
"Siapa sebenarnya Steve ini?"
Baik Lionel maupun Casey, memang sedang tidak banyak pekerjaan di hari itu.
Sehingga, setelah mereka selesai makan siang, Lionel memilih untuk menghabiskan waktu di ruang kerja Casey, sambil duduk di sofa, dan membaca artikel di koran.
Casey mengangkat pandangannya dari tampilan layar komputer di depannya, kemudian berusaha melihat Lionel dari bagian atas benda itu, karena mendengar Lionel yang bertanya tentang Steve.
"Kalau hanya sekedar kenalan ataupun senior, kenapa dia bisa dengan mudahnya untuk setuju, saat kamu mengajaknya bertemu?
... Apalagi, dia harus melintasi benua, hanya demi mewujudkan keinginanmu untuk bertemu," lanjut Lionel, lagi, sambil tersenyum, seolah-olah sedang mengejek Casey.
"Tidak ada hubungan spesial di antara kami. Tapi untuk apa aku harus menjelaskannya padamu?" Casey balas mengejek Lionel.
"Geez! ... Semakin mencurigakan saja," sahut Lionel, sambil memainkan bolpoin yang diputar di antara sela jari tangannya.
"Pffftt...!" Casey tertawa, kemudian kembali melihat tampilan layar komputernya.
"Aku sering meminta bantuan darinya, untuk memberikan aku tutor, selama dia masih berada di universitas," kata Casey, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
"Apa dia memang sepintar itu?" tanya Lionel, penasaran.
"Apa kamu tidak dengar kata Oscar? Steve bahkan sudah menjadi profesor sekarang ini. Kira-kira, dia pintar atau tidak?" ujar Casey.
"Orang pintar, berteman dengan orang pintar. Sebenarnya memang tidak terlalu mengherankan. Tapi...."
Lionel seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, tapi ditahannya, hingga kalimatnya terasa menggantung.
"Apa kamu pikir aku pernah berkencan dengannya?" tanya Casey.
Dan sebelum Lionel menanggapi pertanyaannya, Casey kemudian lanjut berkata,
"Kalau aku memang pernah berkencan dengannya, apa masih ada kemungkinan, kalau hubungan di antara kami bisa tetap baik-baik saja?"
"Apa wajahnya tidak tampan?" tanya Lionel.
Casey mengangkat pandangannya lagi, dan melihat ke arah Lionel, yang tampak sedang senyum-senyum sendiri, sambil melihat ke arah Casey.
"Hmm ... Kalau menurutku, Steve itu tampan. Dia hanya terlalu kurus," jawab Casey.
"Apalagi dengan kacamata tebalnya, yang membuat teman-temanku tidak tertarik kepadanya....
... Jangankan untuk berkencan, aku yang hanya berteman dengannya saja, sudah jadi bahan pergunjingan di universitas," lanjut Casey.
"Aku tidak tahu kalau kamu terlalu perduli dengan rumor," ujar Lionel.
"Aku memang tidak perduli dengan pembicaraan buruk di belakangku ... Tapi aku justru merasa kasihan padanya, yang jadi semakin sering di-bully, karena dekat denganku."
Sembari berbicara dengan Lionel, ingatan masa-masa dia masih universitas, dan berteman dekat dengan Steve, melintas di kepala Casey.
"Apa seburuk itu? ... Selama aku berkuliah di negara ini, aku tidak pernah mendengar kalau ada seseorang di-bully, hanya karena penampilannya," ujar Lionel.
"Hmm ... Kamu tidak tahu saja," sahut Casey, lalu kembali melihat ke layar komputer.
Universitas tempat Casey berkuliah, merupakan sebuah universitas ternama, dan gudang bagi orang-orang yang berprestasi.
Namun tempat itu, juga gudangnya dari para mahasiswa yang narsis, dan sebagiannya lagi, adalah orang-orang yang rasis.
"Miss Roberts!" Suara ketukan di pintu yang kemudian disusul dengan pintu yang terbuka, dan Morty yang menyapa, membuat Casey melihat ke arah pintu.
Morty lalu berjalan masuk dan menghampiri Casey, kemudian berkata,
"CEO Aaron Hamilton, ingin bertemu dengan Anda."
Casey menghela nafasnya dalam-dalam, sambil berpikir, dan tidak segera menanggapi pesan dari Morty itu, untuk beberapa saat.
"Apa dia mengatakan alasannya, hingga dia ingin bertemu denganku?" tanya Casey.
"Tidak ada, Miss!" sahut Morty. "Apa Anda ingin agar saya menanyakannya lebih dulu?"
Casey kemudian melihat ke arah Lionel, yang tampak memasang raut wajah tidak senang, karena rencana Aaron yang ingin menemui Casey.
"Tidak perlu ... Biarkan saja dia masuk!" ujar Casey, memberikan arahannya kepada Morty.
"Baik, Miss! ... Permisi!" Morty kemudian berbalik, dan berlalu pergi dari dalam ruang kerja Casey.
Tidak berapa lama, pintu ruangan itu kembali terbuka, dan Aaron berjalan masuk di sana, dan segera menghampiri Casey.
"Ada apa?" tanya Casey, tanpa mau melihat ke arah Aaron, dan lebih memilih untuk menatap layar komputernya.
Butuh beberapa waktu lamanya bagi Aaron yang hanya terdiam, hingga kemudian dia berkata,
"Ada yang ingin aku bicarakan berdua saja denganmu."
"Huuufft...!" Casey mendengus kasar, lalu mengangkat pandangannya dan menatap Aaron, kemudian berkata,
Aaron menganggukkan kepalanya.
"Apa mungkin kamu hanya akan membuatku kesal?" tanya Casey, sambil tetap menatap Aaron di matanya.
Aaron menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Fine!" sahut Casey, lalu melihat ke arah Lionel, dan berkata,
"Lionel! ... Apa kamu bisa menunggu di luar sebentar?"
Lionel terlihat enggan, namun akhirnya dia tetap berdiri, dan berjalan keluar dari ruangan itu, tanpa berkomentar apa-apa.
"Silahkan duduk!" ujar Casey kepada Aaron, ketika Lionel sudah menghilang dari balik pintu ruang kerja itu, yang tertutup kembali.
"Apa aku bisa duduk di sebelahmu?" tanya Aaron, terdengar berhati-hati.
"Terserah kamu saja...!" sahut Casey.
Jawaban dari Casey itu, seolah-olah menjadi tombol penggerak bagi Aaron, yang segera menggeser sebuah kursi, mendekat ke kursi kerja tempat Casey duduk.
"Aku benar-benar ingin meminta maaf padamu ... Aku baru saja mengetahui, kalau Julie lah yang mengganggumu lebih dulu," kata Aaron.
"Okay!" sahut Casey, asal-asalan.
Dengan kedua alisnya yang tertaut, Aaron tampak seperti sedang menunggu Casey lanjut berbicara, hingga mereka berdua hanya terdiam sambil bertatap-tatapan.
"Okay? ... That's it? ... Okay?" Aaron seolah-olah tidak percaya akan apa yang dikatakan Casey, hingga dia perlu menekankan ulang perkataan Casey itu.
"Iya," jawab Casey, singkat.
"Apa tidak ada yang lain, yang ingin kamu katakan? Hanya itu saja?" tanya Aaron, terlihat bingung.
"Lalu kamu ingin aku berkata apa?" Casey balik bertanya.
Aaron kemudian memegang tangan Casey.
Walaupun Casey berusaha untuk melepaskannya, Aaron justru mempererat genggamannya, agar Casey tidak bisa melepaskan tangannya dari pegangan Aaron.
"Casey...!" ujar Aaron, dengan suara dan raut wajah memelas.
Casey akhirnya menyerah, dan membiarkan Aaron menggenggam tangannya.
"Apa kamu tidak ingin memarahiku?" tanya Aaron.
"Kamu bisa mengumpat padaku. Atau jika kamu ingin menamparku, juga tidak apa-apa. Tapi ... Okay? Kenapa hanya seperti itu saja?" lanjut Aaron.
"Aaron! ... Apa kamu sadar, kalau tingkahmu saat ini sangat aneh?" tanya Casey, jujur mengutarakan apa yang terlintas di dalam pikirannya.
"Casey...! Apa kamu memang sungguh-sungguh tidak mencintaiku lagi?" tanya Aaron.
"Iya," jawab Casey, dengan perasaan heran. "Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu?"
"Apakah karena manajer R&D? Kamu dekat dengannya belakangan ini, bukan?" tanya Aaron.
"Sebenarnya apa yang ada di kepalamu? Apa sekarang ini kamu masih normal? Kamu hanya membuatku merasa takut....
... Apa aku harus memanggil Lionel, untuk menyeretmu dari sini? Karena aku rasa, dia tidak akan segan untuk memukul wajahmu lagi," kata Casey.
"Casey...! Aku ingin memulainya dari awal denganmu ... Aku benar-benar menyesal, akan semua tingkah burukku selama ini."
Sambil berbicara, Aaron sedikit menundukkan wajahnya, dan mengelus pelan tangan Casey yang masih digenggamnya.
"Aku tidak berharap agar kamu bisa mencintaiku lagi. Aku hanya ingin agar kita tidak bermusuhan. Itu saja...." lanjut Aaron.
"Hmm ... Okay!" sahut Casey.
Aaron mengangkat wajahnya lagi, kemudian menatap Casey lekat-lekat.
"Geez! ... Hanya okay? Apa itu bisa dipercaya?" tanya Aaron, lagi-lagi tampak tidak bisa merasa yakin atas jawaban Casey itu.
"Lalu kamu yang seperti apa? ... Apa kita harus berpelukan?" sahut Casey, sinis.
Aaron terdiam sambil tetap menatap Casey lekat-lekat.
"Kelihatannya, kamu memang benar-benar berubah ... But it's okay! ... Jadi sejak saat ini, kita bisa berteman?" ujar Aaron, bersemangat.
"Tidak," jawab Casey, tegas.
"Ugh? ... Apa maksudmu? Bukankah kamu katakan tadi, bahwa kamu tidak akan memusuhiku?" tanya Aaron, terlihat bingung.
"Tapi aku juga tidak pernah mengatakan, bahwa aku mau berteman denganmu, bukan? Hubungan antara kita, hanya sebatas kenalan bisnis....
... Dan dalam berbisnis tidak ada yang berteman, melainkan kepercayaan yang dibutuhkan, dan harus dibuktikan," jawab Casey, tidak kalah tegas dari perkataannya sebelumnya.