Memory Of Love

Memory Of Love
Part 17



Percakapan yang cukup intens dengan Aaron, tampaknya memang memicu otak Casey untuk bereaksi, hingga semalam, Casey kembali bermimpi. 


Sayangnya, sepenggal ingatan yang muncul seperti sebuah mimpi itu, dianggap Casey tidaklah banyak bermakna.


Sehingga Casey lebih memikirkan Steve, yang kurang lebih pukul sembilan malam tadi, memberi kabar kepada Casey, kalau dia telah mendapatkan tiket penerbangan lintas negaranya, untuk mendatangi Casey.


Oleh karena itu, di pagi ini, sebelum Casey berangkat ke kantor, sembari menikmati sarapannya, Casey memperbincangkan rencananya kepada Daniel.


"Hmm ... Jadi, dia—Steve—hanya memiliki sedikit waktu, dalam kunjungannya ke negara ini?" tanya Daniel. 


"Iya," jawab Casey. "Kenapa, grandpa?"


"Kalau dia setuju, kamu ajak dia menginap di rumah ini saja, daripada membiarkannya menginap di hotel. Agar temanmu itu, bisa dilayani dengan baik.... 


... Dia bisa menggunakan satu kamar kosong, yang ada di lantai bawah," kata Daniel.


"Hmm ... Okay!" sahut Casey, yang menganggap kalau saran dari Daniel itu, memang bisa dipertimbangkan.


"Dia baru akan memulai perjalanannya pagi ini. Jadi paling tidak, besok pagi barulah dia bisa tiba di sini," lanjut Casey.


"Grandpa jadi penasaran, akan bagaimana temanmu itu, hingga kamu bisa mengundangnya untuk mengunjungimu....


... Dan dia mau saja, walaupun dia harus melintasi benua, hanya untuk bertemu denganmu," ujar Daniel, sambil tersenyum.


"Grandpa...! Kenapa Grandpa jadi seperti Lionel?!" Casey menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Aaron?" tanya Daniel.


Casey yang baru saja menyuapkan sesendok makanannya, kemudian mengangkat pandangannya, dan menatap Daniel.


"Grandpa! ... Apa ada yang Grandpa sembunyikan dariku?" Casey balik bertanya, setelah beberapa saat dia dan Daniel hanya terdiam, dan saling menatap.


Daniel tidak segera menjawab pertanyaan Casey.


Daniel justru mengalihkan pandangannya dari Casey, kemudian melihat ke arah meja di depannya, dan terlihat seperti Daniel sedang memperhatikan makanannya itu saja.


"Tidak ada," jawab Daniel, lalu menyuapkan sesendok sup ke dalam mulutnya.


"Bagaimana tanggapan Grandpa, kalau aku membatalkan pertunanganku dengan Aaron?" tanya Casey, mencoba mendesak Daniel.


"Kamu ingin membatalkannya dengan alasan apa? Jika hanya karena kamu tidak mengingatnya, maka sepertinya tidak ada yang akan menerima hal itu," sahut Daniel.


"Kamu harus memiliki alasan yang lebih masuk akal, agar tidak ada yang bisa menolaknya," lanjut Daniel.


"Apa Grandpa tidak tahu? Aku sampai jatuh pingsan, karena aku sudah lelah dengan semua kegiatanku, kemudian Aaron masih memancingku untuk berdebat....


... Hal yang diperdebatkannya pun, tidak ada yang masuk akal. Dia tidak mencintaiku, Grandpa. Aaron sudah memiliki kekasih," kata Casey, tanpa mau menahan dirinya lagi.


Yang cukup mengherankan bagi Casey, Daniel seolah-olah tidak terkejut dengan pernyataan dari Casey itu. 


Daniel masih terlihat tenang, sembari tetap menikmati suapan demi suapan supnya.


"Dari mana kamu tahu, kalau Aaron sudah memiliki kekasih? ... Kalau hanya berdasarkan rumor, kamu tidak akan bisa menjadikannya sebagai alasan," ujar Daniel.


"Itu bukan sekadar rumor, Grandpa! ... Aaron sendiri sudah mengakuinya padaku. Hal yang diperdebatkannya denganku, itu tentang kekasihnya....


... Aaron mengira, kalau aku merisak kekasihnya itu. Dia bahkan berkata, bahwa aku bisa memiliki tubuhnya, tapi tidak dengan hatinya," sahut Casey, bersikeras.


Walau hanya sekejap, Casey sempat menangkap ekspresi geram di wajah Daniel, sebelum raut wajah Daniel kemudian kembali terlihat biasa saja.


"Casey...! Walaupun hanya sedikit, apa ingatanmu ada yang sudah mulai kembali?" tanya Daniel, terdengar seperti sedang mengalihkan pembicaraan.


"Iya, Grandpa ... Sudah dua kali aku mengalami sesuatu yang seperti mimpi, namun terasa nyata," jawab Casey.


Daniel mengangkat pandangannya dan menatap Casey lekat-lekat, sambil berkata, "Bagus!" 


Daniel kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu berkata,


"Kita akan membicarakannya lagi nanti, saat sebagian besar dari ingatanmu sudah kembali....


... Grandpa harus ke kantor sekarang. Ada investor baru yang ingin bertemu dengan Grandpa."


"Grandpa!" ujar Casey, mencoba menahan Daniel.


"Kamu adalah orang yang pintar. Kamu pasti tahu yang terbaik, yang harus kamu lakukan. Tapi tentu saja bukan sekarang ini," sahut Daniel. 


Daniel menghampiri Casey, yang juga sudah berdiri dari tempat duduknya.


Daniel kemudian memeluk Casey, sambil berkata,


"Jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja! Minta bantuan jika kamu merasa lelah. Grandpa menyayangimu."


***


Lionel melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Casey, hingga Casey mengangkat pandangannya, dan melihat ke arah Lionel yang berdiri bersandar, di meja kerja Casey.


"Kamu memang menatap layar komputer, tapi kamu tidak memperhatikannya. Kamu hanya melamun saja di sana," ujar Lionel, lagi.


Semenjak selesai sarapan tadi, lalu Daniel dan Casey berangkat ke kantor, percakapannya dengan Daniel yang terasa menggantung, memang hanya mengganggu konsentrasi dari Casey.


Casey jadi ingin memikirkan perkataan dan ekspresi wajah dari Daniel berulang-ulang kali, mencoba mencari celah yang mungkin terlewatkan oleh Casey, di sana.


"Apa kamu tidak ada pekerjaan? Kenapa kamu tidak kembali ke ruanganmu?" tanya Casey, ketus.


"Aku sedang tidak ada pekerjaan yang mendesak. Begitu juga kamu. Jadi tidak perlu berpura-pura sibuk, untuk menyingkirkan aku dari sini," sahut Lionel, terdengar tanpa beban. 


Casey menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian bersandar di kursi kerjanya, sambil menopang dagu dengan sebelah tangannya.


"Ada apa? ... Kamu bisa menceritakannya padaku. Atau kamu sudah tidak percaya denganku lagi?" ujar Lionel.


Sambil tersenyum, Lionel mengulurkan sebelah tangannya dan menyentuh bagian atas kepala Casey, kemudian mengacak rambut Casey.


"Malam tadi, aku bermimpi lagi," kata Casey.


Senyuman di wajah Lionel seketika itu juga menghilang, dan berubah menjadi ekspresi serius yang terpasang di wajah laki-laki itu.


Lionel yang terdiam untuk beberapa saat, tampak seperti sedang memikirkan sesuatu, sebelum akhirnya dia berkata,


"Bagus! Kalau begitu, sedikit demi sedikit, ingatanmu sudah mulai kembali ... Lalu, apa yang kamu ingat?" 


"Tidak banyak, hanya saat aku berbincang-bincang dengan Aaron dan orang tuanya. Itu saja," jawab Casey.


"Jadi, kamu merasa kecewa karena ingatan yang muncul tidak banyak?" tanya Lionel.


"Bukan itu. Tapi...." Casey merasa ragu-ragu untuk mengatakan pada Lionel, bahwa Casey sebenarnya sedang merasa tidak nyaman, karena perbincangannya dengan Daniel, pagi tadi.


"Steve jadi datang ke sini!" kata Casey, segera mengalihkan pembicaraan.


"Grandpa menyarankan, agar aku mengajak Steve menginap di rumah saja," lanjut Casey, sambil memijat-mijat bagian belakang lehernya yang terasa pegal, karena terlalu banyak berpikir.


Lionel kemudian berjalan ke bagian belakang kursi tempat Casey duduk, lalu berkata,


"Duduk yang lurus!" 


Ketika Casey meluruskan posisi duduknya, Lionel kemudian memijat-mijat pelan, kedua sisi pundak Casey, sampai ke bagian belakang lehernya.


"Merasa lebih baik?" tanya Lionel, sambil tetap memijat-mijat pundak Casey.


Casey menganggukkan kepalanya. "Iya."


"Berhubung kita tidak ada pekerjaan yang mendesak, apa kamu mau kita pergi ke tempat spa?" tanya Lionel.


"Pffftt...! Walaupun tidak ada pekerjaan, tapi sekarang ini masih jam kerja. Lalu kamu mau kita bersantai di tempat spa?!" sahut Casey, sambil tertawa.


"Kalau tidak mau, cukup katakan tidak mau saja. Jangan membuatku tampak seperti seseorang, yang berniat melalaikan tugasku!" ujar Lionel. 


Casey kemudian menghentikan gerakan Lionel yang masih memijatnya, dengan memegang kedua tangan Lionel, lalu sedikit menariknya ke bagian depannya.


Dan karena Casey yang menariknya, Lionel jadi membungkuk, hingga kepalanya mendekat di salah satu sisi bahu Casey.


Saat Casey menoleh ke arahnya, wajah Lionel jadi berhadap-hadapan dengan jarak yang sangat dekat, lalu Casey kemudian berkata,


"Kamu selalu memperhatikan keadaanku. Kamu menyayangiku, bukan?" 


"Iya ... Tentu saja!" jawab Lionel, yang tampak bingung. 


"Kalau begitu, kamu tidak akan berbohong, kalau aku bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Lionel.


"Iya! ... Tapi ada apa?" sahut Lionel.


"Miss Roberts!" Walaupun terdengar ketukan di pintu yang kemudian terbuka, dan Morty yang menyapa, tidak membuat Casey melepaskan tangan Lionel. 


"Casey...!" ujar Lionel, memelas.


Lionel yang bergerak liar, agar Casey melepaskannya, dari posisi yang mungkin dirasanya sangat canggung jika dilihat Morty, tidak dihiraukan oleh Casey. 


"Ada apa?" tanya Casey kepada Morty, tanpa beban.


"CEO Aaron Hamilton, ingin bertemu dengan Anda," jawab Morty, yang juga tampak bertingkah biasa, seperti tidak ada yang aneh dari gerak-gerik Casey dan Lionel di situ.


"Tsk!" Casey terdiam untuk sesaat, sambil berpikir.


Untuk apa lagi, hingga Aaron ingin bertemu dengan Casey? 


"Iya ... Biarkan saja dia masuk!" kata Casey.