
Sementara Aaron berbicara kepadanya, Casey mendengarkannya secara saksama, dan walaupun sedikit tergerak hatinya, tapi Casey masih belum bisa percaya begitu saja.
"Kamu pasti ingin menertawakanku," celetuk Aaron.
"Ugh? ... Untuk apa? Tidak ada yang lucu, dari apa yang kamu bicarakan," sahut Casey, asal-asalan.
"Apa kamu tidak menganggap, kalau aku adalah orang yang sangat bodoh?" tanya Aaron.
"Sedikit!" Casey membentuk sela kecil dengan menggunakan ibu jari dan telunjuknya, dan memperlihatkannya kepada Aaron.
"Pffftt...!" Aaron tertawa, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa yang harus aku lakukan padamu?"
"Kamu bisa melepaskanku, dan melanjutkan hubunganmu dengan Julie saja. Atau mungkin dengan wanita lain. Terserah kamu! Asalkan bukan aku," sahut Casey, serius.
Seketika itu juga, senyuman di wajah Aaron kemudian menghilang, dan berganti dengan raut wajah kecewa.
"Casey...! Katamu, kamu dan Steve saling mencintai. Benar begitu, bukan?" ujar Aaron, menyempatkan untuk menoleh ke arah Casey untuk sejenak.
"Iya ... Apa itu masih perlu ditanyakan lagi?" sahut Casey, sambil mengangkat kedua alisnya.
"Bagaimana jika aku memintamu, untuk berhenti mencintainya? Atau aku meminta Steve, untuk berhenti mencintaimu. Apa ada dari kalian yang bisa melakukannya?" tanya Aaron.
Casey terdiam untuk beberapa saat. "Tentu saja, tidak!"
"Sekarang ini, usiaku hampir tiga puluh lima tahun. Dan baru kali ini, aku bisa merasakan bagaimana mencintai seseorang, yang bisa membuatku hampir kehilangan kewarasanku," kata Aaron.
"Apa menurutmu, aku bisa melepaskanmu begitu saja, tanpa mencoba mengusahakannya lebih dulu?" lanjut Aaron, lagi.
Casey menatap Aaron lekat-lekat.
"Jika saja kamu bukan berasal dari keluarga konglomerat, aku mungkin akan memberikan semua hartaku, asalkan kamu mau melihatku," kata Aaron.
"Hmm ... Sayang sekali ... Karena keluargaku justru lebih kaya daripada keluargamu," sahut Casey, sambil tersenyum mengejek.
"Tsk! ... Justru itu! ... Aku jadi tidak bisa merayumu dengan menggunakan materi." Aaron tampak tersenyum konyol.
"Hahaha!" Casey dan Aaron sama-sama tertawa.
"Aku baru ingat! ... Aku dulu pernah tertarik kepada seseorang. Wanita pemberani, yang sangat lucu dan cantik," kata Aaron.
"Ugh? ... Benarkah?" ujar Casey, penasaran.
"Iya ... Awalnya dia tidak menyukaiku sama sekali. Tapi aku selalu membelikannya hadiah, apa saja yang dia inginkan. Sampai akhirnya dia mau melihatku. Tapi kemudian mommy-ku mengacaukan semuanya....
... Mommy memberitahunya, kalau aku nanti hanya akan membebaninya saja. Karena pada malam hari, aku masih takut untuk pergi ke kamar mandi sendiri," kata Aaron.
Casey terdiam untuk beberapa saat, sambil berpikir.
"Ketakutan macam apa itu? Hanya toddler, yang bisa merasa takut ke kamar mandi sendiri," ujar Casey.
"Aku berusia enam tahun, dan wanita itu adalah teman sekelasku di elementary school," jawab Aaron, tampak memasang raut wajah serius.
"Pffftt...! Hahaha!" Casey tertawa terbahak-bahak. "Oh, gosh! ... Lalu kamu tidak berusaha untuk mempertahankan cintanya?"
"Hmm ... Aku terlalu takut, untuk bersaing dengan teman sekelas, yang juga tertarik pada wanita yang aku sukai itu. Karena tubuh anak laki-laki itu, jauh lebih besar dariku....
... Satu kepalan tangannya, masih lebih besar dari dua tinjuku yang digabungkan. Kamu bayangkan saja, bagaimana jika kepalan tangannya itu mengenaiku," jawab Aaron.
Aaron terlihat sibuk memperhatikan lampu rambu lalu lintas yang menyala merah, sebelum dia menyeberangi persimpangan jalan, dan menjalankan mobilnya lagi, setelah lampu rambu lalu lintas berganti dengan warna hijau.
"Saat itu, aku berusaha untuk tumbuh besar, agar bisa bersaing dengan anak laki-laki itu, dengan menambah porsi makanku. Tapi aku justru jatuh sakit, karena memaksa makan dengan jumlah berlebihan....
... Dan karena sakitku itu, tubuhku bukannya bertambah besar, aku justru kehilangan berat badanku, sampai hampir lima pound," lanjut Aaron, bercerita sambil tersenyum lebar.
"Sungguh perjuangan yang berakhir tragis...!" ujar Casey, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, mengejek Aaron.
"Pffftt...! Hahaha!" Lagi-lagi, Casey tertawa bersama-sama dengan Aaron.
Karena mereka yang berbincang-bincang di perjalanan mereka itu, tidak terasa, sekarang ini sudah waktunya untuk makan siang.
Aaron kemudian memilih sebuah restoran, yang bisa menjadi tempat persinggahan, bagi mereka untuk beristirahat.
Setelah melakukan pemesanan akan apa yang ingin dia makan, Casey bergegas ke kamar mandi umum, untuk menuntaskan kebutuhannya di sana, dan sekedar menyegarkan wajahnya dengan sedikit air.
"Halo, Casey!" suara Steve terdengar dari seberang telepon, tidak berapa lama, setelah nada sambung berbunyi, ketika Casey menghubunginya.
"Halo, Steve! ... Apa kalian sudah di perjalanan?" tanya Casey, sambil berdiri bersandar di wastafel, di dalam kamar mandi umum restoran itu.
"Belum ... Kami masih makan siang. Setelah ini, kami akan segera memulai perjalanan kami," sahut Steve. "Bagaimana perjalananmu dengan Aaron?"
"Kami baik-baik saja. Sekarang kami singgah di restoran untuk makan siang," kata Casey.
Untuk beberapa saat kemudian, Steve hanya terdiam di seberang, hingga Casey lalu menegurnya, dengan berkata,
"Steve? ... Something's wrong?"
"Hmm ... I miss you, my baby...!" kata Steve.
"I miss you too ... Kita akan segera bertemu di resor nanti," sahut Casey. "Maafkan aku...."
"It's okay...! Tidak perlu merasa bersalah. Kita berdua sudah sama-sama setuju, untuk menjalaninya," kata Steve. "Tapi Aaron tidak mengasarimu, bukan?"
"Tidak ... Dia bersikap biasa saja," jawab Casey.
"Okay! ... Jadi, tampaknya tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Benar begitu?" tanya Steve, seolah-olah ingin memastikan.
"Iya ... Selain merindukanmu, aku baik-baik saja," sahut Casey, sambil tersenyum.
"Hati-hati di jalan! ... Katakan pada Aaron untuk tidak mengebut," kata Steve. "Bye, Casey! ... See you soon!"
"Bye, Steve! ... Sampaikan salamku untuk Lionel!" kata Casey, lalu memutuskan sambungan telepon itu.
Seorang wanita yang memakai seragam pelayan restoran, yang sedari tadi sudah terlihat berdiri di dekat pintu kamar mandi umum itu, dan tampak memperhatikan gerak-gerik Casey, lalu menghampiri Casey, dan kemudian berkata,
"Maafkan saya ... Tapi, apakah Anda yang bernama Miss Casey Roberts?"
"Iya," jawab Casey, kebingungan. "Ada apa?"
"Seorang laki-laki meminta bantuan saya, untuk memeriksa keadaan Anda," kata pelayan restoran itu. "Dia tampak sangat cemas, dan sedang menunggu Anda di luar."
"Oh! ... Okay! ... Terima kasih," ujar Casey, kemudian berjalan keluar dari dalam kamar mandi umum, menyusul pelayan restoran yang telah berjalan ke luar lebih dulu.
"Casey! ... Kamu tidak apa-apa?" Dengan wajah yang tampak pucat pasi, Aaron terlihat hampir setengah meloncat, secara terburu-buru menghampiri Casey, dan memeluknya dengan erat.
"Aaron...! Ada apa denganmu?" tanya Casey, bingung.
"Terima kasih atas bantuannya!" ujar Aaron, yang tampaknya sedang berucap kepada pelayan restoran, yang menyusul Casey tadi.
"Sama-sama, Sir!" sahut pelayan restoran itu, kemudian berjalan menjauh dari sana.
"Kamu terlalu lama, dan membuatku sangat takut ... Aku khawatir, kalau-kalau kamu jatuh pingsan di dalam sana," jawab Aaron, yang masih terdengar cemas.
"Huuufft...!" Casey membuang napasnya yang terasa berat. "Aku baik-baik saja Aku tadi berbicara dengan Steve di telepon."
Aaron terasa semakin mempererat pelukannya pada Casey, lalu mencium mercu kepala Casey dengan lembut.
"Aku tidak melarangmu untuk berbicara dengan Steve. Tapi lain kali, tolong kamu jangan berbincang-bincang di dalam kamar mandi wanita....
... Aku tidak bisa masuk ke sana, untuk menjagamu, ataupun sekadar memeriksa keadaanmu," kata Aaron, dengan suara memelas.
"Okay!" sahut Casey, yang hampir tertawa. "Sekarang kamu sudah bisa melepaskanku. Kita akan makan siang, bukan?"
"Huuufft...!" Kali ini, suara nafas Aaron yang terdengar berat, seolah-olah dia baru saja bisa bernapas lega.
Setelah itu, Aaron kemudian merangkul pinggang Casey, dan berjalan bersama kembali ke meja, yang menjadi tempat duduk mereka tadi.
"Apa kamu secemas itu?" tanya Casey, sambil duduk di kursinya.
"Tentu saja! ... Aku hampir kehilangan akal, dan sempat terpikir untuk menerobos masuk, walaupun itu adalah restroom khusus untuk wanita," sahut Aaron, yang tampak kesal.
"Pffftt...!" Casey tertawa tertahan, sementara Aaron tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, sebelum akhirnya, dia lalu tersenyum.
"Jangan melakukannya lagi...! Okay?!" kata Aaron, tampak mengangkat kedua alisnya.
"Okay!" sahut Casey, sambil tersenyum.