Memory Of Love

Memory Of Love
Part 37



Karena banyak hal yang dipikirkannya, Casey jadi kesulitan untuk berkonsentrasi dengan pekerjaannya, di hari ini.


Semua data-data perusahaan yang dibacanya, tidak ada yang bisa dimengerti olehnya, hingga beberapa kali dia harus mengulang bacaannya dari awal.


Dan Steve yang menemaninya di ruang kerjanya, tampaknya memperhatikan gerak-gerik Casey.


Sampai akhirnya, Steve menghampiri Casey yang sedang duduk di kursi kerjanya.


"Maafkan aku ... Tapi apa ada yang bisa aku bantu?" ujar Steve, pelan, sambil tetap menjaga jaraknya berdiri, karena Casey sedang memeriksa data yang bersifat rahasia.


"Huuffft...!" Casey mendengus kasar, lalu menutup lembaran berkas di atas meja. "Mendekat ke sini! ... Tidak apa-apa."


Mendengar ajakan Casey, tanpa berlama-lama lagi, Steve segera mendekat kepada Casey.


Casey berdiri dari kursi kerjanya, lalu mengarahkan Steve untuk menggantikannya duduk di situ, dan Casey kemudian duduk menyamping di atas pangkuan Steve.


Steve memeluk Casey, sambil mengusap-usap punggungnya dengan perlahan, dan berkata,


"Sejak malam tadi, kamu kelihatan lesu. Apa kamu sakit?"


"Tidak ... Hanya ada beberapa hal yang mengganggu pikiranku," jawab Casey, sambil bersandar di dada Steve.


"Apa kamu mau membicarakannya?" tanya Steve, yang tampak berusaha untuk membuat Casey bisa merasa lebih baik.


"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana," jawab Casey. "Tapi kamu tidak perlu khawatir. Peluk saja aku dengan erat! Aku menyukainya."


"Pffftt...!" Steve tertawa tertahan. "Kamu hanya menyukai pelukanku?"


"Aku menyukai semua yang ada padamu," sahut Casey, lalu berciuman dengan Steve, untuk beberapa saat.


"Apa aku terlalu tamak, jika aku menginginkanmu?" tanya Casey, sambil menatap Steve lekat-lekat.


"Kalau begitu kita berdua sama-sama tamak. Karena aku juga memiliki keinginan yang sama," jawab Steve, sambil tersenyum.


"Casey...! Aku masih belum bisa percaya, kalau aku bisa memeluk dan menciummu seperti ini. Jika ini memang hanya mimpi, maka aku tidak mau terbangun dari tidurku untuk selamanya," lanjut Steve, yang mengelus lembut pipi Casey, dengan sebelah tangannya.


"Pffftt...!" Kali ini, Casey yang tertawa, lalu menyandarkan wajahnya di leher Steve, hingga dia bisa mengendus, harumnya aroma tubuh laki-laki itu.


"Apa mungkin, kalau nantinya kamu akan meninggalkanku?" tanya Casey.


Steve terdiam.


"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Casey, lagi.


"Casey! Maafkan aku ... Tapi aku benar-benar penasaran. Jika menilai dari beberapa waktu yang aku habiskan dengannya, Grandpa-mu kelihatannya sangat menyayangimu....


... Lalu kenapa dia menjodohkanmu dengan Aaron? Apa memang Grandpa-mu lebih mementingkan bisnis, daripada kebahagiaanmu?" ujar Steve, yang terdengar berhati-hati.


"Hmm ... Aku justru yang harus meminta maaf kepadamu, karena aku belum memberitahumu semuanya," sahut Casey.


"Menurut Grandpa, dan juga dibenarkan oleh Lionel, sebelum aku kehilangan ingatanku, aku mencintai Aaron. Itu sebabnya, hingga Grandpa menyetujui lamaran dari keluarga Aaron," lanjut Casey, berkata jujur.


Lagi-lagi, Steve hanya terdiam untuk beberapa saat lamanya.


Dan ketika Casey mengangkat kepalanya dan melihat wajah Steve, laki-laki itu tampak kecewa, dan seolah-olah hanya memaksakan diri untuk tersenyum kepada Casey.


"Steve...?" ujar Casey, sambil menatap Steve lekat-lekat.


"Aku menghargai kejujuranmu. Dan aku sebenarnya sudah menduganya. Tapi.... Saat mendengar hal itu secara langsung, terasa sangat menyakitkan bagiku," sahut Steve, yang tampak kesulitan untuk tetap tersenyum.


"Oh, gosh! ... Maafkan aku," ujar Casey, sambil memegang kedua sisi wajah Steve, dengan kedua tangannya.


"Tidak perlu meminta maaf. Tapi, Casey...! Aku merasa khawatir, kalau-kalau ingatanmu kembali, begitu juga dengan rasa cintamu kepada Aaron, lalu kamu akan meninggalkanku....


... Maka semua yang terjadi padaku bersamamu ini, hanya akan menjadi mimpi," lanjut Steve, yang terlihat menautkan kedua alisnya, dan menundukkan pandangannya.


Casey terdiam.


Rasanya, Casey tidak berani untuk menjanjikan apa-apa kepada Steve, dan seketika itu juga, Casey merasa sangat bersalah kepada Steve.


Casey tersadar, bahwa dia tidak pernah mempertimbangkan hal itu sebelumnya, dan hanya bersikap sesukanya, karena dia yang mengingat rasa cintanya kepada Steve di masa lalu, dan menikmati curahan cinta Steve kepadanya di saat ini.


Namun, bagaimana jika perkataan Steve itu benar-benar terjadi?


Ditambah lagi dengan pertunangannya dengan Aaron, yang masih belum bisa ditemukan caranya oleh Casey, untuk membatalkannya.


Tentu Casey hanya akan menyakiti Steve, dan Casey tidak mau melukai laki-laki itu, yang tampak bersungguh-sungguh mencintai Casey.


"Casey...?" ujar Steve, yang terlihat telah mengangkat pandangannya kembali, dan menatap Casey lekat-lekat.


"Maafkan aku yang terlalu egois, dan terus-menerus menyakitimu. Aku tidak pernah memikirkannya sebelumnya. Karena yang aku tahu, aku mencintaimu dan ingin bersamamu," kata Casey, penuh penyesalan.


"Tsk! ... Kelihatannya aku hanya membebanimu. Tidak perlu memikirkan hal itu lagi. Apapun kemungkinannya yang akan terjadi, aku tidak akan pernah menyesalinya....


"Dengan demikian, jikalaupun kamu nantinya kembali kepada Aaron, aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Apalagi menyalahkanmu....


... Itu tidaklah mungkin. Karena rasanya sudah lebih dari cukup, keberuntungan yang aku dapatkan, jika aku bisa merasakan cintamu, walaupun mungkin hanya untuk sesaat," lanjut Steve, pelan.


"Tidak, Steve...! Tolong jangan berkata seperti itu...!" ujar Casey, frustrasi, sambil menundukkan kepalanya.


"Casey! ... Look at me!" ujar Steve, sambil mengangkat wajah Casey, dengan memegang dagu Casey.


"Aku akan tetap berada di sisimu, dan memberikan semua rasa cintaku kepadamu. Aku akan menikmati waktuku selama masih ada kesempatan, sementara kamu juga masih mencintaiku....


...Casey! Dengarkan aku! Aku sudah tahu resikonya. Walaupun pada akhirnya kamu tidak memilihku, maka kamu tidak perlu merasa bersalah....


... Karena untuk tetap bertahan di sini bersamamu, itu adalah pilihanku sendiri," kata Steve, tampak berusaha untuk meyakinkan Casey.


"Oh, gosh...!" Casey rasanya tidak bisa percaya, dengan apa yang dikatakan oleh Steve.


"Aku sudah mengambil keputusan, kalau aku akan menetap di negara ini. Entah aku akan menerima tawaranmu untuk bekerja di perusahaan ini, atau mungkin aku akan mencari pekerjaan di tempat lain," kata Steve.


"Ugh? ... Apa kamu bersungguh-sungguh mengatakannya?" tanya Casey, memastikan.


"Iya ... I love you so much, my baby! ... Aku tidak mau terus-menerus menjadi pengecut, yang dengan bodohnya melarikan diri tanpa berusaha, dan menyia-nyiakan kesempatan yang ada....


... Karena aku merasa, walaupun hanya kecil kemungkinannya, namun peluangnya masih ada bagiku, untuk bisa mendapatkan cintamu seutuhnya," kata Steve, sambil tersenyum.


Steve kemudian mendekatkan wajahnya, hingga bibirnya dan Casey, lalu terpaut dengan ciuman yang lembut dan penuh kasih sayang, untuk beberapa waktu lamanya.


"Aku hanya berharap agar kamu memaklumi, jika aku cemburu, saat melihat Aaron ada di dekatmu. Karena aku tidak tahu, apa aku masih bisa mengendalikan perasaanku lagi sekarang ini," ujar Steve.


"Hmm ... Kalau kamu tidak cemburu, justru akan terasa aneh dan mencurigakan. Karena mungkin saja, kalau kamu telah jatuh cinta kepada orang lain," sahut Casey.


"Don't tease me!" ujar Steve, lalu mengecup bibir Casey, sepintas. "I love you, my baby!"


"Geez! ... Apa kamu tidak bosan mengatakannya berulang-ulang?" tanya Casey, hendak mengejek Steve.


"Tentu saja tidak ... Aku akan selalu mengatakan kalau aku mencintaimu, agar kamu tidak akan pernah melupakannya," jawab Steve, sambil tersenyum lebar.


"I love you too!" sahut Casey, lalu kembali menyandarkan wajahnya di leher Steve.


Walaupun masih ada sedikit rasa khawatir yang tertinggal, namun Casey lebih terpusat perhatiannya pada kenyamanan yang dia rasakan, saat dia bersama dengan Steve.


Apalagi, setelah berbincang-bincang dengan Steve, sambil mendapatkan pelukan hangat dan berkali-kali diberikan ciuman yang manis, Casey bisa merasa jauh lebih baik, dan lanjut bekerja.


Sehingga, sebelum jam istirahat makan siang, Casey sudah bisa menyelesaikan pekerjaannya.


Dan seperti biasanya, Lionel pasti datang menjemput Casey di ruangannya, saat jam istirahat makan siang.


"Jangan katakan kalau kamu masih bekerja!" ujar Lionel, sambil melotot ke arah Casey, yang masih duduk di kursi kerjanya.


"Aku sudah selesai," sahut Casey, yang masih merapikan meja kerjanya. "Kita pergi makan siang sekarang?"


"Iya ... Steve juga pasti sudah bosan menunggumu bekerja," kata Lionel, sambil melirik ke arah Steve.


Steve yang tadinya sedang membaca buku sambil duduk di sofa, tidak berkata apa-apa, dan hanya berdiri, lalu pergi menyimpan buku, kembali ke tempatnya semula.


"Di mana Aaron?" tanya Lionel.


"Ugh? ... Kenapa kamu menanyakannya padaku?" sahut Casey, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Lionel mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kemarin, dia seperti anak anjing yang ingin diajak tuannya jalan-jalan," celetuk Lionel. "Lalu, hari ini dia tidak menemuimu sama sekali?"


"Tidak ... Aku hanya bersama Steve, sejak pagi tadi," jawab Casey.


"Tsk! ... Kenapa kita harus membahas tentang Aaron? Apa aku harus memikirkan apa yang dia lakukan?" lanjut Casey, ketus.


Lionel akhirnya terdiam, dan hanya ikut berjalan bersama Casey dan Steve, keluar dari ruang kerja Casey.


Karena Lionel yang sempat mengungkitnya, dalam diamnya, Casey jadi memikirkan tentang Aaron, yang tidak mengganggu Casey hari ini.


Tapi menurut Casey, jalan pikiran dari Aaron memang tidak bisa diduga-duga, karena laki-laki itu, tampaknya memang suka bertingkah semaunya saja.


Setibanya mereka di kafetaria, tidak terlihat keberadaan Aaron di sana.


Casey hanya melihat Julie, yang sedang duduk di satu meja yang sama, dengan beberapa anggota dewan direksi yang lain.


Di sela-sela perbincangannya dengan Steve, Lionel, dan oscar, sesekali Casey teringat akan Aaron, yang baru kali ini tidak terlihat batang hidungnya di mana-mana.


Namun Casey tidak mau berlama-lama untuk memikirkannya, dan lebih memilih untuk memusatkan perhatiannya, pada percakapan yang berlangsung di situ.


"Jika aku tidak salah dengar, Miss Julie tadi menangis di ruang kerjanya," celetuk Oscar, tiba-tiba.