
Entah apa yang Aaron pikirkan, hingga dia hanya terdiam, tampak berlama-lama menopang dagu, dengan menyandarkan sikutnya di tangan kursi, sembari matanya sesekali terlihat bergerak naik dan turun.
"Aku—"
"Aku—"
Ketika Casey berbicara, di saat itu juga Aaron mengeluarkan suaranya, hingga pada akhirnya mereka berdua saling bertatapan, dan berhenti bicara begitu saja.
"Apa yang ingin kalian katakan?" tanya Lionel.
"Aku ingin bicara berdua saja denganmu," kata Casey kepada Lionel, mendahului Aaron.
Steve terlihat segera berdiri dari tempat duduknya.
Sementara itu, Aaron masih tetap bertahan dengan posisinya yang sama, sehingga Lionel menegurnya dengan berkata,
"Aaron! ... Kamu dengar apa kata Casey, bukan?"
Walaupun tampak keberatan, namun, tanpa berkomentar apa-apa, Aaron kemudian berjalan keluar dari kamar itu, bersama-sama dengan Steve.
Demi mencari solusi dan pemikiran tambahan, sebagai bahan pertimbangan baginya, Casey lalu menceritakan tentang apa saja yang terjadi, dan semua bagian ingatannya yang telah kembali, kepada Lionel.
Tanpa terkecuali, Casey memberitahu semuanya, baik itu tentang hubungannya dengan Steve, dan apa yang dia rasakan sekarang ini, setelah dia bisa mengingat setiap detail kejadian yang dialaminya.
Lionel tampaknya tidak terlalu terkejut, saat Casey memberitahu, bahwa dia sebenarnya telah berkencan dengan Steve.
Tapi lain lagi reaksi yang diperlihatkannya, ketika Lionel mendengar, bahwa Casey melihat Julie, yang mungkin saja berhubungan intim dengan Aaron, dan apa yang dikatakan oleh Aaron sebagai pembelaan dirinya, kepada Casey.
"Jadi, di malam itu, kamu berniat untuk menemui kedua orang tua Aaron," ujar Lionel. "Tapi kenapa kamu harus melewati jalan itu? Apa kamu mengingatnya?"
"Aku sempat mendatangi restoran xxx. Itu sebabnya, sehingga aku harus mengambil jalan berputar, untuk pergi ke rumah orang tua Aaron," jawab Casey.
"Jadi, bisa dikatakan kalau kamu tidak sengaja melewati jalan itu?" tanya Lionel, lagi.
"Tidak. Jika aku tidak berputar arah, maka aku tidak akan melewati jalan itu," jawab Casey. "Kenapa kamu menanyakan hal itu berulang-ulang?"
"Casey! ... Seharusnya Grandpa-mu yang memberitahumu. Tapi, aku rasa tidak akan jadi masalah, jika aku mengatakannya padamu sekarang," jawab Lionel.
"Grandpa-mu mengira, kalau kamu berniat untuk bunuh diri," lanjut Lionel.
"Ugh?" Casey terbelalak. "Kenapa Grandpa bisa berpikir seperti itu?"
"Grandpa-mu mempekerjakan detektif khusus, untuk menginvestigasi kecelakaanmu. Kamu pasti mengerti maksudku, bukan?" ujar Lionel.
"Tentunya, semua yang diduga berkaitan dengan kecelakaanmu, diperiksa tanpa terkecuali. Termasuk ponselmu, yang menyimpan riwayat kontak yang sempat berhubungan denganmu, sebelum kecelakaan itu terjadi....
...Aaron serta Julie, telah diselidiki secara sembunyi-sembunyi. Tapi aku tidak tahu detail hasil penyelidikan yang sebenarnya. Yang aku tahu, Grandpa-mu menyalahkan kebodohan Aaron....
... Selain itu, Grandpa-mu juga mendapatkan kesimpulan dugaan, bahwa kamu memang berniat untuk menghilangkan nyawamu sendiri. Karena tidak ditemukan apa alasan yang cocok, hingga kamu sampai melewati jalanan itu," lanjut Lionel.
Setelah mendengar penjelasan dari Lionel itu, Casey akhirnya bisa sedikit memahami, akan apa yang dipikirkan oleh Daniel.
Jika penyelidikan dilakukan cukup terperinci, maka kemungkinan besar, Aaron memang berkata jujur, bahwa dia tidak pernah melakukan hubungan intim dengan Julie.
Sehingga pada suatu waktu itu, Daniel pernah berkata kepada Casey, bahwa Aaron bisa diandalkan.
Daniel yang masih tampak memaksa, agar Casey melanjutkan rencana pernikahannya dengan Aaron, itu bukanlah sekadar memaksakan kehendaknya.
Melainkan, agar Casey bisa bersama dengan Aaron, yang menurut Daniel, bahwa Aaron adalah laki-laki yang dicintai oleh Casey, hingga Casey sampai berniat untuk bunuh diri karena sakit hati.
Tapi semuanya itu masih menjadi dugaan Casey saja, dan untuk memastikannya, Casey harus mendengarnya secara langsung dari Daniel.
"Tolong ambilkan ponsel dari dalam tasku!" ujar Casey.
Tanpa berlama-lama, tas milik Casey yang diletakkan di atas meja kecil di samping tempat tidur itu, kemudian diambilkan oleh Lionel yang duduk di tepi ranjang, lalu diberikannya kepada Casey.
Casey mengambil ponsel, kemudian mencoba menghubungi kontak Daniel, sembari berceletuk,
"Aku akan bertanya langsung kepada Grandpa."
Lionel tidak berkomentar apa-apa, dan hanya memandangi Casey di situ.
Setelah beberapa kali terdengar nada sambung, lalu terdengar suara Daniel, yang menyapa dari seberang telepon, dengan berkata,
"Halo, Casey!"
"Di rumah ... Grandpa sedang berada di ruang kerja," jawab Daniel.
"Aku ingin membicarakan sesuatu. Grandpa tidak sedang sibuk, bukan?" ujar Casey lagi.
"Tidak, Grandpa tidak sibuk ... Grandpa hanya membaca buku," sahut Daniel. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Casey kemudian memberitahu kepada Daniel, tentang ingatannya yang telah kembali sebagian, dan justru adalah yang terpenting, karena ingatan itu adalah kejadian sebelum kecelakaan Casey.
Secara detail, hingga apa yang dilihatnya lewat sambungan panggilan video di ponselnya, saat menghubungi Aaron malam itu pun, diberitahu Casey kepada Daniel.
Dan Casey ingin memastikan, apa yang dipikirkan oleh Daniel selama ini.
Sesuai dengan perkataan Daniel waktu itu, kalau dia akan memberitahu Casey, jika ingatan Casey kembali, Daniel kemudian berbicara terbuka, tentang apa saja yang dia ketahui, yang kurang lebih sama, dengan apa yang dikatakan oleh Lionel.
"Aku bisa memastikannya, Grandpa! Bahwa aku tidak berniat untuk bunuh diri. Aku hanya ingin membatalkan pertunangan kami, karena apa yang aku lihat dari ponselku itu," ujar Casey.
Daniel kemudian terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya dia berkata,
"Aaron memperhatikanmu, dan kemungkinan besar dia tertarik kepadamu. Lalu, apa kamu masih ingin membatalkan pertunangan kalian?"
"Grandpa! Apa Grandpa tidak dengar apa yang aku katakan tadi?!" ujar Casey, bersikeras.
"Kamu sudah membicarakannya dengan Aaron?" tanya Daniel, yang tetap terdengar tenang.
"Aaron memang mengelak, dan tidak mengakui kalau dia telah melakukan hubungan berlebihan dengan Julie. Tapi apa dengan sekadar pengakuan seperti itu, lalu dia sudah bisa dipercaya?"
Casey berbicara di ponselnya itu, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, karena Daniel yang masih terdengar seperti membela Aaron.
"Casey...! Dengarkan dulu...!" ujar Daniel, seolah-olah ingin menenangkan Casey. "Apa Aaron setuju, jika pertunangan kalian dibatalkan?"
Untuk beberapa saat, Casey hanya terdiam, hingga Daniel lanjut berkata,
"Berarti benar dugaan Grandpa, kalau dia pasti tidak akan setuju."
"Casey...! Kita tidak bisa membatalkan sepihak ikatanmu dengan Aaron. Karena nantinya, keluarga kita akan dianggap seperti sedang menghina keluarga Hamilton....
... Kamu pasti mengerti maksud Grandpa, bukan?" lanjut Daniel.
"Tapi, Grandpa—" Casey belum sempat menyelesaikan kalimatnya, namun Daniel sudah menyelanya dengan berkata,
"Apa kamu tahu? Grandpa membuat larangan bagi Aaron, agar dia tidak bisa menemuimu di rumah sakit. Karena sementara itu, Grandpa sedang menyelidiki Aaron, untuk mencari tahu karakter aslinya....
...Namun, walaupun Aaron sudah mendapatkan larangan, Aaron masih nekat untuk mengunjungimu di rumah sakit, secara sembunyi-sembunyi....
... Oleh karena itu, sehingga Grandpa bisa berasumsi, bahwa dia sebenarnya tertarik kepadamu."
"Kenapa Grandpa seolah-olah masih membenarkan tingkah lakunya?" tanya Casey, frustrasi.
"Casey...! Kamu mungkin mengira, bahwa Grandpa hanya sekadar membelanya dengan membabi buta, karena Grandpa tidak ingin kamu membatalkan pertunangan kalian....
... Tapi bukan itu alasan sebenarnya. Grandpa hanya berusaha agar bisa sedikit memahami Aaron, setelah Grandpa mendapatkan sebagian besar informasi pribadinya," jawab Daniel.
"Apa yang Grandpa ketahui, tapi aku tidak mengetahuinya?" tanya Casey, penasaran.
"Aaron hanya terlalu bodoh dalam urusan percintaan. Dan wanita yang menjadi kekasihnya sejak mereka berkuliah, hanya memanfaatkan Aaron," jawab Daniel.
"Cukup itu saja! Grandpa tidak perlu memberitahumu semuanya secara detail. Karena jika kamu sampai kelepasan saat berbicara dengannya...,
...maka tidak tertutup kemungkinan, kalau Aaron akan mencurigai, bahwa ada yang sengaja memata-matainya selama ini....
... Yang pastinya, menurut Grandpa, Aaron bicara jujur padamu," lanjut Daniel.
"Jadi, Aaron tetap bisa diandalkan!" ujar Casey, bicara sarkas, dengan nada suara sinis.
"Begini saja! Grandpa sarankan, agar kamu lebih dulu mempertimbangkannya baik-baik! Kalau kamu tetap ingin membatalkan pertunangan kalian, maka Grandpa akan menyetujuinya....
...Tapi dengan catatan, bagaimana pun caranya, Aaron juga harus setuju dengan keinginanmu....
... Sehingga dengan demikian, tidak akan terjadi kesalahpahaman, antara keluarga kita dan keluarga Hamilton," lanjut Daniel.
"Huuufft...!" Casey mendengus kasar. "Okay! Bye, grandpa!"
"Bye, my dear! ... Grandpa menyayangimu," kata Daniel, lalu sambungan telepon itu kemudian terputus.