
Untuk beberapa saat lamanya, Steve tidak segera memberikan tanggapannya, dan hanya terdiam sambil menatap Casey.
Hingga Casey hampir menegurnya lagi, tapi bertepatan di saat itu, sebelum Casey mengeluarkan suaranya, Steve sudah berbicara lebih dulu.
"Apa kamu tahu? Aku senang saat bisa mengetahui, kalau kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku....
... Rasanya seperti aku sedang memenangkan lotere, jika memang benar aku bisa menjadi kekasihmu," kata Steve.
"Tapi di lain sisi, aku tidak tahu apakah tindakan yang ingin aku lakukan itu, akan benar adanya," lanjut Steve.
"Tidak perlu berbasa-basi. Katakan saja apa yang sebenarnya ingin kamu katakan!" ujar Casey.
"Casey! ... Apakah nantinya tidak akan menjadi masalah bagi kedua keluarga, jika kamu membatalkan pertunangan kalian? ... Lalu, Aaron....
...Kamu mungkin tidak percaya dengan perkataanku. Tapi sebagai sesama laki-laki, aku rasa penilaianku tentang Aaron, tidak akan salah. Aaron menyukaimu....
... Dengan begitu keadaannya, apa mungkin dia akan terima begitu saja, jika aku yang justru menjadi kekasihmu?" kata Steve.
"Apa kamu sedang mencari-cari alasan?" tanya Casey, ketus. "Seharusnya kamu memang tidak perlu mengatakan, kalau kamu mencintaiku."
"Casey...!" Steve menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah dia tidak percaya dengan reaksi dari Casey.
"Mulai sekarang, kita tidak perlu membahas tentang hal ini lagi. Aku akan menganggap, kalau aku tidak pernah mendengarkan apa-apa darimu." Casey kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Wait a minute!" ujar Steve, yang ikut berdiri dari tempat duduknya, kemudian buru-buru menghampiri Casey, dan memegang tangan Casey.
"Ada apa lagi? Sebaiknya kita kembali ke rumahku. Aku ingin menenangkan pikiranku, dan melupakan percakapan kita ini," kata Casey.
"Dan satu lagi! ... Silahkan saja, jika kamu tetap ingin menjadi seorang pengecut! Tapi tidak denganku....
... Asal kamu tahu saja, bahwa walaupun kamu tidak ada di sini, aku tetap akan membatalkan pertunanganku dengan Aaron," lanjut Casey, tegas.
Casey yang berniat untuk kembali ke mobilnya, yang berada di pelataran parkir di depan gedung bioskop, tidak sempat melangkahkan kakinya, karena Steve segera memeluknya dengan erat.
"Please, Casey! ... Forgive me ... I love you, so much. And i'm not running away. I'll stay beside you," kata Steve, lalu mengecup mercu kepala Casey.
Casey mendorong Steve perlahan, hingga Steve mengendurkan pelukannya, dan hanya memegang kedua sisi lengan Casey.
Dengan sedikit mendongakkan kepalanya, Casey berusaha agar dia bisa menatap sepasang mata, yang berwarna biru terang milik Steve.
"Apa kamu bersungguh-sungguh mengatakannya?" tanya Casey.
"Iya," jawab Steve, yang kemudian mendekatkan wajahnya, lalu mencium dengan lembut bibir Casey.
Setelah mereka berhenti berciuman, Steve tampak seperti orang kebingungan, lalu berkata,
"Apa kamu bisa mencubitku? Aku rasa aku sedang bermimpi, hingga aku bisa berciuman denganmu."
Casey hampir tertawa karenanya.
"Kamu bisa melakukannya lagi, jika itu bisa membuatmu yakin, bahwa ini bukan mimpi," kata Casey, sambil tersenyum lebar.
Tanpa berlama-lama lagi, Steve kembali mencium bibir Casey, hingga beberapa waktu lamanya, sebelum akhirnya dia menghentikan ciumannya, ketika terdengar suara seseorang yang berdeham di dekat mereka.
Baik Casey maupun Steve, secara bersamaan menoleh ke arah dari mana datangnya suara, dan melihat Aaron yang berdiri di situ.
Entah benar atau tidaknya penilaian Casey, bahwa Aaron tampak geram, saat laki-laki itu memandangi Casey dan Steve bergantian.
Namun Casey tidak mau memikirkannya, dan hanya tersenyum ke arahnya.
Sekadar untuk berbasa-basi, Casey kemudian berkata,
"Hai, Aaron! ... Kamu sendirian saja?"
Tepat saat Casey selesai bicara, kemudian terdengar suara Julie yang berkata,
"Honey! ... Aku sudah selesai. Apa aku membuatmu terlalu lama menunggu?"
Julie yang baru saja keluar dari dalam kafe, dan menghampiri Aaron, tampak terkejut, ketika melihat Casey dan Steve di situ.
Namun di saat itu juga, sambil tersenyum sinis, Julie kemudian menggandeng mesra lengan Aaron, lalu berkata,
"Honey! ... Aku tidak tahu, kalau kamu sedang bicara dengan mereka. Maafkan aku. Tapi bukankah kita harus pergi sekarang?"
Perkataan Julie itu, kedengarannya sedang diarahkannya kepada Aaron, sehingga Casey tidak menanggapinya, dan hanya tersenyum dan hampir tertawa, sambil memandangi Julie dan Aaron bergantian.
"Aaron! Sebaiknya kamu pergi sekarang. Kamu tidak mau membuat Julie menunggu lebih lama, bukan?" ujar Casey, sambil tetap tersenyum mengejek.
"Hmm ... Kalau begitu kami saja yang pergi lebih dulu," kata Casey, kemudian menoleh ke samping, melihat ke arah Steve, lalu berkata,
"We better go now!"
"Casey!" ujar Aaron, seolah-olah hendak menahan langkah Casey.
Namun kelihatannya, Julie meremas lengan Aaron, seolah-olah Julie tidak setuju dengan niat dari Aaron itu.
Casey hampir tertawa melihat adegan di depannya itu, yang dianggapnya sangat konyol, namun akhirnya dia hanya berbalik, lalu berjalan bersama dengan Steve, menjauh dari Aaron dan Julie.
"Casey...! Apa tidak masalah jika kita pergi begitu saja? Aku bahkan tidak sempat menyapa, ataupun berpamitan," ujar Steve.
"It's okay!" sahut Casey, tanpa beban.
"Oh, iya! ... Wanita yang sedang bersama Aaron, adalah Julie Tosch, direktur pemasaran di R&H Corp. Yang sekaligus menjadi kekasih Aaron....
... Jadi bagaimana menurutmu? Apa kamu masih merasa, bahwa Aaron menyukaiku?" lanjut Casey.
"Apa kamu ingin jawabanku yang jujur?" Steve balik bertanya.
Casey menoleh ke arah Steve, dan menatap laki-laki itu, dengan pikiran Casey yang penuh tanda tanya.
"Dia bukan hanya menyukaimu ... Aaron telah jatuh cinta kepadamu. Rasa cemburu yang ada di matanya, hingga bisa membuatku merasa terganggu karenanya," kata Steve, sambil memasang raut wajah serius.
"Pffftt...! Don't tease me!" ujar Casey, sambil tertawa. "Aaron mencintai Julie."
"Huuufft...!" Steve mendengus pelan. "Terserah kamu saja. Apakah kamu akan mempercayai perkataanku atau tidak."
"Sebaiknya kita berhenti membicarakan tentang hal itu. Karena yang aku tahu, aku menyukaimu....
... And I just want to be happy with you. Apa kamu tidak menginginkan hal yang sama sepertiku?" sahut Casey.
"Tentu saja aku menginginkannya!" ujar Steve, lalu merangkul pinggang Casey, dan mengecup mercu kepala Casey.
***
Karena belum ada dari mereka yang ingin segera makan malam, sehingga Casey maupun Steve, kemudian berjalan-jalan di dalam pusat perbelanjaan.
Sembari melihat-lihat, dan membeli beberapa barang yang menarik perhatian mereka, Casey sempat beberapa kali menangkap basah, saat para wanita pegawai toko tampak memandangi Steve, dengan tatapan kagum.
Dan sejujurnya, Casey merasa sebal ketika melihat para pegawai toko, yang senyum-senyum ke arah Steve.
Apalagi ketika Casey melihat para pegawai wanita itu, yang tampak intens menghampiri Steve, seolah-olah mereka ingin mencari perhatian, dari teman laki-laki Casey itu.
Casey kemudian mengambil sebuah kacamata, yang mirip dengan yang biasa dipakai Steve saat masih di kampus, dan memasangnya di wajah Steve.
"Hey! ... Aku sudah memakai lensa kontak, agar aku tidak perlu kacamata lagi," ujar Steve, tampak bingung.
"Kamu terlalu tampan ... Aku tidak mau wanita lain mendekatimu," sahut Casey, ketus dan memaksa, agar Steve tetap memakai kacamata itu.
Steve tertawa geli, lalu melepaskan kacamata dari wajahnya, dan sambil menatap Casey lekat-lekat, Steve kemudian berkata,
"Casey...! Aku hanya akan melihatmu."
"Hmph! ... Awas saja, kalau kamu berani membohongiku!" sahut Casey, tegas.
Steve kemudian meletakkan kacamata yang masih dipegangnya, kembali ke tempat pajangannya yang semula.
"Trust me! ... I would never lied to you!" kata Steve, lalu merangkul pinggang Casey, dan berjalan menjauh dari stand pedagang itu.
"By the way ... You look cute, when you're jealous ... Aku jadi ingin mengusikmu lebih lama," lanjut Steve, sambil tersenyum lebar.
Casey yang tidak suka diejek oleh Steve, kemudian mencubit perut Steve, sambil berkata,
"Stop teasing me!"
"Auch! ... Okay, okay!" sahut Steve, sambil meringis, dan mengusap-usap perutnya.
Di saat itu juga, Casey merasa kalau seolah-olah ada yang sedang menatapnya, hingga Casey melayangkan pandangannya, berkeliling di sekitar situ.
Penglihatan Casey kemudian terhenti, saat bertemu dengan sepasang mata Aaron, yang sedang menatap Casey sekarang ini.
Aaron terlihat sedang berada di sebuah stand yang menyediakan pakaian dalam wanita, yang letaknya tidak jauh, dari tempat Steve dan Casey berada.
"Annoying...!" Casey menggerutu pelan.