
Di depan sebuah cermin berukuran besar, yang bisa memantulkan bayangan keseluruhan badannya, Casey memandangi dirinya yang memakai blouse berlapiskan blazer, dengan rok yang panjangnya sampai di bawah lutut.
Casey sebenarnya tidak suka memakai rok, dan biasanya lebih memilih untuk memakai celana panjang untuk kesehariannya.
Tapi untuk ke kantor R&H Corp di hari ini, Casey ingin merubah sedikit gaya berpakaiannya.
"Not bad!" ujar Casey bicara sendiri.
Atas percepatan yang diminta oleh Casey sepulangnya dari kantor R&H Corp kemarin sore, sehingga di malam tadi, Daniel kemudian mengadakan pertemuan mendadak dengan dewan komisaris.
Di saat pertemuan itu juga, Casey bisa segera mendapatkan dukungan dari jajaran dewan komisaris R&H Corp, untuk menjadi salah satu anggota dari mereka.
Dan dukungan itu bukan hanya semata-mata, karena 'suara' dari Daniel, selaku pewaris keluarga Roberts, yang menjadi pendiri dan pemilik Roberts grup.
Melainkan, karena Casey yang tanpa ragu memperkenalkan dirinya, hingga seperti sedang melakukan presentasi, memperlihatkan pengetahuan dan kemampuannya untuk bekerja, di depan orang-orang itu.
Sehingga hal itu, kemudian menjadi bahan pertimbangan tambahan yang meyakinkan bagi jajaran komisaris, untuk menyetujui penunjukan Casey, agar bisa mengisi jabatan itu.
Karena pengunduran diri dari Mister Loft yang belum selesai kepengurusannya, sehingga Casey masih harus menunggu kurang lebih satu atau dua hari, sebelum dia resmi menjabat sebagai komisaris utama.
Sementara itu, sambil menunggu serah terima jabatan, Casey akan membiasakan diri, dan mendapatkan arahan langsung dari Mister Loft, yang selama ini telah menjadi 'tangan kanan' Daniel, di R&H Corp.
Dengan demikian, mulai hari ini, Casey akan menempati ruang kerja komisaris utama, bersama-sama dengan Mister Loft.
***
Sembari membawa sebuah tas kecil di tangannya, Casey berjalan dengan percaya diri untuk memasuki gedung kantor, meskipun dia masih membawa kartu identitas sebagai tamu di tempat itu.
Tidak seperti kemarin, hari ini Lionel yang sudah tahu kalau Casey akan datang di pagi hari, sama seperti jam kerja pegawai biasanya, terlihat sudah menunggu Casey di depan lift khusus untuk eksekutif.
Lionel tampak seperti terheran-heran, ketika memandangi Casey dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya.
"Kamu terlihat cantik," celetuk Lionel, sambil tersenyum lebar, saat melangkah masuk ke dalam lift bersama-sama dengan Casey.
"Don't tease me!" sahut Casey, yang sudah bisa menduga kalau Lionel pasti sedang mengejeknya, karena Casey yang memakai rok sebagai bawahannya.
"Aku tidak berniat mengusikmu. Kamu memang terlihat cantik dan dewasa. Tidak seperti biasanya yang...." kata Lionel, tidak meneruskan kalimatnya, tampak berniat mengejek Casey.
"Lionel! ... Apa aku harus memanggilmu dengan sebutan Mister Walt?" ujar Casey, mengancam.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Casey dan Lionel, jika Casey sampai memanggil Lionel dengan nama belakangnya, berarti Casey sedang merasa sangat marah kepada Lionel.
Dan biasanya, Casey yang merajuk, tidak akan menghiraukan Lionel hingga berhari-hari lamanya, meskipun Lionel sudah kepayahan untuk membujuknya.
Karena Lionel yang sudah tahu dengan baik akan hal itu, sehingga Lionel kemudian memeluk Casey, lalu berkata,
"Jangan marah...! Kamu memang terlihat cantik seperti biasanya. Dengan gaya berpakaianmu sekarang ini, justru makin terlihat cantik saja."
"Okay! ... Kamu sudah bisa melepaskan pelukanmu. Aku tidak akan terlihat berwibawa, kalau sampai ada yang melihatmu memelukku seperti anak kecil," ujar Casey.
"Pffftt...! Okay, okay!" sahut Lionel, yang melepaskan pelukannya dari Casey, namun masih menyempatkan diri, untuk mencium mercu kepala Casey.
Ketika pintu lift terbuka, Lionel kemudian menunjukkan ruang kerja bagi komisaris utama, yang ternyata bersebelahan saja dengan ruang CEO.
"Apa kamu mau aku menemanimu? Karena yang aku tahu, sekarang ini Mister Loft belum datang," kata Lionel.
"Hmm ... Okay!" sahut Casey.
Seorang laki-laki yang menjadi asisten dari komisaris utama, sempat terlihat bingung, ketika Casey serta Lionel berjalan menuju ke pintu ruang kerja komisaris utama itu.
Namun, Lionel segera menjelaskan pada pegawai laki-laki itu, bahwa Casey yang akan menjadi komisaris utama yang baru.
Sehingga mereka kemudian diizinkan masuk, ke dalam ruang kerja itu.
Ruang kerja yang terlihat lebih luas daripada ruang kerja Lionel, tampak masih ada barang-barang pribadi dari Mister Loft yang terpajang di sana.
"Anak perempuan Mister Loft ternyata sangat cantik," celetuk Casey, sambil memperhatikan pigura foto keluarga Mister Loft, yang ada di atas meja kerjanya.
"Aku pernah bertemu dengannya—anak perempuan Mister Loft, saat kami masih di Elementary School," lanjut Casey.
"Dia juniormu, bukan?" tanya Lionel.
"Iya ... Dia tiga tingkat di bawahku," sahut Casey. "Apa kamu pernah bertemu dengannya secara langsung, beberapa waktu belakangan ini?"
"Iya," jawab Lionel, singkat.
"Kamu tidak mau mengajaknya berkencan? Mister Loft pasti akan mendukungmu," ujar Casey, sambil tersenyum.
"Casey...! Kamu tidak perlu menjodohkan aku dengan siapa-siapa," sahut Lionel, yang seketika itu juga tampak gusar.
"Apa salahnya?" tanya Casey, ingin mengusik Lionel lebih jauh.
"Sudah ada seseorang yang aku sukai. Aku hanya belum berani untuk mengaku kepadanya," jawab Lionel.
"Tsk! ... Apa yang kamu takutkan? Kamu pintar, tampan, pekerjaanmu juga bagus. Sehebat apa wanita itu, hingga kamu bisa merasa ragu untuk mengaku kepadanya?!" ujar Casey.
Lionel mengunci mulutnya rapat-rapat, hingga membuat Casey justru jadi semakin penasaran.
Casey kemudian menghampiri Lionel, dan menggelitik bagian pinggangnya, sambil berkata,
"Come on! ... Tell me!"
"Casey...! Don't tease me!" ujar Lionel, sambil menghalang-halangi tangan Casey. "Oh! ... Halo, Mister Loft!"
Mendengar Lionel yang menyapa Mister Loft, Casey segera berhenti mengganggu Lionel, kemudian berdiri dan melihat ke arah pintu.
Namun, tidak ada siapa-siapa di sana.
Di saat itu juga, Lionel tertawa terbahak-bahak, sambil berjalan mengarah keluar dari ruangan itu, sampai hampir setengah berlari.
"Lionel!" ujar Casey, kesal karena telah dibohongi oleh Lionel.
"Aku ke ruanganku dulu! ... Ada yang harus aku kerjakan," kata Lionel, yang berlalu melewati pintu, tanpa menunggu Casey menanggapi perkataannya.
Tidak berapa lama pintu ruangan itu ditutup oleh Lionel, tiba-tiba saja, pintu itu kembali terbuka, dan Mister Loft terlihat berjalan masuk ke dalam ruangan itu.
"Halo, Mister Loft!" sapa Casey lebih dulu.
"Halo, Miss Roberts!" Mister Loft membalas sapaan Casey. "Maafkan saya yang datangnya terlambat."
"Tidak apa-apa, Sir!" sahut Casey.
Mister loft pergi ke meja kerjanya, dan duduk di sana, sambil menyalakan komputer.
Setelah itu, Mister loft kemudian pergi mengeluarkan beberapa berkas fisik, dari brankas lemari arsip, yang letaknya tidak jauh dari meja kerjanya itu.
"Hmm ... Apa kita langsung saja?" tanya Mister Loft.
"Iya, Sir! ... Agar saya tidak perlu membuang-buang waktu Anda," jawab Casey.
***
Tidak banyak yang perlu dijelaskan oleh Mister Loft kepada Casey, cukup untuk garis besar pekerjaannya saja.
Karena menurut Mister Loft, dengan kemampuan dasar yang sudah dimiliki oleh Casey, maka Casey tidak akan kesulitan, untuk mengikuti irama pekerjaan sebagai komisaris utama itu.
Apalagi, menurut Mister loft, Casey bisa bertanya langsung kepada Daniel, jika ada sesuatu yang dia ragukan.
Di sela-sela waktu Mister Loft menerangkan kepada Casey tentang pekerjaannya, barang pribadi milik Mister Loft di ruang kerja itu, dikemas oleh Morty Hade, yang adalah asisten komisaris utama.
Sehingga, sebelum jam istirahat makan siang, Morty telah selesai merapikan semua barang, dan siap untuk dikirim ke rumah Mister Loft.
Begitu juga Mister Loft, yang kemudian pamit pulang lebih dulu, saat jam istirahat makan siang tiba.
"Morty! ... Tolong panggilkan Mister Walt!" ujar Casey, melalui telepon yang ada di atas meja kerja barunya.
Tidak berapa lama kemudian, Lionel sudah menemui Casey di sana, lalu berkata,
"Kamu memanggilku? ... Ada apa?"
"Aku ingin berkeliling di kantor ini. Kamu bisa menemaniku, bukan?" ujar Casey.
"Tentu saja! ... Tapi apa kamu tidak mau makan siang lebih dulu?" sahut Lionel.
"Hmm ... Okay! Kita makan siang di kafetaria saja," kata Casey, sambil menghampiri Lionel.
Walaupun terlihat bingung, namun Lionel mau saja mengikuti keinginan Casey, dan pergi bersama dengannya, menuju kafetaria yang ada di lantai dasar gedung kantor.
Di kafetaria, terlihat cukup padat dengan pegawai yang makan siang di sana.
Di antaranya, Casey mengenal wajah-wajah dari jajaran dewan komisaris, yang ternyata juga makan siang di tempat itu, yang kemudian tampak menganggukkan kepala mereka, ketika beradu pandang dengan Casey.
Begitu juga dengan Aaron, dan tentu saja bersama dengan Julie, yang terlihat duduk berhadap-hadapan di satu meja, bergabung dengan beberapa orang lain yang tidak dikenal oleh Casey.
"Aku mau duduk di dekat mereka," kata Casey, menunjuk ke arah Aaron dengan gerakan matanya.
"Ugh? ... Okay!" sahut Lionel, kemudian memilih meja terdekat dan bersebelahan saja, dengan meja di mana Aaron dan Julie berada.
Ketika Casey duduk di situ, Aaron kemudian melihat ke arahnya, dan Casey hanya tersenyum saat mereka beradu pandang, tanpa bereaksi lebih dari itu.
Dari ujung matanya, Casey masih bisa melihat kalau Julie tampaknya terganggu, karena Casey yang tersenyum kepada Aaron.
Namun Casey tidak mau memperdulikan, gerak-gerik dari Julie, dan segera menikmati makan siangnya bersama Lionel.
Kelihatannya, Aaron belum menghabiskan makan siangnya, namun Aaron dan Julie terlihat sudah berdiri dari tempat duduknya, dan bersiap-siap untuk beranjak pergi dari sana.
Tiba-tiba saja, Julie yang berjalan melewati bagian yang diduduki oleh Casey, tampak kehilangan keseimbangannya, lalu menyenggol barang-barang yang ada di atas meja Casey dan Lionel.