
Matahari sudah semakin rendah, dan bahkan hampir menghilang di cakrawala, tetapi Aaron seolah-olah tidak ingin melepaskan Casey dari rangkulannya.
"Apa aku bisa menciummu?" tanya Aaron, sambil menatap Casey lekat-lekat.
"Tidak," jawab Casey.
"Please...! Sebentar saja...!" kata Aaron, dengan suara dan raut wajah memelas.
"Tidak." Casey tetap tidak mengizinkan Aaron untuk menyentuhnya.
"Huuffft...!" Aaron mendengus pelan. Tetapi tampaknya, dia masih belum mau menyerah.
"Apa kamu tidak mau berciuman denganku, karena kamu takut, jika kamu nantinya akan jatuh cinta padaku?" tanya Aaron.
"Tentu saja, tidak!" jawab Casey, mantap. "Apa kamu pikir bisa semudah itu, untuk jatuh cinta kepada seseorang?"
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak mau mencobanya?" sahut Aaron, menantang.
"Aku memiliki kekasih. Bagaimana mungkin kamu bisa berharap, agar aku mau berciuman dengan laki-laki lain?" ujar Casey, ketus.
"Hmm ... Kalau hanya sekadar mengecup bibirmu, apa aku bisa melakukannya? Kamu sudah berjanji, agar aku bisa melakukan apa saja yang bisa Steve lakukan denganmu," ujar Aaron.
Casey terdiam sejenak, sambil berpikir.
"Tsk! ... Fine! ... Hanya sebuah kecupan, tidak lebih dari itu!" kata Casey, yang akhirnya memberikan izinnya.
Dengan sebelah tangannya yang merangkul pinggang Casey, dan sebelah tangannya lagi yang memegang salah satu sisi wajah Casey, Aaron lalu sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya.
Namun, Aaron tidak segera mengecup Casey.
Aaron justru berhenti bergerak, dan menahan posisinya yang berada di jarak yang sangat dekat, dengan wajah Casey.
Saat itu, Aaron seolah-olah hanya sedang memeriksa, apakah Casey masih bernapas, hingga Casey rasanya ingin menahan napasnya.
Walaupun merasa bingung, akan apa yang sedang Aaron pikirkan, tetapi Casey tidak bisa berkata apa-apa untuk menanyakannya.
Casey hanya memandangi mata Aaron yang bergerak pelan, tampak seperti sedang menyelidik setiap sudut dari wajah Casey.
Entah karena Aaron yang terlalu lama mempertahankan posisinya seperti itu, sehingga perlahan namun pasti, detak jantung Casey kemudian meningkat tajam.
Dada Casey yang terasa berdebar-debar, sampai seolah-olah jantungnya akan meloncat keluar dari rongga dadanya, ikut mempengaruhi irama gerakan paru-parunya, yang membuat Casey harus memburu napasnya.
Casey merasa lemas, karena darah yang mengalir terlalu cepat ke kepalanya, dan membuatnya sedikit pusing. Berikut juga wajah, hingga ke bagian leher Casey yang terasa panas.
Seolah-olah telah kehilangan akal sehatnya, Casey tidak sanggup lagi untuk berpikir jernih, ketika Aaron tidak sekadar mengecupnya, seperti yang dikatakan Aaron sebelumnya, dan justru mengulum bibir Casey dengan perlahan.
Lembab dan lembutnya sentuhan dari bibir Aaron, seakan-akan memiliki hipnotis di dalamnya, yang tidak bisa ditolak oleh Casey.
Casey memejamkan matanya, pasrah, dan tidak mendorong Aaron untuk menjauh dengan kedua tangannya, yang justru terasa lemas dan hanya bergantung bebas, di kedua sisi badannya.
Sepasang kaki dari Casey yang juga ikut kehilangan kekuatannya, membuat Casey hampir terjatuh, tetapi Aaron mempererat rangkulannya untuk menahan badan Casey.
Dan dengan sebelah tangannya, Aaron bahkan memegang bagian belakang kepala Casey, agar Casey tidak bisa menjauhkan wajahnya dari Aaron.
Entah sudah berapa lama, Casey berciuman dengan Aaron, ketika Casey merasa napasnya sesak, dan segera membuka matanya lagi.
Namun, yang dilihat Casey saat ini, bukan lagi di pesisir pantai, melainkan di sebuah tempat yang berbeda, dan terasa cukup familiar baginya.
Di dalam gelap malam, dan diterangi oleh lampu langit-langit di bagian teras depannya, Casey sedang berdiri di depan pintu keluar masuk, dari gedung kantor utama Roberts grup.
Menurut Casey, dan sepengetahuannya saat ini, dia memiliki janji temu dengan Aaron di sebuah restoran, yang letaknya tidak jauh dari kantor Roberts grup itu.
Untuk memastikan pertemuan mereka, Casey lalu segera menghubungi ponsel Aaron.
"Halo!" Suara yang menyapa di seberang telepon, bukanlah suara Aaron, melainkan suara seorang wanita, yang sama sekali tidak dikenal oleh Casey.
"Halo!" Casey membalas sapaannya. "Bukankah ini nomor ponsel milik Aaron?"
"Iya ... Aaron sedang mandi. Kamu siapa?" ujar wanita di seberang telepon itu.
"Aku...." Casey ragu-ragu untuk memberitahu, bahwa Casey adalah tunangan dari Aaron, ketika Casey mendengar samar-samar di seberang telepon, suara dari Aaron yang berkata,
"Honey! ... Aku ada janji dengan seseorang. Aku tidak bisa berlama-lama di sini."
"Geez! ... Kamu selalu saja beralasan," ujar wanita di seberang, yang tampaknya justru berbincang-bincang dengan Aaron, dan seolah-olah melupakan keberadaan Casey, yang masih tersambung di telepon.
Casey hampir saja memutuskan sambungan telepon itu.
"I want you, honey!" ujar wanita itu, dengan suara yang terdengar dimanja-manjakan. "I'm so horny right now! Aku tidak mau kamu menolakku lagi!"
"Aku harus buru-buru. Aku pasti sudah ditunggu." Suara Aaron yang menolak rayuan wanita itu, masih terdengar di sana, walaupun bayangannya tidak terlihat oleh Casey.
"Come on, Aaron...! Honey! ... Apa kamu tidak mau mencobanya, kali ini?" ujar wanita itu, terdengar semakin gigih untuk merayu Aaron.
"Aku akan membuatmu merasa puas. Dan aku jamin, kalau kamu pasti akan menginginkannya lagi," lanjut wanita itu.
Casey masih memperhatikan tampilan layar ponselnya, di sela-sela percakapan antara seorang wanita dengan Aaron, yang terdengar oleh Casey, di sana.
Wanita yang tidak terlihat wajahnya, tampaknya menggeser posisi ponsel di tangannya.
Sehingga perut bagian bawah, sampai ke alat vitalnya yang ditumbuhi rambut halus, dari wanita yang sedang bertelanjang bulat itu, bisa dilihat dengan cukup jelas oleh Casey.
Tidak perlu berlama-lama untuk melihatnya, ataupun memperhatikan percakapan antara Aaron dan seorang wanita, yang masih berlangsung di seberang, dan bisa didengar oleh Casey.
Casey sudah bisa menarik kesimpulan, bahwa kemungkinan besar, Aaron akan melakukan hubungan intim dengan wanita itu, dan Casey tidak mau menontonnya.
Sembari menahan amarahnya, hingga darahnya terasa seolah-olah mendidih, Casey segera memutuskan sambungan telepon itu.
Karena perasaan yang kalut dan gusar, Casey tidak bisa menahan air matanya lagi, yang mengalir deras membasahi pipi, hingga ke dagunya tanpa terkendali.
Daniel saat ini sedang ada pertemuan dengan Investor asing, di lantai paling atas dari gedung kantor utama Roberts grup itu, dan Casey tidak mau mengganggunya, dengan persoalan pribadi.
Casey kemudian berlari menuju ke pelataran parkir, dan segera masuk ke dalam mobilnya, agar dia yang sedang menangis, tidak menarik perhatian dari petugas keamanan kantor.
Walaupun sudah berusaha keras, untuk mengendalikan dirinya sendiri, namun Casey tetap tidak bisa berhenti menangis.
Pandangannya yang menjadi buram, karena air mata yang terus-menerus memenuhi kelopak matanya, membuat Casey merasa ragu untuk mengemudikan mobilnya sendiri.
Sedangkan saat itu, Casey ingin segera pulang ke rumahnya, hingga dia akhirnya terpikir untuk menghubungi Lionel.
Butuh dua kali panggilan, barulah Lionel menerima telepon dari Casey itu, dan Casey dengan suaranya yang bergetar dan masih terisak-isak, segera berkata,
"Lionel! ... Jemput aku di kantor Roberts grup! ... Sekarang, Lionel...!"
"Halo, Casey! ... Ada apa denganmu?" tanya Lionel dari seberang. "Aku tidak bisa pergi sekarang. Aku sedang ada pertemuan dewan komisaris."
"Lionel...! Please...! Aku ingin pulang sekarang!" ujar Casey.
Casey lalu mendengar, kalau di seberang telepon, Lionel tampaknya sedang dipanggil oleh seseorang, untuk melanjutkan pertemuan mereka, dan kedengarannya, Lionel menyetujuinya.
"Casey! ... Dengarkan aku! Ponselku hampir kehabisan daya. Kamu tunggu dulu di situ! Sebentar lagi, pertemuan kami selesai. Aku akan menemuimu nanti. Secepatnya."
Sambungan telepon itu kemudian terputus begitu saja, tanpa ada kesempatan bagi Casey, untuk berkata apa-apa lagi.
Seharusnya, Casey menunggu kedatangan Lionel.
Akan tetapi, setelah beberapa saat menunggu, dan dia hanya merasa semakin gusar saja, sehingga Casey akhirnya memberanikan diri, untuk mengemudikan mobilnya sendiri.
Sembari mengemudi mobilnya secara perlahan di jalan raya, Casey lalu membelokkan mobilnya mengarah ke restoran, yang menjadi tempat pertemuan yang dijanjikannya bersama Aaron.
Casey lalu memperhatikan kendaraan yang tidak banyak jumlahnya, yang berada di pelataran parkir restoran itu.
Dan setelah beberapa saat Casey melihat-lihat plat nomor kendaraan yang di sana, Casey tidak menemukan mobil Aaron, yang terparkir di tempat itu.
Sedangkan sekarang ini, sudah lebih dari sepuluh menit yang terlewatkan, dari waktu yang seharusnya menjadi janji temu mereka.
Casey jadi semakin yakin, kalau sekarang ini, Aaron memang sedang berhubungan intim, dengan seorang wanita yang tidak dikenal oleh Casey itu.
Bayang-bayang akan Aaron yang sedang menunggangi wanita yang bertelanjang bulat, sampai berkeringat, dan saling mengeluarkan suara des*hannya, membuat Casey benar-benar murka.
Dengan amarahnya yang memuncak, Casey berniat untuk pergi menemui kedua orang tua Aaron, dan ingin membatalkan pertunangannya, dengan laki-laki yang telah mematahkan hatinya itu.
Casey kemudian melanjutkan perjalanannya dengan terburu-buru, agar dia bisa segera bertemu dengan orang tua dari Aaron.
Tanpa disadarinya lagi, Casey telah memacu kecepatan dari mobilnya, hingga melewati ambang batas kecepatan, yang tertera di papan rambu lalu lintas, yang terpasang berdiri di pinggir jalan.
Kondisi jalanan yang licin, karena daerah itu yang tampaknya baru saja diguyur hujan, membuat Casey tidak bisa mengendalikan mobil yang dikendarainya lagi.
Pedal rem yang diinjak oleh Casey pun, seolah-olah tidak berfungsi.
Kurangnya gesekan, antara aspal dan ban kendaraan roda empat milik Casey, membuat mobil Casey hanya tergelincir, tanpa ada cara lain lagi untuk menghentikannya.