
Casey mengerutkan keningnya, setelah mendengar pernyataan dari Aaron.
"Apa kamu sudah selesai?" tanya Casey.
"Belum. Aku masih akan mengajarkanmu bermain gitar. Dan kamu harus bisa, walau hanya dasarnya saja. Barulah aku akan melepaskanmu," jawab Aaron.
"Aku tidak bercita-cita untuk menjadi musisi," sahut Casey, masa bodoh.
Seolah-olah tidak mendengarkan perkataan Casey, Aaron tetap mengarahkan jari-jari tangan Casey untuk menekan senar gitar, dan mengajarkan cara membunyikannya.
"Ini tidak sulit. Kamu pasti bisa," kata Aaron.
"Jariku sakit!" sahut Casey.
"Lama kelamaan, kamu pasti akan terbiasa," ujar Aaron, terdengar memaksa. "Apa ada lagu yang kamu tahu?"
"Tidak ada," jawab Casey.
"Bagaimana dengan lagu kebangsaan?" tanya Aaron, dengan suaranya yang terdengar bergetar, seolah-olah dia sedang menahan tawa.
"Jangan bercanda!" sahut Casey, ketus.
"Pffftt...! Kalau kamu sering-sering marah, nanti kulitmu cepat keriput."
Sembari melepaskan gitar ke lantai, Aaron bicara sambil tertawa, dan sedikit menggelitik pinggang Casey.
"Aaron! ... Stop it!" Casey yang merasa geli, tidak bisa menahan dirinya lagi, untuk tidak tertawa.
"This is fun, right?!" Aaron lalu memeluk Casey.
Saking eratnya pelukan Aaron, sampai-sampai, Casey bahkan bisa merasakan detak jantung dari laki-laki itu, yang berdegup kencang, seperti Aaron baru saja habis berlari.
"... kamu akan ikut ambil bagian dalam perlombaan besok?" tanya Aaron.
Casey yang sibuk dengan pikirannya sendiri, hampir tidak mendengar apa yang baru saja ditanyakan oleh Aaron.
"Perlombaan apa saja yang akan dilangsungkan?" Casey balik bertanya.
Casey yang mencoba melepaskan tangan Aaron yang melingkar di badannya, lalu menyadari, bahwa tangan Aaron tiba-tiba saja terasa sangat dingin.
"Apa kamu sakit?" tanya Casey lagi, sebelum Aaron sempat menjawab pertanyaannya tadi.
"Tidak," jawab Aaron.
"Lalu kenapa tanganmu sangat dingin?" Casey menoleh ke samping, hingga jarak antara wajahnya dengan Aaron jadi sangat dekat.
"Hmm ... Mungkin karena aku merasa gugup." Aaron menatap Casey lekat-lekat, tapi Casey segera memalingkan wajahnya.
"Apa aku bisa menginap di sini? Aku tidak mau pulang," lanjut Aaron, pelan.
"Tsk! ... Apa yang kamu pikirkan?" Casey menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku takut, kalau kamu benar-benar tidak mau melihatku lagi," kata Aaron.
"Apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu?" tanya Casey.
"Kelihatannya memang seperti itu." Aaron tersenyum lebar dan hampir tertawa.
"Aku tidak mau, kalau kamu hanya menghabiskan waktumu dengan mereka. Apalagi jika hanya dengan Steve. Itu membuatku merasa iri," lanjut Aaron.
"Terserah kamu saja. Sekarang lepaskan aku! Sudah lebih dari cukup, waktu yang aku bagi untukmu," ujar Casey.
"Okay!" sahut Aaron.
Segera setelah Aaron melepaskan pelukannya, Casey kemudian pergi menyusul Steve dan Lionel, yang terlihat menunggu di ruang keluarga.
"Aaron sudah pulang?" tanya Lionel, setelah melihat Casey berjalan mendekat.
"Belum. Katanya dia ingin bergabung dengan kita," jawab Casey, sambil terus berjalan menghampiri Steve, yang tampak kecewa.
"Maafkan aku," ucap Casey, berbisik-bisik.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti situasimu," sahut Steve, pelan, sambil menyentuh lengan Casey.
Lionel, Steve maupun Casey, kemudian berjalan ke teras samping rumah bersama-sama, menemui Aaron yang masih berada di sana.
Casey yang mengambil tempat duduk di dekat pintu, dan terpisah dari ketiga orang laki-laki itu, tiba-tiba saja dihampiri oleh Daniel yang ikut menyusul ke situ.
"Kapan Aaron datang?" tanya Daniel, terlihat bingung.
Sebelum Casey sempat menjawab pertanyaan Daniel, Aaron sudah menyapa Daniel, dengan berkata,
"Halo, Mister Roberts!"
"Halo, Aaron!" sahut Daniel, lalu mengambil tempat duduk di samping Casey. "Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kamu berkunjung ke sini."
"Tidak apa-apa, Sir ... Aku yang datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu," kata Aaron.
Daniel mengangguk-anggukkan kepalanya. "Yang aku dengar, akan ada kegiatan di R&H."
"Iya, Sir ... Perayaan ulang tahun perusahaan, sekaligus penyambutan untuk Casey, sebagai komisaris utama yang baru," sahut Aaron.
Untuk selanjutnya, Daniel lalu berbincang-bincang dengan mereka semua di situ, selain Casey, yang lebih sering memandangi mereka saja, dan hanya sesekali menanggapi pertanyaan yang diarahkan kepadanya.
Sehingga Casey jadi semakin bertanya-tanya, karena perkataan Aaron waktu itu.
Yang menurut Aaron, seolah-olah ada yang melarangnya untuk bertemu dengan Casey, di rumah sakit.
Bukan itu saja yang dipikirkan oleh Casey.
Jika Daniel tetap memberikan dukungannya kepada Aaron, maka Casey pasti akan kesulitan untuk meyakinkan Daniel, bahwa dia tidak mau menikah dengan Aaron.
Apalagi jika Casey beralasan, karena dia yang lebih memilih Steve untuk menjadi kekasihnya.
Kemungkinan besar, Casey justru hanya akan membuat Steve terlibat dalam situasi yang tidak nyaman, jika Daniel sampai tahu, kalau Casey menyukai Steve, dan bahkan telah menjadikannya sebagai kekasihnya.
Kecelakaan bodoh yang dialaminya itu, benar-benar hanya mengacau, dan membuat banyak 'lubang' yang tidak bisa dimengerti oleh Casey.
Rasanya Casey ingin memukul kepalanya, jika saja dengan begitu, bisa membuatnya mengingat semua yang pernah terjadi, yang mempersulit keadaannya sekarang ini.
***
Aaron tampaknya tidak bermain-main, saat dia berkata kalau dia ingin menginap di rumah Casey.
Sebelum Daniel masuk ke dalam rumah untuk beristirahat lebih dulu, Aaron meminta izin dari Daniel, agar dia bisa menginap malam itu.
Daniel juga tanpa ragu, segera memberikan izinnya kepada Aaron, dan bahkan mengarahkan asisten rumah tangga, untuk mempersiapkan kamar bagi Aaron.
Casey menggeleng-gelengkan kepalanya, karena rasa tidak percayanya akan tingkah Aaron, yang tampaknya memang memanfaatkan statusnya sebagai tunangan Casey.
Casey sudah cukup merasa iritasi, dengan tingkah Aaron yang pemaksa, untuk menyentuh Casey tanpa izin.
Lalu masih ditambah lagi, dengan keberpura-puraan Aaron, yang seolah-olah ingin terlihat seperti seseorang yang benar-benar menyukai Casey, dan ingin sering-sering menghabiskan waktunya dengan Casey.
"Lionel! ... Apa kamu juga mau menginap di sini?" Casey tidak bersungguh-sungguh menanyakan hal itu, dan hanya sekadar untuk menyinggung Aaron.
Namun Aaron tampak tidak peduli, dan masih bisa terlihat santai di tempat duduknya.
Lionel yang tampak bingung, tidak segera memberikan jawabannya, melainkan menatap Casey, lalu memandangi Steve dan Aaron bergantian.
"Kamu mau aku menginap di sini?" Lionel balik bertanya.
"Kalau kamu mau, kamu bahkan bisa tidur di kamarku," sahut Casey, masih mencoba membuat Aaron tersinggung.
"Sesekali, kalau kita semua pergi berkemah bersama-sama, mungkin akan lebih seru," kata Aaron, sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, dan meluruskan kakinya.
Steve yang hanya terdiam, tampak memandangi Aaron untuk beberapa saat, sebelum dia kemudian melihat ke arah Casey.
Casey yang memperhatikan gerak-gerik Steve, cukup merasa sedih karena laki-laki itu tampak pasrah, dan tidak bisa berbuat ataupun berkomentar banyak.
"Aku—"
"Steve—"
Lionel yang bicara bersamaan dengan Casey, akhirnya lalu saling memandang, dan sama-sama menghentikan perkataannya.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Casey.
"Aku akan menginap di sini. Tapi tentu saja aku tidak akan tidur di kamarmu. Aku akan tidur di kamar yang biasa aku pakai," jawab Lionel.
"Okay!" sahut Casey. "Steve! ... Tolong ajarkan aku bahasa asing, yang kamu janjikan tadi! Sekaligus ajari aku bermain gitar."
"Ugh?" Steve tampak terkejut. "Sekarang?"
Casey menganggukkan kepalanya.
Steve segera berdiri, lalu mengambil gitar yang ada di dekat Aaron, kemudian menghampiri Casey.
Aaron yang masih terlihat dari ujung mata Casey, tampak memasang raut wajah tidak senang, ketika Steve duduk di dekat Casey.
Sedangkan Lionel, tampak seperti orang kebingungan, tapi dia tidak berkomentar apa-apa, dan hanya memandangi Casey dan Steve.
Tapi tidak berapa lama, Lionel yang tampak penasaran, kemudian ikut berpindah tempat duduk di dekat Casey dan Steve.
"Tidak banyak bahasa yang aku tahu," celetuk Lionel, saat Steve dan Casey secara bersamaan menatapnya.
"Pffftt...!" Casey lalu tertawa.
Sementara Steve, tampak tersenyum lebar, ketika melihat ke arah Casey.
Setelah beberapa saat lamanya, Casey dan Lionel sibuk dengan Steve yang mengajarkan bahasa asing lewat sebuah lagu, Aaron kemudian mengambil kursinya, lalu ikut mendekat di situ, hingga mereka semua seperti sedang melakukan pertemuan.
"Kamu juga bisa berbahasa dari negara itu?" tanya Lionel, ketika Aaron menerjemahkan apa yang dikatakan oleh Steve.
"Iya ... Sewaktu berkuliah dulu, aku memiliki beberapa kenalan yang berasal dari sana," jawab Aaron.
"Tsk! ... Berarti hanya aku, yang tidak tahu sama sekali dengan bahasa itu," kata Lionel.
Walaupun Aaron ada di situ, namun perhatian Casey hanya tetap terarah kepada Steve, yang sering tersenyum, saat melihat Casey yang menatapnya.
Lionel yang tiba-tiba mencondongkan kepalanya, lalu berbisik-bisik di telinga Casey, dengan berkata,
"Kamu tidak bisa membohongiku. Kamu dan Steve saling tertarik. Benar begitu, bukan?"