Memory Of Love

Memory Of Love
Part 45



Setelah mereka selesai menikmati makan siangnya, dan kemudian melanjutkan perjalanannya, Casey menghabiskan sisa waktu di perjalanan dengan lebih banyak tidur.


Namun, sesekali, ketika Casey terbangun, Aaron pasti akan sibuk menanyakan, dan memastikan bahwa Casey masih merasa nyaman.


Hingga untuk ke sekian kalinya, Aaron akhirnya menepikan mobilnya, sampai berhenti di pinggir jalan.


"Aku baik-baik saja," ujar Casey.


"Kamu sering terbangun. Aku rasa, mungkin karena posisi dudukmu yang kurang nyaman," sahut Aaron.


Aaron tampak memaksa untuk memeriksa jok mobil tempat Casey duduk, dan hampir mengatur sandarannya, tapi Casey segera menahannya, dengan berkata,


"Tidak perlu ... Aku sudah terlalu banyak tidur."


Casey justru mengatur sandaran joknya, hingga bisa terduduk tegak.


"Apa masih jauh?" tanya Casey.


"Tidak ... Aku rasa, kurang lebih satu jam lagi, kita sudah tiba di sana," jawab Aaron. "Apa kamu mau makan sesuatu? Orange atau apel."


"Orange," sahut Casey.


Aaron lalu bergerak ke jok penumpang bagian belakang, tampak mengambil sesuatu di sana, dan kembali duduk di tempatnya semula, sembari menyodorkan dua buah jeruk orange kepada Casey.


"Aku membelinya tadi, waktu kita singgah di tempat pengisian bahan bakar," kata Aaron, tanpa Casey perlu bertanya.


Sembari Casey mengupas kulit jeruk, Aaron kemudian lanjut mengemudikan mobilnya di jalan raya.


"Apa kamu tidak lelah?" tanya Casey, sambil menyuapkan sepotong jeruk kepada Aaron. "Kita bisa istirahat dulu, sebentar."


Aaron terlihat sibuk mengunyah jeruk di dalam mulutnya, sebelum dia akhirnya berkata,


"Kepalang tanggung ... Istirahat di sana saja nanti. Aku ingin agar sempat melihat sunset bersamamu. Apa kamu mau?"


"Hmm ... Okay!" sahut Casey.


"Casey! ... Apa tadi kamu tidak bermimpi buruk?" tanya Aaron.


"Tidak," sahut Casey. "Kenapa?"


"Tidak apa-apa ... Aku hanya teringat waktu itu," kata Aaron, tampaknya sedang mengungkit kejadian, ketika Casey melakukan perjalanan dengannya, untuk memeriksa lokasi pembangunan kantor cabang yang baru.


"Kamu tidak perlu terlalu mencemaskanku ... Jika aku merasa ada sesuatu yang tidak beres, aku pasti akan memberitahumu," kata Casey.


Aaron menoleh ke arah Casey untuk sesaat, tetapi dia tidak berkata apa-apa, dan kembali melihat lurus ke depannya.


***


Mereka sudah tiba di sebuah Beach and Vacation Resorts milik Hamilton grup, lebih cepat dari perkiraan Aaron.


Matahari bahkan masih cukup tinggi, ketika Casey serta Aaron berjalan masuk ke dalam hotel, dan mendapatkan kamar mereka masing-masing, yang hanya bersebelahan saja.


Di dalam kamar yang diberikan untuknya itu, Casey hanya sempat melihat-lihat fasilitasnya sebentar, karena Aaron yang sudah menunggunya di luar.


Rencana untuk melihat matahari terbenam, akan mereka lakukan, sambil berjalan-jalan santai di pesisir pantai.


Sandal Casey, dan sepatu milik Aaron, kemudian diletakkan mereka di dekat dua buah bangku, yang berada di dalam naungan salah satu payung pantai yang ada di sana.


Dan sebelum Casey berjalan ke garis pantai, Aaron tiba-tiba menahan langkahnya.


"Tunggu sebentar!" ujar Aaron, kemudian berjongkok di depan Casey, dan melipat naik bagian kaki celana panjang yang dipakai oleh Casey itu, hingga hampir ke lutut.


"Aku bisa melakukannya sendiri," celetuk Casey, sambil mengikat rambutnya, agar tidak kusut dan berantakan, karena dihempas angin laut.


"Tidak apa-apa ... Biarkan aku melakukannya untukmu...!" sahut Aaron, yang kemudian melipat kaki celana panjangnya sendiri.


"Dengan begini, kita bisa bermain air," lanjut Aaron, sambil tersenyum lebar.


"Pffftt...!" Casey tertawa tertahan. "Terima kasih."


"Sudah berapa lama tempat ini didirikan?" tanya Casey, sambil berjalan pelan bersama Aaron.


"Belum sampai sebulan diresmikan," jawab Aaron, yang menggenggam tangan Casey dengan erat. "Bagaimana menurutmu tentang resor ini?"


"Bagus ... Pantai pribadi, siapa yang tidak akan menyukainya?" ujar Casey, memberikan penilaiannya.


"Hmm ... Roberts grup juga memiliki resor seperti ini, bukan?" tanya Aaron, lalu tiba membungkuk, dan mengambil sebuah kulit kerang dari atas pasir, kemudian memberikannya kepada Casey.


"Iya ... Yang satunya ada di kota ini, dan yang satunya lagi berada di luar negeri," jawab Casey, sambil memperhatikan kulit kerang, yang berwarna coklat muda, dan tampak mengkilap.


"Aku pernah mengunjungi resor yang ada di luar negeri, bersama Grandpa, saat peresmiannya. Tapi aku justru belum pernah ke resor milik Roberts grup, yang ada di kota ini," lanjut Casey.


Casey cukup terkejut, karena ternyata dalam kulit kerang masih berisi penghuninya, yang terlihat mengeluarkan kaki-kaki kecilnya dari lubang kerang.


"Geez!" ujar Casey, dan hampir menjatuhkan kerang itu dari tangannya.


"Pffftt...!" Aaron tertawa, lalu buru-buru mengambil kerang dari tangan Casey, dan mengembalikannya ke atas pasir.


"Tunggu di sini! ... Aku rasa aku melihat sesuatu." Aaron lalu berjalan lebih jauh ke arah laut, hingga kaki celananya hampir basah karena ombak yang bergulung-gulung ke arahnya.


Aaron menggulung lengan kemejanya, kemudian memungut sesuatu dari dalam air, dan melihat ke arah Casey sambil tersenyum lebar.


"Patrick!" ujar Aaron. "Apa kamu mau melihatnya?"


Sambil tersenyum, ketika melihat Aaron yang memegang bintang laut, Casey menganggukkan kepalanya. "Iya!"


Aaron kemudian kembali menghampiri Casey, dan memperlihatkan bintang laut yang ditemukannya, kepada Casey.


"Apa yang ini tidak beracun?" tanya Casey, penasaran.


"Tidak ... Lihat!" Aaron menunjuk, sambil menyentuh tonjolan-tonjolan di bagian atas bintang laut yang tampak tumpul. "Kalau dia berduri tajam, maka itu bisa dipastikan beracun."


"Tapi...." Aaron lalu tampak seperti sedang mencari sesuatu, sambil melihat ke sana kemari, hingga Casey kebingungan melihatnya.


"Ada apa?" Casey kemudian ikut melihat ke sekelilingnya.


"Jika Patrick star ada di sini, maka seharusnya, Spongebob atau Squidward juga ada di dekat sini," kata Aaron, lalu melirik dengan ujung matanya ke arah Casey.


"Hahaha!" Casey yang tersadar kalau Aaron sedang bercanda, akhirnya tertawa lepas di situ.


Aaron memegang salah satu pipi Casey, dan mengelusnya perlahan dengan ibu jarinya, hingga Casey berhenti tertawa, dan saling bertatapan mata dengan Aaron.


"Aku sangat berharap, agar aku bisa melihatmu tertawa seperti ini setiap hari," celetuk Aaron, dengan tatapan matanya yang sayu.


"Aku akan berusaha sebaik mungkin, agar kamu tidak pernah merasa sakit ataupun sedih. Dan kamu bisa menikmati hari-harimu dengan kebahagiaan," lanjut Aaron, sambil tersenyum tipis, dan menahan pandangannya pada Casey.


Casey yang merasa canggung, kemudian terpikir untuk mengusik Aaron, agar berhenti memperlakukan Casey dengan penuh perhatian seperti itu.


Casey lalu menempelkan bintang laut ke atas lengan Aaron, hingga perhatian dari laki-laki itu, seketika itu juga teralihkan.


"Hey...! Patrick star itu bisa menghisap darah...!" ujar Aaron, pelan.


"Ugh? ... Benarkah?" ujar Casey, tersentak.


Casey panik, lalu segera berusaha menyingkirkan bintang laut yang sudah menempel dengan erat, dengan memaksa menariknya, hingga terlepas dari lengan Aaron.


"Maafkan aku...." ucap Casey, penuh penyesalan.


"Pffftt...!" Aaron tertawa tertahan. "It's okay! ... Aku hanya bercanda."


Aaron yang tersenyum lebar, kemudian memeluk Casey dengan erat, sambil berkata,


"Walaupun kamu selalu berusaha bersikap keras dan tegas, tapi kamu tidak bisa menyembunyikan, bahwa pada dasarnya, kamu memiliki hati yang lembut dan penyayang."


Dengan lembut dan perlahan, Aaron mencium mercu kepala Casey untuk beberapa saat, kemudian lanjut berkata,


"Aku mencintaimu, Casey...! Dan aku harus jujur padamu, kalau yang sebenarnya, aku sama sekali tidak yakin, jika nantinya aku bisa merelakanmu, seandainya kamu tidak memilihku."