
"Apa katamu?" tanya Steve.
Menurut Casey, dia hanya menggerutu pelan saja, tapi ternyata, Steve masih bisa mendengarkan perkataannya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Casey, sambil mengalihkan pandangannya dari Aaron, dan kembali melihat ke arah Steve.
"Apa kamu mau melihat-lihat di situ?" tanya Steve, sambil menunjuk sebuah stand, yang menyediakan peralatan musik.
"Ugh?" Walaupun Casey merasa heran dengan ajakan Steve, tapi dia akhirnya setuju untuk mendatangi sebuah ruangan yang dipenuhi dengan instrumen musik, sebagai pajangannya.
Setelah beberapa waktu melihat-lihat di dalam sana, Steve lalu tampak mengambil sebuah gitar akustik, kemudian mencoba untuk memainkannya.
"Hey! ... Aku tidak tahu kalau kamu bisa memainkan gitar," celetuk Casey, dengan rasa heran.
"Seorang kenalanku yang mengajarkanku," sahut Steve, sambil tersenyum, lalu memetik senar gitar dengan perlahan.
Sambil diiringi petikan gitar, Steve kemudian bersenandung, walaupun lagu yang dia nyanyikan, terdengar asing di telinga Casey.
Namun, Casey menganggap kalau lagu yang disenandungkan oleh Steve itu, cukup menarik perhatiannya.
Dan kelihatannya, bukan hanya Casey yang tertarik untuk mendengarkan Steve bernyanyi.
Walaupun Steve hanya bersenandung pelan, tapi Steve juga ikut menarik perhatian orang-orang yang lain, yang berada di situ.
Jari-jari tangan Steve memang terlihat bergerak lincah di atas senar gitar, dan suara Steve juga ternyata cukup merdu saat dia bernyanyi.
Selain itu, menurut Casey, bahasa asing dari negara tempat Steve menetap selama ini, tampaknya juga ikut mempengaruhi, sehingga orang-orang ingin memperhatikan Steve di situ.
Hanya sedikit-sedikit saja dari lirik lagu, yang bisa dimengerti oleh Casey, dan kedengarannya, lagu itu adalah lagu cinta dengan kata-kata yang mesra.
Setelah Steve berhenti bernyanyi, dua orang dengan ras berbeda dari ras orang kebanyakan di negara itu, dan tampak seperti sepasang kekasih, kemudian menghampiri Steve.
Kedua orang itu lalu berbincang-bincang dengan Steve, menggunakan bahasa yang dipakai Steve di dalam lagunya, saat dia bernyanyi tadi.
Saat itu, Casey hanya bisa memandangi Steve dan kedua orang itu saja, karena sebagian besar yang mereka bicarakan, tidak bisa dipahami oleh Casey.
Dan ketika kedua orang itu sudah berlalu pergi, dengan bersemangat, Casey kemudian berkata,
"Aku akan membelikan gitar itu untukmu. Tapi sebagai gantinya, kamu harus mengajarkanku bahasa dari negara itu."
"Pffftt...! Okay!" sahut Steve, sambil tertawa.
Casey kemudian membayar harga gitar, yang sempat dicoba oleh Steve tadi, dan gitar itupun segera dibungkus oleh pegawai toko, menggunakan sebuah tas khusus untuk gitar.
"Aku rasanya ingin segera pulang, agar kamu bisa bernyanyi untukku," ujar Casey.
Steve tampak tersenyum lebar, lalu sambil menyentuh salah satu pipi Casey, Steve kemudian berkata,
"Bagaimana dengan makan malam? Aku ingin makan malam berdua denganmu."
"Hmm ... Okay!" sahut Casey. "Kamu mau makan apa?"
"Bagaimana dengan steik?" tanya Steve, sambil menunjuk dengan gerakan matanya, sebuah restoran yang berada di dalam pusat perbelanjaan itu.
"Apa kamu bisa ke sana lebih dulu? Aku akan membawa barang-barang ini ke mobil. Baru nanti aku menyusulmu di situ," lanjut Steve.
Casey melihat ke arah tangan Steve yang memegang kantong belanjaan, dan masih ditambah dengan gitar, yang ikut membuat pegangan dari kedua tangan Steve, jadi semakin penuh.
"Okay!" sahut Casey.
Sebelum Steve berlalu pergi, dia masih menyempatkan diri untuk mencium kening Casey, lalu berkata,
"Maafkan aku, karena membuatmu harus pergi sendiri dan menunggu. Tapi aku tidak akan lama."
"Tidak jadi masalah," kata Casey, kemudian berpisah jalan dengan Steve.
Casey yang mengambil satu meja kosong di dalam restoran, yang letaknya dekat dengan dinding, tidak segera membuat pesanan, dan hanya duduk menunggu Steve di dalam sana.
Sementara itu, Casey lalu memandangi semua bagian dari pusat perbelanjaan, yang bisa terlihat olehnya, dari balik dinding kaca restoran.
Melihat orang-orang yang berlalu-lalang di sana, membuat Casey jadi memikirkan beberapa hal.
Casey besar di negara itu sampai dia menyelesaikan high school-nya, tapi Casey tidak memiliki banyak teman di sana.
Casey bahkan sudah tidak tahu lagi, akan kabar dari sebagian besar rekan di sekolahnya dulu, karena Casey yang selalu melewatkan acara reuni.
"Kenapa kamu sendirian saja?"
Casey sama sekali tidak menyadari, akan keberadaan Aaron yang menghampirinya, di dalam restoran itu.
Casey lalu menoleh, dan melihat Aaron yang berdiri di dekatnya.
"Di mana Steve?" tanya Aaron, lagi.
"Dia sedang mengantar barang belanjaan ke mobil," jawab Casey spontan, kemudian segera menyadari sesuatu.
"Untuk apa kamu perlu mencari tahu semuanya? ... Apa kamu tidak bisa mengurus urusan pribadimu saja?" lanjut Casey buru-buru, yang merasa terganggu dengan adanya Aaron di situ.
"Julie sedang berbelanja," kata Aaron, kemudian mengambil tempat duduk di dekat Casey.
"Aku tidak mau tahu," sahut Casey, lalu melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Untuk apa kamu di sini?"
"Aku hanya ingin duduk saja," jawab Aaron, seolah-olah tidak perduli, walaupun Casey sudah memperlihatkan ketidaksukaannya.
Aaron kemudian membuka buku menu yang ada di atas meja, lalu melihat-lihat di dalamnya. "Aku belum pernah mencoba steik di restoran ini."
"Apa yang ini enak?" tanya Aaron, sambil memperlihatkan kepada Casey, tulisan di buku menu yang ditunjuk dengan jarinya.
"Aku baru kali ini akan makan di sini. Bagaimana aku bisa tahu enak atau tidaknya?" sahut Casey, ketus.
"Kalau begitu aku akan mencoba yang ini saja!" Aaron tetap bertingkah masa bodoh, dan hanya membuat Casey semakin sebal karenanya.
Casey hampir saja membentak Aaron, tapi Steve tiba-tiba saja sudah berada di dekat meja, di mana Casey dan Aaron duduk, dan segera menyapa, dengan berkata,
"Mister Hamilton!"
"Hai! ... Tidak masalah jika aku ikut bergabung dengan kalian berdua, bukan? Aku tidak ingin makan sendirian," kata Aaron.
"Apa kita makan malam di tempat lain saja?" tanya Casey, tidak memperdulikan keberadaan Aaron.
Kelihatannya, sama seperti Casey, Steve juga tampak tidak setuju, jika Aaron ikut makan malam dengan mereka.
Namun Steve tidak berkata apa-apa, dan hanya mengambil tempat duduk yang tepat berhadapan dengan Casey, lalu memandangi Aaron dan Casey bergantian.
"Apa kamu tidak mau mencoba makanan di restoran lain?" Casey mengulang pertanyaannya kepada Steve.
"Katamu tadi, kamu belum pernah mencoba makanan di restoran ini," kata Aaron, terdengar buru-buru menimpali perkataan Casey.
"Apa Julie tidak akan mencarimu?" tanya Casey, kepada Aaron.
"Aku sudah lapar, sedangkan dia masih berbelanja," sahut Aaron.
"Lalu apa itu harus menjadi urusan kami?" tanya Casey, tidak mau kalah.
"Casey! ... Tidak apa-apa. Kita makan malam di sini saja, bersama Mister Hamilton," ujar Steve, seolah-olah hendak menghentikan agar tidak terjadi perdebatan, antara Casey dengan Aaron.
"Oh, iya! ... Steve ... Apa aku bisa memanggilmu dengan sebutan Steve saja?" tanya Aaron.
"Iya," jawab Steve, singkat.
"Okay, Steve! ... Tidak perlu terlalu formal. Panggil saja aku Aaron," kata Aaron.
"Ow! ... Okay!" sahut Steve.
"Terima kasih sudah mengizinkan aku, agar bisa ikut bergabung dengan kalian. Makan malam ini, biarkan aku saja yang traktir," lanjut Aaron, kepada Steve.
Aaron kemudian memberi tanda kepada pelayan restoran, agar menghampiri meja mereka.
Baik Aaron, Casey maupun Steve, lalu segera membuat pesanan, yang masing-masing mereka inginkan.
Gelasnya yang telah dituangkan cairan wine oleh pelayan, kemudian digoyangkan oleh Aaron dan menyesap wine-nya sedikit, sebelum dia kemudian berkata,
"Maafkan aku ... Aku tidak berniat mengganggu kalian. Tapi Julie sedang berbelanja pakaian dalam. Aku merasa canggung, jika aku tetap berada di sana bersamanya."
"It's okay!" sahut Steve, yang juga ikut menyesap sedikit cairan wine dari gelasnya.
"Apa kamu sudah mengenal Julie?" tanya Aaron.
"Casey memberitahuku, kalau kenalanmu itu, juga bekerja di perusahaan yang sama dengan kalian," jawab Steve.
"Itu saja?" tanya Aaron, lagi.
Steve terdiam untuk sesaat, sebelum akhirnya dia berkata,
"Iya ... Itu saja."