
Entah apa lagi yang diinginkan oleh Aaron, hingga dia harus datang ke rumah Casey.
Dan walaupun Casey sedang tidak ingin bertemu dengannya, namun Casey tidak bisa menolaknya.
Karena Casey khawatir, kalau-kalau Daniel justru akan marah kepadanya, jika Casey secara terang-terangan menghindar dari Aaron.
"Biarkan saja dia masuk!" kata Casey, memberi arahan kepada asisten rumah tangganya. "Nanti, siapkan minuman untuknya!"
"Baik, Miss!" Asisten rumah tangga itu, kemudian berlalu pergi dari sana.
"Apa ada sesuatu?" tanya Lionel, yang tampak bingung. "Tidak biasanya Aaron berkunjung ke sini, jika tidak ada yang penting."
"Aku juga tidak tahu," jawab Casey.
Steve yang juga sudah berhenti bermain gitar, dan hanya menyandarkan benda itu di dinding, kemudian menatap Casey lekat-lekat.
Jika melihat dari raut wajahnya, Steve tampaknya tidak terlalu senang, atas kabar tentang Aaron yang ingin bertemu dengan Casey.
Walaupun demikian, Steve tidak berkomentar apa-apa, dan hanya terlihat mengerumukkan kedua tangannya.
Tidak berapa lama setelah asisten rumah tangga Casey berlalu pergi, Aaron kemudian terlihat berjalan melewati pintu samping rumah, lalu menyapa mereka di situ, dengan berkata,
"Casey! ... Lionel! ... Steve!"
Lionel dan Steve tampak menganggukkan kepala mereka, menanggapi sapaan dari Aaron itu.
"Apa yang sedang kalian lakukan? Apa kedatanganku hanya mengganggu kalian?" tanya Aaron.
"Ada keperluan apa?" Casey balik bertanya.
"Silahkan duduk!" kata Lionel.
"Jika kalian tidak keberatan, aku ingin bicara berdua saja dengan Casey," kata Aaron.
Baik Lionel maupun Steve, sama-sama terlihat tidak terlalu suka dengan apa yang menjadi keinginan Aaron, tapi kedua laki-laki itu tetap berdiri dari tempat duduknya, dan berlalu pergi dari situ.
Di saat itu juga, Aaron kemudian mengambil tempat duduk di samping Casey, lalu berkata,
"Katamu, Steve hanyalah seniormu saja. Lalu kenapa kamu bisa berciuman dengannya?"
"Apa pedulimu?" Casey balik bertanya.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Aaron, seolah-olah tidak terpengaruh dengan pertanyaan Casey tadi.
"Tentu saja! Kalau tidak, mana mungkin aku mau berciuman dengannya," jawab Casey, tanpa beban.
"Tapi untuk apa kamu perlu mencari tahu tentang hal itu? Bukankah kamu juga memiliki kekasih?" lanjut Casey, sambil mengerutkan keningnya.
"Apa Grandpa-mu sudah tahu, kalau kamu memiliki hubungan lebih dari teman dengan Steve?" Aaron tampak tetap berusaha untuk menyudutkan Casey.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Katakan saja terus terang! Jangan melebar ke sana kemari!" sahut Casey, geram.
Aaron yang tadinya duduk dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Casey, kemudian meluruskan punggungnya, dan bersandar di kursi.
Aaron yang memandang ke arah dinding, tampaknya memperhatikan gitar yang ditinggalkan Steve di situ.
"Apa dia sehebat itu?" tanya Aaron.
"Apa kamu tidak cemburu, saat melihat Julie yang mencoba mendekati Steve?" Casey berusaha membalik situasi, untuk menyudutkan Aaron.
"Tidak," jawab Aaron. "Karena aku tahu, kalau Julie melakukannya secara sengaja, agar bisa menarik perhatianku."
"Kalian berdua sama gilanya," celetuk Casey.
Aaron lalu menoleh ke samping, dan menatap Casey lekat-lekat.
"Kamu menganggapku gila, karena ingin agar hubungan kita bisa lebih baik?" tanya Aaron.
"Aaron! ... Aku anggap kalau hubungan kita baik-baik saja. Tidak berteman, tapi kita juga tidak bermusuhan. Apa lagi yang masih kurang?" ujar Casey.
Aaron kemudian tampak menghela napasnya panjang dan dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan.
"Aku mengenal Julie, sejak kami masih di universitas. Aku berhutang budi kepadanya. karena jika dia tidak menemukanku, entah apa yang akan terjadi padaku saat itu."
Perkataan Aaron itu, seolah-olah dia ingin menjelaskan tentang dasar alasannya, hingga dia bisa berhubungan dengan Julie, kepada Casey.
Casey yang sudah pernah mendengar tentang hal itu dari Oscar, tidak berminat untuk menanggapi perkataan Aaron, sehingga Casey hanya terdiam saja saat itu.
Kemudian, Aaron tiba-tiba saja berdiri dari tempat duduknya, lalu mengambil gitar, dan kembali duduk di samping Casey.
"Aku tidak bisa bernyanyi," sahut Casey, asal-asalan.
"Hmm ... Aku sudah lama tidak bermain gitar. Terakhir kali, saat aku masih di high school," kata Aaron, sambil mengatur posisi gitar di atas pangkuannya.
Setelah beberapa saat Aaron memetik senar gitar itu, Casey tampaknya harus mengakui, bahwa jari-jari tangan Aaron, tidak kalah lincah jika dibandingkan Steve, saat sedang bermain gitar.
Aaron tidak bernyanyi, dan terdengar hanya seperti sedang bergumam dengan nada yang sesuai, dengan bunyi yang dihasilkan oleh gitar yang dimainkannya.
"Apa kamu tahu cara memainkannya?" tanya Aaron, tiba-tiba.
"Tidak," jawab Casey.
"Apa kamu mau mencoba belajar?" tanya Aaron, lagi.
Tanpa menunggu tanggapan dari Casey, Aaron segera berdiri, kemudian meletakkan gitar di atas pangkuan Casey, sambil mengarahkan tangan Casey, agar bisa memegang gitar itu dengan baik.
"Yang pertama, kamu harus tahu kunci nadanya dulu," kata Aaron.
Aaron yang berdiri di belakang Casey, dan sedikit membungkuk, membantu jari-jari tangan Casey untuk menekan senar gitar.
"Telunjukmu di sini! ... Jari tengah di sini! ... Lalu jari manismu di sini! ... Itu kunci C mayor!" ujar Aaron, pelan.
Dengan jari-jari tangannya sendiri, Aaron menahan jari-jari tangan Casey, agar tetap bertahan di posisi yang ditunjukkannya itu.
Seperti sedang dihipnotis, Casey menurut saja saat Aaron mengajarkannya bermain gitar.
"Coba kamu berdiri sebentar!" kata Aaron memberi arahan.
Dan lagi-lagi, Casey menurutinya, tanpa berkomentar apa-apa.
Aaron kemudian duduk di kursi di mana tempat Casey duduk tadi, lalu memegang pinggang Casey dan menariknya, hingga Casey terduduk di atas pangkuannya.
"Hey! ... Apa yang kamu lakukan?" ujar Casey, sambil berusaha untuk berdiri lagi.
Namun Aaron tetap menahan Casey, dengan melingkarkan kedua lengannya di pinggang hingga ke perut Casey, agar Casey tidak bisa menjauh darinya, sambil berkata,
"Akan lebih mudah mempelajarinya, jika kamu duduk di pangkuanku. Coba saja dulu, kalau kamu tidak percaya!"
Casey yang tidak mau ada keributan di situ, dan akan menarik perhatian semua penghuni rumah, akhirnya menyerah, dan tetap duduk di pangkuan Aaron.
"Huuufft...!" Casey mendengus kasar, namun Aaron justru tertawa, hingga badan Casey juga ikut terasa terguncang pelan.
Aaron kemudian mengarahkan jari-jari tangan Casey, di mana bagian gitar yang harus ditekan, agar bisa menghasilkan nada yang pas saat dibunyikan.
Menurut Casey, Aaron memang tidak berbohong, jika akan lebih mudah baginya untuk mengajari Casey, jika Aaron tepat berada di belakangnya.
Namun, posisi duduk mereka itu hanya membuat Casey merasa canggung.
Apalagi wajah Aaron yang terlalu dekat, hingga hembusan nafas laki-laki itu, bisa terasa di bagian leher Casey.
"Sudah cukup! Aku tidak mau belajar lagi!" ujar Casey, dan kembali mencoba berdiri dari pangkuan Aaron.
"Jangan ke mana-mana!" ujar Aaron, menahan Casey.
"Jari-jariku sudah terasa sakit!" sahut Casey.
"Aku yang akan memainkan gitarnya." Aaron tampak bersikeras, agar Casey tetap duduk di pangkuannya.
Ketika Casey berhenti bergerak untuk melawannya, Aaron kemudian memainkan gitar, sambil bersenandung pelan.
"Apa kamu tahu lagu ini?" tanya Aaron.
Casey menggelengkan kepalanya.
"Judul lagunya, Willingly, dan penyanyinya adalah Crispian St. Peters," kata Aaron.
"Kenapa kamu memilih untuk menyanyikan lagu itu?" Casey hanya sekadar bertanya, tanpa benar-benar berniat, untuk mencari tahu jawabannya dari Aaron.
"Hmm ... Itu lagu lama. Tiba-tiba saja melintas begitu saja di kepalaku, saat aku memikirkanmu," jawab Aaron.
"You've got to be kidding!" ujar Casey, ketus.
"Pffftt...!" Aaron tertawa, sambil menyandarkan wajahnya di bahu Casey.
"Casey...! Asal kamu tahu saja. Semakin kamu terus berusaha untuk menghindar dariku, maka aku akan semakin gigih untuk mendekatimu," kata Aaron.