
Tidak butuh waktu terlalu lama, setelah Morty keluar dari ruang kerja Casey, Aaron kemudian terlihat berjalan masuk dan segera menghampiri Casey.
"Ada apa?" tanya Casey.
Aaron memandangi Lionel yang masih tersandar di bahu Casey, karena Casey yang masih belum mau melepaskannya.
"Casey...!" ujar Lionel, berbisik-bisik. "Kita berdua akan terlihat seperti sedang bermain-main saja, di kantor ini."
"Jangan membuang-buang waktuku! Apa yang ingin kamu bicarakan?" ujar Casey lagi, kepada Aaron, tanpa memperdulikan ocehan Lionel barusan.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat bersamaku," kata Aaron, sambil tetap memandangi Lionel dan Casey, berganti-gantian.
"Mau ke mana?" tanya Casey.
"Kamu sudah tahu, kalau ada rencana pembangunan kantor cabang baru, bukan?" sahut Aaron.
"Iya ... Tentu saja aku sudah tahu," jawab Casey, datar.
Sembari berbicara dengan Aaron, Casey terpikir akan Lionel, yang pasti telah merasa pegal sekarang ini, karena Lionel yang berdiri terlalu lama dengan posisi membungkuk.
Sehingga Casey kemudian melepaskan tangan Lionel, dan di saat itu juga Lionel kemudian bergeser sedikit, hingga dia bisa berdiri di bagian samping tempat duduk Casey.
"Kamu sedang tidak banyak pekerjaan, bukan? Aku ingin kamu melihat kawasan itu, agar kamu bisa memberikan tanggapanmu," kata Aaron, sambil berjalan mendekat ke meja kerja Casey.
"Untuk apa? Itu bukanlah pekerjaanku," sahut Casey, tanpa beban.
"Iya, aku tahu itu," ujar Aaron.
"Tapi aku ingin agar ada seseorang yang bisa memberikan tanggapan yang jujur, dan bukan hanya sekadar untuk menyenangkanku saja....
... Ditambah lagi, kamu tentu tidak mau, jika investasi dari Roberts grup terpakai sia-sia, bukan?" lanjut Aaron, terdengar buru-buru beralasan.
"Hmm ... Itu adalah tanggung jawabmu sendiri. Kalau kamu sampai menyia-nyiakan keuangan perusahaan, maka aku hanya perlu melayangkan peringatan," sahut Casey.
"Casey...! Aku...." Aaron menghentikan perkataannya begitu saja, seolah-olah dia merasa ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
Bagi Casey, saat ini Aaron seperti sedang mencari-cari alasan saja, agar bisa berdua dengan Casey.
Tapi Casey tidak bisa menduga-duga, akan apa yang menjadi tujuan Aaron, jika memang laki-laki itu ingin berdua saja dengan Casey.
Sejujurnya, Casey merasa enggan untuk menerima ajakan dari Aaron.
Namun, mengingat saat dia berinteraksi dengan Aaron, yang tampaknya bisa membuatnya mengingat sedikit tentang masa lalu yang terlupakan olehnya, membuat Casey jadi ingin mencobanya lagi.
Casey ingin secepatnya mengembalikan ingatannya, agar dia bisa memecahkan teka-teki dari perilaku aneh Daniel dan Lionel, yang tampaknya masih menutup-nutupi sesuatu dari Casey.
"Apa—"
"Okay! ... Aku ikut denganmu."
Aaron yang berbicara secara bersamaan dengan Casey, hanya berhenti bicara begitu saja, saat Casey menyampaikan kesediaannya untuk pergi bersama dengan Aaron.
"Kamu mau ikut?" tanya Aaron, tampak ingin memastikan.
"Apa kamu berubah pikiran, dan ingin membatalkan rencanamu mengajakku untuk pergi bersamamu?" Casey balik bertanya.
"Tidak! ... Tentu saja tidak!" sahut Aaron, tampak bersemangat. "Apa kamu bisa bepergian denganku sekarang?"
"Iya ... Tunggu sebentar!" jawab Casey, sambil mempersiapkan tasnya, lalu berdiri dari tempat duduknya.
Lionel memegang lengan Casey, seolah-olah dia ingin menahan, dan menghentikan rencana Casey itu.
"Kamu akan ikut dengannya? ... Kalian berdua saja?" tanya Lionel, sambil memasang raut wajah heran.
Sebelum Casey menjawab pertanyaan Lionel, Aaron sudah lebih dulu berkata,
"Lionel! ... Aku berjanji untuk menjaganya. Kamu bisa memegang perkataanku, kalau aku tidak akan memicu pertengkaran dengannya, ataupun membuatnya jatuh sakit."
"Sebaiknya benar begitu! Karena aku bukan Mister Roberts. Aku tidak akan segan untuk menghajarmu sampai babak belur, jika terjadi apa-apa kepada Casey," kata Lionel, tegas.
"Iya, aku sudah tahu itu," sahut Aaron, kemudian mengulurkan sebelah tangannya ke arah Casey.
"Aku bisa berjalan sendiri," sahut Casey, yang mengerti maksud Aaron, yang ingin agar bisa memegang tangan Casey.
***
Perjalanan menuju ke kawasan yang menjadi tempat perencanaan akan pembangunan kantor cabang yang baru, memakan waktu hingga lebih dari dua jam.
Casey bepergian hanya berdua saja dengan Aaron, ke sana.
Aaron yang mengemudikan mobilnya, tidak banyak bicara di sepanjang perjalanan mereka itu.
Apalagi, Casey yang duduk di samping Aaron, justru tertidur hampir di sepanjang perjalanan, hingga mereka berdua tiba di tujuan.
Sesaat ketika beranjak keluar dari dalam mobil milik Aaron, Casey sudah mulai menggigil kedinginan.
Selain karena daerah itu yang letaknya tidak terlalu jauh dari bibir pantai, dan berangin cukup kencang, di musim gugur seperti sekarang ini, udara di luar memang terasa lebih dingin daripada biasanya.
Tiba-tiba saja, Aaron memakaikan jasnya di badan Casey, kemudian merangkul pinggang Casey, sembari berkata,
"Maafkan aku. Karena terburu-buru, aku jadi tidak ingat lagi, kalau di saat ini pasti akan terasa cukup dingin di sini."
Walaupun tingkah laku Aaron yang seolah-olah ingin memberi perhatian itu, terasa aneh bagi Casey, namun Casey tidak menolaknya.
Casey lebih mementingkan rasa keingintahuannya, akan apa yang menjadi tujuan sebenarnya, dari semua orang-orang yang ada di sekitarnya.
Sehingga Casey berpikir untuk mengikuti semua permainan, yang dimainkan oleh setiap orang-orang itu.
"It's okay," sahut Casey, santai.
"Bagaimana menurutmu tentang tempat ini?" tanya Aaron.
"Tempatnya bagus ... Kawasan di sekitar sini kelihatannya sudah ramai, namun belum terlalu padat....
... Jika membangun kantor di tempat ini, mungkin para pegawai bisa bekerja dengan lebih nyaman," jawab Casey.
"Aku dulu sempat terpikir, jika R&H Corp dibangun di tempat ini untuk pertama kalinya, maka tempat ini akan jadi awal yang bagus," kata Aaron.
Aaron kemudian bergeser, hingga posisinya jadi berdiri berhadap-hadapan dengan Casey, dan sambil menatap Casey lekat-lekat, Aaron lalu berkata,
"Casey...! Aku tahu kalau sejak awal perkenalan kita, memang tidak berjalan dengan baik. Sampai saat ini pun, aku masih belum mengenal, bagaimana kamu yang sebenarnya....
...Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku ingin mengulang perkenalan kita, dan waktu-waktu selanjutnya....
... Aku tidak mau mengalami kesalahpahaman denganmu seperti beberapa waktu yang telah berlalu. Agar hubungan kita berdua, tidak jadi seperti sekarang ini."
"Hmm ... Apa kamu bertingkah seperti ini, karena kamu merasa tersingkir, setelah aku tidak tertarik lagi kepadamu?
... Atau kamu cemas, karena merasa terancam dengan adanya aku, yang akan mengawasi gerak-gerikmu di perusahaan?" tanya Casey.
Aaron kemudian memeluk Casey dengan erat, sambil berkata,
"Tidak seperti yang kamu pikirkan itu, Casey! ... Aku mengakui, kalau selama ini aku terlalu pengecut, untuk mengetahui segala sesuatu yang terasa asing bagiku....
...Perdebatan kita hingga kamu dirawat di rumah sakit, membuatku tersadar, bahwa aku harus lebih berani untuk mencari tahu lebih jauh, dan keluar dari zona nyaman....
... Sejak kamu di rumah sakit, sampai saat ini pun, aku masih memikirkan semua perkataanmu. Dan aku sadar, kalau aku adalah orang bodoh yang tidak tahu apa-apa."
Casey justru hanya merasa sebal, dengan alasan yang diutarakan oleh Aaron itu, hingga dia kemudian berkata,
"Lalu, sekarang ini apa tujuanmu mengatakan semua itu kepadaku? Apa kamu mengira kalau aku akan berubah pikiran? Atau apa?"
"Apakah kamu membenciku?" Aaron balik bertanya.
"Aku tidak akan terlalu menyesal, kalau kamu memang membenciku. Karena aku pantas untuk dibenci olehmu, dan aku justru lebih suka jika seperti itu, daripada kamu tidak menghiraukan aku sama sekali....
...Karena kalau kamu membenciku, maka aku akan mencari cara agar kamu bisa memaafkanku. Tapi kalau kamu tidak menghiraukan aku, maka tentu tidak ada yang bisa aku perbuat. Karena kamu pasti tidak akan mau melihat, apapun yang aku lakukan....
... Semuanya akan jadi percuma saja, walaupun aku memang bersungguh-sungguh, agar kamu bisa berbaikan denganku," lanjut Aaron.
Casey lalu terdiam untuk sesaat.
"I'm so sorry! ... Tapi aku tidak akan membuatmu senang, dengan membencimu. Aku lebih suka, jika kita hanya seperti sekarang ini....
... Kamu tetap dengan hidupmu, dan apapun yang ingin kamu lakukan. Dan aku menjalani hidupku, tanpa adanya kamu yang ikut ambil bagian di dalamnya," kata Casey.