Memory Of Love

Memory Of Love
Part 19



Setelah Casey mengutarakan pernyataannya, Aaron terasa semakin mempererat pelukannya pada Casey, dan seolah-olah dia tidak akan melepaskan Casey lagi.


Aaron yang tampaknya tidak mau menyerah, kemudian berkata,


"Casey...! Apa kamu tidak bisa memberikan aku kesempatan? Satu kali saja! Dan aku akan membuktikan semua perkataanku, kalau aku akan berubah menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya."


"Hmm ... Jika kamu ingin menjadi orang yang lebih baik, maka jadilah seperti itu demi dirimu sendiri, dan bagi semua orang di sekitarmu....


... Dan bukan hanya karena berniat menjadikannya sebagai sebuah pembuktian, kepada orang tertentu saja," sahut Casey.


"Oh, gosh! ... Aku benar-benar bodoh! Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan selama ini, hingga aku bisa salah menilaimu," kata Aaron.


"Aaron! ... Jika kamu memang ingin berbuat baik, mungkin yang pertama, kamu bisa melepaskanku dulu! Karena kakiku sudah terasa pegal," ujar Casey, yang merasa lelah, karena terlalu lama berdiri terdiam.


"Ugh? ... Maafkan aku." Aaron melepaskan pelukannya dari Casey, namun dia justru menggendong Casey, dengan gaya seperti dia sedang membawa pengantinnya.


"Hey! ... What are you doing? Turunkan aku!" Casey kebingungan dengan perlakuan Aaron kepadanya.


"Tenang saja! ... Aku tidak akan menjatuhkanmu. Tapi kalau kamu tidak bisa berhenti bergerak, aku mungkin tidak akan sanggup menahannya....


... Dan kamu justru akan terjatuh ke tanah," ujar Aaron, sambil menatap Casey di matanya, lalu tersenyum lebar.


"Kamu mau membawaku ke mana?" tanya Casey, setelah melihat kalau Aaron bukannya menuju ke mobilnya, dan justru berjalan mengarah ke pantai.


Aaron tidak menjawab pertanyaan Casey, dan hanya tersenyum ke arahnya, sambil terus berjalan, hingga hampir mencapai pesisir pantai.


Aaron sempat berhenti sebentar, dan tampaknya dia melepaskan sepatunya, sebelum dia lanjut berjalan pelan, dan akhirnya berhenti, kemudian duduk di atas pasir pantai, sambil tetap membawa Casey.


Dengan demikian, Casey yang jadi terduduk di pangkuan Aaron, kemudian berusaha untuk menjauh dari laki-laki itu.


Namun Aaron justru memeluk Casey dengan erat, agar tidak bisa pergi ke mana-mana, dan tetap duduk di pangkuannya.


"Sebenarnya ada apa denganmu ini? Aku tidak mau kamu memelukku!" ujar Casey.


"Sshh! ... Diam saja...! Aku sedang membayangkan, bagaimana rasanya jika perkenalan kita yang pertama kali, keadaannya bisa seperti ini," kata Aaron, sambil senyum-senyum sendiri.


"Ugh? ... You've got to be kidding! ... Kalau kamu baru saja bertemu denganku, lalu kamu sudah berani memeluk dan memaksaku untuk duduk di pangkuanmu...,


... maka kamu pasti akan mendapatkan tamparan keras di wajahmu. Karena sekarang ini saja, aku harus berusaha keras agar tidak menamparmu," sahut Casey, ketus.


"Hahaha!" Aaron justru hanya tertawa setelah Casey selesai berbicara. 


Suara nafas Aaron kemudian terdengar berat, ketika dia secara mendadak, menyandarkan wajahnya di salah satu pundak Casey.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Casey.


Walaupun Casey tidak senang dan bahkan membenci Aaron, namun Casey tetap bisa merasa khawatir, saat mendengar Aaron yang seolah-olah kesulitan untuk bernafas.


"Aku tidak baik-baik saja. Dadaku terasa sangat sakit," jawab Aaron, sambil tetap bersandar di pundak Casey.


"Hey! ... Kalau kamu sedang sakit, lalu kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Casey, cemas. 


"Lepaskan aku! ... Biarkan aku mengambil ponselku untuk mencari bantuan!" Casey berusaha melepaskan diri dari kedua tangan Aaron, yang melingkar di badannya.


Namun Aaron bergeming, sehingga Casey tidak bisa melawan kekuatan kedua lengan Aaron, yang tetap menahannya di situ.


"Tidak ada seorangpun yang bisa membantuku. Karena dadaku terasa sakit karenamu," kata Aaron.


"Are you kidding me?" ujar Casey, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Aaron mengangkat wajahnya, dan menatap Casey lekat-lekat, lalu berkata,


"Aku bersungguh-sungguh."


Tatapan mata Aaron yang terasa dalam menusuk, membuat Casey terbawa perasaan yang muncul di ingatannya waktu itu, hingga dadanya jadi berdebar-debar saat ini.


"Don't! ... Please, don't!" ujar Casey.


Perkataan Casey, mungkin akan terdengar seolah-olah dia sedang bicara pada Aaron. 


Namun yang sesungguhnya, Casey sedang berbicara pada dirinya sendiri, agar jangan sampai terbawa perasaan yang berasal dari masa lalu, yang dianggapnya sangat bodoh.


"Casey...! Aku tidak mau kamu menolakku," ujar Aaron.


"Berhenti bicara omong kosong! ... Aku hampir mati. Dan selama dua tahun aku di rumah sakit, tapi tidak sekalipun kamu datang menjengukku....


... Lalu sekarang ini kamu ingin aku menerimamu? Apa kamu pikir aku terlalu bodoh? Lepaskan aku!" 


Sambil berbicara dengan suara setengah berteriak membentak Aaron, Casey bergerak liar, agar Aaron melepaskan pelukannya.


Akan tetapi, Aaron justru tampak mengerahkan tenaganya, agar Casey tidak bisa pergi darinya, sambil berkata,


"Casey! Tenangkan dirimu dulu! ... Aku mengunjungimu di rumah sakit!"


Casey berhenti bergerak, kemudian menatap Aaron lekat-lekat. "Apa katamu?"


"Aku mengunjungimu di rumah sakit ... Berulang kali, tanpa sepengetahuanmu," jawab Aaron, yang tampak bersungguh-sungguh.


... Walaupun begitu keadaannya, aku masih pergi menjengukmu secara sembunyi-sembunyi. Ketika kamu sudah tersadar, aku hanya bisa melihatmu dari jauh," lanjut Aaron.


Casey terdiam sejenak sambil berpikir, kemudian berkata,


"Jika memang benar demikian, jadi apa maksudmu itu, bahwa Grandpa yang melarangmu menemuiku?" 


"Aku tidak tahu ... Tapi aku rasa, Grandpa-mu menyalahkan aku, atas kecelakaan yang terjadi padamu....


... Dan sejujurnya, hal itu hanya membuatku semakin kesal padamu, karena aku tidak tahu apa-apa, tentang bagaimana hingga kamu bisa mengalami kecelakaan," jawab Aaron.


"Lalu apa yang membuatmu tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Casey.


"Casey...! Walaupun sebenarnya aku penasaran dengan bagaimana sifat aslimu, namun selama ini, aku lebih menganggapmu sebagai anak yang manja....


...Menurutku, kamu adalah seseorang yang selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan, walaupun mungkin kamu sebenarnya tidak pantas untuk mendapatkannya....


... Dan aku yang bodoh dan keras kepala, justru melanjutkan kebodohanku itu, yang tidak mau mencoba untuk mengenalmu lebih jauh."


Aaron menjawab pertanyaan Casey tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Casey, tampak seolah-olah dia ingin menunjukkan, bahwa dia sedang berbicara jujur saat itu.


Masih dengan ekspresi yang sama, Aaron kemudian lanjut berkata,


"Sampai akhirnya, ketika aku mencoba membuka pikiranku, dan mengamatimu beberapa waktu belakangan ini, barulah aku menyadari kalau anggapanku tentangmu itu salah besar, dan aku benar-benar menyesalinya."


"Huuufft...!" Casey mendengus kasar. "Lebih baik kita pulang saja sekarang!" 


"Tunggu sebentar lagi!" sahut Aaron, yang lagi-lagi menyandarkan wajahnya, di salah satu sisi pundak Casey.


Suhu udara yang menjadi lebih hangat saat menjelang tengah hari, membuat Casey bisa menikmati pemandangan di pantai, tanpa merasa kaku lagi di sebagian dari wajahnya.  


Karena Aaron yang masih terdiam sambil tetap memeluknya itu, waktu tenangnya kemudian dimanfaatkan oleh Casey untuk berpikir.


Jika memang benar Daniel yang melarang Aaron mengunjungi Casey, apakah itu karena Casey yang melupakan siapa Aaron?


Ataukah mungkin, Daniel memang menyalahkan Aaron, berhubung Lionel pasti memberitahu Daniel, bahwa sebelum Casey mengalami kecelakaan, Casey sedang gusar.


Tapi.... 


Casey yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, cukup terkejut, saat Aaron tiba-tiba berkata,


"Apa kamu belum lapar? Sekarang sudah waktunya makan siang."


"Okay! ... Ayo kita pergi dari sini!" sahut Casey, lalu mencoba untuk berdiri sendiri, namun Aaron lagi-lagi menahannya, sambil berkata,


"Sepatumu tidak cocok untuk dipakai berjalan di atas pasir."


Tanpa sempat Casey menanggapi perkataan Aaron, laki-laki itu dengan cepat mengangkat dan menggendong Casey, seperti bagaimana dia membawa Casey ke pesisir pantai itu tadi.


"Apa kamu tidak lelah?" tanya Casey, sinis.


Aaron tersenyum lebar, dan bahkan tampak hampir tertawa, lalu berkata, 


"Badanmu ringan seperti kapas."


"Yeah, right!" sahut Casey, ketus.


Mendadak, Aaron seolah-olah hilang keseimbangannya saat berjalan, dan seperti akan terjatuh, hingga secara spontan saja, Casey melingkarkan tangannya di leher Aaron, dan berpegangan dengan erat.


"Hahaha!" Dan seketika itu juga, Aaron tertawa terbahak-bahak, hingga Casey sudah bisa menduga, kalau Aaron hanya berpura-pura akan terjatuh.


Casey lalu menampar dada Aaron, sambil berkata,


"Kamu membuatku takut! ... Are you happy, now?"


"Apa kamu harus memukulku sekeras itu? Tamparanmu itu cukup sakit," ujar Aaron.


"Sorry...!" Casey mengusap pelan dada Aaron yang dipukulnya tadi. "Tapi kamu sendiri yang memulainya!"


"Pffftt...!" Sambil melirik Casey dengan ujung matanya, Aaron tertawa tertahan.


Casey tidak berkomentar apa-apa lagi, dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah Aaron itu.


Aaron membawa Casey sampai ke mobil, dan mereka berdua segera masuk ke dalamnya, tanpa membuang-buang waktu lagi.


Ketika Aaron duduk di belakang kemudi, dia sempat melihat tampilan layar ponselnya, yang tadinya ditinggal di atas dashboard mobil.


Dan begitu juga Casey, yang masih bisa melihat sedikit tampilan dari layar ponsel Aaron itu, yang terdapat pemberitahuan dari beberapa panggilan telepon yang tidak terjawab.


Cukup mengherankan bagi Casey, karena nama kontak yang terlihat di sana, bertuliskan 'Julie' dan bukan lagi 'Honey'.


Tapi Casey tidak terlalu mau memikirkannya, dan berpura-pura seolah-olah dia tidak melihat apa-apa.


Aaron juga tampak tidak mau menanggapi panggilan tak terjawab dari Julie itu, dan justru segera menyalakan mesin mobilnya, setelah melihat tampilan layar ponselnya, dan meletakkan ponselnya begitu saja, di sela antara tempat duduknya dan Casey.