
Lionel sudah kembali ke ruangannya, tidak berapa lama setelah kedatangan Morty yang membawa minuman, dan beberapa berkas pekerjaan, ke dalam ruang kerja Casey.
Namun, sebelum Lionel berlalu pergi dari sana, Lionel masih sempat berbisik-bisik kepada Casey, dengan berkata,
"Aku rasa, Steve tertarik kepadamu."
Casey hanya menanggapinya dengan tersenyum sinis, lalu menyuruh Lionel untuk kembali ke ruangannya, sambil mendorongnya ke luar.
***
"Apa ada yang bisa aku lakukan, untuk membantumu?" tanya Steve, yang tiba-tiba menghampiri Casey di meja kerjanya.
Steve mungkin merasa jenuh, setelah beberapa saat lamanya, dan dia hanya melihat-lihat di ponselnya, sembari duduk sendirian di sofa, sementara Casey memeriksa berkas laporan.
"Maafkan aku," ucap Casey, sambil menutup berkas di atas mejanya. "Aku memintamu jauh-jauh datang ke sini, tapi aku justru hanya sibuk dengan pekerjaanku saja."
"Tidak apa-apa," sahut Steve, sambil tersenyum.
"Hmm ... Apa kamu mau berkeliling di kantor ini?" tanya Casey, lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" Steve balik bertanya.
"Tidak terlalu mendesak. Aku masih bisa menundanya," jawab Casey.
"Okay!" sahut Steve.
Casey kemudian berjalan keluar dari ruang kerjanya, bersama-sama dengan Steve.
Tepat di saat Steve membukakan pintu ruang kerja itu, Morty terlihat berdiri di sana, seolah-olah dia hendak mengetuk pintu, namun hanya terhenti begitu saja.
"Miss Roberts! ... CEO Aaron Hamilton ingin bertemu dengan Anda," kata Morty, yang tampak terkejut.
Casey tidak segera menanggapi perkataan Morty, dan justru melangkah ke luar, melewati pintu yang terbuka lebar.
Aaron terlihat berdiri di dekat meja kerja Morty, dan tampak tak kalah terkejutnya, jika dibandingkan dengan reaksi dari Morty tadi.
"Kamu bisa kembali ke mejamu!" ujar Casey kepada Morty.
"Apa kamu akan ada pertemuan dengan CEO?" tanya Steve.
"Aku tidak ada janji dengannya," jawab Casey.
Casey lalu kembali melihat ke arah Aaron, yang sekarang ini sudah berjalan pelan menghampiri Casey, yang berdiri bersebelah-sebelahan dengan Steve.
Aaron memandangi Casey dan Steve bergantian, lalu menghentikan pandangannya pada Casey, ketika Casey berkata,
"Ada apa? ... Jika tidak terlalu mendesak, kamu mungkin bisa menundanya dulu. Karena ada yang ingin aku lakukan."
Aaron hanya terdiam untuk beberapa saat, hingga Casey kemudian lanjut berkata,
"Kamu bisa kembali ke sini nanti. Kami pergi dulu!"
Casey hampir saja berlalu pergi dari situ bersama Steve, namun Aaron memegang lengan Casey.
"Casey!" ujar Aaron, menahan langkah Casey dan Steve di situ.
Steve kemudian mencondongkan kepalanya ke salah satu sisi wajah Casey, dan berbisik-bisik dengan berkata,
"Kelihatannya, dia ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu. Kamu bisa melayaninya saja dulu, di ruanganmu. Aku akan menunggumu di sini."
Casey terdiam untuk sejenak.
"Okay! ... Tunggu sebentar!" kata Casey kepada Steve, lalu melihat ke arah Aaron sambil berkata,
"Kita bisa bicara di ruanganku."
Casey kemudian berbalik dan berjalan lebih dulu, memasuki ruang kerjanya lagi, sambil disusul oleh Aaron, yang langsung menutup pintu, ketika mereka berdua sudah berada di dalam ruangan itu.
"Apa dia itu hanya temanmu?" tanya Aaron.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? Jangan katakan, kalau kamu hanya ingin mencari tahu tentang tamu yang menemuiku," ujar Casey.
"Hmm...." Aaron menggumam, sambil menatap Casey lekat-lekat.
"Aku anggap kalau kamu datang ke sini, memang bukanlah karena urusan pekerjaan. Benar begitu?" ujar Casey.
"Aku penasaran dengan kenalanmu itu," sahut Aaron, terdengar berhati-hati.
"Dia seniorku di universitas," kata Casey.
Untuk beberapa saat kemudian, Aaron masih terdiam dan menatap Casey lekat-lekat, seolah-olah dia masih menunggu penjelasan tambahan dari Casey.
"Apa ada yang ingin kamu bicarakan lagi?" tanya Casey.
"Hanya itu saja? ... Dia seniormu di universitas ... Itu saja?!" Aaron tampak menekankan pernyataan Casey, seolah-olah dia tidak bisa percaya begitu saja.
"Apa sekarang ini kamu akan masuk campur dalam urusan pribadiku?" tanya Casey, sinis.
"Aku rasa, kamu pasti ada pekerjaan yang lebih penting sekarang ini ... Aku juga harus pergi sekarang!" kata Casey.
Casey mengulurkan sebelah tangannya, mempersilahkan Aaron, agar keluar dari ruangan itu.
Kelihatannya, Aaron tampak kecewa, namun dia tetap berbalik, lalu berjalan keluar dari ruang kerja Casey itu, sambil disusul oleh Casey dari belakangnya.
Aaron terlihat berjalan dengan cepat melewati Steve, tanpa menoleh sedikitpun ke arah teman laki-laki Casey itu, dan segera mengarah ke ruang kerjanya lagi.
Steve menghampiri Casey, lalu berkata,
"Apa ada masalah? ... CEO tadi tampak kesal."
"Tidak ada. Dia hanya menanyakan beberapa hal ... Ayo kita pergi!" sahut Casey, sambil mengajak Steve untuk berjalan dengannya.
Sembari berjalan menuju ke lift, Casey sempat memikirkan sikap Aaron, yang tampak seperti seseorang yang sedang merasa cemburu.
Tapi ... Aaron cemburu?
Rasanya itu adalah hal yang mustahil.
"Steve! ... Bagaimana jika aku mengajakmu, untuk bekerja di sini?" tanya Casey, saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Hmm ... Bekerja satu kantor denganmu?" Steve balik bertanya.
"Iya," jawab Casey.
Pintu lift kemudian terbuka, sehingga Casey serta Steve melangkah keluar dari sana, dan berjalan pelan di rooftop gedung kantor itu.
"Aku akan mempertimbangkannya," sahut Steve, sambil tersenyum lebar. "Tapi ... Apa itu adalah tawaran sungguhan? Atau kamu hanya bercanda?"
Sebuah bangku yang ada di rooftop itu, jadi tempat duduk bagi Casey dan Steve, sambil memandangi perkotaan dari atas gedung itu.
"Tentu saja aku bersungguh-sungguh! ... Aku hanya tidak mau memaksa. Karena kamu sudah memiliki pekerjaan. Apalagi, kamu juga asing dengan negara ini," jawab Casey, ikut tersenyum.
"Ugh? ... Bagaimana kamu bisa tahu?" Steve tampak terkejut.
"Oscar memberitahuku, bahwa kamu tidak pernah datang ke negara ini," jawab Casey.
"Jadi, kalian sering membicarakan tentangku, tanpa sepengetahuanku...." ujar Steve, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Maafkan aku ... Tapi kami tidak membicarakan sesuatu yang buruk tentangmu," sahut Casey.
"Tidak apa-apa. Jangan salah paham! Karena aku tidak sedang menyalahkanmu," ujar Steve.
"Aku hanya merasa heran, karena di masa lalu, kamu kelihatannya tidak terlalu perduli tentangku." Saat Steve melanjutkan perkataannya, terdengar seperti dia sedang mengejek Casey.
Begitu pula dengan raut wajah Steve saat itu, yang tampak seolah-olah sedang menahan diri agar tidak tertawa, sambil melirik Casey dengan ujung matanya.
Casey menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil tersenyum, lalu berkata,
"Sejujurnya, bukan aku tidak perduli, tapi aku memang kurang nyaman, jika terlalu banyak bertanya tentang urusan pribadimu....
... Saat ini pun aku masih merasa seperti itu. Jika Oscar tidak mengatakannya tanpa sengaja kepadaku, aku juga mungkin akan merasa segan untuk bertanya."
Steve kemudian memegang tangan Casey, dan menggenggamnya dengan erat, sambil menatap Casey lekat-lekat, Steve lalu berkata,
"Sekarang, aku ingin kamu tahu, kalau kamu bisa bertanya kepadaku, apa saja yang ingin kamu tahu tentangku. Aku tidak akan keberatan untuk menjawabnya."
Casey sempat merasa canggung, dengan sikap Steve saat itu, hingga dia hanya bisa terdiam.
"Kenapa kamu sampai bisa terpikir, untuk mengajakku bekerja di sini?" tanya Steve.
"Aku memeriksa data umum dari perusahaan ini. Dan aku rasa, ada beberapa sistem dari manajemennya yang perlu diubah," jawab Casey.
"Hmm ... Tapi itu tugas dari CEO," ujar Steve, sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Iya, aku tahu ... Tapi kepemilikan saham Roberts grup di perusahaan ini, lebih dari separuhnya. Rasanya cukup merugikan...,
... jika sudah tahu, bahwa sebenarnya perusahaan ini ada kesempatan untuk bisa lebih berkembang, asalkan manajemennya diubah, namun hanya dibiarkan saja," sahut Casey.
"Apa kamu sudah membicarakannya dengan CEO?" tanya Steve.
"Belum ... Aku ingin mendengarkan pendapatmu dulu," jawab Casey.
"Hmm ... Aku tidak sepintar itu, hingga kamu harus meminta pendapat dariku. Lagi pula, aku tentu harus melihat data umum perusahaan, sebelum aku bisa memberikan pendapatku....
... Sedangkan aku tidaklah bekerja di sini. Apa kamu yakin bisa mempercayaiku?" ujar Steve, sambil tersenyum dan hampir tertawa sambil menatap Casey.
"Apa kamu berniat untuk mengkhianatiku?" Casey balik bertanya.
"Hahaha!" Steve akhirnya tertawa, lalu menatap Casey lekat-lekat, dan menahan senyuman di wajahnya.
Steve kemudian berkata,
"Mengkhianatimu? ... Aku rasa tidak begitu. Karena aku akan lebih memilih untuk menjadikannya sebagai sebuah ancaman, agar kamu mau menerima cintaku."