Memory Of Love

Memory Of Love
Part 14



Casey menuruni anak tangga, setelah salah satu dari asisten rumah tangganya menyampaikan pesan, bahwa ada beberapa orang yang ingin menemuinya, di lantai bawah.


Casey masih merasa lelah, karena dia yang baru saja tiba dari luar negeri kemarin sore, dan masih mengalami jet lag.


Namun Casey tetap menuruti permintaan Daniel, untuk bertegur sapa, dengan tamu yang khusus datang ke rumah mereka itu, untuk bertemu dengan Casey.


Di ruang keluarga, terlihat di sana seorang laki-laki dan perempuan, yang tampak seperti suami-istri, sedang duduk bersama Daniel. 


Yang kemudian kedua dari orang asing itu, tersenyum ketika melihat Casey yang berjalan mendekat.


"Casey! ... Mereka adalah Mister dan Mistress Hamilton." Daniel memperkenalkan siapa mereka, yang menjadi tamu di situ.


Casey kemudian saling menyapa, dengan sepasang suami-istri itu, sebelum mengetahui tujuan sebenarnya, kedatangan mereka menemui Casey. 


"Tunggu sebentar! ... Aaron sedang ke kamar mandi." Sambil tersenyum, Mistress Hamilton berbicara dengan suara yang bersemangat, saat mengatakan tentang seseorang, yang juga belum Casey kenal.


Tidak berapa lama setelah Casey ikut duduk dengan mereka, seorang laki-laki terlihat berjalan mendekat, kemudian segera diarahkan untuk berkenalan dengan Casey.


Jantung Casey berdegup kencang, dengan nafas yang tidak beraturan, ketika dia bertatap-tatapan, dan berjabat tangan dengan laki-laki itu, yang kemudian menyebutkan namanya.


"Aaron Hamilton."


"Auch!" Sambil memegang kepalanya, Casey segera mengeluhkan rasa sakit di dalam kepalanya itu, sesaat setelah dia terduduk.


"Casey! ... Berbaringlah dulu!" Lionel terdengar panik, sembari membantu Casey untuk kembali berbaring.


"Apa kepalamu masih terasa sangat sakit? Tunggu sebentar! Aku panggilkan dokter dulu," kata Lionel, kemudian berlalu pergi meninggalkan Casey.


Sembari menunggu Lionel kembali, Casey mengumpulkan kesadarannya, dan mengingat apa yang baru saja dia lihat.


Mungkin saja itu adalah sebuah mimpi, atau ingatannya di masa lalu, Casey tidak bisa memastikannya, walaupun detak jantungnya masih berdegup sangat kencang, seolah-olah hal yang dilihatnya itu adalah kejadian yang baru, dan memang benar-benar terjadi di saat itu.


Dengan tetap berbaring, Casey yang memejamkan matanya, lalu memijat-mijat pelipisnya, karena rasa sakit di kepalanya itu yang rasanya belum berkurang.


"Permisi, Miss Roberts! ... Biarkan saya memeriksa kondisi anda dulu!"


Terdengar suara dari seseorang yang asing, bersamaan dengan tangan Casey yang kemudian disingkirkannya, dari pelipis Casey.


Satu persatu mata Casey dipaksa untuk dibuka, kemudian mendapat pencahayaan dari lampu senter, yang diarahkan langsung ke matanya dalam jarak dekat.


"Apa Anda merasa pusing atau mual?" tanya seseorang asing itu, yang kemungkinan adalah seorang dokter.


"Tidak ... Hanya rasa sakit yang menusuk di dalam kepalaku," jawab Casey, yang sudah membuka matanya, dan melihat seorang dokter yang berdiri di dekatnya.


"Maafkan saya ... Tapi dengan riwayat kesehatan Anda, gejala yang muncul itu masih bagus. Anda berarti baik-baik saja....


... Anda hanya terlalu lelah, dan sebaiknya Anda beristirahat saja dulu," kata dokter itu, kemudian melakukan pemeriksaan yang lain, di tubuh Casey.


"Miss Roberts! ... Tolong jangan memikirkan apa-apa dulu! Cobalah untuk tetap tenang....


... Saya tidak bisa meresepkan obat pereda nyeri biasa, sebelum saya mendapatkan konfirmasi, dari dokter pengawas Anda," kata dokter itu lagi.


"Okay! ... Terima kasih!" ucap Casey.


"Sama-sama ... Saya permisi dulu!" Dokter itu kemudian berjalan menjauh, hingga tidak terjangkau oleh penglihatan Casey lagi.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa berada di rumah sakit?" tanya Casey kepada Lionel, yang terlihat menghampiri ranjang perawatan tempat Casey berbaring.


"Kamu jatuh pingsan. Bagaimana mungkin aku tidak membawamu ke rumah sakit, kalau begitu keadaanmu?!" sahut Lionel, yang terdengar cemas.


"Tsk!" Casey berdecak sebal, karena Daniel pasti akan menjadi sangat khawatir, kalau akhirnya Casey sampai 'jatuh' seperti sekarang ini.


"Bagaimana dengan Grandpa? ... Apa dia sudah tahu apa yang terjadi padaku?" tanya Casey.


"Casey! ... Kamu mungkin tidak mau aku memberitahu Grandpa-mu. Tapi, sejak kamu pingsan sejak malam tadi, kamu tidak ada tanda-tanda akan segera tersadar....


"Grandpa-mu datang ke sini di tengah malam tadi. Tapi aku memintanya untuk pulang dan beristirahat di rumah, dan biar aku saja yang akan menemanimu....


... Oh, iya! Aku beritahu Grandpa-mu dulu, kalau kamu sudah sadar," lanjut Lionel, kemudian mengeluarkan ponselnya, lalu menekan-nekan layar dari benda itu.


Ketika panggilan telepon itu tersambung, Lionel kemudian memberikan ponsel itu kepada Casey, agar bisa bicara langsung dengan Daniel.


Casey kemudian memberitahu kalau dia baik-baik saja, dan hanya butuh istirahat sesuai dengan saran dari dokter.


Setelah Casey sudah merasa cukup untuk berbicara dengan Daniel, ponsel itu kemudian dikembalikan Casey kepada Lionel, yang kemudian berkomunikasi dengan Daniel di situ.


Sementara itu, Aaron tiba-tiba sudah terlihat berjalan menghampiri Casey, sedangkan Casey tidak melihat kedatangannya di sana.


Casey sama sekali tidak menyadari kalau Aaron, mungkin sudah berada di ruangan itu bersamanya, selama beberapa waktu ini.


Lionel yang sudah selesai berbicara di ponsel, tampak menghalang-halangi Aaron yang ingin mendekati Casey, dengan berkata,


"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu sebelumnya?! Kamu hanya bisa melihatnya, tapi tidak untuk bicara dengannya....


... Jika bukan karena Mister Roberts, kamu bahkan tidak akan aku izinkan untuk berada di tempat ini."


"Lionel! ... Aku hanya ingin bicara sebentar dengannya. Aku tidak akan mengatakan sesuatu yang bisa mengganggunya."


Cukup mengejutkan bagi Casey, melihat Aaron yang tampak seperti tidak bernyali, untuk membuat Lionel menjadi semakin kesal.


Aaron justru tampak seperti sedang memelas kepada Lionel, agar dia bisa berbicara dengan Casey.


Ditambah lagi, di bagian sudut bibir Aaron terlihat ada luka memar di sana, seolah-olah ada seseorang yang telah memukuli wajahnya itu.


"Lionel...! Biarkan saja dia mendekat! Aku juga ingin tahu, apa yang ingin dia katakan," ujar Casey.


Lionel mendengus kasar, namun akhirnya dia mau saja memberikan kesempatan bagi Aaron, untuk menghampiri Casey.


Walaupun Aaron sudah berdiri sangat dekat dengan Casey, namun laki-laki itu masih belum mengutarakan sesuatu yang ingin dia bicarakan.


"Hmm ... Apa yang terjadi dengan wajahmu?" tanya Casey, membuka percakapan, setelah mereka hanya terdiam saja di sana untuk beberapa saat.


"Maafkan aku...." Aaron berucap, dengan suaranya yang terdengar ragu.


"Untuk apa?" tanya Casey.


"Aku tidak tahu ... Maksudku, aku tahu kalau kamu sedang kurang sehat. Tapi aku tidak menyangka kalau kondisimu seburuk itu. Dan aku justru memaksakan kehendakku," jawab Aaron.


"Aku tidak butuh rasa kasihan darimu," sahut Casey, datar. "Kalau hanya itu saja yang ingin kamu katakan, sebaiknya kamu pergi. Aku masih ingin beristirahat."


"Casey...!" ujar Aaron dengan suara dan raut wajah memelas.


"Aaron! ... Kamu mungkin hanya mengingat bagaimana aku di dua tahun yang lalu. Tapi, apa kamu tidak menyadarinya? Casey yang kamu kenal itu, sudah tidak ada lagi," kata Casey.


"Sekarang ini, aku lebih suka mengurus pekerjaan, daripada urusan pribadi. Kamu mengerti maksudku?" lanjut Casey, menekankan pernyataannya.


"Apa maksudmu, sekarang ini kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Kalau memang benar begitu, lalu atas dasar alasan apa hingga kamu merisak Julie?


... Aku tidak mengerti. Apa itu semua kamu lakukan untuk balas dendam? Atau itu adalah caramu untuk bersenang-senang?" ujar Aaron.


Casey terbelalak, karena rasa tidak percayanya.


Apakah Aaron memang selalu sebodoh itu?


Casey benar-benar tidak habis pikir, dengan apa yang menjadi reaksi dari Aaron, yang masih saja menganggap kalau Casey sengaja membully Julie.


"Aaron! ... Di gedung kantor ada CCTV, bukan? Kenapa kamu tidak memeriksanya?" sahut Casey.


"Lionel! ... Bawa dia keluar dari sini! Kalau dia menolak, panggilkan saja pihak keamanan rumah sakit," ujar Casey, sambil memijat-mijat dahinya, dan memejamkan matanya.