
Casey mengemas beberapa pasang pakaiannya ke dalam sebuah koper.
Tidak banyak yang perlu dia bawa, karena kota yang menjadi tujuan rekreasi yang direncanakan perusahaan, adalah daerah yang tidak mengenal musim dingin.
Matahari yang bersinar terik di sepanjang tahun di kota itu, justru menjadi pertimbangan bagi Casey, untuk membawa pakaian yang tipis, khusus untuk musim panas.
Sembari memilih pakaian yang hendak dibawa olehnya, sesekali Casey teringat akan perbincangan yang dilakukannya dengan Steve dan Lionel, kemarin sore.
Butuh waktu dan penjelasan yang hampir berulang, barulah Lionel bisa mengerti akan apa yang dipikirkan oleh Casey dan Steve, tentang Aaron.
Namun pada akhirnya, Lionel justru tampak seolah-olah sedikit merasa iba kepada Aaron, setelah Steve ikut membantu menjelaskan tentang gangguan krisis kepercayaan diri, yang mungkin terjadi kepada Aaron.
Dan selain perbincangan tentang hal itu, Casey juga memberitahu, bahwa Aaron sudah setuju dengan saran dari Casey, untuk melakukan perubahan manajemen di dalam perusahaan.
Sehingga, rencana Casey untuk mengajukan Steve sebagai presiden direktur di perusahaan R&H Corp, akan dibatalkan oleh Casey.
Kemungkinan besar, Steve justru akan ditempatkan di jabatan lain di perusahaan, jika rapat umum pemegang saham sudah digelar.
Oleh karena itu, Casey tidak perlu terlalu memikirkan tentang pekerjaan itu untuk sekarang ini, dan bisa beristirahat sejenak di dalam perjalanan wisata.
***
"Miss! ... Mister Aaron Hamilton—"
Asisten rumah tangga Casey, yang berdiri di balik pintu kamar yang baru saja dibuka oleh Casey, tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Karena Aaron yang juga terlihat berada di sana, segera menyapa dan menyela, dengan berkata,
"Hai, Casey! ... Aku merindukanmu. Malam tadi, aku sebenarnya ingin datang ke sini untuk menemuimu lagi. Tapi aku tidak mau kamu nanti merasa jenuh, jika aku terlalu clingy."
Di saat itu juga, ketika Aaron berbicara sambil memeluk Casey, asisten rumah tangga Casey kemudian terlihat berlalu pergi dari sana, setelah mengucapkan kata permisi kepada Casey.
"Apa kamu sudah siap? ... Biar aku saja yang membawakan kopermu," kata Aaron, sambil melepaskan Casey dari pelukannya.
"Iya ... Kamu bisa mengambilnya." Casey menunjuk dengan gerakan matanya, koper yang akan jadi barang bawaannya, yang berada di dekat pintu walk-in closet.
Aaron kemudian berjalan memasuki kamar Casey, mengarah ke pintu ruangan khusus untuk menyimpan pakaian, dan segala perlengkapan penunjang penampilan milik Casey.
Atas permintaan Aaron, yang bahkan sampai menghubungi Daniel malam tadi, maka Casey akan bepergian bersama dengan Aaron, ke tempat tujuan wisata yang direncanakan oleh perusahaan.
Sementara Steve, akan bepergian dengan kendaraan terpisah, bersama-sama dengan Lionel.
"Apa kamu sudah merawat lukamu?" tanya Casey, sambil memakai jaketnya, dan mengeluarkan rambutnya yang terjepit di sela jaket dan punggungnya.
"Rasanya sudah lebih baik." Aaron mendekat, lalu memperlihatkan bekas luka gigitan Casey, di bibirnya itu. "Lukanya sudah kering, cukup dengan obat saja."
"Masih terlihat bengkak. Apa nanti tidak akan berbekas? Apa kamu tidak mengunjungi dokter?" ujar Casey.
"It's okay! ... Bukan masalah besar," sahut Aaron, sambil tersenyum.
"Ini akibat kesalahanku sendiri. Kalaupun nantinya akan berbekas, maka itu akan jadi pengingat untuk kelakuan bodohku, setiap kali aku melihat wajahku di cermin," lanjut Aaron.
"Huuufft...!" Casey mendengus pelan, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh, iya! ... Tunggu sebentar!" Aaron lalu tampak mengambil sesuatu, di saku bagian dalam dari jaketnya.
"Bodohnya aku! ... Aku benar-benar lupa, kalau aku mengantongi ini untukmu. Apa kamu masih mau menerimanya?" ujar Aaron, dengan suara dan raut wajah kecewa.
Aaron memegang sebatang cokelat, yang tampaknya sudah patah di beberapa bagian, hingga terlihat bengkok, dan tidak bisa diluruskan lagi.
"Pffftt...!" Casey tertawa tertahan, karena melihat bentuk cokelat batangan itu, dan begitu juga raut wajah Aaron yang tampak konyol, saat Aaron memaksa untuk meluruskan batangan cokelat itu.
"It's okay...!" kata Casey, lalu mengambil cokelat batangan itu dari tangan Aaron. "Ini masih bisa dimakan."
Casey segera membuka bungkusan cokelat, lalu menyantapnya sepotong, dan menyodorkan sepotong untuk Aaron. "Rasanya masih sama."
"Aku belum pernah mencobanya." Aaron lalu membuka mulutnya, agar Casey bisa menyuapkannya untuknya.
"Hmm ... Rasanya memang enak. Pantas saja jika kamu menyukainya," kata Aaron, yang tersenyum lebar, sambil mengunyah cokelat di dalam mulutnya.
"Bagaimana kamu bisa tahu, kalau aku menyukai cokelat ini?" tanya Casey, sekadar bertanya.
"Aku pernah melihatmu memakannya di rumah sakit," jawab Aaron. "Aku menduga, mungkin Lionel yang membawakannya untukmu waktu itu."
Casey terdiam, dan bahkan berhenti mengunyah potongan cokelat, yang baru saja disuapkannya ke dalam mulutnya.
Karena apa yang dibicarakan oleh Aaron, adalah rumah sakit di luar negeri, di mana Casey dirawat setelah mengalami kecelakaan.
Dengan demikian, maka Aaron sepertinya memang tidak berbohong, ketika Aaron berkata bahwa dia mengunjungi Casey di rumah sakit, tanpa sepengetahuan Casey.
"Ada apa? ... Apa kamu ingin aku membelikan cokelat yang baru?" tanya Aaron, menyentak Casey dari lamunannya.
"Ugh? ... Tidak. Ini sudah lebih dari cukup. Jika aku makan lebih banyak, aku nanti tidak akan berselera untuk makan siang," sahut Casey.
***
Aaron tampaknya mempersiapkan perjalanannya bersama Casey dengan baik.
Di dalam mobil Aaron, bahkan tersedia bantal dan selimut, yang bisa dipakai oleh Casey, agar bisa beristirahat dengan lebih nyaman, di sepanjang perjalanan.
"Kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan, katakan saja! ... Kita bisa singgah sebentar," ujar Aaron, yang sedang mengemudikan mobilnya, sambil menoleh ke arah Casey untuk sesaat.
"Tidak perlu mencemaskan hal itu. Cukup bangunkan aku saja, jika sudah waktunya makan siang, lalu aku masih tertidur," sahut Casey.
"Okay!" Sambil tetap mengemudi, Aaron lalu tampak berusaha menarik naik selimut dengan sebelah tangannya, hingga menutupi Casey sampai ke bagian lehernya.
"Bus yang dipakai pegawai, apa sudah berangkat?" Karena Casey belum merasa mengantuk, Casey mengajak Aaron berbincang-bincang, sekadar untuk mengurangi kobosanan.
Aaron menoleh ke arah Casey untuk sesaat, sebelum dia kembali menatap lurus ke depan.
"Aku rasa belum ... Karena rencananya, para pegawai akan bepergian, setelah jam istirahat makan siang," jawab Aaron.
"Lalu kenapa kita harus pergi dengan terburu-buru?" tanya Casey, sambil menaikkan sedikit sandaran joknya.
"Hmm ... Aku sengaja memilih untuk berangkat lebih dulu, agar kita bisa berkendara santai, dan aku tidak perlu mengebut di perjalanan," jawab Aaron.
"Kamu belum mengantuk?" tanya Aaron. "Ada minuman dan makanan ringan di dalam pendingin."
Casey kemudian membuka kotak pendingin yang tersedia di dalam mobil Aaron itu, lalu mengeluarkan sekaleng soda dan satu tabung keripik kentang.
Casey membuka tutup botol soda, kemudian menyodorkannya kepada Aaron.
"Ugh? ... Aku tidak menginginkannya," ujar Aaron, yang pada akhirnya tetap menerima kaleng soda dari tangan Casey. "Aku hanya memberitahumu, kalau-kalau kamu ingin minum atau makan camilan."
"Okay!" Casey mengambil kembali kaleng soda dari tangan Aaron, dan meneguk sedikit isinya. "Aku pikir, kamu menginginkannya, dan hanya tidak bisa mengambilnya sendiri, karena sedang mengemudi."
"Hmm ... Aku tidak mau soda. Tapi, aku mau kalau yang itu!" Aaron menunjuk bungkusan keripik kentang di tangan Casey, yang sudah terbuka tutupnya.
Casey mendekatkan bungkusan keripik kentang kepada Aaron.
Tapi Aaron terlihat kesulitan, untuk mengeluarkan isinya, hingga akhirnya, Casey justru yang menyuapkan camilan itu untuknya.
"Terima kasih," ucap Aaron.
"Tidak jadi masalah. Daripada kamu kehilangan konsentrasi, hanya karena keripik ini saja," sahut Casey, tanpa beban.
Sembari menyantap keripik, dan sesekali menyuapkannya kepada Aaron, Casey kemudian bertanya kepada Aaron, dengan berkata,
"Bagaimana dengan Julie? Apa kamu tidak memikirkan, kalau memutuskan hubungan secara sepihak, tentu akan sangat menyakitkan baginya?"
"Aku tahu, karena itu juga tidak mudah bagiku ... Tapi aku dan dia juga tahu, kalau meneruskan hubungan tanpa cinta, juga tidak ada gunanya," jawab Aaron.
"Butuh waktu bertahun-tahun lamanya, barulah kami bisa memahami, bahwa hubungan kami bukanlah berlandaskan oleh rasa cinta. Dia sudah menyadari, kalau aku telah salah menilai perasaanku untuknya....
...Dan begitu juga sebaliknya. Selama ini, dia bukan mencintaiku. Melainkan hanya merasa nyaman saja, karena kami yang sudah terlalu lama bersama....
... Julie mengasihaniku, karena aku yang sering di-bully. Sedangkan aku, ingin membalas kebaikannya, dengan berusaha untuk melindunginya," lanjut Aaron, yang berbicara secara perlahan-lahan.
"Lalu, kenapa sekarang? Setelah sekian lamanya, kenapa sekarang ini kalian bisa memikirkan ulang tentang hal itu?" tanya Casey.
Aaron menoleh ke arah Casey untuk sesaat, lalu kembali menatap lurus ke jalanan di depannya.
"Kamu pasti menganggapnya sebagai hal yang bodoh.... Sebenarnya akan lebih mudah dipahami, jika kamu masih mencintaiku. Tapi aku akan mencoba untuk menjelaskannya," sahut Aaron.
"Kamu mencintai Steve dalam waktu yang lama, hingga kamu menutup matamu untuk laki-laki lain, bukan? Tapi saat kamu bertemu denganku, kamu akhirnya bisa merasakan jatuh cinta lagi....
...Kurang lebih sama. Bedanya, karena aku dan Julie yang terlalu lama bersama, sehingga aku tidak pernah membuka mataku untuk wanita lain....
... Sampai akhirnya, karena rasa penasaran, aku memberanikan diri untuk memperhatikanmu. Dan aku tersadar, bahwa apa yang aku inginkan darimu, berbeda dari apa yang aku rasakan pada Julie," kata Aaron.
Aaron kemudian mengambil kaleng soda, yang sempat diminum oleh Casey tadi, dari tempat minuman yang terletak di antara jok.
"Itu bekasku! Aku bisa membukakan kaleng yang baru!" ujar Casey, menahan Aaron.
"Tidak apa-apa." Aaron segera meneguk sedikit cairan soda, lalu mengembalikan kalengnya ke tempatnya semula.
"Aku pernah menangkap basah, saat Julie melakukan hubungan s*x dengan laki-laki lain. Sampai berulang kali. Tapi aku tidak merasa cemburu, ataupun sakit hati....
...Aku bahkan bisa dengan mudahnya memaafkannya, dan tetap melanjutkan hubungan kami. Tapi tidak begitu keadaannya, saat aku melihatmu dengan Steve....
...Jangankan melihatmu berciuman dengannya secara langsung, seperti waktu itu. Hanya membayangkannya saja, hatiku terasa sangat sakit. Hingga rasanya, aku ingin memukul Steve, dan segera menjauhkannya darimu....
... Aku bahkan bisa merasa marah, karena Lionel dan Oscar, yang bisa dekat denganmu. Sementara kamu terus menghindariku, dan justru tampak membenciku," kata Aaron.