
Tidak berapa lama setelah pelayan restoran menyajikan makanan pesanan mereka, Julie terlihat ikut menyusul ke situ.
Dan sama seperti Aaron, yang tanpa meminta izin lebih dulu, Julie segera mengambil tempat duduk di samping Steve, dan tepat berhadapan dengan Aaron.
"Kita belum berkenalan." Sambil tersenyum, Julie mengulurkan sebelah tangannya ke arah Steve, yang ada di sampingnya.
"Steve Dale!" kata Steve, sambil berjabat tangan dengan Julie.
"Julie Tosch!" Julie ikut menyebutkan namanya, sebelum mereka saling melepaskan pegangan tangan mereka berdua.
Entah Casey hanya sekadar cemburu buta, tetapi menurut Casey, Julie seolah-olah sedang mencoba untuk menggoda Steve.
Julie tampak senyum-senyum sendiri, dan mencoba mengajak Steve untuk berbincang-bincang dengannya.
Sementara Steve, tampak tidak terlalu mempedulikan Julie, dan justru terlihat sibuk memotong-motong daging steik, hingga berukuran kecil, sekali suapan.
Casey yang merasa semakin sebal, karena dia yang tidak bisa makan malam dengan tenang berdua saja dengan Steve, tanpa sadar, telah mengambil gelas berisi wine yang ada di depannya, dan hampir menyesapnya.
Namun, Aaron segera menghentikan gerakan tangan casey, sambil berkata,
"Jangan kamu coba-coba! ... Bukankah kamu tidak boleh minum alkohol?"
Aaron yang mengambil gelas wine milik Casey tadi, kemudian meletakkannya di jarak yang jauh dari jangkauan Casey.
Dan di saat itu juga, Steve kemudian menukar piring makannya, di mana daging steiknya yang sudah dipotong-potong olehnya tadi, dengan milik Casey.
Setelah melihat kalau Steve tetap lebih memilih untuk memperhatikannya, dan tidak menghiraukan Julie, barulah Casey bisa merasa cukup senang.
"Terima kasih," ucap Casey kepada Steve, sambil tersenyum lebar.
"Sama-sama." Steve juga tersenyum, lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Casey.
"Bagaimana kalian berdua bisa saling mengenal?" tanya Julie, tiba-tiba.
"Kami berkuliah di universitas yang sama," jawab Casey, sekadar saja, lalu segera menyantap sepotong daging steiknya.
Julie kemudian ikut membuat pesanan, kepada pelayan restoran yang menghampirinya.
Namun Casey, memang lebih memilih untuk memandangi Steve, dan hanya sepintas-sepintas saja, melihat ke arah Julie ataupun Aaron.
Walaupun mereka duduk berempat di situ, tapi Casey dan Steve sibuk dengan dunia mereka sendiri, yang sering kali bertatapan mata sambil tersenyum.
"Ahem! ... Ahem!" Tiba-tiba saja, Aaron seolah-olah sedang membersihkan tenggorokannya saat itu, hingga Casey menoleh ke arahnya.
"Steve! ... Apa kamu akan pergi ke kantor R&H Corp, besok? Akan ada banyak perlombaan santai antar karyawan, yang akan dilakukan di sana," ujar Julie.
Menurut Casey, seharusnya Julie lebih memperhatikan Aaron, saat itu.
Sehingga Casey benar-benar tidak habis pikir, dengan apa yang sebenarnya menjadi tujuan Julie, sampai Julie bertingkah seperti itu.
Apalagi, Julie terlihat mencondongkan tubuhnya ke arah Steve, hingga rasanya Casey ingin menyiram Julie dengan air, untuk menyadarkan wanita itu, agar tidak mencoba mendekati Steve.
Namun Steve tampaknya menyadari, kalau Casey tidak suka dengan gerak-gerik dari Julie.
Karena Steve kemudian memegang sebelah tangan Casey yang ada di atas meja, dan sedikit mengelusnya dengan ibu jari tangannya, lalu berkata,
"Kemungkinan aku akan pergi ke sana. Karena aku akan terus menemani Casey, di setiap kali ada kesempatan."
Walaupun Steve sedang menanggapi perkataan Julie, namun saat dia bicara, Steve terus-menerus menatap Casey, dan tidak mengalihkan pandangannya meski hanya sejenak.
Kemudian, Aaron tiba-tiba saja berdiri dari tempat duduknya, lalu berkata,
"Aku akan pergi ke restroom sebentar!"
Dan ketika Aaron melangkah pergi, Julie juga ikut berdiri, dan segera menyusul Aaron, tanpa berkata apa-apa.
"Kamu cemburu?" tanya Steve, ketika Julie dan Aaron tidak terlihat lagi.
"Iya ... Dia—Julie—kelihatannya sengaja mendekat padamu," jawab Casey, geram.
"Pffftt...! Aku tidak tahu kalau kamu ternyata cukup posesif," ujar Steve, sambil tertawa.
"Apa menurutmu itu lucu?" tanya Casey, ketus.
"Maafkan aku...." Steve tampak masih ingin tertawa.
"Tapi, Casey...! Kamu tidak perlu merasa terganggu olehnya. Dia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu....
... Justru aku yang merasa cemburu, karena Aaron seolah-olah tidak bisa mengalihkan pandangan matanya darimu," kata Steve.
"Tsk! ... Aku ingin menciummu sekarang, dan segera menjadikanmu sebagai milikku saja." Steve yang meremas tangan Casey, lalu terlihat menggigit bibirnya sendiri.
Kelihatannya, Aaron pergi ke kamar mandi umum, untuk membasuh wajahnya dengan air.
Karena ketika dia kembali bersama Julie, dan duduk di tempat mereka yang semula, masih terlihat sisa-sisa air, yang membasahi bagian tepi dari wajah Aaron.
Dan tampaknya, bukan hanya Casey yang menyadari hal itu.
Karena saat Casey beradu pandang dengan Steve, seolah-olah memiliki pemikiran yang sama dengan Casey, laki-laki itu tampak memberikan tanda dengan menggunakan gerakan matanya, yang menunjuk ke arah Aaron.
***
Hingga mereka semua selesai menghabiskan makan malamnya, tidak ada lagi yang berbincang-bincang di situ.
"Terima kasih untuk makan malamnya," ucap Steve, sambil berdiri dari tempat duduknya, bersama-sama dengan Casey.
"Casey! ... Apa kalian berdua akan langsung pulang?" tanya Aaron.
"Iya ... Aku sudah tidak sabar untuk mendengarkan Steve, yang akan bernyanyi untukku," jawab Casey, tanpa ragu.
Baik Aaron, Julie maupun Steve, tampak terkejut dengan pernyataan dari Casey.
Namun Steve kemudian hanya tersenyum, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bye, Aaron! ... Julie! ... Kami pergi lebih dulu! Enjoy your time!" kata Casey, kemudian bersiap-siap untuk pergi.
"Bye, Aaron! ... Bye, Julie! ... See you next time!" Steve juga berpamitan, sebelum akhirnya dia berlalu pergi dari situ, bersama-sama dengan Casey.
***
Setibanya di rumah, Daniel tampaknya memang sudah menunggu kedatangan Casey dan Steve.
Sehingga ketika Casey dan Steve baru saja keluar dari dalam mobil, salah satu dari asisten rumah tangga kemudian memberitahu, agar Casey dan Steve menemui Daniel di teras bagian samping rumah.
"Hai, Grandpa! ... Hai, Lionel!" sapa Casey, ketika melihat Daniel yang duduk bersama Lionel di situ.
"Halo, Mister Roberts! ... Halo, Lionel!" Steve ikut menyapa Daniel dan Lionel.
Daniel kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu berjabat tangan dengan Steve.
"Maafkan saya ... Saya sibuk mengurus pekerjaan, sehingga saya belum sempat menyambutmu dengan baik," kata Daniel.
"Tidak apa-apa, Sir! ... Saya justru yang kurang sopan, karena tidak menunggu kesempatan, untuk bertemu dengan Anda lebih dulu," sahut Steve.
"Silahkan duduk!" kata Daniel.
Steve kemudian mengambil tempat duduk kosong di antara Daniel dan Lionel, sementara Casey pergi menemui asisten rumah tangga, agar menyiapkan minuman dan camilan untuk mereka.
Kelihatannya, baik Steve maupun Daniel sama-sama merasa nyaman, untuk saling menanggapi perbincangan mereka di situ.
Karena saat Casey kembali ke teras samping rumah itu, walaupun Steve masih bertahan dengan formalitasnya, namun Daniel terlihat sudah lebih santai saat berbicara dengan Steve.
Bahkan, saking asyiknya Daniel bercakap-cakap dengan Steve, hingga Lionel pun tampak seolah-olah terhiraukan oleh mereka lagi.
"Steve bisa mengikuti pembahasan Grandpa dengan baik," kata Lionel, berbisik-bisik kepada Casey, ketika Casey duduk di dekatnya.
Casey memandangi Steve dan Daniel, yang memang tampak seperti sudah saling mengenal lama, hingga mereka bisa terlihat akrab.
"Kalian ke mana saja tadi?" tanya Lionel.
"Hanya ke pusat perbelanjaan," jawab Casey, kemudian menyesap sedikit teh, yang telah diantarkan oleh asisten rumah tangganya.
Tiba-tiba saja, ponsel Daniel kemudian berbunyi, hingga mengganggu percakapannya dengan Steve.
"Maafkan aku ... Tapi aku harus menerima telepon ini," kata Daniel kepada Steve, setelah dia melihat tampilan di layar ponselnya.
"Tidak apa-apa, Sir ... Silahkan!" sahut Steve.
"Casey! ... Lionel! ... Layani Steve dengan baik! Grandpa ke dalam dulu," kata Daniel.
"Iya, Grandpa!" sahut Casey dan Lionel bersamaan.
Daniel kemudian tampak berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah, dan segera disusul oleh Casey, yang berniat untuk pergi mengambil gitar yang dibeli mereka tadi.
"Steve kelihatannya orang yang baik, tapi dia terlalu pemalu," kata Daniel, sebelum dia masuk ke dalam ruang kerjanya.
Casey tidak menanggapi perkataan Daniel, dan terus berjalan menuju ke kamarnya, di mana barang-barang belanjaan mereka tadi, diantarkan ke dalam sana oleh asisten rumah tangganya.
Ketika Casey kembali teras samping rumah, Steve dan Lionel tampak sudah berbincang-bincang di sana.
"Steve!" Casey menyodorkan gitar yang dibawanya, kepada Steve.
"Sekarang?" tanya Steve, yang kemudian mengambil gitar dari tangan Casey.
Casey mengangguk. "Iya ... Lionel juga pasti ingin melihatnya."
Sambil tersenyum, Steve tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, namun dia tidak menolak permintaan Casey, dan mulai memetik senar gitar dengan perlahan.
Kali ini, Steve menyanyikan lagu dengan bahasa universal, yang menjadi bahasa yang sehari-hari dipakai oleh orang-orang di negara itu, untuk berkomunikasi.
Dan reaksi dari Lionel kurang lebih sama seperti Casey, ketika melihat Steve bermain gitar untuk pertama kalinya, di pusat perbelanjaan tadi.
Lionel tampak terkagum-kagum, saat melihat Steve yang bermain gitar sambil bersenandung.
"Waw! ... Ternyata kamu juga bisa bermain gitar! Suaramu juga bagus!" ujar Lionel.
Steve tersenyum malu-malu, sambil terus bermain gitar dan bersenandung, sembari memandangi Casey dan Lionel bergantian.
"Aku rasa dia benar-benar tertarik kepadamu," kata Lionel, sambil berbisik-bisik kepada Casey.
Casey hanya tersenyum menanggapinya, dan masih belum mau memberitahu Lionel, kalau yang sebenarnya, Casey telah berkencan dengan Steve.
Tapi rasa senang Casey, tampaknya hanya akan berlangsung sebentar saja. Karena sebelum Steve menyelesaikan satu lagunya, tiba-tiba saja, salah satu dari asisten rumah tangga menemui mereka di situ, dan kemudian berkata,
"Miss! ... Mister Aaron Hamilton datang berkunjung, dan ingin bertemu dengan Anda."