
Casey menjelaskan kepada Steve, akan apa tujuan dari Daniel yang menghubunginya, malam tadi.
Namun, menurut Steve dia butuh waktu untuk memikirkannya, sehingga tidak bisa segera memberikan jawabannya.
Sampai pada keesokan harinya, dan mereka bersiap-siap untuk pulang dari resor itu, Steve belum memberikan jawabannya kepada Casey.
Hingga akhirnya mereka tiba di rumah Casey, barulah Steve kemudian berkata, bahwa dia akan berbicara langsung dengan Daniel, tentang hal itu.
Hari ini yang adalah libur akhir pekan, dan Daniel hanya berada di rumah saja, sehingga Daniel kemudian mengajak Steve, untuk bicara empat mata di dalam ruang kerjanya.
Sementara itu, Casey membaca buku sembari duduk bersantai di teras samping rumah, sambil menunggu Steve dan Daniel, sampai mereka selesai berbincang-bincang.
Ketika Daniel dan Steve menyusul Casey di teras samping rumah itu, mereka tidak hanya berdua saja, Lionel juga terlihat di sana.
"Hai, Casey!" sapa Lionel.
"Hai! ... Kapan kamu datang?" tanya Casey, setelah membalas sapaan dari Lionel itu.
"Sudah sedari tadi. Tapi aku langsung ke ruang kerja, karena Grandpa ingin bicara di sana," jawab Lionel, yang kemudian mengambil tempat duduk di dekat Casey.
"Steve tidak mau bekerja di R&H," celetuk Daniel, setelah semua dari mereka mengambil tempat duduk.
Salah satu dari asisten rumah tangga yang tiba-tiba sudah berada di dekat pintu, kemudian menyela percakapan dari mereka di situ.
"Permisi! ... Maafkan saya ... Tapi Mister Aaron Hamilton datang berkunjung."
"Suruh dia menyusul ke sini!" kata Daniel, memberikan arahannya.
Sembari menunggu Aaron, tidak ada lagi yang berkata apa-apa, sampai Aaron terlihat di situ, dan menyapa, dengan berkata,
"Halo, Mister Roberts! ... Halo, Casey! ... Steve! ... Lionel!"
Aaron terlihat bingung, ketika melihat semua orang yang sedang berkumpul di situ, namun dia tetap mengambil salah satu tempat duduk kosong.
"Maafkan aku, Casey ... Aku sudah memberitahu Mister Roberts semuanya. Dan aku rasa, akan lebih baik kalau aku tetap menjadi profesor di universitas," kata Steve, membuka percakapan baru.
"Ugh?" Casey yang terkejut, tampak tidak jauh berbeda dengan reaksi Aaron saat itu.
"Aaron! ... Aku mencintai Casey. Dan aku sangat berharap, agar kamu bisa membahagiakannya. Itu sebabnya, hingga aku meminta bantuan dari Mister Roberts, untuk memanggilmu ke sini," kata Steve.
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Casey.
"Casey! ... Jika aku tidak datang ke sini, maka kamu pasti akan tetap mencintai Aaron, dan hubungan kita berdua, hanya akan tetap sebatas teman dekat....
Maafkan aku ... Tapi aku sudah memikirkan semuanya matang-matang, sebelum aku mengambil keputusan.
... Akan lebih mudah bagi kita semua, untuk melanjutkan hidup, jika aku kembali ke negara xxx, dan kamu tetap bersama Aaron di sini," kata Steve, menjelaskan.
"Aaron! ... Kamu mencintai Casey?" tanya Steve.
"Iya, tentu saja!" jawab Aaron.
"Kalau begitu berjanjilah, kalau kamu akan menjaganya, membuatnya selalu bahagia, dan jangan biarkan dia sampai bersedih," kata Steve.
"Iya ... Walaupun kamu tidak memintanya, aku pasti akan melakukannya," ujar Aaron.
"Tapi bagaimana denganmu? ... Casey ... Apa Casey setuju dengan keputusanmu itu?" lanjut Aaron, terdengar ragu-ragu.
"Maafkan aku, Casey ... Tapi aku tahu, kalau kamu juga pasti merasa, bahwa itu adalah yang terbaik," kata Steve.
Casey tidak segera menanggapi perkataan Steve, dan justru hanya memandangi semua orang yang ada di situ satu per satu, bergantian.
"Apa aku masih bisa membuat pilihanku sendiri?" tanya Casey.
"Tentu saja! ... Tapi kamu tidak bisa memilih, untuk membuatku bertahan di sini. Aku sudah memesan tiket, dan penerbanganku di malam ini," jawab Steve, sambil tersenyum tipis.
***
Setelah kepergian Steve yang kembali ke negara xxx, Casey tidak pergi ke kantor R&H lagi, dan justru ikut bekerja bersama Daniel, di kantor utama Roberts grup.
Sesekali, Casey masih berkomunikasi dengan Steve lewat sambungan telepon, dan saling memberi dan menanyakan kabar.
Rasanya, kurang lebih sama situasinya seperti di masa lalu, saat Steve belum pernah berkencan dengan Casey.
Begitu juga hubungan antara Casey dan Aaron, yang rasanya tidak terlalu istimewa.
Pembatalan pertunangan mereka, tidak berpengaruh pada hubungan bisnis, maupun hubungan antar keluarga.
Karena kedua belah pihak, mau mengerti situasi yang dihadapi oleh Casey serta Aaron.
Dengan demikian, komunikasi antara Aaron dengan Casey justru berlangsung kasual, dan hanya sesekali bertemu di luar untuk makan malam bersama, ataupun Aaron yang sekadar berkunjung ke rumah Casey.
Pembicaraan di antara mereka pun, lebih banyak membahas tentang urusan pekerjaan.
Menurut penuturan Aaron, ketika libur akhir pekan berakhir, setelah perayaan ulang tahun perusahaan, Julie mengundurkan diri dari R&H Corp, dan berpindah tempat tinggal ke luar negeri, bersama salah satu kekasih simpanannya.
Aaron juga telah melakukan perombakan besar-besaran pada manajemen di kantor R&H Corp, yang dianggapnya berjalan lancar, dan Aaron masih melaporkan situasi di perusahaan kepada Casey, setiap kali mereka bertemu.
Kurang lebih dua minggu kemudian, sejak Steve pergi, Lionel akhirnya mempertemukan Casey, dengan wanita yang Lionel sukai, yang kemudian telah menjadi kekasihnya.
Oleh karena itu, Casey jadi sering mengejek Lionel, dengan berkata, bahwa Lionel tidak akan bisa melakukan kenakalan, karena kekasih Lionel pasti akan segera mengetahuinya.
Seiring waktu, Casey kemudian menjadi akrab dengan kekasih dari Lionel itu, sehingga Casey bisa mendapatkan informasi detail tentang Aaron maupun Julie.
Dan Casey jadi tahu, kalau apa yang dikatakan oleh Aaron tentang bagaimana hubungannya dengan Julie, sebagian besar, itu benar adanya.
Julie ternyata memiliki beberapa kekasih, atau mungkin akan lebih cocok jika disebut sebagai pasangan s*x bagi Julie.
Bahkan, kekasih dari Lionel itu, bisa mendapatkan informasi dari salah satu pasangan s*x Julie, bahwa Julie meremehkan Aaron yang tidak bisa ereksi, walaupun Julie telah mati-matian merayunya.
Julie hanya bertahan dengan Aaron, karena hak waris yang Aaron miliki, yang dianggapnya sangat disayangkan, jika harus dilepaskan begitu saja.
Entah mengapa, pembicaraan antara Casey dengan kekasih dari Lionel tentang Aaron yang kata Julie, 'tidak bisa berdiri', bisa terbayang-bayang oleh Casey, saat dia bersama dengan Aaron kali ini, yang mengajaknya untuk menonton bioskop.
Sehingga Casey hampir tidak bisa berhenti tertawa, walaupun film yang ditayangkan, adalah film tentang percintaan dengan jalan cerita yang menyedihkan.
Dan kelihatannya, Aaron sangat keheranan dengan gerak-gerik dari Casey itu, hingga Aaron yang tampak kehilangan kesabarannya, kemudian bertanya, dengan berkata,
"Film ini tidaklah lucu ... Ada apa denganmu?"
"Pffftt...! Tidak apa-apa...." sahut Casey, sambil tertawa tertahan.
Akan tetapi, walaupun Casey sudah berusaha untuk tidak membuat keributan dengan suara tertawanya, namun pengunjung yang lain, tetap saja melihat ke arah Aaron dan Casey.
"Maafkan aku ... Apa kamu masih ingin menonton?" Casey merasa tidak nyaman, karena telah mengganggu pengunjung yang lain, sehingga dia berniat untuk keluar dari gedung bioskop itu.
Seolah-olah mengerti akan apa yang Casey inginkan, Aaron kemudian segera mengajak Casey untuk pergi dari situ.
Namun, sampai mereka berdua berada di dalam mobil Aaron yang terparkir, Casey masih tidak bisa berhenti tertawa, setiap kali dia melihat wajah Aaron yang tampak kebingungan.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" Aaron sudah menyalakan mesin mobilnya, namun dia tidak segera menjalankannya, dan justru menatap Casey lekat-lekat.
"Maafkan aku ... Pffftt...!" kata Casey, sambil berusaha untuk berhenti tertawa.
Kelihatannya, Aaron benar-benar merasa gemas, karena melihat tingkah Casey itu, hingga dia menggigit bibirnya sendiri, sambil mendekatkan wajahnya ke arah Casey.
"Can I kiss you?" tanya Aaron.
Casey menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Huuufft...!" Aaron mendengus kasar. "Apa yang membuatmu tertawa?"
"Hmm...." Casey bergumam.
"Casey!" ujar Aaron, dengan suara menyentak.
Casey yang terkejut, mengeluarkan kata-katanya tanpa berpikir panjang lagi. "Apa kamu memang impoten?"
"Ugh?" Aaron tampak sangat terkejut mendengarnya, hingga matanya membulat. "Apa katamu?"
"Tidak apa-apa ... Ayo kita pergi! Aku ingin makan malam di rumah saja!" ujar Casey, mengalihkan pembicaraan.
"Okay! ... Aku akan mengantarmu pulang. Tapi kamu harus mengizinkan aku menciummu," kata Aaron.
"Ugh? ... Kenapa harus begitu?" tanya Casey.
"Hmm ... Kalau kamu tidak mau, maka aku akan memberitahu Grandpa-mu, kalau kamu memikirkan sesuatu yang kotor saat bersamaku," sahut Aaron.
"Geez! ... Apa kamu anak kecil?" ujar Casey.
"Okay! ... Kamu tidak mau. Kalau begitu, aku akan menghubungi Grandpa-mu." Aaron lalu tampak mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.
"Aaron!" ujar Casey, menahan Aaron. "Fine! ... Satu kecupan saja!"
Aaron tersenyum lebar, lalu mendekatkan wajahnya dan mencium Casey.
Di saat bersamaan, Aaron memegang sebelah tangan Casey, dan mengarahkannya hingga menyentuh sesuatu.
Casey yang menyadarinya, segera menarik tangannya menjauh dari tangan Aaron.
"Impoten katamu?" tanya Aaron, sambil menatap Casey lekat-lekat.
"Aku mencintaimu, Casey! Aku juga menginginkan tubuhmu. Aku hanya menahan diri agar tidak memaksakan kehendakku, dan hanya membuatmu membenciku," lanjut Aaron.
Aaron lalu mengangkat Casey, dan membuatnya terduduk di atas pangkuannya, hingga Casey jadi berhadap-hadapan dengannya.
"Apa kamu mau memberiku kesempatan, untuk memulainya lagi dari awal? Kita bisa melakukannya perlahan-lahan, seperti orang lain. Aku ingin kita berkencan," ujar Aaron.
"Hmm...." Casey bergumam. "Okay! ... Kita bisa mencobanya."
...—————TAMAT————...
NB : Terima kasih, karena telah membaca tulisan sederhana ini sampai akhir.
Mohon dimaafkan, jika di dalam tulisan ini terdapat kesalahan, ataupun ada kata-kata yang kurang berkenan.
Untuk keseluruhannya, dan sebagai penutup, penulis menghaturkan banyak terima kasih.