
Jam istirahat makan siang belum berakhir, namun Casey yang sudah selesai makan, dan ingin membersihkan tangannya lebih dulu, memilih untuk segera pergi ke restroom.
Ketika Casey keluar dari kamar mandi umum itu, terlihat Steve ada di sana, dan begitu juga Aaron, dan mereka berdua tampak sedang berbincang-bincang di situ.
"Aaron! ... Steve! ... Apa yang kalian berdua lakukan di sini?" tanya Casey, heran.
"Aku tadi pergi ke restroom, dan tidak sengaja bertemu dengan Mister Hamilton," jawab Steve.
Casey memandangi Steve dan Aaron, bergantian, lalu menghentikan pandangannya pada Steve, kemudian berkata,
"Apa kamu masih akan bertahan di sini? ... Aku akan kembali ke lantai atas."
"Casey!" ujar Aaron, hingga Casey melihat ke arahnya.
Walaupun Aaron seolah-olah ingin menahan Casey, namun dia terlihat ragu-ragu, dan justru melihat ke arah Steve, untuk beberapa saat, sebelum dia kembali melihat ke arah Casey.
"Ada apa?" tanya Casey.
"Hmm ... Apa aku bisa bicara berdua saja denganmu?" tanya Aaron.
"Huuffft...!" Casey mendengus kasar, kemudian melihat ke arah Steve, dan berkata,
"Steve! ... Maafkan aku. Tapi, apa kamu bisa menunggu di depan sana sebentar? Aku rasa, aku tidak akan lama bicara dengannya."
Steve tidak segera menanggapi perkataan Casey, melainkan memandangi Casey dan Aaron bergantian, barulah kemudian dia menganggukkan kepalanya, saat pandangannya terhenti pada Casey.
"Okay!" ujar Steve, kemudian berjalan menjauh dari situ.
"Ada apa lagi?" tanya Casey.
"Aku rasa dia menyukaimu," kata Aaron.
"Ugh? ... Apa maksudmu?" tanya Casey.
"Steve ... Aku rasa dia menyukaimu." Aaron mengulang perkataannya.
"Apa kamu menyukainya? Maksudku, apa kamu juga tertarik secara romantis padanya?" lanjut Aaron, buru-buru.
"Apa kamu sadar, kalau tingkahmu yang terlalu ingin tahu, itu sangat menggangu?" tanya Casey.
"Aku anggap kalau kamu memang tertarik kepadanya. Benar, begitu?" tanya Aaron, seolah-olah sedang membuat praduganya sendiri, tanpa memperdulikan pertanyaan Casey tadi.
"Kalau aku tertarik kepadanya, lalu apa masalahnya?" tanya Casey, sambil mengerutkan keningnya.
"Casey...! Aku...." Aaron tampak seperti kehabisan kata-kata untuk bicara.
"Huuufft...!" Casey mendengus kasar. "Tidak mungkin kamu merasa terganggu dengan hal itu, bukan?"
Jika melihat gelagat dari Aaron, tampaknya masih ada yang ingin dia katakan, namun seolah-olah dia ragu untuk mengutarakannya, dan hanya menatap Casey lekat-lekat, dengan memasang ekspresi yang tidak bisa dimengerti oleh Casey.
"Apa masih ada lagi yang kamu bicarakan?" tanya Casey.
Aaron terdiam.
"Aku pergi dulu!" ujar Casey.
Casey kemudian segera berlalu pergi meninggalkan Aaron, dan menyusul Steve yang masih menunggunya, tidak jauh dari situ.
"Apa ada masalah?" tanya Steve.
"Ah! ... Aku tidak tahu apa yang dia inginkan. Aku sudah bertanya, tapi...." Casey tidak mau membahas tentang Aaron lebih jauh.
"Ayo kita pergi dari sini!" kata Casey, mengajak Steve.
***
Di dalam ruang kerjanya, walaupun tanpa memperlihatkan data umum perusahaan, Casey memberitahu secara garis besar tentang manajemen perusahaan, yang dianggapnya kurang maksimal, kepada Steve.
Dan kurang lebih sama seperti apa yang dipikirkan oleh Casey, Steve juga setuju, kalau beberapa bagian dari perusahaan itu memang sebaiknya diubah.
"Pendapatku itu hanya sekadar saja. Akan lebih baik, kalau kamu membicarakannya dengan CEO. Lalu lihat bagaimana tanggapannya....
... Aku merasa tidak nyaman, jika aku yang sebagai orang luar, lalu dianggap terlalu masuk campur, dan ikut-ikutan memberikan pendapat," kata Steve.
Casey mengerti dengan baik, apa maksud dari Steve itu, jadi dia tidak berkomentar apa-apa, dan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apalagi, kelihatannya CEO tidak suka dengan keberadaanku," lanjut Steve, tiba-tiba.
Steve yang tampak ragu-ragu, tidak menjawab pertanyaan Casey, dan justru balik bertanya, dengan berkata,
"Maafkan aku ... Tapi ... Casey! Selain dari hubungan kerja, apa kamu ada hubungan lebih dengan CEO?"
"Tidak ada ... Apa kamu tidak dengar yang aku katakan sebelumnya? Dia tidak menyukaiku," jawab Casey.
"Hmm ... Aku rasa kamu telah salah menilainya. CEO menyukaimu. Mungkin lebih tepatnya, dia tertarik kepadamu....
... Dan bukan sekadar teman, kenalan ataupun rekan kerja. Dia menyukaimu lebih dari itu," kata Steve.
"Pffftt...!" Casey tertawa, sambil menutup mulutnya dengan tangannya yang terkepal.
"Maafkan aku ... Aku tidak berniat untuk menertawakanmu. Tapi aku yakin, kalau dia sebenarnya membenciku. Dia hanya berpura-pura baik kepadaku....
... Karena dia tentu khawatir, jika aku menjadi musuh baginya, lalu aku mengguncang jabatannya," kata Casey, sambil tersenyum sinis saat membayangkan wajah Aaron.
Walaupun dia tidak berkata apa-apa, namun Steve tampak seolah-olah tidak percaya, dengan apa yang dikatakan oleh Casey.
Casey menyandarkan punggungnya di sofa.
Kemudian, tanpa diminta oleh Steve, Casey lalu menjelaskan alasan dia bisa membuat dugaannya tadi, dengan berkata,
"Sebelum aku menjabat sebagai komisaris utama di perusahaan ini, Aaron tidak pernah memperhatikan keberadaanku....
...Bahkan, walaupun kekasihnya yang menggangguku lebih dulu, dan mencoba untuk mempermalukanku di depan orang banyak, tapi justru aku yang dimarahi olehnya....
... Lalu tiba-tiba saja, setelah aku mengambil jabatan tertinggi di perusahaan ini, dia lalu menjadi lebih perhatian, dan seolah-olah ingin berhubungan baik denganku."
"Bagaimana menurutmu?" tanya Casey, sambil menatap Steve lekat-lekat, dan menaikkan kedua alisnya.
"Hmm ... Kalau begitu, mungkin saja aku yang telah salah menilainya," kata Steve.
"Karena saat dia berbincang-bincang denganku tadi, dia tampak seperti seseorang yang sedang merasa cemburu," lanjut Steve, mengutarakan apa yang dipikirkannya.
"Aku rasa, kalau dia tampak tidak menyukai keberadaanmu, karena dia mungkin sudah merasa curiga...,
... kalau aku sedang berencana akan mempekerjakanmu, jika aku mengubah manajemen perusahaan ini," ujar Casey.
"Ugh?" Steve terlihat bingung. "Apa maksudmu?"
"Jika kamu setuju untuk bekerja di sini, maka aku berencana mengajukanmu, untuk menjabat sebagai presiden direktur, di dalam rapat shareholders," jawab Casey.
"Oh, my goodness! ... Apa aku tidak salah dengar? ... You can't be serious!" Steve tampak terkejut, namun akhirnya dia hanya tertawa kecil.
"Apa kamu pikir kalau aku hanya bercanda?" tanya Casey.
Steve terdiam untuk beberapa saat, sehingga Casey melanjutkan penjelasannya, dengan berkata,
"Roberts grup memiliki 62 persen saham R&H Corp. Sisanya dipegang oleh Hamilton grup....
...Aaron ditunjuk sebagai CEO, hanya karena Roberts grup menghargai Hamilton, yang menjadi pencetus untuk mendirikan perusahaan ini....
... Sebagai perwakilan utama dari Roberts grup, aku tentu bisa menyingkirkan Aaron kapan saja. Tapi aku tidak akan melakukannya. Apalagi jika hanya berdasarkan alasan pribadi."
"Sejujurnya, aku lebih berfokus agar perusahaan ini bisa lebih menghasilkan bagi Roberts grup, sehingga aku bahkan hanya akan memberikanmu masa percobaan di perusahaan ini....
... Dan jika kamu berhasil memimpin, sampai target yang diharapkan oleh Roberts grup tercapai, maka kamu akan dipertahankan," lanjut Casey.
"Jadi kamu ingin aku bekerja di sini, karena kamu ingin agar aku masuk di jajaran direksi, dan bisa mengawasinya secara langsung?" tanya Steve.
"Iya ... Karena ada beberapa hal, yang aku rasa tidak sesuai dengan tujuan perusahaan, namun dugaanku itu belum terbukti....
... Walaupun demikian, aku tidak ingin membuang-buang waktu di perusahaan ini. Aku ingin agar segera terjadi perubahan, di dalam manajemennya," jawab Casey.
Kali ini, dengan sedikit menundukkan pandangannya, Steve tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu di situ.
"Aku tahu kalau memiliki tujuan yang baik. Tapi apakah rencana yang kamu pikirkan itu tidak terlalu ekstrem?" ujar Steve.
"Hmm ... Akan lebih ekstrem yang mana, jika dibandingkan dengan aku yang langsung membuang CEO?" sahut Casey.
"Wow! ... Apa kamu sungguh-sungguh berpikiran sampai sejauh itu?" tanya Steve, tampak tersentak.
"Tentu saja! ... Jika Aaron memang tidak kompeten, untuk apa jabatannya harus dipertahankan?" sahut Casey, mantap.