Memory Of Love

Memory Of Love
Part 21



Setelah sakit kepala yang dirasakan oleh Casey sudah mereda, barulah kemudian Aaron menjalankan mobilnya lagi, dan melanjutkan perjalanan mereka kembali. 


Dengan diantar oleh Aaron, Casey langsung pulang ke rumahnya, tanpa kembali lagi ke kantor. 


Di rumahnya, Casey tidak mengatakan apa-apa kepada Daniel maupun Lionel, tentang sepenggal ingatan yang kembali padanya, dan hanya seperti mimpi itu.


Casey justru segera disibukkan dengan mengawasi pekerjaan dari asisten rumah tangganya, yang mempersiapkan satu kamar kosong untuk Steve, yang letaknya dekat dengan kamar Daniel, yang ada di lantai bawah.


Sampai tiba waktunya untuk makan malam pun, Lionel yang ikut makan malam bersama dan banyak bertanya, Casey tetap mengunci mulutnya rapat-rapat.


Casey hanya menceritakan tentang lokasi pembangunan kantor cabang baru, yang dilihatnya bersama Aaron.


Lalu, Casey yang ingin mempersiapkan tempat bagi Steve lah, yang dijadikan Casey sebagai alasan, kenapa dia sampai buru-buru pulang ke rumah.


***


Sesuai dengan rencana, sebelum Casey pergi ke kantor, Casey masih pergi ke bandara untuk menjemput Steve, yang kedatangannya terjadwal di pagi-pagi sekali.


Casey masih di perjalanan menuju ke bandara, ketika Steve menghubunginya dan memberitahu, bahwa pesawat yang ditumpanginya telah mendarat. 


Setibanya Casey di bandara, Casey sempat kebingungan untuk mencari keberadaan Steve, sehingga dia harus menelepon Steve lagi, sambil melihat ke sana kemari.


"Halo, Steve!" sapa Casey.


"Halo, Casey!" Steve balas menyapa dari seberang telepon.


"Kamu ada di mana? ... Aku tidak bisa melihatmu," ujar Casey.


"Aku sudah melihatmu. Tunggu saja di situ! Jangan ke mana-mana lagi!" sahut Steve, dari seberang telepon, kemudian sambungan telepon itu terputus.


Seorang laki-laki yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat Casey, sambil tersenyum lebar, kemudian menyapa dengan berkata, 


"Halo, Casey!"


Casey tidak segera menanggapi sapaan orang itu, dan justru memandanginya dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya.


Suara orang itu memang mirip dengan suara Steve, tapi tidak dengan wajah dan bentuk tubuhnya, yang tampak jauh berbeda dari apa yang ada di ingatan Casey.


Tidak ada kacamata yang tebal, tubuh laki-laki itupun tampak berbentuk, dan tidak ceking seperti yang diingat oleh Casey.


Setelah beberapa saat dia memandangi wajah orang itu, barulah Casey tersadar bahwa itu memang Steve.


Sehingga Casey tersenyum lebar, kemudian berkata,


"Halo, Steve! ... Kamu terlihat sangat berbeda, hingga aku tidak bisa mengenalimu lagi!" 


"Pffftt...!" Steve tertawa tertahan, lalu berpelukan dengan Casey. "Apa perubahanku terlihat buruk?" 


"Jangan bercanda! ... Kamu terlihat tampan," sahut Casey.


"Maksudku, kamu memang tampan, namun sekarang ini, kamu jadi jauh lebih tampan daripada sebelumnya," lanjut Casey buru-buru.


Setelah mereka saling melepaskan pelukannya masing-masing, Steve kemudian tersenyum, lalu berkata,


"Terima kasih atas pujiannya! ... Kamu juga terlihat cantik. Masih sama seperti yang aku ingat."


"Terima kasih!" sahut Casey. "Ayo kita pergi! ... Kamu pasti lelah, karena perjalanan yang jauh."


"Okay!" Steve kemudian berjalan keluar dari bandara, bersama-sama dengan Casey.


Sembari berjalan bersebelah-sebelahan, hingga mereka berdua masuk ke dalam mobil, Casey masih sesekali melirik Steve.


Casey rasanya masih tidak bisa percaya, kalau penampilan fisik Steve akan berubah sebanyak itu.


"Kamu hanya membuatku merasa malu," celetuk Steve, lalu menutup sebagian wajahnya dengan sebelah tangannya.


Seketika itu juga, wajah Casey terasa panas.


Casey merasa malu, karena kalau begitu, Steve berarti menyadari, bahwa Casey terlalu sering memandanginya. 


"Maafkan aku ... Aku tidak berniat untuk memandangimu terus menerus," ujar Casey, yang merasa salah tingkah.


"Aku hanya merasa kagum dengan perubahanmu, setelah sekian lama kita tidak bertemu," lanjut Casey, beralasan.


"Tidak apa-apa ... Asalkan kamu menyukai perubahanku ini," kata Steve, sambil tersenyum.


***


Karena Steve yang ingin menghabiskan waktunya sebanyak mungkin dengan Casey, sehingga Steve tidak mau berdiam diri di rumah Casey saja.


Setibanya di rumah Casey, Steve segera bersiap-siap untuk ikut dengan Casey, yang akan pergi ke kantor.


"Apa kamu sungguh tidak ingin beristirahat saja dulu?" tanya Casey kepada Steve, dalam perjalanan mereka menuju ke kantor R&H Corp, tempat Casey bekerja.


"Tidak apa-apa. Aku ingin melihat-lihat tempatmu bekerja," jawab Steve, terdengar tanpa beban.


Saat itu, Steve hanya mengenakan kemeja polos lengan panjang, yang dilapisi dengan jaket panjang sebatas pahanya, dan dipadankan dengan celana jeans panjang, dan sepatu sneakers.


Namun, penampilan dari Steve itu justru tampak semakin menonjol, dan menarik perhatian para pegawai tanpa terkecuali, ketika mereka tiba di kantor.


Secara kebetulan saja, Casey serta Steve, bertemu dengan Lionel, Aaron, dan beberapa dewan direksi, yang sedang menunggu lift untuk naik ke lantai atas.


"Selamat pagi!" sapa Casey, kepada semua yang berada di situ, yang kemudian segera dibalas sapaannya hampir secara serentak.


"Selamat pagi!"


Casey memang sengaja bersikap acuh tak acuh kepada Lionel, karena dia berencana untuk memperkenalkan Steve kepadanya nanti saja, saat mereka sudah tidak sedang bersama orang banyak.


Sehingga dengan demikian, sejak mereka masuk ke dalam lift, Casey hanya berbincang-bincang ringan dengan Steve, dan tidak menghiraukan adanya orang lain di dalam lift itu.


Setelah mereka tiba di lantai tujuannya, dan pintu lift kemudian terbuka, Casey lalu berkata, 


"Lionel! ... Kamu bisa ikut ke ruanganku sebentar."


"Ugh?" Lionel tampak seperti orang yang terkejut, sebelum dia akhirnya mengangguk setuju. "Okay!"


"Casey!" Aaron menahan langkah Casey.


"Iya! ... Ada apa?" tanya Casey.


Aaron tidak segera menjawab pertanyaan Casey, dan justru tampak memandangi Lionel dan Steve bergantian, seolah-olah dia tidak mau bicara di depan dua orang laki-laki itu.


"Lionel! ... Tolong antarkan Steve ke ruanganku! Aku tidak akan lama," ujar Casey.


"Okay!" sahut Lionel kemudian segera berjalan pergi, bersama dengan Steve.


"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Aaron.


"Aku memang baik-baik saja," jawab Casey.


Aaron kemudian hanya terdiam, seakan-akan kebingungan untuk berkata apa lagi.


"Itu saja? ... Aku tidak mau membuat kenalanku menunggu. Kalau ada sesuatu tentang pekerjaan, kamu bisa datang ke ruanganku," kata Casey.


Dan tanpa menunggu tanggapan dari Aaron lagi, Casey segera berlalu pergi dan menuju ke ruang kerjanya.


Setelah meminta Morty untuk mengantarkan minuman ke ruangannya, Casey bergegas masuk ke dalam ruang kerjanya itu.


"Maafkan aku, Steve ... Orang yang tadi, adalah CEO perusahaan ini," ujar Casey.


"Tidak masalah," sahut Steve.


"Apa kalian berdua sudah berkenalan?" tanya Casey, sambil memandangi Steve dan Lionel bergantian.


"Sudah!" Secara bersamaan, Steve dan Lionel menjawab pertanyaan Casey.


"Okay! ... Kenapa kalian berdua hanya berdiri saja? Silahkan duduk!" ujar Casey.


Casey kemudian pergi meletakkan tasnya ke atas meja kerjanya, sebelum dia ikut duduk di sofa bersama Lionel dan Steve.


"Ada apa?" tanya Casey kepada Lionel, yang tampak senyum-senyum sendiri, sambil memandangi Casey.


"Tidak ada apa-apa," jawab Lionel, sambil tetap tersenyum.


Casey menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu melihat ke arah Steve, kemudian berkata,


"Lionel sudah seperti kakakku. Dia sebenarnya orang yang baik dan pintar. Tapi kadang-kadang, tingkah konyolnya membuatku ingin berpura-pura tidak mengenalnya."


"Casey...!" ujar Lionel, yang tampak gemas karena perkataan Casey itu.


"Pffftt...!" Steve tertawa tertahan.


"Kata Casey, kamu adalah orang yang pintar di bidangmu, sehingga kamu pernah menjadi tutor baginya....


... Dan sekarang, kamu bahkan sudah menjadi seorang profesor di universitas," ujar Lionel kepada Steve.


"Kedengarannya, Casey terlalu melebih-lebihkan," sahut Steve, seolah-olah sedang merendah.


"Sebenarnya Casey tidak membutuhkan tutor. Karena pada dasarnya dia memang sudah pintar. Dan hanya berpura-pura saja, agar aku bisa ikut merasa pintar....


... Itu sebabnya, sehingga aku hanya diterima untuk mengajar di universitas negeri, yang biasa saja. Tidak ada yang istimewa," lanjut Steve, sambil melihat ke arah Casey, lalu tersenyum.


"Kalau tidak salah menduga, kamu mungkin masih lebih tua satu atau dua tahun dariku," ujar Lionel.


"Mungkin begitu ... Aku berusia tiga puluh lima, di tahun ini," sahut Steve.


"Iya ... Kamu masih lebih tua satu tahun dariku. Maafkan aku ... Aku mungkin terlalu santai, saat bicara denganmu," kata Lionel.


"Tidak apa-apa ... Justru jadi lebih nyaman, jika seperti ini saja," sahut Steve.


"Hmm ... Okay!" Lionel tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa kamu sudah menikah?"


"Lionel!" Casey segera menyela pembicaraan, yang dianggapnya terlalu menyinggung tentang persoalan pribadi dari Steve.


"Tidak apa-apa, Casey," kata Steve, tanpa terlihat terganggu. 


"Aku belum menikah," jawab Steve kepada Lionel.


Steve kemudian kembali melihat ke arah Casey.


Dan sambil tersenyum, Steve lanjut berkata,


"Karena aku masih belum menemukan seseorang yang tepat untukku."