Memory Of Love

Memory Of Love
Part 42



Cukup mencengangkan, karena Aaron tetap bersikap tenang dan justru terlihat senang, ketika Casey tidak lagi berdebat dengannya.


Seolah-olah Aaron merasa menang, saat Casey tidak lagi bersikeras untuk menantangnya.


Sehingga saat Casey pergi menyusul Steve dan Lionel di gedung olahraga, Aaron tampak tidak terganggu, dan berjalan santai bersama dengan Casey.


Baik Lionel maupun Steve, tampak seperti orang kebingungan, sambil memandangi Aaron dan Casey bergantian.


"Steve! ... Ayo kita pulang! Aku sangat lelah," ujar Casey.


"Bukankah katamu tadi, kamu ingin menonton perlombaan?" tanya Aaron.


"Aku berubah pikiran. Aku ingin pulang sekarang," sahut Casey, lalu melihat ke arah Lionel, dan sambil berbisik-bisik di telinga Lionel, Casey kemudian berkata,


"Sebentar lagi, susul kami ke rumah. Ada yang ingin aku bicarakan."


"Casey!" ujar Aaron, yang kembali tampak gelisah.


"Nanti kamu bisa menghubungiku, jika kamu ingin bertemu! Tapi sekarang aku harus istirahat, dan Steve yang mengemudikan mobilku," sahut Casey, pelan.


Aaron terdiam untuk beberapa saat, dan seolah-olah tidak mau percaya begitu saja, tapi akhirnya dia kemudian mengangguk setuju.


"Ayo, Steve!" ajak Casey, lagi.


Steve tidak berkomentar apa-apa, dan segera berjalan pergi dari gedung olahraga, bersama dengan Casey.


***


"Aku ingin meminta maaf kepadamu sebelumnya," kata Casey, sesaat setelah mobil yang dikendarai oleh Steve mulai melaju di jalanan.


"Ada apa?" tanya Steve.


"Huuufft...!" Casey mendengus kasar.


"Aku telah membuat perjanjian dengan Aaron, agar aku memberikannya kesempatan, untuk melakukan hal yang sama, seperti apa yang bisa aku lakukan denganmu," kata Casey.


Steve tampak terkejut, hingga dia menginjak pedal rem secara tiba-tiba, dan segera menepikan mobilnya, sampai berhenti di pinggir jalan, lalu berkata,


"Maafkan aku ... Tapi apa aku tidak salah dengar?"


"Iya ... Kamu tidak salah dengar. Aaron mengancam akan mempercepat pernikahanku dengannya, jika aku tidak setuju akan permintaannya itu," jawab Casey.


"Benar dugaanku ... Aaron memang telah jatuh cinta kepadamu." Dengan kasar, Steve meraup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku tahu kalau akan menyakitkan bagimu, jika melihat Aaron bersikap mesra padaku, tanpa mendapat penolakan dariku. Karena aku juga tidak tahan, jika melihat ada wanita lain yang mendekatimu....


...Aku juga sadar, kalau permintaanku ini akan sangat berlebihan dan egois. Tapi aku sangat berharap agar kamu bisa bersabar, sampai aku bisa mengatasinya....


... Aku harap kamu bisa mengerti, kalau aku tidak bisa bertindak gegabah, lalu hanya membuat Aaron membuktikan ancamannya," kata Casey.


"Maafkan aku, Steve...!" lanjut Casey, lirih.


Steve melepaskan sabuk pengamannya, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Casey, lalu memeluk Casey dengan erat.


"Casey...! Asalkan kamu mencintaiku, maka apapun itu, aku akan melakukannya untukmu," kata Steve, tampak berusaha meyakinkan Casey.


"Aku bisa memastikan, bahwa aku benar-benar mencintaimu. Tapi aku juga tahu, kalau aku tidak bisa memaksamu untuk bertahan, dalam situasi yang tidak menyenangkan itu....


... Dengan demikian adanya, jika kamu berpikir untuk pergi meninggalkanku, maka mau tidak mau, walaupun aku tidak ingin berpisah darimu, tapi aku akan merelakanmu," kata Casey.


Steve kemudian mencium mercu kepala Casey dengan lembut, sambil mengusap-usap punggung Casey.


"Casey! My baby...! Aku tidak akan meninggalkanmu. Kamu bisa memegang perkataanku. Jadi, kamu tidak perlu mencemaskan hal itu....


... Tapi aku berharap, agar kamu segera menemukan caranya, untuk terlepas dari ikatan pertunanganmu dengan Aaron. Sehingga dia tidak bisa memanfaatkan statusnya itu lagi," sahut Steve.


Suara dari napas Steve, mendadak terdengar berat, seolah-olah dia sedang merasa gusar, dan berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Hmph! ... Aku tahu kalau cintamu pantas untuk diperjuangkan. Tapi aku tidak menyangka, kalau Aaron ternyata akan memakai cara serendah itu," kata Steve, terdengar geram.


***


Lionel yang menyusul ke rumah Casey, berselang waktu kurang lebih tiga puluh menit kemudian, menampakkan reaksi yang kurang lebih sama seperti Steve, ketika mendengar penjelasan dari Casey.


Casey hanya memberitahu Lionel, bahwa Aaron ingin diberi kesempatan, untuk melakukan segala sesuatu, seperti Aaron sedang berkencan dengan Casey.


Walaupun demikian, Lionel tetap terlihat geram, dan seandainya saja Aaron ada di situ bersama mereka, maka Lionel mungkin telah mendaratkan tinjunya di wajah Aaron.


"Memalukan! ... Memakai cara kotor seperti itu? Hmph! ... Pathetic!" ujar Lionel, sambil mengepal-kepalkan kedua tangannya.


"Pantas saja dia terlihat aneh, saat kalian berdua bersama-sama menyusul kami di gedung olahraga tadi!" Lionel menggeleng-gelengkan kepalanya.


Lionel lalu tampak tersentak, kemudian bertanya kepada Casey, dengan berkata,


"Apa yang terjadi pada kalian berdua tadi? Bibir Aaron kelihatannya terluka. Apa kamu memukulnya?"


"Aku menggigitnya, karena dia memaksa untuk menciumku," jawab Casey, spontan.


Lionel dan Steve tampak sama-sama terkejut mendengar jawaban Casey, hingga kedua laki-laki itu tampak saling bertatap-tatapan.


Tapi tidak berapa lama, Lionel tampak tersenyum puas, lalu sambil menepuk-nepuk pundak Casey, Lionel kemudian berkata,


"Bagus! ... Tidak apa-apa jika kamu perlu bertindak kasar. Justru kamu memang harus melawan, kalau kamu tidak mau dengan apa yang ingin dia lakukan padamu!"


"B*rengsek! ... Apa yang dia pikirkan? Walaupun dia adalah tunanganmu, tapi dia terlalu berani untuk melecehkanmu," lanjut Lionel, lalu mengeraskan rahangnya.


"Tidak sepenuhnya benar," kata Casey, menimpali.


Lionel seolah-olah tidak percaya, dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Casey.


"Menurutku, Aaron hanya merasa terdesak, dan tampaknya dia juga terpaksa melakukannya," lanjut Casey.


"Kenapa kamu masih membelanya?" tanya Lionel, tampak menautkan alisnya.


"Hmm ... Bagaimana menjelaskannya?!" ujar Casey, sambil berpikir, sebelum akhirnya dia lanjut berkata,


"Apa kamu pernah melihat seseorang yang punya kepercayaan diri yang rendah, tapi memiliki ambisi, dan dia tidak menemukan solusi ataupun celah, untuk meraih keinginannya itu?


...Aaron tadi terlihat seperti itu. Seperti seseorang yang berputus asa, karena aku yang tetap menolak keinginannya, dan justru terus menantangnya....


... Sehingga, cara apa saja yang bisa dia pakai, walaupun itu mungkin akan merusak harga dirinya, dia tetap akan menggunakannya."


"Apa maksudmu? Yang aku tahu, orang seperti Aaron adalah orang yang tidak tahu diri," sahut Lionel, ketus.


"Memang sulit untuk dimengerti. Sehingga pada awalnya aku juga berpikir sepertimu. Tapi setelah aku memikirkannya ulang, rasanya aku bisa memahami sikap Aaron itu....


... Karena aku pernah beberapa kali bertemu dengan orang-orang, yang memiliki sifat seperti Aaron," kata Casey, menjelaskan apa yang dia pikirkan.


Lionel terdiam, sementara Steve terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah ada sesuatu yang Steve pikirkan.


"Aku mengerti maksudmu. Terpuruk dan tidak bisa keluar dari kesakitannya. Atau muncul ke permukaan, tapi tidak menjadi dirinya sendiri lagi....


... Tapi karakteristik seperti itu, hanya bisa kamu temukan pada orang yang pernah mengalami perundungan—seorang korban bullying, dalam waktu yang lama," kata Steve.


"Apa Aaron pernah mengalaminya?" tanya Steve.


"Iya ... Menurut penuturan dari Oscar, justru karena Aaron di-bully, lalu ditolong oleh Julie, sehingga mereka berdua bisa menjadi pasangan kekasih," jawab Casey.


"Tidaklah bisa melawannya, dengan penolakan begitu saja. Karena hanya akan menjadi kelelahan yang sia-sia, dan justru hanya akan membuat kekacauan....


... Sehingga kamu pasti sudah tahu keputusan apa yang harus aku ambil, bukan? Aku harus mengikuti arusnya, sampai aku tiba di ujung muaranya," lanjut Casey.


"Iya, aku mengerti," jawab Steve, sambil menganggukkan kepalanya.


"Tapi kamu tetap harus berhati-hati. Karena jika kamu sampai lengah, sedikit saja, maka dia akan menjadi seseorang yang obsesif dan posesif. Dan itu akan menempatkanmu dalam situasi berbahaya....


... Selain itu, dia bisa jadi seseorang yang manipulatif. Sehingga arusnya menjadi terlalu deras, dan bisa-bisa, kamu justru yang tenggelam di dalamnya," lanjut Steve.


"Aku sudah tahu resikonya. Justru itu aku harus mendapatkan persetujuan darimu. Karena aku juga cukup mengkhawatirkan hal itu," kata Casey.


"Sejujurnya, itu adalah pilihan yang sulit bagiku. Tapi aku juga sadar, kalau aku tidak memiliki apa-apa, yang bisa aku pakai untuk menahanmu. Walaupun begitu, aku akan tetap berada di sisimu....


... Dan berharap agar kamu bisa segera keluar dari sana. Karena pada akhirnya, hanya kamu sendiri yang bisa melakukannya, dan menentukan pilihanmu," sahut Steve.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Lionel, yang tampak benar-benar kebingungan, menyela perbincangan yang intens antara Casey dan Steve.