Memory Of Love

Memory Of Love
Part 38



Sebelum kegiatan perlombaan di perusahaan itu dimulai, Lionel berbisik-bisik kepada Casey dengan berkata,


"Jika memang benar yang dikatakan oleh Oscar, aku rasa Aaron mungkin memutuskan hubungannya dengan Julie."


Menurut Casey, mungkin karena usia Oscar yang masih terbilang muda, sehingga Oscar suka bicara apa adanya, dan sampai-sampai, Oscar bisa terdengar seolah-olah ingin bergunjing.


Namun karena celotehan Oscar itu juga, yang justru membuat Lionel tampaknya tidak bisa berhenti memikirkannya, sehingga dia bisa berkata seperti itu kepada Casey.


"Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu," sahut Casey.


Sejak di kafetaria tadi, Casey memang tidak mau membahas tentang Aaron dan Julie.


Di saat mereka makan siang itu, Casey bahkan segera mengalihkan pembicaraan, agar tidak melanjutkan pembahasan tentang Julie, yang dipicu oleh celetukan Oscar.


"Sudah cukup menjengkelkan saat Julie menemuiku kemarin, hanya untuk mengancamku agar tidak mendekati Aaron," lanjut Casey, geram.


"Ugh? ... Apa katamu? Julie mengancammu? Dia pikir siapa dirinya?!" Lionel tampak tidak bisa menahan dirinya lagi, sehingga saat dia bertanya, suara yang dikeluarkan olehnya terdengar cukup nyaring.


"Geez, Lionel! ... Apa kamu ingin semua orang di sini mendengarkan percakapan kita?" ujar Casey, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Maafkan aku...." ucap Lionel, pelan. "Tsk! ... Huuufft...!"


Lionel yang berdecak dan mendengus kasar, menampakkan seolah-olah dia sedang kebingungan, untuk berkata apa lagi kepada Casey.


"Tidak perlu terlalu memikirkannya," ujar Casey. "Sebaiknya kamu fokus, agar kita bisa memenangkan perlombaan."


"Okay!" sahut Lionel, sambil tersenyum lebar.


Sebelum Casey ikut dengan Lionel ke tengah lapangan olahraga, Casey masih menyempatkan diri untuk menghampiri Steve.


"Wish me luck!" ujar Casey, bermanja.


Steve tersenyum lebar, lalu berbisik-bisik di telinga Casey, dengan berkata,


"Fighting! ... I love you, my baby!"


"Love you, too!" sahut Casey, kemudian berlalu pergi bersama Lionel, yang tampak sudah tidak sabar menunggu Casey.


Yang Casey tahu, dia tidak memiliki fobia dengan balon, sehingga Casey masih merasa santai saat dia berdiri di antara banyaknya balon, yang bertebaran di lantai.


Tapi tiba-tiba saja, salah satu dari balon itu kemudian meletus, dan mengeluarkan bunyi yang nyaring bergema.


Seketika itu juga, Casey mendadak merasa lemas, dengan pandangan matanya yang menjadi kabur, hingga akhirnya menjadi gelap.


Saat dia bisa melihat lagi, Casey merasa kalau dia tidak sedang berada di dalam gedung olahraga, melainkan dia sedang berada di belakang kemudi, seolah-olah dia sedang berkendara dengan mengemudikan mobilnya seorang diri.


Dan kelihatannya, mobil yang dikendarai oleh Casey itu sedang melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan, dan terasa sulit untuk dikendalikan olehnya lagi.


Sampai Casey melihat bayangan hitam yang berada tepat di bagian depan mobilnya, dan tidak bergerak, saat mobil Casey masih melaju ke arahnya.


Walaupun Casey telah berusaha untuk membanting setir, namun Casey tetap tidak bisa menghindar dari bayangan hitam dengan corak kecoklatan itu, hingga mobil Casey akhirnya menabraknya.


"Auch!" Casey merintih kesakitan.


Sejujur tubuh Casey terasa remuk redam, dan rasa sakit yang terburuk, berada di bagian leher sampai ke kepalanya.


"Casey!"


"Oh, gosh! ... Casey!"


Suara Lionel, Steve, dan Oscar yang terdengar berganti-gantian memanggil namanya, membuat Casey membuka matanya dengan perlahan.


Tampaknya, Casey sedang berada dalam pelukan Steve, sekarang ini.


Kemudian Lionel serta Oscar, juga ikut terlihat mengerumuni Casey, di situ.


Setelah melihat ke langit-langit, Casey menyadari bahwa dia sedang berada di ruang kerjanya, dan yang dilihatnya tadi, berarti hanyalah sebuah ilusi atau halusinasi.


"Apa tidak sebaiknya kita membawanya ke rumah sakit?" tanya Steve, sambil melihat ke arah Lionel dan Oscar.


Sebelum Lionel menanggapi pertanyaan Steve, dengan cepat Casey menyela percakapan mereka, dengan berkata,


"Tidak ... Jangan ke rumah sakit lagi! Aku muak dengan tempat itu!"


"Casey...!" Steve terlihat benar-benar cemas, dan seolah-olah tidak terima dengan penolakan Casey, untuk memeriksakan keadaannya di rumah sakit.


"Auch!" Kepalanya masih terasa sakit, hingga Casey lagi-lagi mengeluhkan rasa tidak nyamannya.


"Casey! ... Apa yang terasa sakit?" tanya Steve.


"Kepalaku...." sahut Casey, yang memejamkan matanya kembali.


"Ini! ... Minum obatmu, dulu!" Terdengar suara Lionel, yang kemungkinan telah mengambilkan obat Casey dari dalam tasnya.


Casey mencoba untuk membuka matanya lagi, dan Steve membuatnya sedikit terangkat, agar Casey bisa menelan obatnya.


Dengan sedikit air, Casey kemudian meminum obatnya, sambil dibantu oleh Lionel, lalu kembali berbaring di dalam pelukan Steve.


"Sungguh tidak apa-apa, jika dia tidak dibawa ke rumah sakit?" tanya Steve, yang masih terdengar cemas.


"Dia tidak suka dibawa ke sana. Kecuali dia memang tidak bisa tersadar, barulah kita bisa membawanya ke rumah sakit," jawab Lionel.


"Tapi, Casey tampaknya sangat kesakitan!" ujar Oscar.


"Tidak apa-apa ... Daripada nantinya dia justru memarahi kita semua," sahut Lionel, lagi.


"Sshh...! Stop it! ... Aku baik-baik saja. Sebentar lagi, sakitnya juga pasti reda," ujar Casey, menghentikan percakapan dari ketiga laki-laki yang ada di dekatnya itu.


Untuk beberapa saat lamanya berada dalam keheningan, dan reaksi obat yang diminum oleh Casey baru mulai bekerja, mendadak saja, terdengar keributan di dalam situ.


"Aku ingin melihatnya!"


"Casey sedang istirahat!"


"Jangan menghalang-halangi!"


"Jangan mengganggunya!"


"Casey! ... Apa kamu baik-baik saja?"


"Please, Lionel! ... Aku ingin melihatnya!"


Jika memperhatikan perdebatan yang terdengar di sana, tampaknya ada suara Aaron di antara suara Lionel dan Oscar.


"Steve...!" ujar Casey, pelan.


"Iya ... Aku di sini, Casey!" sahut Steve, yang rasanya sedang mengelus pipi Casey.


"Apa yang terjadi? ... Kenapa sangat berisik?" tanya Casey.


"Aaron ... Aaron datang dan ingin menemuimu. Tapi Lionel dan Oscar menahannya, agar dia tetap di luar," jawab Steve.


"Huuufft...!" Casey mendengus kasar. "Biarkan saja dia masuk. Jangan biarkan dia membuat keributan, dan hanya menarik perhatian orang-orang!"


Casey bisa merasakan, kalau badan Steve tampaknya sedang bergerak sedikit, tapi Casey tidak mendengar jika Steve sedang berkata apa-apa.


Tidak berapa lama kemudian, ada yang memegang tangan Casey, dan suara Aaron, terdengar seperti sedang berbisik-bisik di dekatnya.


"Casey! ... Apa kamu baik-baik saja?" tanya Aaron.


Walaupun rasanya masih belum terlalu nyaman, Casey tetap memaksa untuk membuka matanya, dan melihat Aaron yang sedang berlutut di dekatnya, sambil menggenggam salah satu tangannya.


Dengan wajahnya sampai ke bagian leher yang tampak berwarna merah padam, Aaron yang terlihat basah dengan keringat, menatap Casey lekat-lekat, seolah-olah laki-laki itu sedang merasa cemas.


"Apa kamu baru saja selesai berolahraga?" tanya Casey, sinis.


Casey menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Aaron, lalu menyandarkannya di dada Steve, agar terhindar dari tangan Aaron yang mencoba untuk mengambil tangannya lagi.


Dan Steve tampaknya mengerti, kalau Casey tidak mau Aaron memegang tangannya, hingga dengan cepat, Steve kemudian menutupi tangan Casey dengan tangannya sendiri.


"Casey...!" Aaron tampak kecewa, saat dia tidak bisa memegang tangan Casey, di situ. "Aku tadi berlari, karena mendengar kabar kalau kamu collapse di gedung olahraga."


"Aku baik-baik saja. Lebih dari cukup mereka yang bisa menjagaku. Tidak ada yang perlu diributkan!" sahut Casey, ketus.


Selain suara napasnya yang terdengar berat, Aaron tidak berkata apa-apa, dan hanya memandangi Casey dengan tatapan matanya yang sayu.


Melihat Aaron yang tampak menyedihkan, sehingga Casey sedikit merasa iba karenanya.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan keadaanku ... Aku sudah merasa lebih baik. Jadi, kamu tidak perlu terlalu mencemaskan keadaanku," kata Casey, pelan.


"Kamu dari mana saja?" lanjut Casey, berbasa-basi.


"Tidak banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Jadi aku memilih untuk menghabiskan waktuku di rumah," jawab Aaron, yang wajahnya sekarang ini tampak sedikit lebih cerah.


Casey cukup terkejut mendengar jawaban Aaron, tapi Casey tidak segera menanggapinya.


"Setelah melihat informasi dari percakapan grup, kalau kamu tiba-tiba jatuh pingsan, maka aku pergi ke gedung olahraga. Tapi kamu sudah tidak berada di sana. Aku sempat mengira kalau kamu mungkin dibawa ke rumah sakit....


... Tapi ada salah satu pegawai yang memberitahuku, kalau kamu mungkin hanya dibawa ke ruang kerjamu. Jadi, aku menyusul ke sini," lanjut Aaron.


Sementara Aaron berbicara kepada Casey di saat itu, Casey justru sibuk memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh Aaron.


Menurut Casey, rasanya baru kali ini dia bisa melihat Aaron yang tampak berantakan.


Rambut Aaron yang di bagian ujung-ujungnya agak basah dengan keringatnya, terlihat tidak tertata rapi seperti biasanya.


Aaron juga terlihat hanya memakai kemeja polos biasa berlengan pendek, yang dibiarkannya tergerai keluar dari celana jeans panjangnya, tanpa setelan jas yang melengkapinya.


Aaron bahkan tidak memakai jaket.


Sedangkan yang Casey tahu, sekarang ini suhu di luar ruangan sudah semakin rendah, karena telah mendekati ke musim dingin.


Seolah-olah Aaron memang terlalu terburu-buru keluar dari rumahnya, hingga dia tidak memperhatikan penampilannya lagi.


Oleh karena itu, muncul beberapa pertanyaan di kepala Casey.


Apakah Aaron benar-benar mencemaskan Casey?


Hingga dia sampai datang ke kantor, hanya untuk memastikan keadaan Casey?


Tapi, kenapa?


"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Kamu hanya membuatku bingung," ujar Casey, sambil mengerutkan keningnya.


"Ugh?" Aaron kelihatannya tidak mengerti, akan apa yang sedang dibicarakan oleh Casey.


"Aku membencimu!" ujar Casey.