
Baru saja Casey berserta rombongannya akan keluar dari gedung olahraga, tapi Aaron terlihat melewati pintu, dan segera menghadang langkah mereka.
"Kalian akan pergi ke mana?" Aaron memandangi Casey, Lionel, Steve dan Oscar, bergantian, dan menghentikan pandangannya kepada Casey.
"Kami akan pergi menonton bioskop," jawab Oscar, bersemangat, hingga semua mata tertuju kepadanya.
Seketika itu juga, Oscar tampak salah tingkah, seolah-olah dia telah salah bicara.
"Kegiatan di sini belum selesai," sahut Aaron.
Ponsel Oscar yang tiba-tiba saja berbunyi, lagi-lagi menarik perhatian semua orang untuk melihat ke arahnya.
"Maafkan aku ... Aku harus menerima telepon ini," ujar Oscar, kemudian berjalan melewati Aaron, yang berdiri di pintu.
Casey pun ingin melakukan hal yang sama seperti Oscar, dan segera menghindari Aaron, dengan berjalan di bagian sampingnya.
Namun Aaron dengan tangkas, bergerak cepat bergeser ke samping, menghalangi langkah Casey, sambil berkata,
"Ada yang ingin aku bicarakan berdua saja denganmu."
"Kamu bisa bicara di sini saja! ... Karena nantinya aku juga pasti akan memberitahu mereka, apa saja yang kamu katakan padaku," sahut Casey, datar.
Aaron kemudian bergeser sedikit, dan memberikan jalan bagi Casey untuk berlalu pergi.
Begitu juga Lionel serta Steve, yang bersama-sama ikut menyusul Casey.
***
Di bioskop, film animasi lucu untuk anak-anak lah, yang menjadi tontonan pilihan bagi mereka.
Terang saja, kalau di dalam ruangan untuk menonton itu, sebagian besar terisi oleh anak kecil, dan para orang tua yang menemaninya.
Namun kelihatannya, tidak ada yang tidak menikmati tayangan yang tampil di layar lebar itu, walaupun keributan dari suara anak-anak yang histeris, terdengar dari segala penjuru.
Oscar yang saat itu mengajak kekasihnya untuk ikut pun, terlihat senang, dan sepasang kekasih itu tampak hampir tidak bisa berhenti tertawa.
Casey yang duduk di antara Steve dan Lionel, menikmati berondong jagung, dan segelas cola berukuran besar.
"Wanita yang akan jadi kencan butaku, adalah alumni dari high school-mu," celetuk Lionel, tiba-tiba.
"Ugh?" Casey yang terlalu asyik dengan tontonannya, tidak memperhatikan dengan baik, apa yang dikatakan oleh Lionel.
"Mungkin dia adalah teman sekolahmu," kata Lionel, lalu memperlihatkan tampilan layar ponselnya kepada Casey.
"Hmm ... Cantik! Tapi, aku tidak bisa memastikan," ujar Casey, ragu-ragu.
Menurut Casey, teman-teman sekolahnya yang tidak pernah ditemuinya lagi, selama hampir sepuluh tahun belakangan, tentu akan mengalami banyak perubahan atas penampilan mereka.
"Apa itu kekasihmu?" tanya Steve, yang tampaknya sempat melihat gambar di ponsel Lionel.
"Bukan. Dia yang akan jadi pasangan kencan butaku," jawab Lionel.
"Cantik!" ujar Steve.
Casey lalu menoleh ke samping, dan menunjukkan tatapan maut ke arah Steve, hingga Steve tertawa melihatnya, lalu berbisik-bisik kepada Casey, dengan berkata,
"Kamu masih lebih cantik darinya."
"Yeah, right!" sahut Casey, asal-asalan, lalu kembali melihat ke arah Lionel.
"Ikuti saja keinginan orang tuamu! Mana tahu kamu mungkin akan cocok dengannya," kata Casey, sambil menyuapkan berondong jagung kepada Lionel.
"Aku tidak suka dijodoh-jodohkan. Apalagi dengan orang yang tidak aku kenal," sahut Lionel.
"Itulah gunanya kamu berkencan. Agar kamu bisa mengenalnya." Casey menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Berapa lama aku harus melakukannya? Tidak mudah untuk bisa mengetahui, bagaimana sifat asli dari seseorang," sahut Lionel.
"Geez! ... Kalau kamu tidak mencobanya, lalu bagaimana caranya agar kamu bisa tahu?!" ujar Casey.
"Pffftt...! Apa aku bisa mengikuti saran dari seseorang yang gagal?" tanya Lionel, sambil tertawa, seolah-olah sedang mengejek Casey.
"Hmm ... Walaupun gagal, yang penting sudah berani untuk mencoba. Daripada jadi pengecut, lalu hanya berjalan di tempat," sahut Casey, tidak mau kalah.
"Hahaha!" Lionel hanya tertawa menanggapi perkataan Casey.
"Oh, iya! ... Katamu waktu itu, kamu menyukai seseorang. Lalu kenapa kamu tidak mencoba dengannya lebih dulu?" ujar Casey.
"Aku takut dia akan menolakku," jawab Lionel.
"Yeah...! Kamu memang pengecut!" kata Casey, lalu menyuapkan sedikit berondong jagung ke mulutnya sendiri.
Lionel yang tampak gemas, lalu mencubit pipi Casey.
"Hey, Mister Walt! ... Jangan coba-coba untuk mencubitku lagi!" kata Casey, sebal.
"Okay, Princess Roberts! ... Maafkan hambamu ini," sahut Lionel.
"Pffftt...!" Steve tampak tidak bisa menahan diri untuk tertawa, karena tingkah Lionel dan Casey.
***
Sementara Lionel, juga ikut berpamitan kepada Casey dan Steve, karena dia yang harus bersiap-siap, untuk pergi menemui kencan butanya.
Tertinggal Casey serta Steve, yang belum berniat untuk pulang, dan kemudian memilih untuk berkendara, berkeliling dan melihat-lihat di tengah kota.
Ketika Steve yang mengemudi mobilnya dan melintas di salah satu persimpangan jalan, Casey kemudian menyadari, bahwa satu dari arah jalan di situ, menuju ke tempat di mana Casey mengalami kecelakaan dengan mobilnya.
"Kurang lebih satu mil di sebelah sana, ada tebing yang menghadap ke laut," kata Casey.
"Ugh? Kamu mau pergi ke sana?" tanya Steve.
Pada awalnya Casey merasa ragu, namun dia kemudian memberanikan diri, lalu berkata,
"Iya ... Kamu bisa memutar di depan."
Setelah mendapatkan jalur untuk berbalik arah, Steve lalu mengemudikan mobilnya, mengarah ke mana yang ditunjukkan oleh Casey.
Steve lalu menepikan mobil hingga berhenti di sebelah kiri jalan, yang tersedia sedikit sela kosong yang lepas dari badan jalan utama, dan biasanya memang menjadi tempat parkir sementara, bagi pengendara di jalanan itu.
Setelah keluar dari dalam mobil, Casey kemudian berdiri membelakangi jurang yang langsung mengarah ke laut, yang dihalangi oleh pagar beton yang memanjang.
Di seberang jalan, di depan Casey, berdiri tegak tebing yang tinggi dan tampak megah berwarna hitam, dan bercorak hijau karena ditumbuhi oleh lumut.
Sementara itu, Steve kemudian berdiri bersandar di pagar beton, dan tampak menikmati pemandangan lautan lepas, yang bisa terlihat dari situ.
"Tebing ini...." ujar Casey.
Steve kemudian berbalik, dan dengan posisi berdiri yang sama seperti Casey, Steve ikut memandang ke arah tebing.
"Ada apa dengan tebing ini?" tanya Steve, yang tampak kebingungan.
"Menurut Lionel, aku mengalami kecelakaan karena menabrak tebing ini....
... Koma ... Lalu masuk dalam kondisi vegetatif, dan bahkan kehilangan sebagian dari ingatanku." Casey berbicara dengan perlahan.
"Entah itu memang sebuah keajaiban. Atau karena masih ada urusan yang belum diselesaikan, sehingga sekarang ini aku masih bisa berdiri di sini," lanjut Casey dengan rasa tidak percaya, akan apa yang pernah terjadi padanya.
Tiba-tiba saja, Steve lalu memeluk Casey dengan erat, lalu berkata,
"Maafkan aku...."
"Itu bukan kesalahanmu," sahut Casey.
"Tapi seharusnya aku segera mencari tahu tentangmu.... Oh, gosh! Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana kamu melewati masa-masa itu."
Steve yang terasa semakin mempererat pelukannya pada Casey, dan terdengar masih menyalahkan dirinya sendiri, justru hanya membuat Casey kebingungan untuk menenangkannya.
Karena menurut Casey, walaupun Steve segera mencari tahu tentang Casey, laki-laki itu tidak akan menemukan apa-apa.
Mungkin agar tidak terjadi kekacauan di Roberts grup, sehingga atas arahan dari Daniel, semua informasi yang berkaitan dengan kecelakaan Casey itu, langsung dihapus dari media massa, tidak lama setelah kecelakaan Casey itu terjadi.
Sehingga Casey sendiri, tidak bisa mengetahui bagaimana tepatnya kejadian itu berlaku, dan hanya bisa mendengarnya sebagian dari Lionel.
"Tidak perlu dipikirkan lagi. Itu semua hanya masa lalu. Aku masih di sini dan masih baik-baik saja," kata Casey.
Steve kemudian mengendurkan pelukannya, lalu berciuman dengan Casey, untuk beberapa waktu lamanya.
"Aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak akan pernah membiarkan sesuatu terjadi padamu lagi," kata Steve, sambil menatap Casey lekat-lekat.
"Iya, aku tahu," jawab Casey, lalu tersenyum lebar.
"Huuufft...!" Steve lalu menghembuskan napasnya yang terdengar berat.
"Ada apa?" tanya Casey.
"Pertunanganmu ... Aku masih mengkhawatirkan hal itu," jawab Steve, yang tampak kecewa. "Apakah aku memang bisa bersamamu?"
Mata biru terang milik Steve tampak sayu.
"Aku akan berusaha untuk mengatasinya, secepatnya," jawab Casey, sambil memegang kedua sisi wajah Steve, lalu mengecup bibir laki-laki itu. "Please, wait!"
Steve yang tersenyum, lalu memeluk Casey lagi, sambil berkata,
"Rasanya aku tidak ingin melepaskanmu lagi."
"Pffftt...!" Casey tertawa tertahan.
"Sekarang sudah semakin dingin. Lebih baik, kita ke mobil saja!" kata Steve.
Tanpa berlama-lama lagi, Casey kemudian berjalan bersama dengan Steve, kembali ke mobil, dan bergegas masuk ke dalam sana.
"Apa aku masih bisa menciummu?" tanya Steve, sebelum dia menyalakan mesin kendaraan itu.
"Tentu saja! ... Untuk apa kamu perlu bertanya?" sahut Casey, dan segera mendapatkan ciuman yang manis dari Steve.
Namun bunyi ketukan di kaca jendela mobil, mengejutkan mereka berdua, dan segera melihat ke arah datangnya suara.
Kali ini, Julie terlihat berdiri di luar, sambil merapatkan jaket yang dipakainya, dan tampak sedikit membungkuk.