Memory Of Love

Memory Of Love
Part 26



Steve tampak seolah-olah tidak bisa berhenti tersenyum, dan bahkan hampir tertawa, sesaat setelah mereka keluar dari gedung bioskop.


Casey yang awalnya merasa bersalah, karena Steve tidak bisa menonton film hingga penayangannya usai, justru jadi merasa sebal, karena Steve yang kelihatannya hanya menertawakan ketakutan Casey.


Dengan rasa gemas, Casey kemudian mencubit perut Steve, hingga Steve meringis kesakitan.


"Auch! ... That's hurt!" ujar Steve, yang walaupun mengeluh, tapi masih terlihat seperti ingin tertawa. "Apa kesalahanku?"


"Hmph!" Casey membuang muka, lalu mempercepat langkahnya, untuk menjauh dari Steve.


"Hey...!" ujar Steve, pelan, sambil memegang tangan Casey. "Tidak mungkin kamu akan meninggalkanku sendiri di sini, bukan?"


"Aku akan meninggalkanmu, kalau kamu tidak berhenti mengejekku," sahut Casey, sebal.


"Maafkan aku ... Aku hanya bercanda," kata Steve, lalu memeluk Casey dengan erat.


"Tsk! ... Fine!" sahut Casey, ketus. "Sekarang lepaskan aku! Karena nanti kita akan jadi tontonan orang-orang di sini!" 


Steve melepaskan pelukannya dari Casey, lalu tersenyum lebar, dan berkata,


"Okay! ... Tapi apa aku bisa tetap memegang tanganmu?"


Casey mengangguk setuju, dan membiarkan Steve berpegangan tangan dengannya, sambil berjalan santai bersama menyusuri kawasan perkotaan.


Sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari gedung bioskop, jadi tempat pilihan mereka untuk duduk bersantai, sembari menikmati secangkir teh dan camilan.


Casey serta Steve, mengambil tempat duduk di bagian luar bangunan kafe, agar bisa melihat-lihat dengan bebas, keramaian yang ada di sekitar situ. 


"Bagaimana rasanya tinggal di negara xxx?" tanya Casey, membuka percakapan.


"Nyaman ... Cukup nyaman. Hanya terasa sepi, karena aku tidak memiliki banyak kenalan, selain dari rekan seprofesi di universitas," jawab Steve.


"Apa di sana ramai seperti di kota ini?" tanya Casey, lagi.


"Iya ... Tapi di negara itu, kurang pejalan kaki. Sehingga di jalan raya, selalu terjadi kemacetan panjang." Steve menyesap sedikit tehnya, kemudian meletakkan cangkirnya ke atas meja.


"Pencari uang di jalanan, sangat banyak. Tuna wisma, pedagang liar, bahkan yang berpura-pura menjadi disabilitas, bisa dilihat hampir di setiap arah mata memandang, di kota itu.... 


...Apalagi di bantaran sungai. Banyak pemukiman kumuh, yang tidak layak huni. Dan hanya merusak habitat di sungainya. Tidak jarang, kalau hujan lebat, maka air banjir akan menutupi hampir semua bagian kota....


... Tapi sebagian besar penduduknya, adalah orang-orang yang ramah. Jadi, rasanya seimbang saja. Ada kekurangannya dan ada juga kelebihannya," lanjut Steve.


"Sampai saat ini, aku masih tidak mengerti, kenapa kamu mau menetap di negara itu," kata Casey.


"Hmm ... 'Ugly duckling syndrome' ... Di sana, aku tetap dianggap tampan. Karena perbedaan ras, yang membuat penampilanku tetap menonjol," sahut Steve, sambil tersenyum.


"Pffftt...! You've got to be kidding!" Sambil tertawa, Casey menggeleng-gelengkan kepalanya. 


"Kamu memang laki-laki yang menarik dan tampan. Tidak perduli di manapun kamu berada," lanjut Casey.


Seketika itu juga, raut wajah Steve tampak berubah drastis, seolah-olah dia sedang tidak bersemangat, dan hanya memaksakan diri untuk tersenyum, lalu berkata,


"Terima kasih ... Kamu selalu mengatakan hal yang baik tentangku. Tapi aku berharap, agar kamu berhenti untuk mengasihaniku.... 


... Kita sudah bukan mahasiswa lagi. Jadi menurutku, sebaiknya kamu tidak perlu berbohong lagi, hanya untuk membuatku senang."


"Hey! ... Apa yang sedang kamu bicarakan?" ujar Casey, sambil mengerutkan keningnya. "I never lied to you!"


"Karena sikapmu itu, aku jadi kesulitan untuk melanjutkan hidupku!"


Steve yang terdengar terburu-buru menyahut perkataan Casey, lalu tampak salah tingkah, di saat itu juga.


Steve terlihat segera menundukkan pandangannya, dan menggigit bibirnya sendiri, seolah-olah dia menyesali perkataannya kepada Casey tadi.


Kemudian, Casey maupun Steve, hanya saling terdiam untuk beberapa saat, sementara Casey menatap Steve, dan Steve tetap menundukkan pandangannya.


Hanya sesekali saja, Steve terlihat mencuri-curi pandang ke arah Casey.


"Steve! ... Apa maksudmu?" tanya Casey. 


"Aku tidak bermaksud apa-apa ... Tidak perlu dipikirkan. Maafkan aku...." jawab Steve, pelan.


"Steve! ... Kalau kamu tidak mau bicara jujur, maka aku juga tidak mau bicara denganmu lagi," kata Casey, mengancam.


"Casey...!" ujar Steve, dengan memasang raut wajah, dan suaranya yang memelas.


Casey membuang muka, menoleh ke samping, dan tidak mau melihat ke arah Steve, yang duduk di depannya lagi. 


"Tsk! ... Fine! ... Casey! Look at me!" kata Steve.


"Aku menyukaimu ... Maksudku, aku benar-benar mencintaimu, hingga aku tidak bisa melihat wanita lain...." kata Steve, perlahan.


Casey terbelalak.


Pada awalnya, Casey mengira kalau Steve akan berkata, bahwa dia menganggap Casey sebagai sebuah penghalang, sehingga Steve tidak bisa menjadi dirinya sendiri.


Namun, setelah mendengar pengakuan Steve, Casey jadi kebingungan, karena tidak tahu harus menanggapinya seperti apa, dan bahkan merasa cukup menyesal, karena dia telah memaksa Steve untuk bicara.


"Why?" ujar Casey, tanpa sadar.


"Maafkan aku ... Tapi itu yang sebenarnya. Aku telah jatuh cinta padamu, sejak kita masih di universitas. Aku tahu kalau kamu tidak tertarik kepadaku....


... Kamu hanya merasa kasihan, karena situasi yang aku alami di kampus. Sehingga aku tidak pernah berani, untuk mengungkapkannya kepadamu sebelumnya," kata Steve.


"Jadi aku harap, kamu berhenti mengasihaniku, agar—" Steve tidak melanjutkan perkataannya, karena Casey segera menyelanya, dengan berkata,


"Kamu benar-benar bodoh! Kenapa kamu mengatakan hal itu sekarang ini?"


"Ugh?" Steve terlihat bingung.


"Dari sekian banyaknya kesempatan, dan waktu yang terbuang sia-sia, tapi kamu memilih untuk memberitahuku tentang perasaanmu sekarang ini....


...Aku menyukaimu Steve ... Tapi kamu selalu memperlakukan aku seperti adikmu, sehingga aku tidak berani meneruskan perasaan tertarikku itu....


... Karena aku tidak mau merusak hubungan pertemanan di antara kita, hanya karena perasaan bodohku, yang tampak seperti bertepuk sebelah tangan," kata Casey.


"Casey! Aku—" Lagi-lagi, Steve tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena Casey kembali menyela, dengan berkata,


"Sekarang ini, aku sudah bertunangan."


Casey benar-benar merasa kesal, karena Steve yang selama ini menyembunyikan perasaannya dari Casey.


Sementara di masa lalu, Casey sangat mengharapkan cinta dari Steve, namun Steve sama sekali tidak pernah memperlihatkan, bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Casey.


Demi perasaan tertariknya kepada Steve, sampai Casey berpura-pura seolah-olah membutuhkan Steve, untuk menjadi tutor baginya, agar dia bisa sering-sering menghabiskan waktu dengan laki-laki itu.


Casey menyadari, kalau dia tidak bisa melimpahkan semua kesalahan kepada Steve saja. 


Karena Casey juga harus mengakui, bahwa di masa lalu, dia juga sama pengecutnya dengan Steve.


Belum ditambah lagi, dengan Steve yang sering dirisak oleh mahasiswa yang lain, karena kedekatannya dengan Casey.


Sehingga Casey memang harus mengerti, bagaimana situasi Steve saat itu, jika laki-laki itu mungkin takut, untuk berhubungan lebih dari teman dengan Casey.


Walaupun demikian, Casey tetap merasa kesal, karena mereka yang sama-sama bodoh, dalam urusan percintaan.


Dan sekarang ini, kelihatannya bukan hanya Casey yang merasa kecewa, karena Steve bahkan tampak seperti seseorang yang sedang frustrasi.


Setelah beberapa saat lamanya mereka berdua hanya terdiam, Steve kemudian berkata,


"Maafkan aku ... Mungkin sebaiknya kita kembali ke rumahmu, sekarang. Aku akan  mempersiapkan kepulanganku secepatnya."


"Apa katamu? ... Setelah membuat pengakuan, lalu kamu akan melarikan diri lagi? Dasar b*rengsek!" ujar Casey, geram.


"Casey...! Lalu kamu ingin aku melakukan apa? Sedangkan kamu sudah memiliki seseorang, yang akan menikah denganmu....


... Apa kamu ingin menyiksaku, karena aku yang tidak mengakui perasaanku sebelum-sebelumnya?" sahut Steve, dengan suara memelas.


Ekspresi di wajah Steve sekarang ini, menampakkan bahwa seolah-olah dia sedang merasa semakin frustrasi saja.


Dengan sikunya yang tersandar di meja, Steve yang sedikit menunduk, kemudian terlihat memijat-mijat keningnya.


"Aku memang bertunangan. Tapi aku tidak berkata kalau aku akan menikah dengannya, bukan?" ujar Casey.


"Ugh?" Steve yang tampak tersentak, mengangkat kepalanya, kemudian menatap Casey lekat-lekat.


"Kenapa? Apa kamu tidak mencintai tunanganmu?" tanya Steve, seolah-olah tidak percaya.


"Apa menurutmu aku mencintai Aaron?" Casey balik bertanya.


"Aaron? ... CEO? ... Dia itu tunanganmu?" Steve tampaknya tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, hingga keningnya mengerut, dan membentuk lipatan-lipatan kulit yang dalam.


Casey menganggukkan kepalanya. "Iya!" 


"Aku tidak mencintainya. Begitu juga dengannya. Pertunangan kami hanya diatur oleh keluarga kami. Dan aku akan mencari cara untuk membatalkannya....


... Setelah mengetahui hal ini, apa kamu tetap akan pergi meninggalkanku lagi?" lanjut Casey.