Memory Of Love

Memory Of Love
Part 13



Menurut Casey, jika orang tidak tahu bagaimana sifat Aaron yang sebenarnya, mungkin orang-orang itu akan mengira, kalau Aaron menyayangi Casey, hingga dia bisa merasa cemburu pada Casey.


Tapi tidak bagi Casey.


Casey tahu kalau Aaron hanya berniat untuk mengusiknya, dan Casey tidak berminat untuk ikut dalam permainannya.


Dengan memegang kedua sisi wajah Aaron dan menariknya mendekat, hingga seolah-olah mereka berdua akan berciuman, Casey kemudian berkata,


"Honey...! Pertunangan kita hanya untuk bisnis. Jadi, kamu tidak perlu terlalu mendalami peranmu....


... Apa kamu tidak lihat? Di antara semua pebisnis ini, tidak ada yang tahu kalau kamu adalah tunanganku. Dan aku lebih suka jika tetap seperti itu."


Casey kemudian melepaskan pelukan Aaron dari badannya, sambil memberi tanda kepada Lionel, untuk segera menghampirinya.


"Casey!" Suara dari Aaron terdengar bergetar, seolah-olah dia sudah sangat geram, dengan tingkah Casey yang menolaknya.


"Casey! ... Ada apa?" tanya Lionel, yang sudah berdiri di dekat Casey dan Aaron.


"Aaron kelihatannya sudah mabuk. Apa kamu bisa mencarikan supir pengganti, untuk mengantarkannya pulang?" sahut Casey. 


Lionel terlihat seperti kebingungan, namun dia tidak berkata apa-apa, dan membiarkan Casey berjalan menjauh dari situ.


Hingga beberapa waktu lamanya, Casey sama sekali tidak memperhatikan apa yang Aaron lakukan setelahnya, dan hanya berbincang-bincang dengan para tamu, yang ingin membicarakan tentang bisnis dengannya.


"Mister Roberts pasti akan sangat senang, jika dia tahu bahwa kamu bisa meyakinkan para investor baru ini," kata Martin, sambil berbisik-bisik di telinga Casey.


Martin Brown, asisten pribadi Daniel, sudah berusia lima puluhan tahun, dan telah bekerja kepada Daniel, lebih dari dua puluh tahunan.


Karena mereka yang sudah saling mengenal dalam waktu yang cukup lama, hingga Casey bisa berbicara informal dengannya, seolah-olah mereka berdua hanya seumuran saja.


"Apa kamu rasa begitu? ... Karena aku masih merasa ragu, jika aku memang bisa meyakinkan mereka," sahut Casey, jujur.


"Jangan ragu! ... Aku tahu dengan baik bagaimana Grandpa-mu berinteraksi, dan kamu justru terlihat lebih baik lagi," kata Martin, sambil tersenyum.


"Terima kasih!" ucap Casey, lalu ikut tersenyum.


"Kenapa kamu memilih untuk bekerja di R&H Corp?" tanya Martin. "Apa kamu belum terpikir untuk menggantikan Mister Roberts?'


"Nanti saja ... Aku masih perlu banyak belajar," jawab Casey. 


"Benarkah? ... Apa bukan karena itu?" tanya Martin, sambil membuat gerakan dengan matanya, seolah-olah dia sedang menunjuk sesuatu.


Ketika Casey melihat ke arah yang dimaksud oleh Martin itu, Casey melihat Aaron yang berdiri tidak terlalu jauh dari tempat Casey berada, dan tampak sedang memandangi Casey.


"Apa karena CEO itu?" Martin mengulang pertanyaannya lagi, sambil tersenyum dan tampak hampir tertawa.


"Pffftt...! Tentu saja tidak," jawab Casey, sambil tertawa.


"Dia kelihatannya benar-benar menyukaimu," kata Martin.


"Hmm ... Tidak seperti itu ... Dia justru membenciku," sahut Casey.


"Berdasarkan pengalaman, menurutku dia sangat tertarik padamu," ujar Martin, yang tampak menautkan kedua alisnya.


"Tapi, entahlah! ... Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu tidak tertarik kepadanya?" lanjut Martin, buru-buru.


"Tidak," jawab Casey, yang kemudian segera teralihkan, karena salah satu tamu yang menghampirinya, dan mengajaknya berbincang-bincang.


***


Entah sudah berapa lama Casey berdiri, dan menemui para tamu berganti-gantian.


Mungkin karena dia yang terlalu lelah, hingga kepalanya terasa sakit, dan bahkan sudah bercampur dengan rasa mual, karena pandangannya yang bergoyang.


Namun Casey tidak mau mengeluhkan keadaannya itu kepada siapa-siapa, karena bisa saja ada yang melapor kepada Daniel, dan hanya akan membuat kakek dari Casey itu menjadi khawatir.


Sambil berusaha keras agar dia bisa terlihat baik-baik saja, Casey kemudian meminta Martin untuk menghadapi para tamu.


Casey beralasan kepada Martin, bahwa dia hanya ingin mengistirahatkan kakinya sebentar.


Kemudian, dengan terburu-buru, Casey yang tidak ingin ada seorangpun yang menyadari keadaannya itu, lalu memilih untuk segera pergi beristirahat, dengan menyendiri di salah satu gazebo yang menghadap ke danau.


"Apa kamu sakit?" 


Suara Aaron yang bertanya, benar-benar terasa mengganggu bagi Casey, yang duduk bersandar sambil memejamkan matanya.


"Apa tidak ada yang lain yang bisa kamu lakukan, selain terus menerus mengusikku?" ujar Casey, tanpa membuka matanya.


"Aku sedang bersikap baik padamu. Apa kamu lebih suka kalau kita bertengkar?" sahut Aaron.


"Huuffft...!" Casey mendengus kasar.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Casey, sambil menepis tangan Aaron.


"Aku hanya ingin memeriksa, kalau-kalau kamu demam. Karena selain pucat, kamu tadi sempat terlihat seperti orang bingung," jawab Aaron.


"Tidak perlu bertingkah seolah-olah kamu memperdulikan keadaanku ... Itu justru menakutkan!" sahut Casey.


Aaron tidak berkomentar apa-apa, dan hanya menarik salah satu kursi hingga mendekat di mana Casey duduk, kemudian membuka satu botol air mineral, lalu menyodorkannya kepada Casey.


"Ini! ... Mungkin kamu bisa merasa lebih baik," kata Aaron, pelan. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


Casey kemudian mengambil botol air dari tangan Aaron, kemudian meminumnya sedikit.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Casey, sambil meletakkan botol air ke atas meja di sampingnya.


"Bagaimana perasaanmu, saat aku mengganggu dansamu, dan terlalu masuk campur dalam urusanmu, dengan orang asing tadi?" tanya Aaron.


"Don't hit around the bush! ... Katakan saja apa yang sebenarnya ingin kamu katakan!" sahut Casey.


"Aku ingin agar kamu berhenti memicu perselisihan dengan Julie," kata Aaron.


"Pffftt...! Hahaha! ... Kamu sangat lucu!" ujar Casey, sambil tertawa.


"Apa kamu mencoba memancing kemarahanku lagi?" Aaron tampak menautkan kedua alisnya.


"If I did, so what?" sahut Casey, sambil tersenyum mengejek.


Aaron tampak bernafas dengan cepat, seolah-olah dia merasa sangat kesal dengan Casey, yang bertingkah masa bodoh itu.


Namun masih sama seperti sebelum-sebelumnya, di mana Casey tidak berminat untuk menjelaskan tentang kejadian sebenarnya, kepada Aaron. 


Casey lebih suka untuk balas mengusik Aaron, dengan berkata,


"Sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang! ... Karena kalau kemarahanmu meletus di sini, bukan aku yang akan merasa malu, melainkan kamu....


... Kira-kira apa yang akan menjadi tanggapan orang-orang, jika melihat laki-laki bersikap kasar pada seorang wanita? Kamu justru akan terlihat, seperti seseorang yang baru saja ditolak cintanya."


"Casey! ... Apa kamu memang sudah gila? Kenapa kamu terus menerus bersikap seperti ini?" tanya Aaron, yang mulai menaikkan nada suaranya.


"Bagaimana menurutmu?" Casey balik bertanya, dengan nada suaranya yang mengejek.


"Apa kamu tidak bisa jatuh cinta kepada laki-laki lain?" tanya Aaron.


"Pffftt...! Hahaha!" Lagi-lagi Casey tertawa.


Aaron kelihatannya semakin kebingungan saat melihat reaksi dari Casey, hingga lipatan di keningnya terlihat semakin dalam, saat dia menautkan kedua alisnya, dan menatap Casey lekat-lekat.


"Hmm ... Maafkan aku, Aaron. Tapi aku benar-benar lelah, dan ingin sendirian saja," kata Casey, pelan.


Casey kemudian kembali menyandarkan kepalanya di kursi, dan memejamkan matanya.


Namun tidak berapa lama, Casey merasa kalau ada sesuatu yang lembab yang menyentuh bibirnya.


Ketika Casey membuka matanya lagi, Aaron tampak sedang menciumnya.


Tanpa aba-aba, Casey mendorong Aaron menjauh, kemudian menampar wajah Aaron dengan keras.


"Apa yang kamu pikir sedang kamu lakukan?" tanya Casey, geram.


"Kamu menginginkanku, bukan? Aku akan memberikan tubuhku, asalkan kamu berhenti mengganggu Julie. Karena dia yang memiliki hatiku," sahut Aaron.


"You've got to be kidding! ... Apa kamu buta? Apa aku harus meneriakkannya dengan lantang? ... Aku tidak tertarik padamu! 


... Enyahlah kamu dari sini! Jangan menggangguku lagi, sebelum aku memanggil pihak keamanan!" ujar Casey, tegas.


"Casey! ... Lalu apa tujuanmu menyakiti Julie?" tanya Aaron, yang tampak masih bersikeras.


"Geez! ... You, f**king stupid!" Casey menghela napasnya dalam-dalam, untuk menenangkan dirinya sendiri.


Kemudian dengan terburu-buru, Casey berdiri dari tempat duduknya, dan hendak beranjak pergi dari sana.


Tapi kondisi Casey saat itu belum terlalu baik, dan tampaknya justru semakin buruk.


Dengan demikian, secara mendadak saja, Casey merasa kalau pandangannya menjadi gelap, diikuti dengan keseimbangannya yang berkurang, hingga tersandar di tiang pilar gazebo.


"Lionel...! Please, help me! ... Lionel...!" Sambil berusaha untuk tetap bisa berpegangan, agar tidak terjatuh dari atas gazebo, Casey berseru dengan sekuat tenaganya yang tersisa.


Casey masih sempat merasa kalau ada yang memeluknya, sebelum Casey akhirnya benar-benar hilang kesadarannya.