi.
"Casey!"
Suara Steve yang tiba-tiba sudah berada di dekat Casey dan Oscar, cukup untuk membuat Casey terkejut, dan buru-buru mengangkat pandangannya.
"Apa aku bisa melihatnya?" tanya Steve, sambil menunjuk kaki Casey dengan gerakan matanya.
Kelihatannya, walaupun mereka sedang bermain, Steve maupun Aaron, masih memperhatikan gerak-gerik Casey di situ.
Sehingga sewaktu Casey memperlihatkan kakinya kepada Oscar, bukan hanya Oscar yang melihatnya, melainkan Steve dan Aaron juga mungkin melihatnya, walaupun hanya sepintas.
Itu sebabnya, hingga saat ini, Aaron serta Steve, kemudian terlihat berjongkok di depan Casey.
Walaupun merasa sedikit ragu, namun Casey mau saja menggeserkan kain, sampai bekas luka itu bisa terlihat oleh Steve dan Aaron.
"Oh, gosh!" ujar Aaron, tampak memasang raut wajah bersalah, lalu menundukkan kepalanya.
Namun di saat itu juga, terdengar suara Julie yang tertawa di dekat situ, sehingga Casey melihat ke arah Julie, yang sudah berdiri di belakang Aaron.
Seakan-akan Julie merasa sangat senang melihat bekas luka di paha Casey itu, Julie tampak tertawa puas, sambil berkata,
Julie tampaknya memang bukanlah wanita yang memiliki perasaan simpati kepada orang lain, sehingga dia bisa berkata seperti itu, yang hanya membuat Casey benar-benar kesal karenanya.
Akan tetapi, sebelum Casey membela diri, Aaron sudah berdiri dan berbalik, dan segera menghardik Julie, dengan nada suaranya yang meninggi.
"Julie! ... What's wrong with you?! Are you crazy?"
Aaron tampak sangat geram, hingga badannya gemetar, seolah-olah dia akan memukul Julie saat itu juga.
"Tidak apa-apa," kata Casey, yang tidak ingin terjadi keributan di situ.
"Oscar! ... Kira-kira, tato bergambar apa yang bagus?" tanya Casey, sekadar saja, untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa kesalnya kepada Julie.
"Kamu akan membuat tato?" tanya Lionel, yang tampak tidak percaya dengan perkataan Casey.
"Kenapa kamu ingin membuat tato? Apa untuk menutupi bekas luka itu?" tanya Steve, hampir bersamaan dengan Lionel.
Casey menganggukkan kepalanya.
"Tidak perlu," kata Steve, sambil menatap Casey lekat-lekat. "Kakimu masih terlihat indah."
"Benar kataku, bukan?" ujar Oscar, menimpali. "Kamu tidak perlu menutupinya. Kakimu masih jauh lebih bagus, daripada kaki Miss Julie."
"Apa katamu?" Julie terdengar meradang.
"Memang benar apa kata Oscar! Aku bahkan tidak bisa terangsang, walaupun kamu sudah bertelanjang bulat," ujar Aaron, dengan suara bergetar.
Sontak saja, semua pandangan tertuju kepada Aaron dan Julie.
Dan seketika itu juga, Julie terlihat seperti akan menangis, kemudian berlalu pergi dari sana dengan cepat, hingga hampir setengah berlari.
Kelihatannya, kemarahan Aaron kepada Julie benar-benar memuncak, sehingga Aaron bisa berkata seperti itu, tanpa mempedulikan orang lain yang ada di sekitarnya.
Setelah kepergian Julie, barulah Aaron terlihat menyesali perkataannya, hingga dia menundukkan kepalanya, sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Aku rasa, sebaiknya kamu meminta maaf kepada Julie," kata Casey, memecah keheningan.
"Apa karena itu?" Aaron seolah-olah tidak mendengar perkataan Casey, dan justru mengalihkan pembicaraan, sambil menunjuk ke arah kaki Casey, dengan gerakan matanya.
Casey tidak segera menjawab pertanyaan Aaron.
"Apa karena bekas luka itu, hingga kamu tidak mau bertemu dengan—" Aaron tiba-tiba menghentikan perkataannya untuk sejenak, sebelum dia kemudian lanjut berkata,
"... Menurut Steve, kamu juga tidak ingin bertemu dengannya. Apa karena kamu tidak mau kami melihatnya? ... Oh, gosh! Ini semua adalah kesalahanku."
"Aku—" Casey tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena Aaron yang berjongkok di dekatnya, segera menyela dengan berkata,
"Aku sungguh-sungguh meminta maaf kepadamu. Aku tahu, kalau aku tidak akan pernah bisa menebus kesalahanku padamu....
... Tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin, untuk melakukan apapun yang kamu inginkan. Katakan saja!"
"Mungkin kamu bisa membatalkan pertunangan kalian," celetuk Lionel, terdengar tanpa beban, sebelum Casey menanggapi perkataan Aaron.
Untuk beberapa saat lamanya, semua yang berada di situ kemudian hanya terdiam.
Bahkan, Oscar yang biasanya bicara ceplas-ceplos, tidak berani untuk berkomentar apa-apa, walaupun dia tampak sangat terkejut dan kebingungan, mendengar perkataan Aaron serta Lionel.
Dengan tatapan penasaran, Oscar hanya memandangi Aaron, Lionel dan Casey bergantian.
Sementara itu, Lionel yang tampak masih kurang puas, kemudian lanjut berkata,
"Kita semua adalah orang dewasa, dan seharusnya bisa lebih berpikiran terbuka. Aku bisa memastikan, kalau Casey tidak berniat untuk menyakiti salah satu dari kalian....
... Jika kamu menyayangi Casey—"
"Lionel!" Casey menyela Lionel, agar Lionel bisa berhenti bicara.
"Apa maksudmu...?" Aaron juga ikut mengeluarkan suaranya, hampir secara bersamaan dengan Casey.
Seolah-olah mengerti akan apa yang ingin ditanyakan oleh Aaron, Lionel kemudian menjawab pertanyaan Aaron, dengan berkata,
"Iya! ... Ingatan Casey yang kembali, begitu juga dengan rasa cintanya padamu. Jadi sekarang ini, Casey mencintai kalian berdua secara bersamaan."