
Casey bisa keluar dari rumah sakit, setelah dua hari dia dirawat di sana.
Pada saat itu, bertepatan dengan waktu libur akhir pekan.
Sehingga Casey cukup memanfaatkan waktu istirahat tambahannya, dengan berada di rumah saja.
Dan seperti dugaan Casey, kalau dia akan kesulitan untuk meyakinkan Daniel bahwa dia bisa kembali bekerja, tanpa Daniel perlu terlalu mengkhawatirkan keadaannya.
Butuh usaha lebih bagi Casey untuk membujuk Daniel, agar Daniel tidak melarangnya untuk kembali bekerja.
Casey bahkan sudah memberikan penjelasan, bahwa alasan hingga dia bisa jatuh pingsan di pesta, itu hanya karena kegiatan di hari itu yang terlalu padat, tapi Daniel masih bergeming.
Setelah berkali-kali Casey membujuk Daniel, akhirnya di pagi ini, Daniel kemudian menyerah, dan Casey bisa diizinkan oleh Daniel untuk berangkat ke kantor.
***
Sebelum jam istirahat makan siang, Lionel sudah berada di ruang kerja Casey, dan duduk menunggu Casey di dalam sana.
"Lionel! ... Hmm...." Casey tidak tahu harus memulai dari mana pertanyaannya, sehingga dia akhirnya hanya bergumam.
"Ada apa?" tanya Lionel, tampak penasaran.
Lionel yang tadinya duduk di sofa, kemudian menghampiri Casey yang duduk di kursi kerjanya.
"Aku penasaran ... Apa mungkin, kalau Grandpa menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Casey, ragu-ragu.
"Ugh? ... Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" Lionel yang tampak bingung, balik bertanya.
"Sewaktu kita baru pulang dari rumah sakit di luar negeri, Grandpa memintaku, untuk berpura-pura seolah-olah aku mengingat orang tua dari Aaron....
... Ketika aku akan ditunjuk secara resmi, Grandpa mengungkit tentang perjodohan, dan bahkan, katanya dia ingin agar aku segera siap untuk menikah dengan Aaron," kata Casey.
"Hmm ... Itu wajar saja, bukan?" sahut Lionel, setelah sempat terdiam untuk beberapa saat.
"Tsk! ... Jika saja aku bisa mengingat semuanya. Mungkin tidak akan ada 'kepingan puzzle' yang hilang, yang bisa membuatku kebingungan," ujar Casey, kesal.
"Tidak perlu memaksakan diri untuk memikirkannya. Jangan sampai kamu 'jatuh' karena kelelahan lagi!" sahut Lionel.
Lionel kemudian bersandar di bagian pinggir meja kerja Casey, hingga mereka berdua hampir berhadap-hadapan di situ.
"Casey! ... Kepulangan kita dari luar negeri, kemudian penunjukanmu sebagai komisaris utama, itu sudah berhari-hari yang lalu....
... Kenapa kamu terpikir untuk membahasnya hari ini? Apa ada alasannya? Apa ada sesuatu yang membuatmu bisa memikirkan tentang itu semua?" ujar Lionel.
"Sewaktu aku jatuh pingsan, aku rasa aku mengingat pertemuanku dengan Aaron, untuk pertama kalinya," jawab Casey.
"Ugh? ... Ingatanmu mulai kembali? Kenapa kamu tidak mengatakannya sebelumnya?" tanya Lionel.
Lionel tampaknya sangat terkejut dengan pernyataan dari Casey itu, hingga Lionel sampai berdiri tegak, dan menatap Casey lekat-lekat.
"Apa kamu sudah memberitahu Grandpa, atau doktermu?" tanya Lionel.
"Belum ... Aku baru memberitahukannya padamu saja. Karena aku masih belum yakin, kalau itu memang adalah ingatan masa lalu, atau hanya sekedar mimpi," jawab Casey.
"Apa yang kamu ingat? Apa kamu mau menceritakannya padaku?" tanya Lionel, buru-buru.
"Tidak banyak ... Hanya waktu Aaron dan kedua orang tuanya berkunjung ke rumahku. Dan pertama kalinya aku berkenalan dengan mereka," jawab Casey.
"Itu bukan mimpi! Orang tua Aaron yang memang meminta Grandpa-mu mempertimbangkan, untuk menjodohkanmu dengan Aaron....
... Itu sebabnya, hingga mereka datang ke rumahmu, untuk memperkenalkan diri padamu. Dan tentu saja, mereka berharap agar kamu bisa tertarik pada Aaron—"
Kelihatannya, masih ada yang ingin dikatakan oleh Lionel saat itu, tapi dia tiba-tiba saja menghentikan perkataannya.
Kemudian, dengan terburu-buru, Lionel tampak ingin mengalihkan pembicaraan, dengan berkata,
"Semoga saja semua ingatanmu bisa segera kembali."
Walaupun Casey tahu kalau ada sesuatu yang mencurigakan, namun Casey tidak memaksa Lionel untuk bicara.
Karena menurut Casey, baik Lionel maupun Daniel tidak mungkin berniat buruk kepada Casey.
Maka dengan demikian, jika ada yang mereka sembunyikan, pasti mereka memiliki tujuan yang baik bagi Casey, nantinya.
Sehingga Casey pun berpura-pura, seolah-olah dia memang tidak menyadari, kalau Lionel masih menutup-nutupi sesuatu darinya, dan kemudian berkata,
"Ayo kita pergi makan siang! ... Aku lapar."
"Okay!" sahut Lionel, yang kemudian segera berjalan keluar dari ruangan itu, bersama dengan Casey.
Di kafetaria kantor, lagi-lagi, Oscar ikut duduk makan siang di satu meja yang sama, dengan Casey dan Lionel.
"Kenapa tidak ada dari kalian yang terlihat di sini, beberapa hari yang lalu?" tanya Oscar, membuka percakapan.
"Kami sedang melakukan perjalanan bisnis."
Oscar kemudian terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara Lionel hanya terdiam saja, sambil menatap Casey.
"Aku sudah mendapatkan nomor pribadi Steve, dari orang tuaku. Apa kamu masih menginginkannya?" ujar Oscar, sambil mengangkat kedua alisnya.
"Iya, tentu saja!" sahut Casey, bersemangat.
Oscar kemudian mengeluarkan ponselnya, dan tampak bersiap-siap menyampaikan apa yang terlihat di layar ponselnya, kepada Casey.
Begitu juga Casey, yang kemudian menyimpan angka-angka dari nomor ponsel Steve, yang disebutkan oleh Oscar, ke dalam ponselnya.
"Terima kasih!" ucap Casey, sambil tersenyum lebar, lalu memandangi nomor kontak Steve, yang ada sudah tersimpan di ponselnya itu.
"Sama-sama," sahut Oscar.
Casey berniat agar bisa berkomunikasi dengan Steve secepatnya, sehingga dia segera mengetikkan pesan di saat itu juga, lalu mengirimkannya ke kontak Steve.
"Di sana sekarang ini pasti sudah tengah malam," celetuk Oscar, yang tampaknya menyadari, kalau Casey baru saja mengirimkan pesan kepada Steve.
"Iya, aku tahu ... Justru itu aku hanya mengirimkannya pesan, karena aku tidak mau mengganggunya di saat dia sedang bekerja....
... Selain itu, dia akan memiliki cukup waktu, untuk mengingat siapa aku, yang tiba-tiba menghubunginya," sahut Casey, sambil tersenyum.
Makanannya belum habis disantap, namun tiba-tiba saja, ponsel Casey berbunyi, dan terlihat kontak Steve yang menghubunginya saat itu.
Casey tersenyum lebar, sambil memperlihatkan tampilan layar ponselnya kepada Oscar dan Lionel, dan berkata,
"Kelihatannya dia masih mengingatku dengan baik."
Casey kemudian segera menerima panggilan telepon yang masuk dari Steve itu, lalu menyapanya.
"Halo!"
"Halo! ... Casey?! ... Apa aku memang sedang bicara dengan Casey Roberts?" ujar Steve dari seberang telepon.
"Iya, Steve! ... Ini aku, Casey," sahut Casey. "Apa pesanku hanya mengganggu tidurmu?"
"Tidak apa-apa ... Aku sudah lama tidak mendengar kabarmu. Bagaimana? Apa ada alasan khusus, hingga kamu tiba-tiba menghubungiku?
... Jangan bilang kalau kamu merindukanku, setelah sekian lama kamu tidak pernah memberikan kabar apa-apa padaku," kata Steve.
Saat berbicara dengan Casey, Steve terdengar seolah-olah akan tertawa, di seberang sana.
"Aku memang menghubungimu karena aku merindukanmu," sahut Casey, sambil menahan tawa.
"Hahaha...!" Steve akhirnya tertawa di seberang. "Casey...! Ada apa sebenarnya?"
"Aku ingin bertemu denganmu. Apa kamu ada waktu?" ujar Casey.
"Hmm ... Kamu yang akan datang ke sini? Atau ... aku yang kamu minta untuk pergi ke negaramu?" sahut Steve.
"Aku membutuhkan bantuanmu di sini ... Kalau aku memintamu untuk datang ke sini, apa kamu mau?" tanya Casey.
"Hmm ... Tunggu sebentar!" sahut Steve, lalu terdengar seolah-olah ada sesuatu, yang sedang dia lakukan di seberang.
Untuk beberapa waktu lamanya Casey menunggu, Steve masih belum berkata apa-apa lagi.
"Halo, Casey?!" kata Steve, tiba-tiba.
"Iya, aku masih di sini," sahut Casey.
"Aku bisa mengosongkan jadwalku, kurang lebih dua minggu. Tapi kamu akan menjemputku nanti, bukan?" ujar Steve.
"Tentu saja!" jawab Casey. "Kapan kamu bisa bepergian?"
"Jika aku bisa mendapatkan tiket, maka besok sore, aku seharusnya sudah bisa melakukan perjalanan ke negaramu," jawab Steve.
"Okay! ... Jangan lupa untuk mengabariku nanti, jika kamu jadi datang ke sini," kata Casey.
"Okay! ... Bye, Casey! See you soon!" ujar Steve berpamitan.
"Bye, Steve! ... Can't wait to see you!" sahut Casey, kemudian memutuskan sambungan telepon itu.
"Kenalanmu itu akan ke sini?" tanya Lionel.
"Iya ... Kalau dia mendapatkan tiket penerbangan, maka besok lusa, dia mungkin sudah tiba di sini," jawab Casey.
"Hmm ... Apa Steve belum menikah?" tanya Casey, sambil menatap Oscar.
"Aku tidak tahu benar atau tidaknya ... Tapi kalau tidak salah, kata orang tuaku, Steve memang belum menikah," jawab Oscar, terdengar ragu-ragu.