
Ketika jam istirahat makan siang telah berakhir, Casey sebenarnya berencana untuk melanjutkan pekerjaannya.
Akan tetapi, Casey tampaknya tidak akan dibiarkan sendirian, ataupun hanya berdua saja dengan Steve, sehingga Aaron, Lionel, Julie dan bahkan Oscar, justru terlihat akan menyusulnya ke ruang kerjanya.
Merasa kalau orang-orang itu nanti hanya akan mengganggu pekerjaannya saja, maka Casey kemudian setuju untuk pergi melihat kegiatan perlombaan antar pegawai.
Kegiatan yang digelar di gedung olahraga perusahaan, yang berdiri tepat di belakang gedung kantor, terlihat sudah dipadati dengan karyawan, baik yang akan ikut perlombaan, maupun yang hanya akan menontonnya saja.
Atas arahan panitia yang menghelat kegiatan itu, Casey diberikan tempat duduk di barisan paling depan, yang memang telah dipersiapkan untuk para jajaran petinggi perusahaan.
Dengan demikian, dari ujung kiri ke kanan, terlihat para anggota dewan direksi yang hadir, termasuk Julie, lalu Aaron, Casey, kemudian Steve, Lionel, dan sisa dari anggota dewan komisaris lain, duduk berjejer di situ.
Saat Aaron sedang memberikan sambutannya, sebagai pembuka acara itu, Oscar yang ikut ambil bagian dalam salah satu perlombaan itu mendatangi Casey, lalu berkata,
"Aku ingin agar kamu bisa jadi partnerku."
"Ugh?" Casey tersentak, lalu tertawa. "Tidak. Aku hanya akan menonton saja."
"Ayolah! ... Pasti akan lebih seru, daripada kamu hanya duduk di antara orang-orang ini," kata Oscar, sambil berbisik-bisik di telinga Casey.
"Perlombaan apa?" tanya Casey.
"Mengumpulkan biji kacang menggunakan sumpit," jawab Oscar.
Casey kemudian melihat ke kiri dan kanannya, dan bertemu pandang dengan Julie yang duduk bersela satu kursi kosong, dari Casey.
Menurut Casey, ajakan Oscar itu cukup menarik, sehingga Casey pun menyetujuinya. "Okay!"
Casey segera berdiri dari tempat duduknya, lalu menoleh ke arah Steve dan Lionel, kemudian berkata,
"Aku akan ikut bermain dengan Oscar."
"Okay! ... Fighting!" sahut Steve, sambil tersenyum lebar, dan mengangkat sebelah tangannya yang terkepal.
"Kamu ikut perlombaan?" tanya Aaron, yang baru akan kembali ke tempat duduknya yang semula.
Casey tidak menjawab pertanyaan Aaron, melainkan segera berjalan pergi bersama Oscar, untuk pergi mengambil kaus olahraga yang dipersiapkan di sana, untuk semua yang akan ikut serta dalam perlombaan.
***
Sesuai dengan dugaan Casey, kalau perlombaan yang akan diikutinya bersama Oscar, akan jadi kegiatan yang cukup menyenangkan.
Casey rasanya tidak bisa berhenti tertawa, saat beradu cepat dengan pasangan lain, untuk mengumpulkan biji kacang polong menggunakan sumpit, dan memasukkannya ke dalam sebuah gelas.
Lalu jadi lebih menyenangkan lagi, karena saat penilaian, ternyata Casey dan Oscar juga memenangkan perlombaan untuk putaran pertama itu, dan mereka nanti akan diikutsertakan di pertandingan final.
Oscar yang terlihat sangat senang, memeluk Casey dengan erat, sambil berseru kegirangan. "Yeay! ... Kita berhasil!"
"Jauhkan tanganmu darinya!" ujar Aaron, yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat Casey, yang sedang dipeluk oleh Oscar.
Seketika itu juga Oscar lalu terlihat panik, dan buru-buru melepaskan pelukannya dari Casey. "Maafkan aku, Casey! ... Aku terlalu bersemangat."
"Pffftt...! Tidak apa-apa," sahut Casey, sambil tertawa.
Steve dan Lionel yang juga terlihat ikut menghampiri Casey, tampak tersenyum lebar, lalu bergantian mengucapkan selamat.
"Kamu terlihat senang. Kalau tahu begitu, aku yang akan mendaftar lomba dan jadi partnermu," ujar Lionel, sambil mengacak rambut Casey.
"Besok, akan ada perlombaan berpasangan untuk memecahkan balon. Apa kamu mau bermain denganku?" lanjut Lionel.
"Hmm ... Okay!" jawab Casey. "Tapi untuk hari ini, aku akan fokus pada perlombaanku dengan Oscar."
"Yeah...! Itu baru semangat! Kita pasti akan menang!" ujar Oscar, sambil mengangkat kedua tangannya yang terkepal.
Sementara itu, Steve tampak seolah-olah tidak bisa berhenti tersenyum, sambil menatap Casey lekat-lekat.
Sedangkan Aaron, justru tampak sebal saat dia memandangi gerak-gerik dari Oscar. "Hadiahnya tidak seberapa. Apa kamu harus sebersemangat itu?"
Oscar lalu tampak lesu, dan menundukkan kepalanya.
"Ada apa denganmu? Casey dan Oscar menyukai permainannya. Jangan merusak kesenangan orang lain!" ujar Lionel, kepada Aaron.
"It's okay...! Kita akan bermain dengan baik." Casey mengusap-usap lengan Oscar, hingga Oscar kembali terlihat bersemangat.
***
Pada waktu perlombaan final dilangsungkan, Casey yang berpasangan dengan Oscar, hanya mendapat peringkat ketiga, namun kelihatannya, hal itu tidaklah mengurangi rasa senangnya karena serunya bermain.
Bukan hanya Aaron, Steve dan Lionel, yang mengucapkan selamat kepada Oscar dan Casey, saat itu.
Para anggota dewan komisaris, juga melakukan hal yang sama, saat mereka menghampiri Casey.
Yang pada akhirnya, Casey dan para anggota dewan komisaris justru tampak seperti membentuk sebuah kelompok terpisah, dan berlanjut dengan perbincangan tentang pekerjaan, untuk beberapa waktu lamanya.
Apalagi, ada satu anggota dewan komisaris, yang mempertanyakan acara perayaan ulang tahun perusahaan, yang diselenggarakan secara tiba-tiba, tanpa adanya rapat umum shareholders.
Sehingga Casey harus menjelaskan apa dasar alasannya, hingga dia menyetujui proposal yang diajukan oleh dewan direksi.
Casey memberitahu mereka semua, bahwa dia telah mengarahkan komite audit, untuk memeriksa ulang dan sekaligus mengawasi kegiatan itu.
Selain itu, Casey juga mengutarakan, bahwa setelah semua kegiatan perayaan ulang tahun perusahaan selesai digelar, maka akan segera dilangsungkan pertemuan khusus bagi dewan komisaris perusahaan.
Semua dari anggota dewan komisaris tanpa terkecuali, tampak memaklumi dan menyetujui rencana Casey itu, sebelum mereka membubarkan diri.
"Mungkin kelihatannya begitu. Tapi aku tidak tahu, bagaimana penilaian dewan direksi terhadapku," sahut Casey.
"Tidak perlu terlalu mengkhawatirkan hal itu. Selama Grandpa-mu setuju akan jalan pikiranmu, maka mereka tidak bisa berbuat banyak," kata Lionel.
"Hmm ... Lionel!" Casey ragu-ragu untuk bicara, hingga dia terdiam untuk beberapa saat, sampai Lionel menegurnya lebih dulu.
"Ada apa?" tanya Lionel.
"Aku rasa Aaron mencurigai rencanaku," jawab Casey.
"Ugh? ... Apa maksudmu?" tanya Lionel, terlihat bingung.
"Apa kamu tidak merasa aneh, saat dia tiba-tiba saja ingin berhubungan baik denganku?" Casey balik bertanya.
"Hmm ... Memang aneh," jawab Lionel. "Tapi apa yang kamu pikirkan?"
"Aku berencana untuk mengajukan Steve sebagai presiden direktur," kata Casey.
"Geez!" Lionel tampak sangat terkejut.
"Tentu tidak secara permanen, kecuali Steve bisa bekerja sesuai dengan targetku," kata Casey.
"Apa Grandpa sudah tahu rencanamu itu?" tanya Lionel.
"Belum. Karena Steve juga belum memberikan kepastian, apakah dia mau bekerja untuk kita," jawab Casey.
"Hahaha!" Lionel tiba-tiba saja tertawa lepas.
"Tentu Aaron tidak akan bisa tidur nyenyak, jika dia sampai tahu renca—" Lionel tiba-tiba menghentikan perkataannya, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu.
"... Aku mengerti sekarang. Jadi menurutmu, Aaron berusaha berbaikan denganmu, karena dia mencurigai, kalau kamu akan membuat jabatannya berada di bawah Steve?" lanjut Lionel.
"Iya. Aku rasa begitu," jawab Casey.
"Menarik!" Lionel mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi.... Casey! Kamu bisa memikirkan rencana itu, bukan hanya untuk membalas perlakuan Aaron?"
"Tentu saja tidak! ... Aku mempertimbangkan semuanya untuk kebaikan perusahaan," jawab Casey.
"Kalau begitu, coba saja kamu ikuti permainan Aaron. Karena aku juga penasaran, akan apa yang sebenarnya dia pikirkan," kata Lionel.
"Tidak semudah itu ... Steve—" Casey sebenarnya ingin mengatakan, kalau dia tidak ingin menyakiti hati Steve, jika dia harus ikut 'bermain' di dalam sandiwara yang dibuat oleh Aaron.
Namun, Casey lalu tiba-tiba saja merasa enggan untuk melanjutkan kalimatnya, dan akhirnya, Casey hanya menghentikan perkataannya begitu saja.
Walaupun demikian, namun Lionel bertingkah seolah-olah dia memang sudah tahu semuanya.
"Kalian sedang bermain api," lanjut Lionel, sambil memasang raut wajah kecewa, lalu melihat tampilan layar ponselnya, yang tadi sempat berbunyi.
"Casey!" ujar Oscar, yang terlihat berjalan bersama dengan Steve, menghampiri Casey dan Lionel.
Oscar lalu menyodorkan salah satu alat pelembab udara berukuran kecil yang dipegangnya, kepada Casey, sambil berkata,
"Kamu belum mengambil hadiahmu."
"Terima kasih!" Casey menerima hadiah yang dimenangkannya bersama Oscar, dari perlombaan tadi.
"Tsk!" Lionel tiba-tiba berdecak, sambil menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.
"Ada apa?" tanya Casey.
"Orang tuaku sudah berulang kali menyuruhku untuk pergi kencan buta," jawab Lionel. "Malam ini, mereka telah mengaturnya lagi. Dan mau tidak mau, aku harus pergi."
"Bukankah itu bagus? Bisa saja kamu bertemu dengan seorang wanita yang cantik dan baik," sahut Casey.
Lionel tidak menanggapi perkataan Casey, dan hanya menatap Casey lekat-lekat untuk beberapa saat, lalu memalingkan wajahnya.
"CEO dan Miss Julie, sedang bertengkar di luar," celetuk Oscar.
"Ugh?" ujar Casey, bingung.
Steve yang sudah duduk di samping Casey, kemudian ikut berkata,
"Mereka berdua menarik perhatian dari pegawai yang lain."
"Biarkan saja...! Itu bukan urusan kita," sahut Casey, pelan.
"Miss Julie menyebut-nyebut namamu dalam pertengkaran mereka," kata Oscar.
"Situasinya jadi semakin gila saja," ujar Lionel, menimpali.
"Mungkin sebaiknya kita pulang sekarang. Bagaimana kalau kita semua pergi bersantai di kafe, atau mungkin pergi menonton film di bioskop?" lanjut Lionel.
"Apa kamu sedang mencoba untuk menghindar dari kencan butamu?" tanya Casey, mengejek Lionel.
Lionel lalu mencubit pipi Casey. "Jangan coba-coba mengejekku!"
"Auch!" Sambil meringis, Casey menepis tangan Lionel dari wajahnya.
"Aku rasa itu bukan ide yang buruk. Pasti akan seru, jika kita menonton film beramai-ramai," ujar Oscar.