Memory Of Love

Memory Of Love
Part 49



Seharusnya, pembicaraannya dengan Daniel, bisa membuat Casey meyakinkan dirinya, bahwa dia harus menyingkirkan Aaron dari hidupnya.


Namun ternyata, yang terjadi justru sebaliknya, karena pembicaraan itu, hanya membuat Casey semakin goyah pendiriannya.


Bagaimana tidak?


Bukan hanya ingatan akan adegan per adegan kejadian, yang Casey alami saja yang kembali.


Sama persis seperti yang dikatakan oleh Daniel dan Lionel, bahwasanya Casey di masa lalu mencintai Aaron, perasaan cinta itu, juga ikut kembali dan mengganggu Casey.


Sehingga sekarang ini, Casey merasa kalau dia mencintai dua orang laki-laki sekaligus.


Dan hal itu sangat membingungkan bagi Casey, yang tidak pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya.


Casey yang berulang kali menghela napas berat, tampaknya menarik perhatian dari Lionel, hingga dia kemudian bertanya, dengan berkata,


"Ada apa? Kenapa kamu tampak seperti sedang bersusah hati? Apa jawaban Grandpa masih tidak memuaskan bagimu?"


"Lionel...! Apa yang harus aku lakukan?" Casey sekadar bertanya, tanpa mengharapkan jawaban dari Lionel.


Lionel tampak kebingungan, dan hanya terdiam, sambil menatap Casey lekat-lekat.


"Aku mencintai Steve ... Tapi di saat bersamaan, aku rasa, aku juga mencintai Aaron...." kata Casey, lirih.


"Huuufft...!" Lionel mendengus pelan. "Aku sudah menduganya."


"Aku tidak suka perasaan yang tumpang tindih seperti ini. Rasanya sangat aneh, jika aku menginginkan cinta dari dua orang laki-laki sekaligus," ujar Casey, frustrasi.


"Bagaimana dengan tanggapan Grandpa?" tanya Lionel.


"Tsk! ... Perkataan Grandpa tadi, justru hanya membuatku mempertimbangkan keberadaan Aaron," sahut Casey, sebal.


Lionel berdiri dari tempat duduknya, dan mengambil dua kaleng soda dari dalam lemari es, lalu memberikan salah satunya kepada Casey.


"Sekadar saran, aku rasa, sebaiknya kamu segera menjauhi salah satu dari mereka," lanjut Lionel, sambil membuka tutup kaleng soda miliknya.


"Tapi, siapa yang menurutmu harus aku jauhi?" tanya Casey.


"Casey...! Hanya kamu yang bisa mengambil keputusan itu. Pikirkan saja alasan yang cukup kuat, untuk memilihnya," jawab Lionel, lalu mengelap ujung bibirnya yang basah dengan cairan soda, yang baru saja diminumnya.


"Kelihatannya, aku tidak bisa menjauhi Aaron begitu saja," ujar Casey, sambil memandangi kaleng soda di tangannya.


"Karena menurut Grandpa, aku harus meyakinkan Aaron untuk menyetujui pembatalan pertunangan kami. Agar tidak terjadi kesalahpahaman antara dua keluarga....


... Sedangkan Steve ... Aku rasa, aku jadi seperti orang yang sangat bodoh, jika aku menjauhinya sekarang ini. Karena aku telah menyukainya sejak lama," lanjut Casey, benar-benar kebingungan.


Lagi-lagi, Lionel berdiri dari tempat duduknya.


Dan setelah meletakkan kaleng sodanya ke atas meja, Lionel kemudian berjalan keluar dari kamar, tanpa berkata apa-apa.


Karena Casey tahu, kalau dia tidak bisa memaksa Lionel untuk memberikan pendapatnya, sehingga Casey tidak menahan langkah Lionel, yang meninggalkannya sendirian di kamar itu.


Setelah beberapa saat lamanya Casey di situ, namun tidak ada tanda-tanda jika Lionel akan kembali, Casey lalu berbaring di tempat tidurnya.


Entah Casey harus bersyukur, karena ingatannya masih bisa kembali, dan menjadi pertanda bahwa kondisi otaknya sudah semakin membaik, ataukah dia harus menyesalinya saja.


Selama ini, Casey tidak pernah memaksakan keadaan, hanya demi mendapatkan semua keinginannya, hingga tidak mempedulikan orang lain, yang mungkin akan tersakiti karenanya.


Akan tetapi, kali ini Casey merasa kalau dia mungkin akan jadi orang yang serakah, jika dia tidak bisa secepatnya membuat keputusan yang tepat.


***


Di keesokan paginya, Lionel sudah menunggu di depan pintu kamar Casey, untuk makan pagi bersama.


Casey yang sudah siap, segera menemui Lionel dan turun ke lantai dasar dari hotel, tempat mereka semua menginap.


Demi menjernihkan pikirannya, Casey memang sengaja menolak ajakan dari Aaron ataupun Steve, untuk menemuinya pagi ini.


Sehingga, seperti kebiasaan di masa lalu, sebelum Casey dekat dengan Steve ataupun Aaron, Casey hanya akan bersama Lionel, yang setuju untuk menemaninya, kemana saja Casey ingin pergi.


"Iya!" jawab Casey, bersemangat.


"Grandpa-mu tadi menghubungiku," celetuk Lionel, lalu menarik kursi untuk Casey.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Casey.


"Seperti biasanya ... Grandpa ingin agar aku terus memantau keadaanmu. Katanya, dia cukup khawatir, karena kamu terdengar gusar, saat berbicara dengannya malam tadi," jawab Lionel.


Lionel lalu membuat pesanan, yang akan jadi menu makanan yang akan jadi sarapan mereka, kepada seorang pelayan restoran yang menghampiri mereka di situ.


"Apa menurutmu, Grandpa masih tidak percaya, kalau aku tidak berniat untuk bunuh diri?" tanya Casey, setelah pelayan itu menjauh dari meja mereka.


"Aku tidak tahu ... Yang pastinya, suara Grandpa masih terdengar cemas seperti biasanya." Lionel yang menuangkan jus jeruk, kemudian menyodorkan satu gelasnya kepada Casey.


"Aku hanya menjadi beban bagi banyak orang." Casey menundukkan pandangannya. "Kamu bahkan tidak bisa menjalani hidupmu dengan bebas, dan hanya sibuk untuk mengasuhku saja."


"Casey...! Angkat kepalamu...! Lihat aku!" Lionel seakan-akan sedang memberi perintah kepada Casey, sampai Casey melihat ke arahnya.


"Aku sama sekali tidak merasa terbeban untuk menjagamu, karena aku menyayangimu," sahut Lionel.


"Apa bukan hanya karena kamu merasa kasihan padaku?" tanya Casey, berhati-hati.


"Geez!" ujar Lionel, yang tampak gemas. "Aku tidak seperti yang kamu pikirkan itu. Mengerti?!"


Casey lalu menganggukkan kepalanya.


Sembari menyantap makanannya, Casey melayangkan pandangannya berkeliling di dalam area restoran, yang bisa terjangkau oleh penglihatannya.


Dan di sana, Casey tidak menemukan Aaron maupun Steve.


"Hmm ... Lionel! Apa Steve tidak kesulitan?" tanya Casey. "Maksudku, di sini tidak ada yang dikenal Steve dengan baik, selain Oscar."


"Steve baik-baik saja ... Yang aku tahu, mereka sudah lebih dulu datang ke sini, untuk makan paginya. Jadi, mungkin saja sekarang mereka sedang bersantai di pantai," jawab Lionel.


"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan sekarang?" lanjut Lionel, buru-buru.


"Tidak ada. Aku hanya merasa sedikit khawatir, kalau-kalau Steve tidak bisa membaur. Karena situasinya yang sama saja seperti orang asing, di tempat ini," jawab Casey.


"Kalau hanya itu saja, tidak perlu kamu cemaskan. Steve adalah laki-laki dewasa. Bukan anak-anak lagi, yang akan kesulitan dengan hal sepele seperti itu," sahut Lionel.


"Okay!" ujar Casey, lalu menghabiskan potongan terakhir, dari bacon miliknya. "Apa kita akan langsung pergi ke pantai?"


"Terserah kamu saja!" sahut Lionel, yang juga terlihat sudah selesai menghabiskan makanannya.


"Aku akan kembali ke kamarku sebentar," kata Casey, yang berniat mengganti pakaiannya dengan bikini.


Lionel mengangguk setuju, lalu berjalan bersama Casey, naik ke lantai atas gedung hotel, dan mengarah kembali ke kamar mereka masing-masing.


Ketika mereka bertemu lagi di depan pintu kamar Casey, Lionel terlihat memakai topi, celana pendek, dengan kaos longgar, dan dipadankan dengan sepasang sandal.


"Apa kamu membawa sunblock? Aku benar-benar lupa, untuk membawa benda itu," ujar Lionel, sambil memandangi tangan Casey yang membawa sebuah tas keranjang berukuran sedang.


"Ada! ... Ayo kita pergi!" sahut Casey.


Setelah mendapatkan selembar tikar dari petugas hotel, Casey serta Lionel, bergegas pergi ke pantai.


Dan di pesisir pantai, terlihat sudah ramai dengan pegawai R&H Corp, yang ikut perjalanan wisata dari perusahaan itu, dan para tamu resor yang lain, yang bukan bagian dari perusahaan.


Sebagian ada yang bermain air, dan ada juga yang sekadar berbaring di bawah sinar matahari.


Namun untuk keseluruhannya, tampaknya tidak ada yang tidak menikmati rekreasi mereka itu.


Lionel lalu mengajak Casey, untuk pergi di bagian pantai yang tidak terlalu padat dengan pengunjung, dan segera menggelar tikar di atas pasir, yang akan menjadi tempat duduk untuk mereka.


Bergantian, Casey dan Lionel saling membantu mengoleskan tabir surya, ke badan mereka.


Ketika giliran Lionel menggosok bagian punggung Casey, yang sedang bertelungkup di atas tikar, tiba-tiba saja tangannya berhenti bergerak.