Memory Of Love

Memory Of Love
Part 47



"... sey...!"


"Please, Casey...!"


Namanya yang berulang kali dipanggil dan terdengar bergema, menyadarkan Casey, bahwa dia sekarang ini sedang berada di dalam sebuah ruangan tertutup.


Cahaya yang masuk ke dalam indra penglihatannya, yang membuatnya merasa silau, mengharuskan Casey untuk sedikit menyipitkan kelopak matanya.


"Thank's God! ... Kamu membuatku benar-benar merasa cemas!" ujar Aaron.


Casey tidak mempedulikan tentang kemungkinan di mana dia berada sekarang, dan hanya terpusat perhatiannya pada wajah Aaron, yang pertama kali bisa dilihat olehnya.


Aaron dengan matanya yang berkaca-kaca, seperti seseorang yang hampir menangis, menampakkan raut wajah khawatir, ketika Casey memperhatikannya.


Setelah kesadarannya terkumpul, sebenarnya Casey ingin menampar wajah Aaron itu.


Karena menurut Casey, ekspresi cemas di wajah Aaron, justru hanya membuat laki-laki itu terlihat seperti orang yang munafik.


Akan tetapi, tenaga Casey tampaknya masih belum kembali sepenuhnya.


Sehingga Casey tidak mampu, untuk menggerakkan anggota tubuhnya, meski dia telah berusaha keras, untuk mencoba mengangkat sebelah tangannya.


Bahkan, sekadar untuk berbicara saja, Casey tidak bisa menggerakkan mulutnya.


Hingga beberapa waktu kemudian, barulah Casey bisa bicara. Sementara anggota tubuhnya yang lain, masih mati rasa.


"Kamu tidak layak untuk menjadi pasanganku!" Itu adalah kalimat pertama yang bisa keluar dari mulut Casey.


"Ugh?" Aaron terlihat bingung, dan menatap Casey lekat-lekat.


"Laki-laki rendahan sepertimu, kelihatannya sangat menikmati s*x-mu dengan Julie," ujar Casey.


"Apa yang sedang kamu bicarakan?" Aaron yang tampak semakin bingung, justru balik bertanya kepada Casey.


"Kamu tidak bisa memenuhi janjimu untuk bertemu denganku, karena kamu sedang berhubungan intim dengan Julie, bukan?


... Bagaimana rasanya? Memuaskan? Bisa membuatmu ketagihan?" Casey melontarkan pertanyaannya, yang bertubi-tubi dengan rasa geram.


"Casey Roberts! ... Apa kamu sedang bermimpi? Aku tidak pernah berhubungan intim dengan Julie!" sahut Aaron tegas, dan tampak menautkan kedua alisnya.


"Jangan terlalu berani untuk berbohong padaku! Aku melihat Julie yang bertelanjang bulat, dan sedang bersamamu." Casey mengutarakan apa yang dilihatnya, kepada Aaron.


"Aku tidak berbohong!" ujar Aaron, yang tampak bersikeras.


"Apa aku perlu menjelaskan, bagaimana bentuk rambut pubis milik Julie? Untuk membuktikan, bahwa aku memang melihatnya secara langsung?" tanya Casey, sambil mengeraskan rahangnya.


Sementara itu, Aaron justru tampak seolah-olah sedang memikirkan sesuatu, dan hanya terdiam untuk beberapa saat.


"Aaron! ... Sebaiknya kamu berhenti berpura-pura bodoh!" ujar Casey, sinis.


"Sebelum aku mengalami kecelakaan, aku menghubungi ponselmu, untuk memastikan janji temu kita. Dan Julie yang menerima panggilan teleponku itu....


... Dia memperlihatkan organ intimnya, lewat panggilan video. Sementara kamu sedang berada di sana bersamanya. Apa itu cukup untuk menyegarkan ingatanmu?" lanjut Casey.


"Oh, gosh! ... Casey!" Aaron tampak seperti akan mengumpat.


"Aku terlambat datang ke restoran yang menjadi tempat pertemuan kita, karena Julie menahan kunci mobil dan ponselku....


...Walaupun dia memaksa, tapi aku tidak pernah melakukan hubungan intim dengan Julie. Sampai saat ini pun, aku tidak pernah menyentuhnya dengan cara seperti itu....


... Apa kamu pikir aku dengan mudahnya melampiaskan nafsuku? Hanya karena melihat seorang wanita yang bertelanjang bulat di depanku?" lanjut Aaron, yang tampak kesal.


"Hmph! ... Aaron! ... Kucing yang diberi potongan daging, apa mungkin dia akan menolaknya?" Casey benar-benar meremehkan Aaron saat ini.


Dan Casey pun tidak mempedulikan, jika Aaron akan tersinggung dengan semua perkataan yang diucapkan olehnya itu.


"Terserah kamu, kalau kamu akan mempercayai perkataanku atau tidak. Tapi aku bisa memastikan, kalau aku tidak pernah berhubungan s*x dengan Julie," kata Aaron.


Aaron tampak seperti orang frustrasi, memijat-mijat keningnya dengan sebelah tangannya, sebelum dia lanjut berkata,


"Kamu tentu belum lupa, bukan? Siang tadi, aku menceritakan tentang Julie. Di mana aku mendapatinya berhubungan s*x dengan orang lain, hingga berulang kali....


... Apa kamu mau tahu, apa yang dikatakan oleh Julie, yang menjadi alasan baginya, sehingga dia melakukan hal itu? ... Itu karena aku yang tidak pernah mau memuaskan nafsunya."


"Kenapa? Apa kamu religius? Atau kamu mungkin impoten?" tanya Casey, sinis.


Aaron tersentak, dan tampak mengeraskan rahangnya, seolah-olah dia merasa frustrasi bercampur geram, karena pertanyaan Casey itu.


"Apa kamu mau mencobanya? Aku akan melakukannya denganmu, sekarang ini juga!" ujar Aaron, yang tampak kesal, menantang.


"Kamu bisa melakukannya denganku, tapi tidak bisa melakukannya dengan Julie? Bagaimana hal itu bisa dipercaya?" tanya Casey lagi, dengan nada suara yang sinis.


Aaron yang pada awalnya terlihat gusar, kemudian tampak menghela napasnya yang terdengar berat, hingga berulang kali.


Di saat itu, Aaron seolah-olah sedang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, sebelum dia mendekat ke arah Casey.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya, untuk membuktikannya kepadamu, agar kamu bisa mempercayaiku. Karena aku sendiri belum bisa mengerti, kenapa aku tidak bisa melakukannya dengan Julie....


...Aku menyayanginya, hingga aku menjaganya. Tapi rasanya, selama aku berkencan dengannya, seolah-olah aku hanya sedang menunggu, sampai ada seseorang yang bisa menggantikanku untuk melindunginya....


... Tidak ada keyakinan dalam diriku, kalau aku bisa bersama Julie untuk selamanya. Itu sebabnya, sehingga aku tidak mau terikat dengan hubungan intim dengan Julie."


Aaron yang menghela napasnya panjang dan dalam, sambil menempelkan bagian hidung dan mulutnya di salah satu pipi Casey, seakan-akan hendak menarik keluar jiwa Casey, lewat helaan napasnya itu.


"Mungkin aku memang sudah gila. Karena aku justru ingin memiliki setiap inci darimu. Senang ataupun sakitmu, aku ingin agar aku juga bisa ikut merasakannya....


... Aku bahkan sempat terpikir, jika aku melakukan hubungan s*x denganmu, dan hal itu bisa membuatmu benar-benar terikat padaku, maka aku akan segera melakukannya," kata Aaron.


Aaron lalu mencium bagian leher Casey, dan begitu juga sebelah tangannya, yang terasa hendak menggerayangi badan Casey.


Dengan kekuatan yang hampir pulih di bagian tangannya, Casey menampar bagian belakang kepala Aaron.


"Jangan coba-coba berpikir untuk memanfaatkan keadaan, saat tenagaku belum kembali!" ujar Casey, ketus.


"Pffftt...!" Walaupun tamparan Casey itu cukup keras, tetapi Aaron masih bisa tertawa.


Dan seolah-olah tidak merasa terganggu, Aaron lalu mempererat pelukannya pada Casey.


"Kenapa kamu tertawa? Kamu pikir itu lucu?" tanya Casey.


"Aku senang! ... Karena kamu cemburu," kata Aaron.


"Apa katamu?" tanya Casey, keheranan.


"Kamu cemburu ... Karena kamu mengira, kalau aku dan Julie melakukan hubungan s*x," sahut Aaron, sambil mengangkat sedikit kepalanya, hingga dia bisa bertatap mata dengan Casey.


"Itu yang memicu kemarahanmu padaku. Benar begitu, bukan?" lanjut Aaron.


Casey terdiam dalam kebingungannya.


"Akhirnya! Masih ada harapan untukku!" ujar Aaron, terdengar bersemangat, sambil tersenyum lebar, lalu menggigit bibirnya sendiri. "Aku mencintaimu."


***


Butuh waktu cukup lama bagi Casey, hingga semua kekuatannya kembali, dan dia sanggup untuk menggerakkan semua anggota tubuhnya.


Bahkan, hingga sudah waktunya untuk makan malam, Casey baru bisa duduk sendiri, dan belum sanggup untuk berdiri, apalagi berjalan.


Dengan demikian, Aaron kemudian mengatur makan malam bersamanya, di dalam kamar Casey.


Ketika Casey selesai menghabiskan makan malamnya, di saat itu juga, terlihat Lionel dan Steve yang menemuinya, setelah Aaron membukakan pintu kamar untuk mereka.


Baik Lionel maupun Steve, sama-sama memasang ekspresi cemas di wajah mereka, saat menghampiri Casey.


"Apa yang terjadi?" tanya Steve, sambil menggenggam tangan Casey.


"Tidak terjadi apa-apa," jawab Casey, agar Steve serta Lionel tidak perlu merasa cemas berlebihan.


"Kamu tidak perlu berbohong. Aaron memberitahuku, kalau kamu jatuh pingsan saat kalian sedang berada di pantai," sahut Lionel.


Lionel kemudian mengambil tempat duduk di samping Casey.


"Aku yang menyuruhnya, untuk membawamu beristirahat di kamar saja, dan tidak perlu terburu-buru untuk membawamu ke rumah sakit," lanjut Lionel lagi.


Casey terdiam, sambil memandangi Lionel, Steve dan Aaron bergantian.


Lionel yang tampak seperti sedang mencurigai Casey, menatap Casey lekat-lekat, kemudian berkata,


"Apa ada yang kamu sembunyikan? Belakangan, kamu jadi semakin sering jatuh pingsan. Lalu menurut Aaron, kamu tidak mengeluhkan sakit kepala. Tapi kamu tidak bisa bergerak kali ini."


"Apakah karena dia?" Steve ikut bertanya dengan suara berbisik-bisik, sambil menunjuk Aaron dengan gerakan matanya.


Rasanya Casey ragu, jika harus berbohong dengan menceritakan, bahwa dia hanya berinteraksi biasa saja dengan Aaron, yang menjadi penyebabnya.


Tapi dia juga tidak bisa berkata jujur, kalau dia tadi berciuman dengan Aaron, karena hal itu tentu akan menyakitkan bagi Steve.


"Ingatanku sudah kembali." Casey memilih untuk mengatakan hal itu saja, yang tentu akan menarik perhatian Lionel, agar tidak menanyakan apa yang terjadi tadi.


"Belum sepenuhnya. Tapi ingatan tentang kejadian sebelum aku kecelakaan, aku sudah mengingatnya kembali," lanjut Casey.


Aaron tampak tersentak, setelah mendengar perkataan Casey, hingga dia hampir berdiri dari tempat duduknya.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Aaron, yang tampak tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. "Casey! ... Jadi, selama ini, kamu mengalami amnesia?"


Casey, Lionel dan Steve hanya terdiam untuk beberapa saat, sambil saling memandang antara satu dengan yang lain.


Sambil menautkan alisnya, hingga keningnya membentuk lipatan-lipatan yang dalam, Aaron memandangi Casey, Lionel dan Steve, lalu berkata,


"Ternyata hanya aku saja yang tidak tahu."