Memory Of Love

Memory Of Love
Part 39



Perkataan Casey yang berasal dari rasa frustrasi, karena kebingungan dengan perasaannya yang campur aduk, hingga terdengar seperti teriakan histeris, tampaknya sangat mengejutkan bagi Aaron maupun Steve, yang mendengarkannya.


Ekspresi terkejut yang tidak jauh berbeda dari Steve dan Aaron, juga terlihat di raut wajah Lionel dan Oscar, yang baru saja ikut menghampiri Casey di situ.


Untuk beberapa saat lamanya, selain dari Casey yang memijat-mijat keningnya, kesemuanya yang berada di situ, hanya terdiam sambil saling memandang, antara satu dengan yang lain.


"Casey...! Maafkan aku...." ucap Aaron, lirih.


Casey yang merasa malu, karena tersadar kalau dia baru saja meletuskan kemarahannya seperti orang bodoh, kemudian berkata,


"Sebaiknya kamu pergi saja dari sini.... Maafkan aku."


Casey lalu memalingkan wajahnya, hingga tersandar di dada Steve.


Steve lalu mengusap-usap bagian belakang kepala Casey sampai ke punggungnya, dengan lembut dan perlahan.


"It's okay! Tidak perlu dipikirkan...!" kata Steve, dengan suara berbisik-bisik kepada Casey.


Perkataan Steve itu, seolah-olah Steve menyadari, kalau Casey merasa sangat malu, karena Casey yang tidak bisa mengontrol emosinya.


***


Setelah rasa sakitnya benar-benar menghilang, Casey yang sedari tadi berbaring di pelukan Steve, kemudian bangkit dan bergeser sedikit, hingga terduduk di sofa.


"Sudah merasa lebih baik?" tanya Lionel.


Casey mengangguk pelan, lalu melayangkan pandangannya berkeliling, dan di dalam ruang kerjanya itu, kini yang tertinggal hanyalah Steve dan Lionel.


"Maafkan aku, yang selalu hanya menyusahkan saja," kata Casey, sambil menundukkan kepalanya.


"Huuufft...!" Lionel mendengus pelan, kemudian menghampiri Casey, lalu memeluknya dengan erat. "Apa kamu pernah mendengarku mengeluhkannya?"


"Steve juga tidak keberatan untuk menjagamu. Benar begitu kan, Steve?" lanjut Lionel.


"Iya, tentu saja ... Casey...! Aku tidak pernah menganggapmu sebagai beban," kata Steve, ikut menimpali.


"Tapi ... Casey! ... Aku tidak pernah melihat ledakan kemarahanmu yang seperti tadi. Apa ada sesuatu yang Aaron katakan, yang benar-benar membuatmu merasa terusik?" ujar Lionel.


Casey menggelengkan kepalanya. "Tidak ada ... Hanya secara tiba-tiba saja, aku merasa ingin memarahinya."


"Hmm ... Sudahlah! Tidak perlu memikirkannya lagi," kata Lionel.


"Aaron tadi pergi ke ruang kerjanya. Sedangkan Oscar kembali ke gedung olahraga, karena dia yang akan menggantikan kita untuk perlombaan....


... Aku rasa, semuanya bisa mengerti, kalau keadaanmu sedang tidak terlalu baik. Sehingga sikap kasarmu tadi, masih bisa diwajarkan," lanjut Lionel, menenangkan Casey.


Setelah beberapa saat mereka hanya terdiam, Casey kemudian mendorong Lionel perlahan, agar Lionel mengendurkan pelukannya.


"Steve akan menetap di negara ini," kata Casey kepada Lionel, lalu melihat ke arah Steve yang tampak menganggukkan kepalanya.


"Jadi aku mungkin melanjutkan rencanaku, untuk mengajukan Steve sebagai presiden direktur di perusahaan ini," lanjut Casey kepada Lionel.


"Casey! ... Maafkan aku ... Aku bukannya tidak setuju dengan rencanamu itu—" kata Steve, memotong pembicaraan antara Casey dan Lionel.


Casey bersamaan dengan Lionel, kemudian melihat ke arah Steve, dan menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Steve selanjutnya.


"... Tapi menurutku, sebelum kamu memasukkan aku ke dalam jajaran direksi, sebaiknya kamu membicarakan tentang perubahan manajemen perusahaan dengan Aaron, terlebih dahulu....


... Jika dia tidak mau mempertimbangkannya, ataupun dia menolak untuk merombak sistem manajemen perusahaan ini, barulah kamu mengajukanku, untuk mengisi jabatan di atas Aaron itu," lanjut Steve.


"Itu adalah cara berpikir yang bijaksana," celetuk Lionel.


"Walaupun kamu membenci Aaron, tapi katamu, kamu lebih memikirkan untuk mengembangkan perusahaan ini, bukan? Dengan begitu, aku setuju dengan apa yang disarankan oleh Steve," lanjut Lionel, sambil menatap Casey lekat-lekat.


Casey terdiam sejenak, sambil berpikir.


Jika Casey ingin membicarakan tentang perubahan manajemen, maka dia harus bicara empat mata dengan Aaron, tanpa ada kesempatan untuk diintervensi oleh orang lain, agar Aaron bisa mengutarakan pendapatnya yang sejujurnya.


Dan sekarang ini, seharusnya adalah kesempatan yang bagus, karena menurut Aaron tadi, dia sedang tidak banyak pekerjaan.


Namun yang jadi pertimbangan, adalah Casey yang merasa enggan, untuk berdua saja dengan Aaron.


Apalagi, letusan kemarahan Casey tadi, juga ikut membuat Casey merasa lebih canggung, untuk bertemu dengan laki-laki itu.


Casey menghela napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan, kemudian berdiri dari tempat duduknya, dan berjalan mengarah ke luar.


Morty tidak terlihat di meja kerjanya, ketika Casey membuka pintu dan melihat ke situ, sehingga Casey kemudian berbalik, dan bertanya kepada Steve dan Lionel, dengan berkata,


"Di mana Morty?"


"Sekarang ini sedang ada kegiatan bebas. Mungkin Morty sedang berada di gedung olahraga," jawab Lionel. "Kenapa kamu mencarinya?"


"Hmm ... Aku ingin Morty memanggil Aaron, agar dia datang ke sini sekarang. Karena aku ingin membicarakan tentang perubahan manajemen itu dengannya," jawab Casey.


"Biar aku saja yang memanggilnya," kata Lionel, sambil berdiri dari tempat duduknya, lalu melihat ke arah Steve, dan berkata,


"Steve! ... Ayo ikut denganku!"


Baik Lionel maupun Steve, kelihatannya memang mengerti, jika pembicaraan yang akan dilakukan antara Casey dan Aaron itu bersifat rahasia, dan tidak bisa diperbincangkan dengan adanya orang lain di situ.


Sehingga Steve tampak tidak keberatan untuk meninggalkan Casey, dan segera berdiri dari tempat duduknya, lalu menghampiri Casey.


"Aku merasa bangga padamu. Aku harap pembicaraan kalian bisa berjalan lancar. I love you, my baby!"


"Love you, too...." sahut Casey, sambil tersenyum.


"Jika Aaron setuju untuk menemuimu, maka kami akan menunggu di gedung olahraga. Kamu bisa menghubungi kami, jika pembicaraanmu dengannya sudah selesai," kata Lionel.


"Okay!" sahut Casey, yang kemudian mendapatkan pelukan hangat dari Lionel, untuk sejenak.


"Jangan memaksakan diri...! Jika pembicaraan kalian hanya membuatmu merasa terlalu tertekan, segera hubungi kami. Agar kami bisa cepat datang ke sini," kata Lionel, menyempatkan diri untuk berpesan kepada Casey.


"Iya, aku tahu ... Tidak perlu khawatir," jawab Casey, memastikan.


Ketika Steve dan Lionel berjalan keluar dari ruang kerjanya, Casey kemudian mengambil beberapa berkas, yang berisikan data-data umum perusahaan, sebagai persiapannya untuk menjadi pembahasannya dengan Aaron.


Casey masih berdiri di dekat lemari arsip, sambil melihat-lihat berkas di tangannya, untuk memastikan bahwa itu adalah berkas yang benar, ketika Aaron membuka pintu ruang kerjanya dan menyapanya.


"Casey! ... Kamu ingin bertemu denganku?"


Sembari Aaron berjalan menghampirinya, Casey memandangi Aaron dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya.


Casey menggeleng-gelengkan kepalanya, saat melihat penampilan Aaron yang masih berantakan, seperti bagaimana Casey melihatnya tadi.


Sifat perfeksionis yang dimiliki oleh Casey, membuat Casey merasa sangat terganggu, karena melihat penampilan Aaron itu.


Sehingga tanpa sadar, ketika Aaron berdiri di jarak yang sangat dekat dengannya, Casey lalu melepaskan berkas di tangannya ke atas meja, kemudian merapikan kemeja yang dikenakan oleh Aaron.


Aaron pun hanya terdiam, dan membiarkan Casey mengutak-atik kemejanya.


"Aku ingin membicarakan sesuatu tentang pekerjaan. Lalu kamu datang ke sini dengan penampilan seperti ini?" ujar Casey, setelah kemeja Aaron sudah terlihat rapi.


"Pffftt...!" Aaron tertawa tertahan, lalu menyentuh kepala Casey.


Namun Casey segera menepis tangan Aaron itu, sambil berkata,


"Lebih baik kamu merapikan rambutmu! Agar aku tidak merasa, seperti sedang berbicara dengan orang sembarangan, yang aku temui di jalanan."


"Okay, okay!" Dengan jari-jari tangannya, Aaron segera merapikan rambutnya seadanya, sambil tetap tersenyum, menatap Casey.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Aaron.


Casey kemudian duduk di kursi kerjanya, lalu mempersilahkan Aaron untuk duduk di kursi, yang ada di seberang meja di depannya. "Silahkan duduk!"


Aaron tidak segera duduk, melainkan menggeser kursi itu, berpindah ke dekat kursi kerja Casey, sambil berkata,


"Hanya kita berdua saja di sini. Akan lebih nyaman, kalau kita bicara seperti ini."


Casey tidak memperdulikan akan apa yang dilakukan oleh Aaron itu, dan segera membahas inti permasalahan, yang membuatnya sampai memanggil Aaron ke situ.


Sambil memberitahu Aaron, akan apa yang dia pikirkan, Casey memperlihatkan data-data umum perusahaan, dan menunjuk semua manajemen yang menurut Casey perlu diubah.


Aaron mendengarkannya dengan saksama, dan tampaknya, dia memang serius memikirkan apa yang Casey katakan kepadanya.


Sesekali, Aaron menanggapi perkataan Casey, dengan mengutarakan pendapatnya, atau sekadar bertanya pada Casey.


"Menurutku, sebagian besar dari pemikiranmu bisa aku terima," kata Aaron, di sela-sela percakapannya dengan Casey.


"Tapi ... Apakah perubahan yang kamu inginkan, untuk bagian pemasaran itu, tidak ada hubungannya dengan personal dari direkturnya?" lanjut Aaron.


Dari sekian banyaknya perombakan yang ingin Casey lakukan, bagian pemasaran yang dipimpin oleh Julie lah yang diangkat oleh Aaron, dan seolah-olah Aaron tidak menyetujuinya.


"Apa ada alasannya, hingga kamu mempertanyakan masalah perubahan di bagian pemasaran?" Casey balik bertanya.


"Tidak ... Aku hanya penasaran saja," jawab Aaron.


"Begitu juga denganku. Semua perubahan yang aku pikirkan, tidak ada hubungannya dengan siapa-siapa," sahut Casey.


Aaron lalu mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah ada yang sedang dia pikirkan.


"Rancanganmu itu cukup ekstrem. Tapi untuk garis besarnya, aku rasa itu bisa diterima," kata Aaron. "Kapan waktunya yang kamu inginkan, untuk digelarnya rapat umum shareholders?"


"Kenapa kamu dengan mudahnya untuk menyetujuinya?" Casey cukup terkejut dan keheranan, karena tanggapan dari Aaron itu.


"Menurutku, itu adalah pemikiran yang bagus. Kenapa aku harus menolaknya?" sahut Aaron, tampak menautkan alisnya.


"Cukup mengejutkan, karena kamu bisa berpikir kritis seperti itu, hanya dalam beberapa minggu kamu bekerja di perusahaan ini....


... Jika kita berdua bisa terus bekerja sama, maka kemungkinan besar, dalam satu atau dua tahun ke depan, perusahaan ini akan berkembang, dua sampai tiga kali lipat," lanjut Aaron.


Casey terdiam.


"Casey! ... Kamu tidak akan segera berpindah ke Roberts grup, bukan?" tanya Aaron.


"Ugh? ... Tidak," jawab Casey. "Kenapa kamu menanyakan hal itu?"


"Hmm ... Jika kamu berencana untuk pindah ke Roberts grup, maka aku tidak akan melanjutkan rancanganmu itu," jawab Aaron.


"Hey! ... Apa maksudmu?" tanya Casey.


"Aku akan membiarkan perusahaan ini tetap seperti ini. Kecuali kamu mau tetap di sini bersamaku," jawab Aaron, sambil menatap Casey lekat-lekat.