Memory Of Love

Memory Of Love
Part 20



Selama Aaron mengemudi, hendak pergi makan siang bersama Casey, ponsel milik Aaron masih sempat berbunyi hingga beberapa kali.


Akan tetapi, sampai mereka tiba di sebuah restoran, Aaron tidak menerima panggilan yang masuk itu, dan hanya tetap membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja di tempatnya semula.


Walaupun sebenarnya Casey tidak perduli, tapi lama-kelamaan, Casey jadi merasa terganggu dengan nada dering, dan getaran yang dihasilkan ponsel milik Aaron itu.


"Aaron! ... Kenapa kamu tidak menerima panggilan yang masuk di ponselmu? Bagaimana kalau itu adalah sesuatu yang penting?" tanya Casey, berpura-pura tidak tahu, bahwa Julie yang menghubungi Aaron.


Sebelum beranjak keluar dari dalam mobil, Aaron lalu mengambil ponselnya, kemudian melihat tampilannya, sambil berkata,


"Tidak ada yang penting ... Ayo kita masuk!" 


Lagi-lagi, Aaron hanya meletakkan ponselnya di sela jok itu kembali, kemudian segera keluar dari mobilnya, dan bersama-sama dengan Casey, memasuki bangunan restoran.


Di sela-sela makan siang mereka, Aaron yang menundukkan pandangannya, menatap makanan yang sedang dimakannya, tiba-tiba saja berceletuk,


"Aku tidak suka dengan seseorang yang memiliki sifat manipulatif."


"Ugh?" Casey yang tidak mendengar dengan baik apa yang dikatakan oleh Aaron, hanya terperangah.


"Julie ... Dia yang menghubungiku," kata Aaron, sambil mengangkat pandangannya dan menatap Casey.


"Aku ingin dia memikirkan dan benar-benar menyesali, akan apa yang dia lakukan terlebih dahulu, barulah aku bisa memaafkannya," lanjut Aaron.


"Hmm ... Pffftt...!" Casey bergumam kemudian tertawa, sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya yang terkepal.


"Apa yang lucu?" tanya Aaron, tampak bingung.


"Jadi, saat ini kamu sedang bertengkar dengannya? Lalu memilih untuk menghabiskan waktu bersama denganku, sebagai pengalihan?" Casey balik bertanya, dengan nada suara yang sinis.


"Tentu saja tidak! ... Apa kamu pikir aku serendah itu?" sahut Aaron, tegas.


"Aku memang bodoh, yang bisa dengan mudahnya percaya dengan perkataan Julie. Tapi aku bukan pembohong, atau seseorang yang suka mempermainkan perasaan orang lain....


... Apakah kamu pernah mendengar aku berkata bahwa aku mencintaimu? Atau aku mungkin berkata, kalau aku tertarik secara fisik kepadamu? ... Tidak, bukan? 


... Aku hanya sedang berusaha memperbaiki kesalahanku. Dan aku juga berharap, dengan begitu, aku juga bisa ikut memperbaiki hubunganku denganmu, agar kita tidak menjadi musuh," lanjut Aaron.


Casey mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Okay!" sahut Casey, tanpa beban.


"Tsk! ... Tentu saja aku tidak akan bisa memaksamu untuk percaya padaku," ujar Aaron, dengan nada suara dan raut wajah kecewa.


Aaron yang tampak seolah-olah telah kehilangan selera makannya, melepaskan peralatan makan dari tangannya ke atas meja, kemudian duduk bersandar, sambil memandangi Casey.


Walaupun demikian situasinya, Casey masih saja menyantap makanannya, tanpa merasa terganggu sedikitpun.


"Apa yang harus aku lakukan?" 


Menurut Casey, di saat itu Aaron bukan sedang bertanya kepadanya, melainkan terdengar seolah-olah Aaron sedang merasa putus asa, dan hanya sekadar mengutarakan apa yang melintas di pikirannya.


Tapi Casey tetap menjawabnya, dengan berkata,


"Kamu bisa melakukan apa saja, yang menurutmu baik untukmu."


"Oh, gosh!" Aaron tampak frustrasi.


"Apa? ... Apa ada yang salah dengan perkataanku?" tanya Casey, berpura-pura bodoh.


"Huuffft...!" Aaron mendengus kasar, dan akhirnya hanya terdiam untuk beberapa waktu lamanya, sambil tetap memandangi Casey.


Hingga Casey selesai menghabiskan makan siangnya, Aaron masih tidak berkata apa-apa, dan tetap bertahan dengan tingkahnya yang sebelumnya.


"Apa kita akan pulang? Atau kita akan menginap di restoran ini?" tanya Casey.


Aaron menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah dia tidak percaya, dengan apa yang baru saja ditanyakan oleh Casey.


"Ayo kita pulang!" kata Aaron, kemudian berdiri dari tempat duduknya.


***


Potongan daging steak, masih lebih dari separuh yang tersisa di atas piring di depannya. 


"Tidaklah buruk! ... Aku tidak menyesal datang ke tempat ini."


"Iya ... Jarang sekali bisa ada restoran yang berada di sebuah hotel, yang bisa menyajikan makanannya dengan baik."


"Apa kamu sudah selesai? Atau masih ingin mencoba yang lain?"


Casey setuju dengan pendapat orang-orang di dekatnya itu, bahwa makanan di restoran yang berada di hotel yang belum lama diresmikan itu, memang sepadan dengan harganya.


Namun, makan sendirian seperti itu tidaklah menyenangkan, sehingga Casey memilih untuk menyudahi makannya, dan ingin segera beranjak pergi dari sana.


Di pelataran parkir, mobil Aaron terlihat melintas di situ. 


Tapi Casey masih kurang yakin, bahwa itu memang Aaron, sehingga dia memilih untuk tetap masuk ke dalam mobilnya.


Namun Casey baru saja menyalakan mesin mobilnya, ketika Aaron terlihat berjalan bergandengan mesra dengan seorang wanita, memasuki hotel.


Casey terbelalak, dengan dadanya yang masih terasa berdebar-debar, dan nafasnya yang tidak beraturan.


"Maafkan aku ... Apa aku hanya membangunkanmu?" tanya Aaron, sambil menoleh ke arah Casey untuk sesaat, sebelum dia kembali menatap lurus ke jalanan di depannya.


"Ada seekor kucing liar melintas di depan kita. Mau tidak mau, aku harus menginjak rem secara mendadak," lanjut Aaron.


"Hentikan mobilnya! ... Sekarang!" ujar Casey, yang murka di saat itu juga, dan mengeluarkan suaranya yang bergetar dan meninggi. 


"Ada apa?" tanya Aaron, yang tampak kebingungan.


Walaupun demikian, Aaron tetap memelankan laju mobilnya, hingga akhirnya berhenti, setelah menepi ke pinggir jalan.


Casey kemudian mencoba untuk membuka pintu mobil, hendak keluar dari dalam sana, dan pergi menjauh dari Aaron.


Namun Aaron tampaknya menyalakan kunci otomatis dari mobilnya, hingga Casey tidak bisa membuka pintu mobil itu.


"Buka pintu ini!" ujar Casey, membentak Aaron.


"Casey! Kamu mau ke mana? Perjalanan pulang masih jauh dari sini," tanya Aaron, buru-buru.


"Apa kamu tidak dengar? ... Buka pintu ini! Aku ingin keluar sekarang juga!" Lagi, Casey membentak Aaron, dengan suaranya yang hampir setengah berteriak.


Casey jadi semakin gusar, dan bercampur dengan rasa frustrasi, karena dia yang tidak bisa membuka pintu mobil itu.


Aaron yang sudah melepaskan sabuk pengamannya, kemudian mencondongkan badannya ke arah Casey, dan berusaha untuk memeluk Casey di situ.


"Tenangkan dirimu dulu! ... Ada apa denganmu? Apa kemarahanmu ini, karena aku yang membuatmu terbangun dari tidurmu? ... Casey...! Please!"


Casey yang menggeliat dan bergerak liar, untuk melepaskan diri dari pelukan Aaron, sama sekali tidak berminat, untuk menanggapi pertanyaan dan perkataan Aaron itu.


Namun, lama-kelamaan, tenaga Casey seolah-olah habis begitu saja, sehingga dia tidak sanggup untuk melakukan perlawanan terhadap Aaron lagi.


Dan perasaan kecewa dan sedih yang lebih dominan menguasainya, membuatnya merasa sangat rapuh, sehingga seketika itu juga, dia kemudian menangis sesenggukan.


"Ada apa? ... Apa kamu baru saja bermimpi buruk?" tanya Aaron, pelan, terdengar seolah-olah ingin menenangkan Casey, sambil tetap memeluk Casey dengan erat.


Casey tidak menjawab pertanyaan Aaron, dan hanya sibuk dengan pikirannya sendiri, yang kacau balau karena berbagai macam emosi yang bercampur aduk, dan muncul secara bersamaan.


Ditambah lagi, ada satu perasaan tidak biasa yang membingungkan Casey, yang ikut timbul ketika dia menyerah, dan membiarkan Aaron memeluknya, hingga kepalanya tersandar di dada Aaron.


Saat Casey mendengarkan degup jantung milik Aaron, secara mendadak saja, Casey bisa merasa sedikit lebih baik daripada sebelumnya.


Seolah-olah, Casey memang mencintai Aaron, sampai membuatnya bisa merasa nyaman, saat mendapatkan perhatian dan perlakuan hangat dari Aaron.


Sehingga di saat itu, Casey benar-benar kebingungan dan hampir frustrasi, karena dia yang kesulitan, untuk memisahkan antara perasaan bencinya kepada Aaron, dan rasa inginnya untuk memiliki Aaron seutuhnya.


Oleh karena itu, butuh waktu cukup lama bagi Casey, hingga dia akhirnya bisa menenangkan dirinya sendiri, dan berhenti menangis.


Lalu, setelah gelombang emosinya mereda, dan sudah bisa Casey kendalikan, yang tersisa kemudian, adalah rasa sakit yang menusuk di kepalanya.


Sambil berusaha keras menahan rasa sakit di kepalanya, yang bahkan membuatnya tidak sanggup untuk membuka matanya, Casey kemudian berkata, 


"Obatku ... Tasku..."


"Apa katamu?" Terdengar suara Aaron yang bertanya, bersamaan dengan pelukannya di badan Casey, yang terasa melonggar.


"Obatku ada di dalam tasku!" jawab Casey, sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


Aaron lalu menyandarkan Casey di jok mobil, yang posisinya tampaknya telah berubah, hingga terasa lebih rebah daripada biasanya.


Tidak berapa lama kemudian, Aaron menyuapkan dua butir obat, dan membantu Casey menelannya dengan sedikit air, sambil berkata, 


"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit."


"Tidak perlu! ... Nanti saja, jika rasa sakitnya memang tidak bisa berkurang," sahut Casey, sambil memijat-mijat dahinya.