Memory Of Love

Memory Of Love
Part 25



Tidak berapa lama, setelah Casey selesai berbincang-bincang dengan Steve, Morty kemudian masuk ke dalam ruang kerja Casey.


Morty menyerahkan sebuah berkas proposal, untuk peringatan berdirinya perusahaan R&H Corp, kepada Casey, sambil memberikan sedikit informasi tambahan tentang acara itu.


Menurut Morty, mulai besok akan diadakan perlombaan santai antar seluruh pegawai, di setiap jam istirahat makan siang berakhir, selama tiga hari ke depan.


Begitu juga dengan akan diadakannya sebuah pesta gabungan, antara pegawai yang ada di kantor utama, dan seluruh kantor cabang yang berada di segala penjuru negeri, di malam hari pada tanggal ulang tahun perusahaan tersebut.


"Morty! ... Pergi temui CEO! Lalu katakan padanya, kalau aku ingin bertemu, dan aku akan menunggunya di sini!" kata Casey, memberikan arahannya kepada Morty.


"Baik, Miss!" sahut Morty, yang kemudian segera berlalu pergi dari ruang kerja Casey itu.


Steve yang masih duduk di sofa, dan tadinya hanya membaca buku, tampak tertarik dengan perintah yang baru saja Casey berikan kepada Morty. 


"Something's wrong?" tanya Steve, sambil menatap Casey. "Apa sebaiknya aku menunggu di luar?" 


"Tidak apa-apa ... Kamu bisa tetap di situ," jawab Casey. 


Casey kemudian kembali membaca proposal yang ada di tangannya, dan belum ditandatangani olehnya.


Tidak perlu Casey menunggu terlalu lama, sudah terdengar suara ketukan di pintu yang kemudian terbuka.


"Miss Roberts! ... CEO Aaron Hamilton sudah siap untuk bertemu dengan Anda," kata Morty.


"Iya ... Suruh dia masuk!" ujar Casey. 


"Baik, Miss!" sahut Morty, yang dengan tetap mempertahankan pintu tetap terbuka, membiarkan Aaron masuk menemui Casey, barulah pintu itu ditutup oleh Morty.


Aaron yang berjalan menghampiri Casey di meja kerjanya, tampak memandangi Steve yang duduk di sofa. 


Sambil terus berjalan, Aaron tidak berkata atau bereaksi apa-apa, meskipun Steve menganggukkan kepalanya, saat mereka berdua beradu pandang.


"Silahkan duduk!" kata Casey kepada Aaron, yang sudah berada di dekat meja kerja Casey.


"Ada apa?" tanya Aaron, setelah dia duduk di kursi yang berhadapan dengan Casey.


"Company anniversary," kata Casey, lalu memandangi proposal yang digeletakkannya di atas meja. "Apakah memang perlu, untuk mengadakan acara sampai tiga hari kerja?" 


"Ini kali pertama bagi perusahaan mengadakan perayaan. Selain itu, acara ini juga dilangsungkan, sekaligus untuk menyambut komisaris utama yang baru," jawab Aaron.


"Kalau begitu kegiatan ini tidak direncanakan sebelumnya. Benar, begitu?" tanya Casey.


"Iya ... Baru saja diputuskan di dalam rapat direksi pagi tadi," jawab Aaron.


"Apa kamu tidak setuju? Ini demi kebaikan perusahaan. Pegawai butuh istirahat, dan sedikit bersenang-senang, agar mereka nanti bisa bekerja lebih maksimal," lanjut Aaron buru-buru.


"Hmm...." Casey bergumam, sambil memikirkan perkataan Aaron, untuk beberapa saat lamanya.


"Resor yang jadi tempat rekreasi, adalah milik Hamilton. Jadi penggunaannya nanti, tidak akan memakai anggaran perusahaan ini. Hanya biaya transportasinya saja," kata Aaron.


"Iya, aku tahu ... Aku sudah membaca proposalnya. Justru itu aku memanggilmu ke sini. Apa itu tidak akan membebani Hamilton grup?" ujar Casey.


"Tidak ... Penggunaan resor itu justru jadi sarana promosi," jawab Aaron. 


"Aku sudah mendapatkan persetujuan dari daddy, yang akan turun tangan langsung, untuk mempersiapkan tempat itu nanti," lanjut Aaron.


"Hmm ... Okay!" ujar Casey.


Casey kemudian menandatangani persetujuannya, atas anggaran pengeluaran dana perusahaan, untuk setiap kegiatan yang akan berlangsung nanti.


"Ini!" Casey memberikan berkas proposal, langsung kepada Aaron, dan Aaron segera mengambil berkas itu dari tangan Casey. 


"Walaupun mendadak, aku harap kegiatannya bisa berlangsung sesuai dengan rencana," kata Casey.


"Terima kasih," ucap Aaron. 


Setelah beberapa saat kemudian, namun Aaron terlihat masih belum bergerak dari tempat duduknya, membuat Casey jadi ingin menegurnya, dengan berkata,


"Aku sudah memberikan persetujuanku. Kamu sudah bisa pergi sekarang."


"Casey! ... Apa kamu mau makan malam bersama denganku, malam ini?" tanya Aaron.


"Maafkan aku ... Tapi aku tidak bisa menerima ajakanmu. Aku akan menemani Steve," jawab Casey.


"Dia menginap di mana?" tanya Aaron, lagi. 


"Belakangan ini, kamu jadi sering 'menempelkan hidungmu' kepadaku," ujar Casey, yang merasa sebal dengan sikap ingin tahu dari Aaron.


"Apa dia seistimewa itu? Kamu bahkan tidak pernah mengizinkanku menginap, walau hanya semalam saja," ujar Aaron, seolah-olah sedang menggerutu.


"Huuffft...!" Casey mendengus kasar. "What's wrong with you? Aku benar-benar tidak tahu, apa yang sebenarnya kamu inginkan." 


Jika melihat sepintas saja, Aaron tampak kecewa saat itu, dan tanpa berkata apa-apa lagi, Aaron berdiri dari tempat duduknya, kemudian berlalu pergi dari sana.  


Casey menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan rasa tidak percaya akan tingkah laku Aaron, yang hanya membuatnya merasa kesal saja.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Steve, yang tiba-tiba sudah menghampiri Casey, dan duduk di tempat Aaron duduk tadi.


"Huuufft...! Yeah, I'm fine!" sahut Casey, sambil memaksakan diri agar bisa tersenyum.


"Apakah keberadaanku hanya menyulitkanmu?" tanya Steve, terdengar berhati-hati.


"Tolong, jangan pernah berpikir seperti itu! Aku senang dengan adanya kamu di sini, dan aku bersungguh-sungguh mengatakannya," sahut Casey.


Casey kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu berkata,


"Aku sudah tidak ada pekerjaan lain. Lagi pula, sekarang ini tersisa tidak sampai satu jam, hingga jam kerja berakhir. Kita bisa pulang sekarang."


"Okay!" sahut Steve, kemudian ikut berdiri, dan berjalan bersama Casey, keluar dari ruangan itu.


Ketika Casey melewati pintu yang terbuka, Morty terlihat berdiri dari tempat duduknya.


"Aku akan pulang sekarang. Kalau ada sesuatu, kamu bisa menghubungiku," kata Casey kepada Morty.


"Baik, Miss! ... Hati-hati di jalan!" sahut Morty.


Casey menganggukkan kepalanya, kemudian lanjut berjalan bersama Steve, meninggalkan Morty yang kembali duduk di kursi kerjanya.


***


Setibanya di rumahnya, Casey masih menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak, sebelum dia akhirnya pergi berjalan-jalan dengan Steve, yang ingin melihat-lihat di kota itu.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Casey kepada Steve yang duduk di sampingnya, sementara supir Casey membawa mereka bepergian.


"Semenjak kita masih berkuliah dulu, aku ingin kita berdua pergi menonton bioskop, lalu makan malam, kemudian berjalan-jalan santai di taman.... 


... Namun itu tidak pernah kesampaian, karena kita yang sama-sama sibuk dengan tugas kuliah," jawab Steve, sambil tersenyum lebar.


"Hey! ... Itu kedengarannya seperti kita berdua sedang berkencan!" ujar Casey, yang ikut tersenyum, dan hampir tertawa. "Tapi itu juga kedengarannya cukup menarik."


Casey kemudian meminta supir pribadinya, untuk mengantarkan mereka ke gedung bioskop, sebagai tujuan mereka yang pertama.


Setelah beberapa saat melihat-lihat film yang akan ditayangkan di situ, yang rata-rata adalah film bergenre romantis, Casey kebingungan sendiri memilih film apa yang ingin ditonton.


"Aku tidak tahu film apa yang bagus," celetuk Casey.


"Pffftt...!" Steve tertawa tertahan, kemudian menunjuk sebuah judul film, sambil berkata,


"Bagaimana kalau kita menonton yang ini saja? Film ini tayang perdana." 


Casey menatap Steve lekat-lekat, memastikan kalau Steve memang ingin menonton film horor.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa kamu tidak mau menontonnya? Kita bisa memilih yang lain," ujar Steve, yang tampak hampir tertawa.


Sejujurnya, Casey tidak tahan menonton adegan berdarah, tapi karena Steve tampaknya memang ingin menonton film itu, mau tidak mau, Casey menyetujuinya saja.


Dan akibatnya, Casey hampir tidak berani melihat ke arah layar bioskop, sepanjang film itu ditayangkan. 


Bahkan, ketika sesekali Casey membuka matanya, dan melihat adegan ekstrem di situ, Casey tanpa sadar memegang dan meremas tangan Steve.


"Kalau kamu takut, seharusnya kamu katakan saja tadi," ujar Steve, berbisik-bisik di telinga Casey.


Casey tidak menanggapi perkataan Steve, dan lebih memilih untuk menutup wajahnya, dengan menyandarkannya di lengan Steve.


Apalagi jika Casey mendengar suara dari penonton lain yang berteriak histeris, maka Casey akan benar-benar menekan wajahnya di lengan Steve itu.


"Apa sebaiknya kita keluar saja?" tanya Steve. 


Saat itu, rasanya Casey akan mengiyakan saja pertanyaan Steve, namun Casey justru menggelengkan kepalanya, untuk membiarkan Steve menonton sampai puas.


Tiba-tiba saja, Steve kemudian mengangkat lengannya dan merangkul Casey, sehingga wajah Casey justru bersandar di dada Steve.


"Ayo kita pergi dari sini!" kata Steve, lalu mengecup mercu kepala Casey.