
"Apa yang sedang kamu bicarakan? Apa kamu pikir aku membuat rancangan ini, lalu aku akan melarikan diri, dan meninggalkan tanggung jawabnya kepadamu?" tanya Casey.
Casey mulai merasa sebal, karena Aaron yang seolah-olah sedang meragukan pertanggungjawaban dari Casey.
"Tunggu dulu! ... Kamu sepertinya telah salah paham ... Maksudku, aku khawatir kalau-kalau kamu berniat hanya untuk mengembangkan perusahaan ini, lalu berpindah ke Roberts grup," ujar Aaron.
"Aku mau perusahaan ini lebih berkembang seperti rencanamu, asalkan kamu bersama-sama denganku untuk mewujudkannya....
... Dan bukannya kamu membiarkan aku melakukannya sendiri, lalu kamu justru berpindah ke Roberts grup," lanjut Aaron.
"Aaron! ... Bukankah kamu sudah tahu?! Kalau nantinya, cepat atau lambat, aku pasti akan menggantikan Grandpa-ku di Roberts grup....
... Lalu kenapa kamu bicara seperti ini? Apa kamu mau menyia-nyiakan investasi, yang diberikan Roberts grup di perusahaan ini?" ujar Casey, yang merasa sangsi.
Aaron yang kemudian terdiam untuk beberapa saat lamanya, hanya membuat kesabaran Casey hampir menghilang.
"Aaron! ... Katakan sejujurnya, apa yang kamu pikirkan?" tanya Casey, ketus.
"Apa kamu berencana, untuk membuat Steve menggantikan posisimu di sini?" Aaron balik bertanya.
Casey melipat kedua tangannya di depan dadanya, sambil menatap Aaron lekat-lekat, lalu berkata,
"Kalau iya, lalu apa masalahnya? Bukankah itu adalah urusanku dan Roberts grup?"
Rasanya, Casey jadi semakin sebal kepada Aaron saat ini.
"Berarti benar, kalau kamu berencana untuk secepatnya pindah ke Roberts grup?" tanya Aaron, lagi.
"Geez!" Casey menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aaron! ... Entah aku bertahan di sini, ataupun pindah ke Roberts grup, itu adalah pilihanku. Dan kamu tidak bisa mengaturnya, ataupun mengkhawatirkannya," kata Casey, tegas.
"Apa kamu tidak mau mempertimbangkannya lagi?"
Menurut Casey, pertanyaan dari Aaron itu, seolah-olah Aaron tidak mau jika Steve bekerja di R&H Corp.
Tapi apa yang menjadi alasan terbesar, dari penolakan Aaron itu?
Apakah Aaron hanya tidak suka dengan keberadaan Steve?
"Apa kamu merasa terintimidasi oleh Steve?" tanya Casey, mencoba memancing Aaron, agar bisa bicara terbuka.
Namun, usaha Casey itu tampaknya sia-sia saja. Karena Aaron justru hanya terdiam, dan tampak mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Sebaiknya kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan tentang hal yang lain. Pusatkan saja perhatianmu pada tugasmu di perusahaan ini," kata Casey, lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Aku rasa pembicaraan kita sudah cukup. Tentang rapat umum shareholders, itu nanti dipikirkan kapan waktunya, jika semua kegiatan company anniversary sudah berakhir," lanjut Casey.
Casey lalu mengulurkan tangannya, mengarahkan Aaron, agar keluar dari ruang kerja Casey.
Namun, Aaron tampak tidak segera beranjak dari tempat duduknya.
Dengan gerakannya yang cepat dan tanpa aba-aba, Aaron justru menarik Casey yang tidak awas, hingga Casey terduduk di atas pangkuannya.
"Hey! ... Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" ujar Casey, sambil bergerak liar, berusaha agar bisa menjauh dari Aaron.
"Casey! ... Casey, stop it! ... Tenanglah sebentar! Aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk!" kata Aaron, yang memeluk Casey dengan erat, agar Casey tidak bisa melawannya.
Casey tetap berusaha untuk melawan, tapi Aaron semakin mempererat pelukannya, sambil lanjut berkata,
"Dengarkan aku dulu! ... Kamu bisa memanggilku sesukamu untuk bicara tentang pekerjaan. Kemudian setelah kamu puas dengan keinginanmu, lalu kamu mengusirku dari sini?
... Lalu bagaimana denganku? Aku bukan pesuruhmu. Aku juga punya perasaan. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Jadi, tenanglah sebentar! Aku tidak akan melukaimu."
Casey akhirnya mengalah, lalu duduk dengan tenang di atas pangkuan Aaron.
Suara napas Aaron terdengar berat, ketika laki-laki itu menghembuskan napasnya, dan mengenai bagian leher Casey.
"Kamu membuatku benar-benar merasa cemas. Sampai-sampai aku berlari keluar dari rumah, tanpa memikirkan apa-apa lagi, selain memikirkan keadaanmu....
... Aku sangat khawatir, jika kamu sampai tidak terbangun, seperti waktu itu. Aku tidak tahu, apakah aku akan sanggup melihatmu tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama," kata Aaron.
"Aaron! ... Bukankah kamu membenciku?! Jadi jangan berpura-pura, seolah-olah kamu memang mencemaskan keadaanku!" sahut Casey.
"Pffftt...!" Spontan saja, Casey tertawa tertahan.
Walaupun sedang merasa kesal, tapi Casey tidak bisa menahan rasa geli di lehernya, ketika batang hidung Aaron tersentuh di situ, beserta hembusan udara dari napas Aaron, yang menjalar masuk sampai ke bagian punggungnya.
"Menjauh dariku! ... Pffftt...! ... Leherku sangat geli!" Dengan suara bergetar, Casey bicara sambil tertawa, dan mengangkat kedua bahunya, untuk menutupi bagian lehernya.
Namun, Aaron justru tampak sengaja meneruskan kelakuannya, agar Casey tetap merasa tergelitik, dan tertawa hingga lemas karenanya.
"Hahaha! ... Aaron! ... Hahaha! ... Stop it!" ujar Casey, sembari tetap mencoba menghindar dari Aaron.
"Hey! ... Apa kamu tidak mendengarku?" tanya Casey, yang sudah merasa lemas, karena merasa geli dan terlalu banyak tertawa.
Tiba-tiba saja, Aaron menahan wajah Casey agar tetap menoleh ke samping, kemudian mencium bibir Casey.
Dan Casey yang tersadar, segera memalingkan wajahnya, menghindari ciuman Aaron itu.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah gila?" tanya Casey, ketus.
Seperti sebuah boneka yang ringan, Aaron menggeser Casey, hingga terduduk menyamping di atas pangkuannya, lalu berkata,
"Aku memang sudah gila...."
Dengan mata sayu, Aaron menatap Casey lekat-lekat.
"Aku menjadi gila, karena melihat caramu menatap Steve. Kamu dulu pernah melihatku seperti itu. Aku benar-benar merasa cemburu pada Steve, hingga aku ingin membuatnya menghilang dari sisimu selamanya....
...Aku tidak tahu ke mana perginya, tatapanmu yang penuh cinta untukku itu bisa menghilang. Tapi aku ingin, agar kamu bisa melihatku seperti itu lagi....
... Aku mencintaimu, Casey. Aku akan terus berusaha, dan melakukan apa saja yang kamu inginkan, agar kamu bisa mencintaiku lagi," lanjut Aaron.
"You've got to be kidding! ... Apa kamu pikir kalau aku ini sangat bodoh, hingga bisa percaya akan sandiwaramu dengan begitu mudahnya?" ujar Casey, sinis.
"Casey! ... Aku lah yang bodoh, karena telah menyia-nyiakan kesempatan yang pernah ada. Dan aku benar-benar menyesalinya," sahut Aaron.
"Aku sudah menduga, kalau kamu tidak akan percaya padaku begitu saja. Tapi aku akan membuktikannya padamu, kalau aku bersungguh-sungguh mencintaimu," lanjut Aaron.
"Sudah cukup! ... Aku tidak mau tahu! Jangan pernah terpikir untuk membahas tentang hal ini lagi! Ataupun mencoba mencari-cari kesempatan! Karena aku mencintai Steve....
... Dan sebaiknya, kamu lanjutkan saja percintaanmu dengan Julie. Sampai tiba waktunya yang tepat, untuk membatalkan pertunangan kita," ujar Casey.
"Tidak!" sahut Aaron, tegas.
"Ugh?" Casey tersentak, dan menatap Aaron lekat-lekat, sambil mengerutkan keningnya.
"Apa kamu pikir kalau aku mau menerima pembatalan pertunangan kita? Apa kamu mengira, kalau aku akan menyerahkanmu kepada Steve begitu saja?
...Justru, kalau kamu tidak memberiku kesempatan, maka aku akan meminta agar pernikahan kita segera dilangsungkan. Dan aku rasa, Grandpa-mu pasti setuju....
...Apalagi jika aku memberitahunya, kalau kamu menjadi bimbang untuk menikah denganku, karena adanya Steve. Bayangkan saja, apa yang akan terjadi pada Steve nantinya....
... Aku tidak perduli, meskipun kamu menikah denganku karena terpaksa. Karena aku yakin, jika kita telah menikah, cepat atau lambat, maka kamu pasti akan menerima cintaku," kata Aaron.
"Dasar b*rengsek!" ujar Casey, dengan suara bergetar, saking marahnya.
"Jangan marah, Casey!" sahut Aaron, lirih.
Aaron lalu memeluk Casey dengan erat, dan menyandarkan wajahnya di salah satu bahu casey.
"Aku sampai mengancammu, karena aku hanya ingin agar kamu memberiku kesempatan. Supaya aku bisa membuatmu, membuka hatimu untukku," kata Aaron.
"Jika kamu telah memberikan kesempatan itu, lalu aku masih gagal, maka aku akan merelakanmu untuk tetap bersama dengan Steve....
... Bahkan kalau itu memang keinginanmu, aku akan membantumu untuk membatalkan pertunangan kita, tanpa menimbulkan kekacauan," lanjut Aaron, lagi.
"Kesempatan seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Casey, sinis.
Walaupun Casey berbicara dengan nada suara yang penuh kebencian, tapi Aaron tampaknya masih bisa terlihat kembali bersemangat.
Aaron mengangkat kepalanya, dan sambil tersenyum, dan menatap Casey lekat-lekat, Aaron kemudian berkata,
"Perlakukan aku seperti kamu memperlakukan Steve. Biarkan aku mendekatimu. Mengajak dan menemanimu jalan-jalan. Menghabiskan waktu denganku. Dan sesekali, biarkan aku memeluk dan menciummu."