Memory Of Love

Memory Of Love
Part 12



Di jam istirahat makan siang, Casey yang memilih untuk makan di kafetaria, bukan hanya di temani oleh Lionel. 


Setelah mendapatkan persetujuan dari Casey, Oscar juga ikut duduk di satu meja yang sama dengannya.


Di saat itu, Casey juga melarang Oscar untuk bicara terlalu formal dengannya, dan justru menyuruh Oscar untuk bersikap santai, seperti hanya sedang bersama temannya yang lain.


"Apa mungkin kalau kamu mengenal Steve Dale?" tanya Casey pada Oscar, di sela-sela percakapan, saat mereka sedang makan siang itu.


"Aku memiliki sepupu yang bernama Steve," jawab Oscar, lalu tampak menautkan kedua alisnya. "Tapi apakah itu 'Steve' yang kamu maksud?" 


"Hmm ... Coba saja!" ujar Casey, meminta Oscar menjelaskan tentang sepupunya itu.


"Dia menetap di negara xx!" kata Oscar.


"Yang aku tahu, dia sudah mendapatkan gelar Ph.D, sejak beberapa tahun yang lalu. Sehingga di sekarang ini, dia bekerja sebagai seorang profesor di universitas xx," lanjut Oscar, lagi.


"Iya ... Dia memang orang yang aku maksud," sahut Casey, sambil tersenyum.


"Bagaimana kamu bisa mengenalnya? Dia tidak pernah datang ke negara ini." Oscar tampak penasaran.


"Dia seniorku di universitas xxx," jawab Casey.


"Wow! ... Ternyata kamu lulusan dari universitas bergengsi," ujar Oscar bersemangat. 


"Kamu pasti akan merasa lebih kagum lagi, kalau kamu tahu Casey berhasil lulus dengan predikat Summa Cum Laude," kata Lionel, menimpali, sambil tersenyum melihat ke arah Casey.


"Lionel...! Jangan membuatku malu...!" Casey menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu lanjut berkata,


"Aku dulu memiliki kontak pribadi dari Steve. Tapi sesuatu terjadi pada ponselku, sehingga aku tidak tahu cara menghubunginya lagi....


... Apa kamu memiliki kontak pribadinya? Ada yang ingin aku bicarakan dengannya."


"Hmm ... Apa kamu mencarinya, karena ada hubungannya dengan pekerjaanmu?" tanya Oscar.


Casey kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya ... Aku ingin berkonsultasi secara langsung dengannya."


"Aku tidak memiliki nomor ponselnya. Tapi aku nanti akan menanyakannya kepada orang tuaku," kata Oscar.


"Okay! ... Terima kasih sebelumnya!" ucap Casey.


Sebelum jam istirahat makan siang itu berakhir, Oscar jadi semakin sering menatap Casey lekat-lekat. 


Casey kemudian mengangkat kedua alisnya, bertanya kepada Oscar, tanpa mengeluarkan suaranya.


"Hmm ... Maafkan aku, tapi aku benar-benar penasaran," kata Oscar.


"Ada apa?" tanya Casey, yang justru ikut jadi penasaran.


"Apa kamu tidak merasa terintimidasi, saat kamu menjadi yang termuda, lalu menjadi komisaris utama?" Oscar terlihat ragu-ragu saat bertanya kepada Casey.


"Aku rasa tidak ... Apalagi, banyak yang mendukungku. Salah satunya adalah dia ini!" jawab Casey, sambil tersenyum dan menunjuk Lionel, yang ikut tersenyum karenanya.


"Miss Julie Tosch ... Dia selalu saja menekanku saat bekerja," celetuk Oscar, tiba-tiba.


"Aku bukannya ingin membicarakan keburukannya. Tapi aku rasa, karena dia yang lebih tua dariku, dan karena hubungannya dekat dengan CEO, sehingga dia sering berkata kasar padaku....


... Selain itu, dia juga bertingkah semena-mena, terhadap semua anggota tim R&D, yang rata-rata masih sebaya denganku, dan bahkan ada yang lebih muda dariku," lanjut Oscar, dengan raut wajahnya yang tampak kecewa.


"Berapa usiamu sekarang ini?" tanya Casey, penasaran.


"Dua puluh enam," jawab Oscar.


"Hmm ... Masih muda sudah menjadi manajer. Kamu patut berbangga. Tidak perlu terlalu memikirkan tentang kelakuan Atasanmu, jika kamu menganggap itu adalah hal yang buruk....


... Lakukan saja pekerjaan kalian dengan baik! Jika dia tidak menghargaimu, itu tidak akan jadi masalah besar. Karena jika kamu memang tidak kompeten, kamu pasti sudah dipecat," sahut Casey.


"Sikap arogan Miss Julie, semakin menjadi-jadi, setelah CEO tidak lagi sembunyi-sembunyi berhubungan dengannya," kata Oscar.


"Jika saja waktu itu orang lain yang menolong CEO, maka belum tentu dia bisa berkencan dengannya," lanjut Oscar, seolah-olah sedang menggerutu.


"Ugh? ... Apa maksudmu?" tanya Casey, yang cukup terkejut dengan pernyataan dari Oscar.


"Kakakku yang menceritakannya. Katanya, sewaktu mereka masih di universitas, Mister Hamilton mengalami pembullyan, hingga babak belur dan jatuh pingsan....


... Dan kebetulan, di saat itu Miss Julie yang menemukannya lebih dulu. Kemudian Miss Julie yang menolongnya, dengan segera menghubungi nomor darurat," jawab Oscar.


"Pffftt...! So that's it? ... Love story, just like in the movies?!" ujar Casey, sambil tertawa.


Oscar menganggukkan kepalanya. 


"Iya ... Apa kamu tidak percaya? Kamu bisa menanyakannya langsung kepada kakakku. Dia bekerja di kantor pemerintahan." 


Oscar yang tampak seperti anak kecil yang sedang membela diri, hanya membuat Casey tertawa geli karenanya.


"Iya, iya! Aku percaya padamu! ... Aku tertawa hanya karena merasa lucu saja. Ternyata kisah cinta seperti itu memang ada," sahut Casey, sambil tersenyum.


***


Menurut Daniel, di pesta yang dibicarakannya malam tadi, Roberts grup mengundang beberapa petinggi dari perusahaan, yang memiliki hubungan bisnis dengan Roberts grup.


Selain itu, beberapa investor asing yang rencananya akan menjalin hubungan kerjasama dengan Roberts grup, juga akan hadir di sana.


Daniel tidak akan pergi ke acara itu, dan memilih untuk beristirahat di rumah saja, setelah jadwal kerjanya yang padat, beberapa waktu belakangan ini.


Sehingga dengan tidak adanya Daniel, Casey lah yang akan menjadi 'wajah' bagi Roberts grup, di acara pesta itu nanti.


Oleh karena itu, sepulangnya dari kantor, Casey sempat singgah berbelanja gaun dan sepatu yang cocok, untuk dipakainya saat pergi ke pesta.


Casey ingin tampil sebaik mungkin, di depan para petinggi di bidang bisnis yang akan hadir di pesta, yang diadakan Roberts grup di sebuah tempat, yang memiliki lapangan golf dan sanggraloka itu.


Rencana awal dari Casey, dia hanya akan pergi ke sana bersama dengan Lionel, tapi Daniel kemudian meminta, agar Casey bisa pergi bersama dengan Aaron.


Casey tidak bisa menolak permintaan Daniel.


Sebelum Aaron datang menjemputnya, Casey sudah siap, dengan mengenakan gaun panjang yang terbuka di bagian punggungnya, berwarna biru malam.


Riasan wajah Casey sangat tipis dan tetap menonjolkan wajah aslinya, dan begitu juga rambut panjangnya yang tergerai bebas, menutupi samar-samar kulit punggungnya.


Ketika Casey akan keluar dari kamarnya, di saat itu juga asisten rumah tangga di rumahnya itu terlihat sudah berdiri di sana, dan kemudian berkata,


"Miss! ... Anda ternyata sudah siap. Mister Hamilton telah menunggu Anda, di bawah."


"Okay! ... Aku akan segera turun," jawab Casey, lalu kembali ke dalam kamar, sekali lagi memeriksa pantulan dirinya di cermin, untuk memastikan kalau dia tidak terlihat buruk.


Di anak tangga terakhir, terlihat Aaron sudah berdiri di sana, berpakaian rapi, dan tampak memang sudah menunggu Casey.


Aaron tampak memandangi Casey, dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya, tanpa berkata apa-apa.


"Sudah lama menunggu?" tanya Casey, sekadar saja.


"Penampilanmu kali ini terlalu memaksa," ujar Aaron, dengan perkataan yang melenceng dari pertanyaan Casey.


"Pffftt...! Apa aku terlihat cantik?" sahut Casey, sambil tertawa mengejek, dan berjalan melewati Aaron.


Setelah berpamitan kepada Daniel, Casey kemudian segera pergi bersama dengan Aaron.


***


"Quindi sei il successore del Roberts Group? ... Piacere di conoscerti!" 


("Jadi, apakah Anda penerus Roberts Group? ... Senang bertemu denganmu!")


"SÌ ... Sono anche felice, perché potrei incontrarti."


("Ya ... Aku juga senang, karena bisa bertemu denganmu.")


"Vi kommer att försöka etablera ett gott samarbete med dig."


("Kami akan berusaha menjalin kerja sama yang baik dengan Anda.")


"Jag vet det ... Och jag ska se till att vi kommer att arbeta tillsammans länge."


("Saya tahu itu ... Dan saya akan memastikan bahwa kita akan bekerja sama untuk waktu yang lama.")


Belum berapa lama Casey tiba di pesta itu, atas perkenalan yang dilakukan asisten pribadi Daniel, satu persatu tamu yang penting untuk kerjasama bisnis, menyapa dan berbincang-bincang dengan Casey.


Dan walaupun beberapa dari para tamu itu, menggunakan bahasa dari negaranya masing-masing, namun Casey tidak kesulitan untuk berkomunikasi dengan mereka.


Sembari berbincang-bincang dengan para tamu yang menghampirinya, Casey hanya memegang gelas sampanye, tanpa menyesap cairannya walau hanya sedikit.


Aaron yang berdiri di dekatnya, kelihatannya memperhatikan gerak-gerik Casey, hingga dia kemudian berbisik-bisik di telinga Casey, dengan berkata,


"Apa kamu punya kebiasaan buruk saat mabuk? Sehingga kamu tidak berani menyentuh—sampanye—nya, agar tidak merusak image-mu."


"Apa kamu merasa sebosan itu, sampai kamu jadi merasa ingin mengusikku?" Casey mengangkat gelasnya, dan mengarahkannya kepada Aaron. 


"Kamu bisa minum sampai mabuk. Karena aku nanti bisa pulang bersama Lionel," lanjut Casey, tanpa beban.


"Signorina ... Vuoi ballare con me?" 


("Nona ... Apakah Anda ingin berdansa dengan saya?")


Sebelum Aaron sempat menanggapi perkataan Casey, salah satu tamu yang tadi sempat berbincang-bincang dengan Casey, kemudian mengajak Casey untuk berdansa dengannya.


Casey menyetujui ajakan dari laki-laki yang berasal dari negara yang berbeda itu, kemudian berdansa dengannya.


Sementara Casey berdansa dengan salah satu tamu itu, sesekali, saat Casey bisa melihat ke arah Aaron, Casey menangkap sesuatu di raut wajah laki-laki itu.


Aaron yang memandangi Casey dan tamu laki-laki yang berdansa dengannya, tampak seolah-olah Aaron sedang merasa marah saat itu.


Namun Casey tidak perduli. 


Menurut Casey, dia tidak memaksa Aaron untuk ikut dengannya, jadi kalau Aaron merasa bosan di pesta itu, maka itu bukanlah kesalahan Casey.


Tiba-tiba saja, Aaron terlihat sudah berdiri di dekat Casey, kemudian berkata,


"Mi scusi! ... Voglio ballare con lui."


("Permisi! ... Saya ingin berdansa dengannya.")


Cukup mengherankan, karena Aaron yang ternyata menghampirinya, adalah untuk meminta kesempatan, agar dia bisa berdansa dengan Casey.


Tamu yang tadinya berdansa dengan Casey, kemudian mempersilahkan Aaron, untuk bergantian dengannya.


Akan tetapi, ketika orang itu pergi, Casey kemudian berkata kepada Aaron. "Aku sudah lelah! ... Kamu bisa berdansa dengan orang lain saja!" 


Dengan cepat, Aaron merangkul pinggang Casey, agar tidak bisa berjalan menjauh darinya.


"Jangan ke mana-mana! ... Jangan coba-coba untuk mempermalukanku!" ujar Aaron.


"Ada apa denganmu? ... Apa kamu sudah mabuk?" tanya Casey, yang hanya berdiri terdiam di tempatnya, sambil menatap Aaron lekat-lekat.


Seketika itu juga, Aaron tampak geram, dan mempererat rangkulannya, hingga Casey benar-benar menempel di badannya.


Casey yang tidak ingin menarik perhatian dari orang-orang di situ, kemudian mengikuti gerakan berdansa Aaron yang perlahan.


Tiba-tiba, Casey merasa kalau tangan Aaron seolah-olah sedang meraba-raba di punggungnya, hingga Casey merasa sangat kesal dibuatnya, kemudian berkata,


"Lepaskan aku! ... Kecuali kamu ingin aku menamparmu!"


"Coba saja! ... Bukankah laki-laki tadi juga menyentuhmu? Kenapa kamu tidak marah kepadanya?" sahut Aaron.


"Apa kamu sedang bercanda?" tanya Casey, dengan rasa tidak percaya. "Lepaskan aku, sekarang!"


"Honey! ... Kamu adalah tunanganku," sahut Aaron, sambil tersenyum sinis.